
Bangun tidur Andra celingak-celinguk melihat Arvin yang tidur di lantai karena ditendang oleh Andra, dan tidak bisa tidur semalaman karena Andra mengacau.
Wajah Andra meringis karena mengingat semua kejadian, berjalan perlahan keluar kamar dan tanpa sengaja mendengar keributan.
Pukulan kuat menghantam wajah, Andra menelan ludah pahit karena kakek yang sudah tua memukul putranya.
"Beraninya kamu menyebabkan kerugian mencapai triliunan!"
"Apa yang Ayah lakukan sudah keterlaluan? Membakar apartemen, membuat anak-anak itu tidak punya tempat tinggal, bahkan Ayah membunuh istriku!" teriakkan Daddy Ar kuat merasa sangat marah karena Ayahnya tidak punya hati.
"Ini peringatan untuk kamu dan Arvin agar bisa memimpin, Arvin terlalu keras kepada, dia harus dibuat jefa."
"Kita tidak bisa memimpin apapun, bahkan Ar tidak bisa jadi Ayah yang baik untuk Arvin, aku gagal menjadi suami karena ambisi Ayah. Jika Ayah bahagia dengan kekuasaan maka nikmati sendiri, sekarang aku tidak akan tinggal diam jika Ayah melibatkan Arvin. Sudah cukup aku kehilangan istriku, tidak ingin kehilangan anakku juga."
Pas bunga pecah mengenai kepala, Daddy terlempar memegang kepalanya yang mengeluarkan darah.
Kakek lebih baik melihat anaknya mati daripada harus hidup, tidak ada gunanya memberikan kemewahan jika tidak ada penerus.
"Daddy," panggil Arvin yang baru bangun langsung lari ke lantai bawah membantu daddynya berdiri.
Tatapan mata Arvin tajam, membentak kakeknya karena tidak punya hati. Wanita mana yang ingin hidup dengan lelaki tidak berhati.
"Keputusan Nenek sudah benar meninggalkan kakek, buktinya dia bahagia dengan keluarga barunya, sedangkan Kakek tidak menemukan artinya bahagia," ucap Arvin meneriaki kakeknya.
Tawa Kakek terdengar, Arvin belum lama melihat dunia, dia belum tahu jika kekayaan berada ditingkat teratas.
Saat memiliki segalanya pasti dihormati, tapi jika hidup kekurangan menatap saja tidak akan sudi.
"Kamu akan tahu rasanya jika tidak punya apapun," sindir kakek.
"Arvin tidak gila hormat seperti Kakek, Avin hanya menginginkan keluarga yang harmonis. Percuma Avin memiliki segalanya jika hidup dalam ketakutan dan tidak bahagia." Tamparan juga kuat menghantam Arvin, teriakan Daddy terdengar memeluk putranya.
Seandainya tidak menghormati sebagai orang tua mungkin sudah lama Kakek dipukul, tapi Arvin menahan dirinya, bahkan menahan tangan daddynya.
"Vin, sakit Nak? Lebih baik Daddy yang memukul daripada melihat orang lain yang melayangkan pukulan." Daddy meneteskan air matanya mengusap wajah putranya.
"Terima kasih Daddy sudah mendidik Arvin dengan keras, sekarang aku jauh lebih kuat. Pukulan Kakek tidak seberapa." Senyuman Arvin terlihat menatap Kakeknya yang melangkah pergi.
Perasaan Arvin sedih melihat Daddynya sampai meneteskan air mata, selama ini hanya menilai jika daddynya pria paling jahat.
"Kamu tetap di rumah, Daddy mengejar Kakek dulu."
__ADS_1
Kepala Arvin mengangguk, menatap punggung daddynya yang berlari mengejar Kakek.
"Daddy sangat menyayangi Kakek, sudah dipukul bahkan tidak dianggap anak tidak membuat Daddy melepaskan."
"Beda seperti kamu Vin, pilih meninggalkan daripada memahami. Anak durhaka," sindir Andra sambil tertawa.
"Mana aku tahu, kamu tidak pernah melihat betapa kejamnya Daddy, dia yang selalu merendahkan, bahkan tidak ragu melayangkan pukulan." Arvin mengusap wajahnya yang sakit karena dipukul.
Kakeknya sudah tua saja masih melayangkan pukulan, Arvin melirik Andra yang nyengir puas membuat Arvin kesal.
Andra teriak kaget karena dia ada meeting di kantor, Papinya pasti mengamuk lagi jika tahu Andra tidak mengikuti rapat.
"Cepatlah pergi," pinta Arvin.
"Masa iya pakai baju ini, belum mandi lagi." Andra balik lagi ke kamar Arvin mencari baju, tapi tidak ada satupun yang cocok untuk digunakan ke kantor.
"Kenapa baju kamu mirip baju preman semua Vin?"
"Jangan dipakai, tidak ada juga yang memberikan kepada kamu." Arvin megeluarkan baju yang khusus untuk ke kantor jika kakeknya memaksanya untuk kerja.
"Baju disimpan, kamu pikir tidak bisa dipakai rayap." Andra mengambil beberapa baju.
Tanpa mandi lagi, Andra langsung pergi ke kantor. Rapat sudah dimulai, Papinya pasti akan melemparkan berkas ke wajahnya lagi.
Tanpa sengaja Andra melihat Naya lewat menggunakan roda dua, langsung meninggalkan mobilnya naik ke atas motor Naya.
"Woy, apa yang ... Andra, kenapa kamu?" Nay kaget karena tiba-tiba ada yang naik motornya.
"Jalan lebih cepat sebelum meeting berakhir, hidupku bergantung kepada kamu Nay." Andra memeluk pinggang Naya karena mempercepat laju motornya melewati jalanan yang macet.
Kemanapun Naya dalam mengemudi cukup baik, Naya menghentikan motornya agar Andra segera mengikuti rapat.
Andra langsung lari masuk tanpa mengucapkan terima kasih, Naya menatap sinis berjalan membawa beberapa barang yang dibelinya.
"Matilah aku, sekarang harus bagaimana?" Andra menatap wajahnya yang berkeringat mengetuk pintu masuk ke dalam ruang rapat.
Mata Andra terbelalak besar, tidak ada satupun yang berada di dalam ruangan rapat, Andra sangat yakin tidak mungkin salah tempat.
"Anjing, salah jadwal." Andra berteriak kuat saat melihat ponselnya ternyata salah jadwal.
Pintu lift untuk atasan terbuka, Andra membungkuk saat melihat papinya datang. Sapaan Andra tidak dipedulikan sama sekali.
__ADS_1
"Tumben sekali kamu datang pagi, biasanya siang."
Senyuman Andra terlihat masuk ke dalam ruangan menjawab panggilan dari kepolisian. Mobil yang Andra tinggalkan di jalanan membuat keadaan semakin macet.
Mobil Andra diderek ke kantor polisi, dan dia harus datang untuk memberikan keterangan. Andra menarik napas panjang.
"Sialnya, membuat penyakit saja." Andra mengumpat kasar membenturkan kepalanya dimeja.
Malas sekali Andra mengurus mobilnya, terserah polisi saja ingin menjadikannya apa. Palingan setelah aman baru diambil.
"Pak Andra ada rapat dadakan," ucap staf yang bertugas.
Andra sengaja memanggil Kanaya untuk print laporan yang sudah di data untuk persentase di saat rapat.
"Lamanya," tegur Andra..
"Lagian kamu gila, ada banyak staf di lantai ini, kenapa harus aku." Nay mengambil laptop Andra print laporan untuk materi rapat.
Senyuman Andra terlihat karena Naya marah-marah, menjilid laporan dan melemparkan ke hadapan Andra.
"Selesai, aku pergi sekarang!"
"Belikan aku sarapan," pinta Andra.
"Aku bukan Og."
"Kamu Og, orang gila. Jika tidak aku pecat." Andra meletakkan uang.
Naya meremas uang langsung pergi ke arah kantin untuk membeli sarapan yang Andra inginkan.
Tawa Andra terdengar merasa puas melihat Naya marah-marah, sungguh menggemaskan sebelum pukulan melayang.
Di kantor Andra bebas mengerjai Naya, tapi di luar kantor bisa perang dunia karena Naya sangat pemarah.
"Kira-kira dia mengumpat aku apa?" Andra langsung pergi meeting.
Makanan yang dia inginkan sebenarnya untuk Naya karena sudah mengantarnya tepat waktu.
"Kanaya, apa yang aku bicarakan dengannya saat mabuk. Kenapa aku merasa dia menangis?" Andra mengerutkan keningnya, tidak bisa mengingat kejadian saat mabuk.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira