KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
KITA PASANGAN


__ADS_3

Di apartemennya Naya tidak bisa memejamkan mata, pikirannya masih kepada Andra dan Syifra.


Tanpa sadar air mata Naya menetes, merasakan sakit melihat lelaki yang dicintainya dicium wanita lain.


"Kenapa juga harus melihatnya, sakitnya doubel." Kedua tangan Sarah memeluk lututnya, hanya duduk diam di atas ranjang melihat kearah jendela yang sedang turun hujan.


Ketukan pintu terdengar, Naya mengerutkan keningnya. Biasanya jika ada yang datang membunyikan bel, baru pertama kali ketukan pintu pelan.


"Tidak mungkin siang-siang ada hantu?" Naya turun dari atas tempat tidurnya.


Pintu terbuka, Naya melihat punggung Andra yang berencana masuk ke ke apartemennya. Senyuman Andra terlihat menatap Naya.


"Aku pikir kamu tidur." Andra ragu untuk melangkah mendekat.


"Bagaimana soal meeting hari ini?" tanya Naya agar suasana tidak canggung.


"Boleh aku masuk?"


Kepala Naya mengangguk mempersilahkan, Andra memberikan beberapa makanan cepat saji karena dia belum sempat makan.


"Mau di masak tidak?"


"Iyalah, aku lapar."


Kanaya memasak ramen yang Andra bawa, mencampurkan beberapa butir telur, memasukkan sayuran seadanya.


Bau wangi tercium, Andra duduk di meja tidak sabar lagi karena perutnya sangat lapar setelah meeting.


"Apa kamu kehabisan uang, setidaknya bawa daging?"


"Bukannya dulu kita sering makan ini?"


"Masih ingat saja, terkadang juga makan shabu-shabu." Naya meletakkan di atas meja mempersilahkan.


"Gila ini enak sekali Naya, aku pikir keahlian memasak sudah hilang karena kerja," puji Andra yang makan dengan lahap.


Tawa Naya terdengar, menyerahkan telur goreng ke atas piring Andra karena dia sangat menyukai telur.


Dulu Andra suka bertengkar dengan Arvin karena telur, selera makan Andra sangat sederhana.


"Makanan meeting hari ini?"


"Melebihi ekspektasi, aku tidak mungkin mengecewakan, kamu kenal siapa aku?"


Lirikan mata Naya sinis, Andra memang bisa membedakan masalah sehingga urusan pekerjaan tidak terganggu.


"Dia hamil Nay, aku rasa itu yang ingin Arvin katakan." Andra baru saja saat Arvin menawarkan bantuan.

__ADS_1


"Emh, dia pasti tahu jika kamu tidak mungkin melakukannya, aku sepemikiran." Naya meletakkan minuman.


"Bagaimana kamu bisa begitu yakin?"


Naya duduk di depan Andra, bagaimana mungkin tidak tahu. Mereka para remaja yang memiliki konflik masing-masing, Naya dengan perjuangan hidupnya, Arvin dengan konflik keluarga, Agra yang jatuh berjuang untuk bangkit, sedangkan Andra memilih pergi untuk membuktikan diri.


Langkah mereka memiliki tujuan, tidak mungkin melenceng ke hal lain. Meksipun sesekali masih bersenang-senang hanya untuk menghilangkan penat.


"Jika kamu tidur dengan wanita, maka kamu membuka jalan kehancuran," ucap Naya memberikan peringatan.


"Jangankan melakukannya, membayangkannya saja tidak pernah. Maaf soal kejadian di kantor tadi," ujar Andra yang tahu jika Naya melihatnya bersama Syifra.


Senyuman Naya terlihat, dia yang salah karena lancang masuk. Niat Naya menahan Syifra agar tidak masuk karena Andra sedang mandi, ternyata Andra membukakan pintu.


"Aku pikir itu kamu."


"Jika aku kenapa dibuka?"


"Aku tahu kamu tidak akan menyerang." Andra meletakkan gelasnya yang kosong, Naya menuangkan minuman.


Sejujurnya Naya sedih sampai kepikiran, dia tidak bisa tidur membayangkannya. Naya sedikit kecewa.


"Lalu bagaimana dengan kandungannya?"


"Dia berencana bunuh diri, aku tidak peduli. Kita sudah dewasa seharusnya tahu apa yang dilakukan pasti ada resikonya." Andra sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi Syifra memaksa untuk bertanggung jawab.


"Jadi alasan kamu karena Mami?"


"Kedua," jawab Andra.


Kerutan di kening Naya terlihat, menunggu ucapan Andra lebih jelas lagi. Andra pasti memiliki alasan sehingga memutuskan untuk bertunangan.


"Aku tahu suatu hari pasti akan pulang, dan kita akan bertemu. Tidak ingin mengusik kebahagiaan kamu dan Agra aku memutuskan untuk move on jika nanti melihat kalian dengan rumah tangga bahagia." Andra mengakui jika dia gagal move on, dan sedang memaksa dirinya untuk melepaskan perasaan itu.


"Apa itu alasan kamu mengakhiri hubungan ini?"


"Nay, aku tidak meninggalkan Syifra karena masih mencintai kamu, tapi aku melepaskan dia demi kebaikannya. Ternyata aku tidak mengenalnya sama sekali, bukannya akan menyakiti jika bersama?"


Naya tidak memberikan respon, dia tidak ingin berkomentar soal hubungan Andra dan Syifra. Naya tidak tahu rasanya berpacaran, dia hanya sibuk bekerja dan bekerja.


"Jika ingin putus ya putus, tapi pastikan Syifra tidak akan mengusik keluarga."


"Ada Arvin yang akan menjaga Alis, Papi mengatakan agar aku memilih bahagia tidak selalu mengakhiri papi mami, kamu juga bukan hal yang harus aku khawatirkan. Lalu apa yang aku takuti?"


"Setidaknya kamu lindungi aku, bagaimana jika dia mengirim preman?"


"Aku lebih mencemaskan preman itu." Tawa Andra dan Naya terdengar, geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka berdua.

__ADS_1


Kepala Naya terangkat melihat ke arah Andra yang memperhatikannya makan, sikap jahil terlihat di wajah Andra membuat Naya was-was.


"Kenapa?" mulut Naya tergagap saat Andra mengecup bibirnya.


"Masih ingat ini?"


"Andra!" teriakan Naya terdengar, sumpit yang Naya pegang terbang ke arah Andra yang sudah menghindar.


Tatapan Naya tajam, Andra hanya tertawa merindukan kemarahan Naya yang setiap hari melayangkan pukulan.


"Mau lebih lama tidak?"


"Mulai gila, apa itu yang kamu lakukan saat pacaran?"


Andra menggeleng, dia hanya melakukannya pada satu wanita, tertawa dan bercanda juga hanya bersama Naya.


Kepala Andra dilempar menggunakan sendok, tubuh Andra tumbang di atas sofa, menutup wajahnya.


"Kenapa Dra, kena mata kamu?" Naya berlari kecil mendekat, menyentuh wajah Andra yang tertutup telapak tangan.


Mata Andra terpejam, Naya meminta membuka mata karena dia harus mengeceknya agar tahu lukanya di mana.


Andra duduk di depan Naya, kedua matanya terbuka melihat betapa indahnya di depan wajahnya. Andra selalu bermimpi bertemu Naya, tapi kali ini wanita yang dirindukannya ada di depan mata.


"Aku merindukan kamu Naya," ucap Andra serius.


"Aku juga, tanpa kamu di sini rasanya sepi, tidak ada lagi sosok pria pemarah yang sebenarnya sangat perhatian." Naya merasa kehilangan, bukan hanya dirinya tapi persahabatan mereka terasa semakin jauh.


"Sayangnya, aku tidak ingin menjadi sahabat," ucap Andra pelan.


"Emh, dari dulu kamu selalu menganggap aku musuh, hidup kita tidak selevel."


"Apa kamu yakin itu yang aku pikirkan tentang kamu?" Andra tertawa kecil, dia tidak merendahkan Naya, tapi selalu penasaran dan iri karena Naya terlalu kuat sebagai wanita.


Senyuman Naya terlihat, memejamkan matanya saat bibir hangat menyentuh bibirnya lembut.


Jantung Naya berdegup kencang, meremas kedua tangannya menahan malu karena Andra menangkup wajahnya.


"Di kantor aku atasan kamu, di depan teman-teman kita musuh, tapi saat berdua kita pasangan."


"Enak saja, kapan aku menerimanya?" Naya mendorong kepala Andra sampai terguling kembali.


Tangan Naya ditarik, tapi pukulan tangan kiri Naya tidak kalah kuat sehingga Andra melepaskan.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2