
Keringat mengalir deras karena Naya lari-larian untuk masuk ke dalam kelas setelah libur kuliah selama dua bulan.
"Nay, di mana Andra?" tanya teman sekelas Naya.
"Tanyakan kepada keluarganya, aku tidak tahu," balas Naya.
Helaan napas terdengar, mahasiswa lain menatap dua lelaki berjalan melewati lapangan tanpa satu manusia tengil.
"Sedih sekali sekarang sisa dua, dengar kabar juga Arvin akan kuliah ke luar karena mengambil jurusan kedokteran," ucap beberapa siswa.
Nay menoleh ke arah suara, dia belum mendengar kabarnya apa mungkin Arvin juga akan pergi untuk melanjutkan pendidikan.
Dosen telat masuk, Naya keluar kelas kembali untuk menemui Arvin dan Agra yang berada di perpustakaan.
Terlihat keduanya sedang fokus membaca, buku yang Arvin baca juga sangat berat, Nay juga pusing hanya sekedar membaca judul.
"Kak Avin, ada berita baru d kampus ...."
"Kenapa tidak masuk kelas, bukannya tadi terburu-buru." Arvin menutup bukunya.
"Kapan perginya?"
Tawa pelan Arvn terdengar karena mereka sedang ada di perpustakaan tidak ingin menganggu mahasiswa lain yang sedang belajar.
Berita soal dirinya indah kuliah sudah tersebar, padahal Arvin akan menyudahi S1 tetap di kampus yang sama, setelah lulus baru lanjut S2 di luar.
Kanaya juga baru tahu jika Arvin dan Agra sudah menyelesaikan skripsi, waktu berjalan begitu cepat sehingga ketiganya juga akan berpisah.
"Kita masih akan bertemu Nay, jangan terlihat sedih begitu," tegur Agra sambil tersenyum.
"Naya tidak sedih, hanya baru tahu saja jika kalian berdua mahasiswa akhir." Nay melambaikan tangannya pamit pergi ke kelasnya.
Senyuman Agra terdengar, menyadari Naya merasakan kesedihan karena tidak ada Andra, Agra juga merasakan hal yang sama.
"Lo yakin Vin bakal kuliah sejauh itu, apalagi keberadaan Andra belum diketahui."
Senyuman Avin terlihat sangat yakin dengan keputusannya. Daddy juga sudah memberikan izin, dan tujuannya juga mulia ingin belajar menjadi pria yang lebih dewasa.
"Gra, ada satu rahasia yang ingin aku beritahukan di hari Naya bangun, sebelumnya bagaimana perasaan kamu sama dia?"
__ADS_1
Lipatan alis Agra terlihat, dia masih pada pendiriannya. Naya menolak berarti sudah selesai, Agra juga tidak merasa tersinggung setidaknya ia sudah mengakui.
Ada masa depan yang masih harus diperjuangkan, Agra ingin membahagiakan Mamanya dan menjadi pemusik yang terkenal.
"Nay, menyukai Andra aku yakin kamu tahu itu, dan hari itu Andra datang dan menyaksikan semuanya. Dia berpikir kalian saling mencintai sehingga pergi tidak ingin menganggu. Jika aku pergi titip Naya, Alis, Prilly ...."
"Banyaknya, kenapa ada tiga wanita, lagian mereka bertiga lebih kuat dari aku." Agra merasa dirinya yang akan dijaga oleh tiga wanita.
Kepala Arvin geleng-geleng sambil tertawa, meskipun ketiganya kuat tetap butuh Agra sebagai pria populer.
Tidak berapa lama Naya datang lagi mengatakan jika kelasnya diundur. Di belakang Naya ada Alis yang berjalan lemas.
"Ada apa Lis?"
"Kak Arvin mau pergi, Kak Agra sibuk di studio musik, Prilly sibuk kerja, Naya juga, lalu Alis sama siapa?"
"Lo kerja Lis katanya mau buka cabang baru?"
"Bukan Alis yang buka, tapi Mama. Lagian tidak mau banyak restoran, pusing banyak karyawan." Wajah Alis lesu karena tidak ada temannya bermain.
Agra mengacak rambut Alis, si kecil yang masih saja sibuk bermain saat banyak orang yang sibuk bekerja.
Suara Agra batuk-batuk terdengar, langsung keluar karena berisik. Arvin tertawa kuat berlari keluar diikuti Alis dan Naya.
"Serius Lis, siapa?"
"Tanya Kak Prilly, aku juga tidak sengaja melihatnya." Tawa Alis terdengar melihat Agra melihat tangan di dada.
Kepalanya menggeleng, tidak percaya jika Mamanya punya pacar, Prilly juga tidak pernah cerita apapun.
Tidak ada yang percaya ucapan Alis, memutuskan untuk ke restoran bertanya langsung.
"Kenapa Gra, kamu tidak setuju dengan keputusan Mama jatuh cinta lagi, meskipun ini terlalu cepat."
"Bukan tidak setuju Vin, aku sudah besar setidaknya harus tahu siapa. Tidak akan membiarkan Mama sakit hati lagi, menikah dengan yang kita cintai selama bertahun-tahun saja gagal, apalagi cinta baru yang belum jelas," ucap Agra yang ingin terlibat juga dalam cinta Mamana.
Kepala Arvin mengangguk menyetujui keputusan Agra, dia memang harus ada dan memilihkan yang terbaik untuk Mamanya.
"Seandainya Kak Arvin punya ibu baru bagaimana?" tanya Alis.
__ADS_1
"Biasa saja, selama ini aku sudah biasa melihat Kakek dan Daddy ganti istri." Senyuman Arvin terlihat menanggapi santai siapapun yang menjadi ibu sambungnya karena bagong Arvin ibunya hanya satu Mommynya yang tidak akan terganti.
Mata Naya berkedip cepat, respon Arvin dan Agra berbeda soal Mama dan Daddynya, jika keduanya menjadi saudara tiri pasti lucu.
"Bagaimana jika daddy dan Mama yang pacaran," tebak Nay.
"Naya!" teriakkan Arvin dan Agra secara bersamaan, menoleh ke arah Naya yang bicara sembarangan.
Ada banyak pilihan tidak harus Daddy dan Mama, Arvin dan Agra menolak keras karena keduanya bisa menjadi musuh bebuyutan.
Tawa Naya dan Alis terdengar merasa lucu melihat dua sahabat yang menolak jadi saudara tiri.
"Kabar yang Alis dengar, Daddy sering makan di restoran bersama rekan kerjanya, dan bertemu Mama, sesekali Mama juga datang ke rumah Daddy bersama Prilly," jelas Alis sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Alis jaga pikiran kamu, itu berita buruk. Lagian mengapa Prilly membawa Mama ke rumah Arvin?" Agra terlalu sibuk sehingga jarang pulang dan tidak tahu kesibukan Mamanya.
"Prilly bisa memperbaiki tulang, kondisi Erin sekarang jauh lebih baik." Nay juga sering berada di rumah Arin untuk menjaga Erin.
"Bagaimana tanggapan Kakek Kak Nay?"
Tawa Naya terdengar, sikap Kakek belum berubah dia masih lelaki tua yang tidak menyukai Naya.
Sampai di restoran tidak ada Mama dan Prilly, Agra melipat tangan di dada menatap Arvin yang juga terdiam.
"Mama di mana?" Agra menghubungi Mamanya yaang cepat menjawab panggilan.
Ponsel diremas kuat, Naya dan Alis sudah terpingkal-pingkal tertawa sudah tahu jika Agra kesal.
"Kenapa Mama sibuk mengurus anak orang, pekerjaan Mama juga terganggu. Erin bukan urusan kita," ujar Agra yang tidak suka mendengar Mamanya mengantarkan makanan.
Panggilan mati, Agra tarik napas panjang meminta Arvin menghentikan Daddynya yang selalu meminta Mama Agra datang membantu Erin.
"Daddy kamu hanya buat alasan saja demi Erin, padahal dia yang cari kesempatan untuk mendekati Mama." Agra menegur Arvin yang tidak tahu apapun.
"Aku dukung kamu Gra, tapi jangan minta aku menghentikannya, tidak mungkin Daddy punya banyak pacar jika aku bisa," balas Arvin yang mengangkat kedua bahunya pasrah.
Agra terdengar marah tidak akan mengizinkan Mamanya berpasangan dengan Daddynya Arvin apalagi tahu sikap buruknya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira