KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
LUPA WAKTU


__ADS_3

Sudah malam Naya belum juga pulang, masih sibuk di ruangan menyelesaikan pekerjaan agar tidak ada yang terbengkalai.


Begitupun dengan Andra yang sibuk di ruangan mengecek detail soal perusahaan. Dia tidak ingin kalah dari Naya, memastikan akan memimpin jauh lebih baik.


Andra lupa jika ada Sifra di apartemennya, bahkan tidak sempat mengecek ponselnya. Jika pekerjaan belum usai pantang untuk pulang.


"Beres juga, ternyata Naya cukup heba dan disegani di sini. Direktur utama saja tidak berani kepadanya. Memiliki jabatan tinggi, tapi lebih suka dipandang rendah, bukannya tingkah Naya terlalu munafik." Andra menarik napas panjang, mengambil ponsel dan kunci mobilnya.


Andra tepuk jidat baru ingat jika dia meninggalkan seseorang di apartemennya, Sifra pasti kesepian sekali dan menunggu penuh cemas.


"Halo Sif, kamu di mana?"


"Masih menunggu kamu, makanannya sampai dingin Dra," ucap Sifra yang terbangun dari tidurnya.


"Maafkan aku, sekarang aku pulang." Andra bergegas keluar dari ruangannya, tapi suara keyboard dari salah satu ruangan terdengar.


Perlahan pintu ruangan terbuka, Andra melihat Naya masih di depan komputernya. Mengetik sesuatu sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang masuk.


Andra berdiri di belakang Naya melihat apa yang sedang dikerjakan. Tidak Andra sangka jika Naya memang memiliki peran yang cukup besar bagi perusahaan, dia sangat disegani dan dihormati keberadaan.


"Kirim saja orang percaya untuk pergi, survey secara langsung jauh lebih baik." Andra menujuk ke arah komputer.


Kepala Naya menoleh ke belakang, melihat Andra. Ternyata dia juga belum pulang padahal sudah jam sembilan malam.


"Aku tahu jika soal itu, masalahnya tidak mungkin setiap hari harus survey, tindakan itu menganggu para pekerja, tpi jika tidak disurvey juga meragukan pekerjaan." Naya harus memikirkan dengan matang tindakannya, tidak bisa membiarkan proyek berjalan tanpa pengawasan.


"APa kamu sellau bertindak sejauh ini?"


"Tidak ada pilihan, coba lihat berapa banyak kasusnya." Nay menunjukkan wajah-wajah orang yang pernah mengkhianati perusahaan.


Bukan satu dua orang, tapi hampir ratusan karena menganggap perusahaan akan hancur sehingga mengambil keuntungan.


"Penjahat sesungguhnya, orang-orang pintar yang sengaja datang untuk menghancurkan."


"Apa kamu menyindir aku?"


"Apa kamu merasa tersindir," bentak Naya.


Helaan napas Andra terdengar, menaiyk kursi untuk duduk di samping Naya. Keduanya bisa mengobrol soal pekerjaan secara terbuka.

__ADS_1


Andra merasa nyaman bicara soal pekerjaan bersama Naya, tiap kali membantah pasti memberikan alasan yang sangat logis.


"Bagaimana dengan ini, bukannya hanya menganggu?"


"Ini daftar mahasiswa yang sedang magang di perusahaan, aku sengaja menyarankan untuk membantu di bidang masing-masing agar keluar dari sini ada manfaatnya." Bisa Naya mengerti jika perusahaan sudah memiliki banyak staf, tidak membutuhkan bantuan dari luar.


Andra tidak membantah, rencana Naya ingin membangun cabang sebenarnya saran yang sangat baik. Dia juga meyiapkan staf terbaik untuk dibagi, juga orang kepercayaan yang sangat bisa diandalkan.


"Kapan mulai proyeknya?"


"Seharusnya kamu yang memimpinnya, lawan terbesar kita sebenarnya dewan direksi. Aku tidak tahu mengapa mereka ada diperingatkan atas, tidak kerja, tapi banyak protes."


"Itu pemegang saham Naya, asal bicara. Dewan direksi itu termasuk kamu," tegur Andra.


Di dalam hati Naya tersenyum ternyata Andra mengakui dirinya, di saat tubuh sudah lelah bekerja, konsetrasi Andra masih sangat baik.


Diskusi keduanya sangat panjang sampai jam sebelas malam, Naya menatap ponsel. Berdiri dari duduknya untuk pamitan pulang.


"Belum selesai Naya," sindir Andra yang menunjukkan beberapa laporan.


"Jika kamu mau selesaikan saja, besok aku ada urusan ke luar kota." Kanaya melangkah pergi tidak ingin melewati jam dua belas masih di kantor.


Jarak kantor dan apartemen tidak terlalu jauh, apalagi jalanan sepi sehingga membuat nyaman.


"Bodohnya, mengapa mobil parkir di sini?" Naya mengerutkan keningnya melihat satu mobil menghalangi mobil Naya.


Tidak ingin membuat keributan di tengah malam, Naya memutuskan untuk naik ke apartemennya agar bisa beristirahat.


lift terbuka, Nay melihat seorang wanita yang keluar dari apartemen depannya, senyuman wanita cantik terlihat, Naya langsung membalasnya.


"Baru pulang?" sapa Syifra.


"Iya, kamu mau ke mana sudah malam?"


Senyuman Syifra terlihat, hanya ingin membeli makanan karena tidak bisa tidur nyenyak.


Kepala Naya mengangguk mempersilakan, sampai lift tertutup kembali Naya belum juga masuk ke dalam apartemennya.


"Katanya laki-laki yang sewa, tapi nyatanya perempuan. Mana yang benar? Sudahlah, paling penting membayar." Naya masuk ke dalam apartemen untuk beristirahat.

__ADS_1


Suara langkah berlari terdengar, Andra baru teringat soal Syifra yang masih menunggunya. Andra selalu kelupaan jika bersangkutan dengan pekerjaannya.


"Bagaimana aku bisa lupa?" Andra masuk ke dalam, tapi tidak menemukan Syifra.


Panggilan masuk, Andra meminta maaf karena terlambat sangat lama, Syifra memaafkan, tapi dia harus pergi karena ada perjalanan bisnis.


"Maaf ... Sif," panggil Andra, tapi panggilan sudah dimatikan.


Mata Andra terpejam, terduduk di sofa. Satu hal yang dirasakannya, dirinya bisa nyaman dengan siapapun jika membahas pekerjaan, apalagi satu frekuensi.


"Hari ini aku mengecewakan Syifra, biasanya kita bicara panjang lebar soal perkejaan, tapi bersama Naya juga bisa. Kita memiliki pikiran yang sama, apalagi Naya yang sangat tegas dengan pemikirannya.


Pikiran Andra pusing, dia tidak tahu apa yang sedang dihatinya. Dirinya bukan anak kecil lagi, lalu bagaimana bisa dirinya begitu yakin untuk menikah.


"Kenapa rasanya stres memikirkan soal perasaan, kenapa juga Naya harus hadir sekarang?" Andra berguling di sofa merasakan kegelisahan.


Seseorang pernah memberikan Andra peringatan jika dirinya akan sulit bertahan jika sudah memutuskan untuk mencintai.


"Aku dan Naya tidak mengenal dekat, berbeda dengan Syifra. Jangan bimbang lagi Andra, mencintai Naya juga akan merusak persahabatan, lebih baik menjauhinya." Andra meyakinkan hatinya jika perasaannya salah.


Pesan masuk diterima, Syifra menanyakan kembali keseriusan Andra, jika memang mencintainya setidaknya luangkan sedikit waktu agar mereka bisa bicara soal masa depan.


"Halo, maafkan aku."


"Dra, delapan tahun saling mengenal bukan waktu yang sebentar, aku selalu memaklumi kamu soal kesibukan, tapi jika memang ingin serius jadikan aku yang pertama, bukan pekerjaan." Syifra merasa sangat kecewa. Dia menunggu bukan tiga empat jam, tapi dari siang sampai malam.


Andra seakan-akan melupakannya, tidak memberikan kabar sama sekali. Sedangkan Syifra menunggu seperti orang bodoh.


"Berapa kali kamu minta maaf dalam sehari, apa tidak bosan?"


"Ya aku tahu, tapi kamu juga seharusnya paham tujuan aku kembali."


"Aku lebih cemas jika wanita dimasa lalu kamu itu juga kembali, apa dia lebih berharga dariku?"


Andra tidak menjawab, kata maaf yang terakhir Andra ucapkan karena dia ingin beristirahat.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2