KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
TIDAK INGIN KEMBALI


__ADS_3

Wajah Naya tidak bersahabat sama sekali, Daddy yang melihatnya aneh. Gadis yang biasanya ceria, mendadak diam.


"Kak Naya kenapa Raya?" Daddy menatap putrinya yang sedang bermain tablet.


"Mungkin galau memikirkan mobilnya jeleknya."


"Ditanya dulu, kasihan Kakak Naya."


Bibir Raya manyun, dia tidak suka bicara dengan Naya yang tidak ada lelahnya berdebat.


Senyuman Agra terlihat, membiarkan Naya sendiri, hatinya sedang patah karena mendapatkan perlakuan dingin.


"Gra, kapan kamu akan menikah?"


"Ma, pertanyaan itu terlalu menyeramkan," jawab Agra yang belum terpikirkan untuk menikah.


Helaan napas Mama terdengar, usia tidak muda lagi, karir juga mapan, tidak ada lagi yang harus ditunggu.


Mengejar karir tidak akan ada habisnya, Agra terlalu terlena dengan kehidupan populernya sampai lupa cara membahagiakan diri sendiri.


"Jika Agra belum siap sudahlah, jika sudah waktunya pasti bertemu. Bagaimana dengan kamu Prilly?" Daddy menatap wanita cantik yang menuruni tangga.


"Ada apa Tuan, maaf Prilly tidak mendengar."


"Kapan kamu akan membawa lelaki itu?" tanya Daddy yang tidak suka dipanggil Tuan.


Senyuman Prilly terlihat, wajahnya memerah sambil menggeleng. Tidak ada lelaki yang sedang dekat dengannya.


Mama memicingkan matanya, menatap wajah Prilly yang dulunya polos tanpa polesan, sekarang mulai merah bibir dan pipinya.


"Menikahlah, berhenti bekerja dengan Agra, dia hanya membuat sulit, selalu bergantung dan keras kepala. Wanita itu calon ibu, jangan ditunda lagi, usia sudah lebih dari cukup." Mama meminta Prilly mulai mencari pasangan tidak harus bekerja terlalu keras.


Kepala Prilly mengangguk, dirinya akan menikah setelah Arvin kembali, ada janji yang harus dirinya tepati kepada Mommy Arvin.


Dirinya sudah dibesarkan, dicintai, dan tidak mendampingi Arvin hampir delapan tahun lamanya. Prilly ingin memastikan Arvin baik, dan bahagia barulah dirinya akan memilih untuk hidup seperti apa.


"Ma, Daddy, Naya pulang dulu." Tangan Naya melambai mengecup pipi Raya membuat suara teriakan histeris.


Tawa Naya terdengar, gemes melihat Raya yang berpura-pura kesetrum. Raya paling tidak suka dicium oleh Naya, hanya Daddy, Mama dan kedua Kakaknya yang boleh.


"Ayo aku antar pulang." Agra mengambil topi dan jaketnya untuk mengikuti Naya.

__ADS_1


"Tidak takut digosipkan, apa penggemar akan baik-baik saja?"


"Aku juga manusia biasa, memiliki kehidupan pribadi. Lagian belum menyerah meksipun ditolak delapan tahun yang lalu." Agra berjalan keluar lebih dulu diikuti Naya yang bersikap biasa saja.


Kepala Prilly tertunduk, memendam rasa memang tidak enak, bersama Agra setiap harinya tidak membuatnya memandang layaknya wanita.


"Sudah waktunya aku melepaskan dia, dua belas tahun memendam rasa sudah lebih dari cukup," batin Prilly yang menetapkan pilihannya untuk mundur.


"Kamu mau pergi ke mana Prilly?"


"Ada janji dengan seseorang, pamit dulu Daddy, Mama," ucap Prilly yang melangkah pergi ke mobilnya.


Kepala Mama geleng-geleng, memahami perasaan Prilly yang memendam rasa, tapi Agra tidak pernah peka.


Berharap Prilly berani menyatakan perasaannya, meskipun mendapatkan penolakan.


Tangan Naya melambai saat Prilly pergi lebih dulu, menatap Agra yang cuek saja karena hanya menganggap Prilly sebagai sahabat.


"Belum peka juga Gra?" Naya masuk ke dalam mobil Agra.


"Maksudnya, peka soal apa?"


Naya memutuskan tinggal sendiri, sesekali Erin datang berkunjung. Jika Alis pulang selalu menginap. Hanya satu orang yang belum juga datang, padahal Naya masih di tempat yang sama.


"Kapan kira-kira Andra balik lagi ke sini?"


"Tidak tahu, dia tidak mengenali aku lagi. Apa wajah Naya berubah?" Wajah Naya sedih karena tidak bertegur sapa.


Tangan Agra mengusap kepala Naya lembut, suatu hari pasti Andra akan berpapasan. Dia sudah mengatakan akan memimpin perusahaan berarti akan kembali.


Naya memijit pelipisnya, bayangan Naya jika bertemu bisa saling menanyakan kabar, tapi ternyata sama saja saat pertama bertemu selalu ribut.


"Aku rasa Andra memiliki karakter lebih buruk dari sebelumnya, apa tidak pernah ada berita soal dia?" Nay mengambil ponselnya mengecek grup perusahaan kemungkinan dirinya tertinggal.


Tidak ada informasi apapun, Naya tidak tamu apapun soal Andra, dia tampan, mapan, berwibawa, dingin, tatapan menyeramkan.


"Sial, bagaimana aku bisa tidak sadar jika pria ini yang digosipkan orang." Nay memukul dasbor mobil.


"Ada apa?"


"Dia pemimpin perusahaan Dragon, perusahaan terbesar yang menaungi perusahaan AA. Lima tahun yang lalu AA naik kembali atas bantuannya, wajar saja perusahaan bangkit jika anak pemiliknya yang membantu."

__ADS_1


"Terus kenapa marah? Tujuan kamu bertahan di perusahaan itu juga agar bertemu Andra," sindir Agra agar Naya meredam emosinya.


Usia tidak muda lagi, tidak sepantasnya Naya marah-marah seperti masih remaja. Apa yang Andra lakukan juga tidak mudah.


"Apa dia mengenali aku?"


"Biarpun dia kenal tidak mungkin menyapa, dia itu Andra Nay. Kita tahu sendiri tabiat Andra seperti apa?"


Mobil sampai di apartemen, Naya membangun kembali apartemen di lokasi yang sama, dari bangunan kecil hingga menjadi apartemen mewah.


uang yang Naya hasilkan bertahun-tahun habis untuk apartemen, setidaknya Apartemen juga menghasilkan uang dan Naya tidak perlu keluar uang setelah berdiri kokoh.


Tangan Naya melambai, meminta Arvin pulang karena suasana hatinya tidak baik sama sekali.


Kanaya berharap saat terbangun pagi tidak ada lagi bayangan wajah Andra yang menyebalkan.


"Nay, besok Arvin pulang, sore kita jemput dia."


"Hokey," jawab Naya.


Senyuman Agra terlihat, Naya tumbuh menjadi wanita dewasa yang gila kerja, dia tidak punya waktu liburan karena harus menghasilkan uang.


Impian terbesar Naya memiliki tempat tinggal, satu mimpinya tercapai, meksipun melewati waktu yang lama.


"Agra, Prilly bertemu dengan seorang aktor, kamu akan segera ditinggalkan," teriakkan Naya terdengar menujukkan ponselnya.


Kerutan di kening Agra terlihat, mengecek ponselnya karena ucapan Naya benar. Agra menghubungi Prilly, tapi panggilannya tidak terjawab.


"Sialan, aku sudah mengatakan jika lelaki itu tidak baik, apa yang dia lihat. Perempuan memang mudah sekali ditipu hanya karena tampang." Agra banting pintu mobil.


Tawa Naya terdengar, merasa lucu dengan sahabatnya. Terlalu sibuk bekerja sampai tidak bisa mengatur perasaan.


"Mencintai tanpa bisa diutarakan sungguh menyakitkan, kenapa waktu begitu cepat berlalu sehingga aku tumbuh menjadi gadis dewasa. Jika boleh memilih, sebaiknya aku kembali ke kehidupan yang mana?" Kepala Naya menggeleng tidak ingin kembali karena dia harus melewati proses yang melelahkan.


Sejak kecil hingga dewasa, kehidupan Naya hanya berjuang, bahkan dia tidak ingin kembali menjadi anak kecil seperti yang orang lain inginkan.


"Aku bahagia, tidak boleh balik lagi. Aku butuh waktu puluhan tahun untuk berada di sini." Nay lompat ke atas tempat tidurnya untuk beristirahat.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2