
Wajah Agra terkejut, beberapa staf yang ada di ruangan masih orang yang menemaninya dari nol.
"Kenapa tim ada khusus ada di sini?" Agra garuk-garuk kepala kaget.
"Prilly yang membantu kita, sudah biasa bersama jadi kita putuskan untuk ikut." Semuanya mendekati Agra memeluk lembut.
Tawa Agra terdengar, awalnya dia binggung cara memulai komunikasi jika tim baru, tidak disangka Prilly melakukannya.
"Terima kasih masih mau bersama Agra," ucapnya terharu.
Senyuman Prilly terlihat, meminta Agra masuk menemui para atasan yang akan membantunya, dan juga ada Daddy yang menunggu.
"Daddy," sapanya mendekat.
"Perkenalkan dia putraku, Agra salah satu pemusik terbaik dalam keluarga kami, dan dia juga yang akan menjadi pemegang saham tertinggi." Daddy merangkul Agra dan percaya jika putranya mampu membangun perusahaan agensi seperti impian.
Memberikan peluang untuk para aktor aktris, penyanyi, siapapun yang ingin berlatih menjadi publik figur.
"Salam kenal semuanya, semoga kita bisa bekerja sama untuk memajukan perusahaan yang baru saja didaftarkan. Agra percaya semua yang ada di sini orang-orang berpegalaman, juga memiliki niat besar untuk maju." Senyuman Agra terlihat mengucapkan terima kasih karena sudah bersedia berjalan bersamanya.
Obrolan cukup panjang, daddy hanya mendengarkan Agra yang nampak sangat dewasa juga menghormati yang muda maupun lebih tua darinya.
"Pril, Daddy tidak harus membimbingnya lagi, Agra sudah mampu berdiri sendiri," bisik Daddy pelan.
"Iya Dad," balas Prilly yang berniat memberitahu soal papa Agra datang ke perusahaan, tapi menundanya sampai rapat selesai.
Selesai rapat, Agra mengantarkan sampai keluar ruangan. Prilly dan Daddy masih ada di dalam ruangan.
"Kapan kamu siap menikah Pril?"
Kepala Prilly menggeleng, dia tidak tahu dan tidak berani mengatakannya karena tidak ada juga yang bisa dirinya ajak berdiskusi.
"Maafkan Om, jika mommy masih ada mungkin kamu tidak akan merasakan luka sedalam ini. Maaf belum bisa memberikan yang terbaik," ucap Daddy yang merasa Prilly selalu memaksakan diri untuk kuat.
"Jangan mengatakan itu Daddy, saat ini Prilly sangat bahagia. Aku bisa menikmati hidup dengan bebas, dan melihat Daddy juga Arvin bahagia. Mommy juga pasti senang, kita sudah jauh lebih baik dari sebelumnya." Senyuman Prilly terlihat, dia bahagia meskipun tidak memiliki keluarga.
"Semoga niat baik Agra bisa terlaksana, menikahlah dan miliki keluarga. Berikan kebahagiaan untuk anak-anak kalian, jadi pasangan yang hebat." Daddy berdiri ingin pamit pulang.
"Dad, Papa Agra tadi datang," ucap Prilly menghentikan langkah Daddy.
Agra masuk kembali ke dalam merentangkan kedua tangannya memeluk Daddy sangat erat tidak ingin melepaskan sama sekali.
Pukulan daddy pelan ke punggung Agra, meminta dilepaskan sebelum sesak napas. Daddy harus pulang sebelum Mama mencarinya.
__ADS_1
"Dad, I love you." Agra mengecup tangan Daddy lama.
"Kenapa mengatakan hal seperti itu, Daddy malu." Senyuman terlihat mengacak-acak rambut Agra.
"Aku harus mengabari Arvin, tapi kira-kira dokter satu itu di mana?" Agra mengecek ponselnya, mengirimkan pesan kepada adik lelakinya.
Daddy tersenyum kecil melihat Agra yang selalu mencari Arvin saat bahagia, Daddy harus siap dengan rengekan Arvin jika bertemu karena ingin meminta saham.
"Dad, tadi papa datang. Daddy ingin tahu apa yang dia katakan?"
"Apa?"
"Kenapa kamu keluar perusahaan? perusahaan ini tidak bisa menjamin kesuksesan." Tawa Agra terdengar dia bangkit seorang diri, meniti karir juga sendiri, lalu kenapa orang yang dulunya dirinya bangga datang untuk menjatuhkan semangatnya.
Perasaan Agra sangat senang bisa memiliki perusahaan sendiri, tapi ada rasa takut jika impian akan merugikan. Dia membutuhkan semangat dari semua orang, tapi papanya tidak melakukan.
"Gra, papa kamu sebenarnya ingin karir kamu aman," tegur Daddy.
"Apa bersama Daddy tidak aman?" Agra tidak membutuhkan kejayaan, tapi suasana baru.
Tidak hanya menciptakan lagu, memainkan musik, namun memberikan peluang bagi yang lainnya untuk bermain bersamanya sekaligus meniti karir.
"Kenapa Papa tidak mengatakan kamu hebat Nak, kamu bisa melebihi papa, sungguh papa bangga, kata-kata itu yang Agra harapkan seperti Daddy yang selalu mengatakan kamu bisa, pasti bisa, harus bisa." Air mata Agra menetes, merasa sedih karena papa yang dulu Agra banggakan sudah berubah.
"Tidak malu menangis di depan wanita, Daddy bangga sama Agra sudah cukup. Bagaimanapun dia papa kamu, jangan jadikan kesedihan karena Daddy selalu support Agra." Tubuh Agra dipeluk erat mengusap kepala lembut.
Daddy teringat kepada Arvin, putra yang dulu sering dipukul. Hingga sekarang Arvin tidak mudah dipeluk, dia selalu menutup masalah dan menyelesaikan sendiri.
"Daddy pergi dulu, kamu semangat cari uang untuk modal nikah dan masa depan anak." Daddy melangkah pergi meminta Prilly selalu menemani Agra.
Dada Daddy sesak, rasanya sedih. Apa Arvin juga begitu kecewa kepadanya, padahal rasa cintanya sangat besar. Daddy berjalan ke parkiran sambil menghubungi Arvin.
"Halo Dad, ada apa?''
"Kamu sibuk?"
"Tidak, ini baru selesai meeting soalnya besok Arvin ada operasi besar."
"Daddy ke sana, ingin bicara sebentar," ucap Daddy.
Arvin binggung, tidak biasanya Daddy ingin ke rumah sakit, padahal Arvin bisa pulang jika memang ada acara keluarga.
Tidak ingin membantah, terpaksa Arvin mengiyakan keinginan daddynya. Jika ingin bertemu.
__ADS_1
Perasaan Arvin sedikit tidak enak, takut jika Daddy terkena penyakit serius dan tidak ingin mamanya tahu.
"Dokter Arvin sedang menunggu siapa?" tanya seorang perawat.
Kepala Arvin tertunduk tidak merespon, langkah Arvin bolak-balik melihat ke arah pintu masuk tiap kali terbuka.
"Jika ada pasien tunggu di ruangan kerja saja, kenapa gelisah sekali?" dokter cantik dan muda menepuk pundak Arvin.
Seperti biasanya Arvin jarang bicara kecuali siapa medis, dia bergegas keluar menuju parkiran ingin melihat daddynya.
"Dokter Arvin, ada apa?" sapa penjaga.
"Aku mencari ayahku, abaikan saja." Senyuman Arvin terlihat karena penjaga menawarkan diri untuk membantu.
Sebuah mobil yang sangat Arvin kenali berhenti, dia langsung menunggu di depan pintu melihat Daddy keluar.
Pelukan Daddy erat, mengusap punggung putranya menbuat Arvin bertambah lemas. Jantungnya berdegup kencang karena daddynya tidak bersikap seperti biasanya.
"Daddy kenapa?"
"Hanya ingin memeluk kamu, tidak terasa Arvin sudah sebesar ini, lebih tinggi dari Daddy, wajahnya tampan dan dia menggunakan seragam." Daddy bangga kepada Arvin yang memang sejak kecil cerdas, dan selalu mendapat nilai baik.
"Daddy baik-baik saja?"
"Iya nak, kamu kenapa keluar?"
Arvin meminta daddynya mengatakan keluhan dan dirinya akan mencarikan dokter terbaik untuk kesehatan daddynya.
Pelukan Daddy erat kembali tidak menyangka Arvin mengkhawatirkannya. Anak yang sangat dicintainya ternyata menyayangi Daddy.
"Daddy tidak sakit, hanya saja Daddy rindu kamu. Arvin pasti kecewa sekali kepada Daddy, maafkan Daddy."
"Bicara apa, aku tidak kecewa dan terlihat biasa saja." Arvin semakin binggung.
Daddy memeluk kembali membuat Arvin tersenyum, menepuk punggung Daddy. Arvin sudah dewasa tidak harus dicemaskan lagi.
"Vin, jika Daddy ada salah ...."
"Dad, jangan pernah sakit, mungkin Arvin sudah dewasa, tapi Raya belum. Kita memiliki kenangan buruk, tapi Arvin bahagia melihat Daddy yang sekarang, jangan pernah berubah Dad." Arvin memeluk erat, menetaskan air matanya karena sangat menyayangi daddynya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1