
Tawa Agra terdengar melihat dua sahabatnya duduk menunggu di sofa, menatap tajam Agra yang baru saja kembali.
"Dari mana Lo setan, gila kabur dari kamar secara diam-diam." Andra melempar bantal sofa.
"Bagaimana hasilnya, dapat apa Lo? Satu gorengan saja tidak dibawa pulang." Kepala Arvin geleng-geleng melihat Agra hanya tertawa.
"Kenapa juga kalian berdua tidak tidur?"
Senyuman Agra terlihat, melepaskan topinya duduk di sofa menatap dua orang yang nampak kesal.
Agra meminta maaf jika sudah menganggu tidur, dia hanya pergi mencari angin segar untuk bernapas.
"Angin segar bawa perempuan, mendingan Lo lihat berita." Arvin melemparkan tabletnya ke arah Agra.
Tablet diletakkan di atas meja, Agra tidak peduli dengan pemberitaan. Dia sudah siap dengan segala konsekuensinya.
"Mempertaruhkan karir demi cinta?" kedua tangan Andra bertepuk kuat.
"Bukan mempertaruhkan, tapi aku ingin memiliki kehidupan layaknya orang normal. Jika memang penggemar menghargai aku maka harus terima siapapun wanita pilihanku, jika tidak bisa maka aku siap ditinggalkan." Senyuman Agra terlihat meminta dukungan Andra dan Arvin yang terpaksa mengangguk.
"Emh, aku paham penghalang hanya penggemar." Kepala Arvin menoleh kepada Andra sekilas karena masalahnya ada pada Andra yang pasti akan menyulitkannya.
Mata Andra terpejam, masih mendingan Agra menghadapi banyak orang, daripada Andra mengatasi satu orang saja sulit. Bagaimana bisa dia mendapatkan cinta Naya, jika Syifra terus menjadi bayangan.
"Kenapa kalian berdua yang terlihat stres?" tawa Agra terdengar karena dia paham masalah Arvin dan Andra yang lebih rumit dari dirinya.
"Sekarang apa rencana kamu?"
"Aku akan meninggalkan perusahaan," balas Agra mengejutkan Arvin karena saran darinya diterima oleh Agra begitu cepat.
Tarikan napas Arvin panjang, jika Agra memutuskan meninggalkan perusahaan dia harus mempunyai jalan lain. Tidak bisa pergi tanpa persiapan apapun kedepannya.
Menjadi seorang musisi impian Agra, juga suatu kebanggaan yang bisa membuktikan kepada papa yang pergi meninggalkan dia dan mamanya.
"Jangan tinggalkan karir kamu, jika menikah juga harus bisa menghidupi anak orang. Jangan main-main Gra," tegur Andra yang tidak terlalu setuju karena Agra membutuhkan perusahaan untuk menjaganya.
"Siapa yang ingin meninggalkan, aku akan pindah perusahaan baru."
"Agensi mana yang lebih besar dari agensi sekarang?" Arvin meminta maaf karena sarannya tidak bagus sama sekali meminta Agra membuka agensi sendiri.
"Vin, jangan marah ya. Aku tahu ini tidak adil bagi kamu, tapi aku butuh bantuan Daddy."
__ADS_1
"Ada apa dengan Daddy, jangan bilang dia selingkuh?" Arvin berdiri dari duduknya tidak terima jika Adiknya akan merasakan luka seperti dirinya.
Lengan Arvin ditarik agar dia duduk kembali, Agra tidak membahas soal hubungan orangtuanya, tapi dia membutuhkan Daddy untuk membangun agensi.
Mata Arvin dan Andra terbelalak, Daddy menyetujui untuk membuka perusahaan baru bersama Agra. Demi kenyamanan anaknya, siap membuka agensi yang jauh lebih baik.
"Daddy memberikan kamu perusahaan, jika begitu aku juga mau meminta dibangunkan rumah sakit juga. Daddy harus adil," kesal Arvin berpura-pura membuat Agra tidak enak hati.
"Kalian berdua bangun saja perusahaan dan rumah sakit, aku akan menanamkan saham agar kita bisa mendapatkan keuntungan bersama."
Ketiganya tersenyum, Andra memang terbaik karena bisa diandalkan. Jika Andra siap membantu maka bukan hal yang sulit.
"Kapan Dra?" Agra tidak sabar lagi memberitahu Daddy.
"Sebenarnya sudah berjalan, Daddy sempat menghubungi aku membahas perusahaan agensi dan aku menyerahkan semuanya kepada Daddy. Semakin dia tua, dunia bisnisnya semakin besar dan ambisinya sebesar anak muda." Andra setuju dengan rencana Agra, tapi untuk Arvin masih membutuhkan waktu.
Ekpresi wajah Arvin sinis, seharusnya Andra juga mendukung dirinya sebagai sahabat, tidak adil jika hanya Agra.
"Vin, kamu tidak suka ya?"
"Emh, Daddy tidak adil." Kepala Arvin tertunduk menolak disentuh Agra.
"Aku senang melihat kamu dan Daddy dekat, jangan berpikir aku iri. Kita sama-sama anak Daddy," ucap Arvin mendukung Agra apapun keputusannya.
"Terimakasih Vin, kamu memang adik terbaik." Pelukan Agra erat, Arvin teriak histeris saat pipinya mendapatkan kecupan.
"Sial, aku ngak mau jadi Adik kamu! Agra, sialan." tendagan Arvin kencang membuat Agra terpental.
Tawa Andra terdengar, dua saudara tiri yang sangat akur. Sungguh patut dicontoh, apalagi keduanya sejak muda dekat, rasanya canggung mengubah menjadi Adik kakak.
"Kenapa menciumi pipiku?"
"Raya boleh, kenapa aku tidak boleh?"
"Beda ... jijik tau." Kedua tangan Arvin menutup pipinya.
Kepala Andra geleng-geleng, tiduran di sofa sambil berpikir. Apa cintanya bisa berjalan dengan lancar seperti Agra yang berani ambil tindakan.
"Kenapa Dra?" tatapan mata Agra ke arah ponsel Andra yang terus berdering.
Panggilan dari Syifra sudah lebih dari dua puluh kali tidak dijawab, Andra seakan menghindarinya.
__ADS_1
"Selesaikan hubungan kalian secara baik-baik, salah sendiri memberikan harapan kepada wanita. Selama dia belum rusak oleh Lo, masih aman." Ponsel di sodorkan ke arah Andra.
"Memang benar aku nakal, tapi bukan perusak wanita." Andra mengambil ponselnya menjawab panggilan.
Terdengar suara marah-marah dari ponsel, Syifra baru mengetahui jika Andra tidak datang ke kantor, dan menolak kerja sama dengan beberapa orang penting.
"Dra, kamu di mana?"
"Jangan ikut campur dengan pekerjaanku. Bukannya kamu sudah memiliki perusahaan sendiri, kenapa masih mengurusi aku?"
"Andra, apa yang aku lakukan demi kebaikan kamu," balas Syifra mencoba membuat Andra mengerti.
"Emh, kita memang hanya cocok sebagai partner kerja, keputusan aku soal berpisah paling tepat." Kepala Andra pusing selama delapan tahun dirinya bekerja dan terus bekerja.
Mencoba memuaskan banyak orang, tapi Andra sadar dirinya kehilangan jati diri. Kesibukan dalam bekerja membuat tidak tahu letak bahagia.
"Aku akan melakukan sesuatu dalam hal wajar, termasuk pekerjaan. Tolong, jangan ikut campur dengan pekerjaanku," pinta Andra dengan nada pelan.
"Kamu tidak akan menikah ku?"
"Tidak, aku tidak bisa. Maafkan aku."
"Maaf tidak akan mengubah apapun Andra, kita harus tetap menikah. Jika kamu tidak menikahi aku, maka siap-siap saja hidup wanita itu akan hancur," ancam Syifra mematikan panggilan.
Ponsel Andra dilempar ke atas meja, Agra dan Arvin mendengar pembicaraan keduanya yang memang hanya ada cinta sepihak.
"Apa dia akan menyakiti Naya?" Arvin mendekati Andra yang nampak lemas.
"Emh, apa lagi. Aku harus bagaimana, rasanya hubungan kami semakin jauh."
"Kanaya, dia ingin menyakiti Naya? Kenapa dia harus menargetkan Naya?" Kepala Agra menggeleng.
"Tidak mungkin dia menargetkan nenek kamu, ini semua terjadi karena kalian berdua. Seandainya dulu tidak ada yang mencintai Naya, mungkin hubungan kami baik."
"Kenapa Nenek dan kita disalahkan?" Agra tidak mencemaskan Naya, tapi lebih cemas kepada Syifra yang akan terkena masalah.
Arvin sependapat dengan Agra, Naya tidak bisa diganggu. Dia bisa mematahkan hidung Syifra jika mengusik pekerjaannya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1