
Pintu ruangan terbuka, Agra tersenyum kecil ke arah Prilly yang membawakan bajunya. Wajah wanita cantik dan tinggi di hadapan Agra nampak kesal.
"Maaf," ucap Agra merasa bersalah.
Tidak ada jawaban, tidak juga ditimpali. Prilly masih nampak kesal karena Agra menerobos penggemarnya tanpa keamanan.
"Pril, apa kesalahan aku begitu fatal?"
"Ya, apa yang kamu lakukan sangat berbahaya," balasnya belum ingin menatap.
Senyuman Agra terlihat, meminta Prilly memakluminya sesekali karena terlalu bahagia melihat kedatangan para penggemar.
"Keselamatan kamu tanggung jawabku Gra, jika begitu aku mengundurkan diri saja," ancam Prilly tidak main-main dengan ucapannya.
"Maaf," balasnya memelas.
"Kamu masih ada rekaman hari ini, aku pulang lebih dulu."
Pergelangan tangan Prilly ditahan, Agra memintanya duduk memberikan air minum karena marah-marah.
"Ini terakhir, tolong dimaafkan. Aku tidak akan membahayakan diri sendiri, lagian aku hanya penyanyi biasa yang membutuhkan banyak dukungan penggemar, mohon pengertiannya." Kedua tangan Agra memohon agar Prilly tidak memarahinya lagi.
Agra tidak enak bertemu staf lain karena belum terbiasa, dia hanya memohon kepada Prilly agar selalu menemaninya.
"Mau aku traktir makan, tapi jangan pulang. Selesai rekaman kita pulang bersama." Wajah memelas terlihat sambil tertawa melihat sahabatnya tidak bisa menolak.
Panggilan dari Naya masuk, meminta Prilly membaca pesannya. Tawa Prilly terlihat karena Daddy dan Mama bersama.
Sengaja Prilly tidak memberitahu Agra, dia pasti kesal jika tahu mamanya berdekatan dengan Daddy.
"Gra, kita persiapan pemotretan." Seseorang memberitahu untuk segera bersiap.
Kepala Agra mengangguk, melangkah keluar bersama Prilly yang selalu mendampinginya setiap pekerjaan penting.
Teriakkan beberapa staf terdengar, tidak menyangka jika Agra aslinya lebih tampan dari potretnya di sosial media.
Tidak membutuhkan waktu lama, Agra sudah nyaman dengan posisinya. Menujukkan beberapa pose terbaik sambil memegang alat musik.
__ADS_1
"Keren, tidak heran penggemar kamu banyak karena kamu memang anak pekerja keras." Seorang fotografer memuji Agra.
"Bukan hanya aku yang bekerja keras, tapi semua staf yang terlibat sungguh luar biasa. Terkadang mereka tidak tidur memikirkan konsep setiap kali manggung." Senyuman Agra terlihat, dirinya tidak bisa melakukan apapun tanpa perusahaan yang menaunginya.
Seseorang mengajak Agra untuk makan malam, manager Agra meminta maaf karena sudah ada jadwal lain.
"Gra, kita lanjut ke pekerjaan selanjutnya."
"Masih ada, kenapa banyak sekali?" Agra merasa sudah mengurangi pekerjaan karena hanya ingin berfokus kepada musik.
Kepala Agra geleng-geleng melihat Prilly yang tersenyum mengucapkan terima kasih karena mereka harus segera kembali.
"Kita pulang ke rumah, sudah satu minggu tidak bertemu Mama," ucap Prilly menjalankan mobil
"Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, aku terlalu sibuk sampai kuliah dan Mama terlupakan." Tangan Agra tepuk jidat mengambil ponselnya mencoba menghubungi Mamanya.
"Gra, kamu tidak kasihan melihat Mama sendirian, dia harus kerja tanpa memiliki teman untuk berbagi beban." Prilly tahu dirinya lancang bicara soal keluarga Agra, tapi jika melihat kesibukan Agra yang harus manggung, rekaman, shooting video klip, bahkan pemotretan, bahkan meeting untuk BA yang bekerja dengan perusahaan.
Sesekali Agra juga harus kuliah, dan paling penting dia harus beristirahat. Tidak ada waktu lagi untuk setiap hari mengobrol dengan Mamanya.
"Apa sekarang aku terlihat begitu serakah?"
Kepala Agra menoleh ke arah lain, menatap jalanan yang ramai. Bahkan dia harus menghabiskan waktu berjam-jam di jalan, sedangkan bersama mamanya hanya sempat makan.
Waktu berubah seiringnya banyaknya kesibukan, apa yang Agra lakukan demi Mamanya, tapi tidak ada gunanya jika tidak memiliki waktu.
"Maafkan Prilly jika lancang, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi lima tahu ke depan, semoga Agra menjadi seseorang yang hebat dan bisa membantu banyak orang." Senyuman Prilly terlihat menyemangati Agra.
"Terima kasih Kak Prilly, semoga di tengah kesuksesan aku kita bisa terus bekerja sama."
"Entahlah, kamu susah diatur. Diajak makan malam langsung berniat ingin pergi jika aku tidak meminta manager menghentikannya." Tatapan mata Prilly tajam tidak suka dengan sikap Agra yang terlalu baik.
Mobil berhenti di restoran besar, Agra memakai topi agar tidak menganggu pengunjung lain jika ada penggemar yang melihatnya.
"Mama," panggil Agra sambil tersenyum lebar.
"Anakku." Mama menangis karena melihat Agra pulang.
__ADS_1
Pelukan erat, Agra mengusap punggung Mamanya meminta maaf karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Mama pasti kesepian tanpa Agra."
"Tidak sayang, di sini ada Naya, Alis dan Erin, ketiganya sering giliran menjenguk Mama di rumah."
"Ya, Naya seperti bolak-balik. Sehari rumah Daddy, sehari rumah Mama, tiga hari di kost. Naya juga punya kabar gembira," ucapnya menujukkan senyuman lebar.
"Pasti keterima kerja lagi di perusahaan lama, kali ini bagian apa?" Prilly langsung tahu karena Kanaya hanya mengincar perusahaan AA grup.
Kabarnya AA grup mendekati kehancuran sehingga banyak staf yang mengundurkan diri untuk menemukan tempat kerja baru, tapi Naya berjuang untuk diterima.
Alis sudah mencoba menghentikan, tapi Naya masih saja ingin kembali sekalipun dia akan di PHK sebelum gajian.
"Aku rasa jangan Nay, perusahaan itu sudah merugi sebesar tujuh puluh persen, kabarnya akan dijual." Agra menatap Alis yang menundukkan kepalanya.
Keluarga Alis sedang berada di masa sulit, perusahaan yang memiliki banyak saingan mulai redup, Papi Maminya kewalahan.
Setahu Alis Papinya hanya bisa mempertahankan apa yang bisa dipertahankan, dan melepaskan yang tidak mungkin ditahan lagi.
"Kamu baik-baik saja Lis?"
"Iya Kak Agra, meskipun Alis menangis darah dan menjual semua restoran belum tentu bisa membantu." Senyuman Alis terlihat, dirinya tahu jika hidup akan ada pasang surutnya.
Kedua orang tuanya juga baik-baik saja, semakin besar ujian hidup semakin kompak. Hanya saja keluarga Alis belum tahu keberadaan Andra.
"Begitulah rumah tangga, ada yang diuji hartanya, kesetiannya, dan kehilangannya bahkan anak juga bisa menjadi ujian dalam rumah tangga." Mama meminta semua untuk makan.
Kanaya mengangguk, mengenggam pergelangan tangannya. Dirinya berharap Andra juga akan mengingat mereka, setidaknya memberikan kabar.
"Gelang ini perlahan kusam, apa pemiliknya baik-baik saja," batin Naya menatap gelang hitam yang melingkar di jarinya.
"Kalian ada yang mau album tidak?"
"Nay mau, lumayan untuk dijual lagi, untungnya pasti besar." Gigi Naya nyengir karena Agra tidak akan memberikan kepada Naya yang memiliki tujuan buruk.
Seharusnya disimpan sebagai kenangan, tapi dia berniat mengadakan uang menjual dua kali lipat.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira