
Mendengar Kakek Arvin dirawat, Andra datang berkunjung. Melihat Agra yang masih setia menemani.
Kehadiran memang tidak penting, setidaknya bisa melihat kondisi Arvin baik-baik saja sudah lebih dari cukup.
"Pagi Om," sapa Andra sopan
Daddy tersenyum kecil melihat Andra datang membawakan sarapan pagi, menatap Arvin yang mengangguk memastikan dirinya baik-baik saja.
"Terima kasih Dra, terima kasih kalian berdua selalu mendampingi Arvin." Daddy merasa lega karena putranya memiliki sahabat yang luar biasa baiknya.
"Sama-sama Om, Andra tidak bisa menghibur, tapi Om harus makan agar tidak sakit, Kakek membutuhkan kalian, jika semuanya sakit lalu siapa yang menjaga," ucap Andra dengan nada pelan tidak seperti biasanya yang suka teriak-teriak.
Senyuman Agra dan Arvin terlihat, keduanya menunduk karena merasa geli dengan tingkah laku Andra sok manis, padahal ucapan paling sesat.
Daddy tersenyum mengusap punggung Andra, dia pasti akan makan. Berusaha untuk tidak sakit demi merawat Ayahnya.
Anggukan kepala Andra terlihat, menatap Om Ar yang mengambil makanan, meminta Arvin dan Agra juga makan.
"Dra, kamu jaga Kakek dulu. Kita makan di meja itu," pinta Arvin tanpa dosa.
"Oh iya, sial silakan." Andra terseyum duduk sendiri melihat tiga orang melangkah pergi untuk makan.
Tangan Andra mengusap perutnya, sesekali menatap ke arah ruangan karena dokter lama sekali memeriksa.
"Sial, aku juga belum sarapan, inilah namanya kebaikan dibalas kejahatan. Bawaannya jadi tidak ikhlas." Rengekan Andra terdengar sampai duduk di lantai.
Lebih dari tiga puluh menit menunggu barulah Daddy datang ke ruangan, meminta Andra bergabung dengan Arvin dan Agra yang masih duduk di meja khusus makan.
"Dra, pergilah," perintah Daddy.
"Terima kasih Om, Andra tidak menolak." Langkah lari kencang karena Andra sangat lapar.
Sampai di meja makan, Andra mengambil makanan miliknya, memukul Arvin yang sudah mengurangi jatah dagingnya.
"Kenapa berkurang Vin?"
"Tadinya mau ambil itu, ternyata ada yang lebih besar makanya ditukar."
"Tidak tahu diri, sudah dikasih makan yang beli di tingga," gerutu Andra terdengar membuat kedua temannya tertawa.
__ADS_1
Makannya sangat lahap karena dari sore kemarin belum makan, Andra sibuk bekerja dan dapat kabar Kakek Arvin serangan jantung.
"Kalau sibuk kenapa ke sini?"
"Sebenarnya aku malas, tapi nanti aku dibilang sahabat yang jahat, ini hanya Gimik saja." Tawa Andra terdengar karena dia tidak peduli dengan kakeknya Arvin.
Rambut Andra dijambak, mulut Andra memang tidak punya attitude. Dia bersikap manis di depan, dan jahat dibelakang.
"Dra, Arvin sudah putus." Agra ingin tahu ekpresi Andra jika tahu.
"Sejak kapan dia punya pacar ... Apa Kanaya, wanita gila itu?" Andra masih asik menikmati makanannya.
"Kamu tidak percaya jika kami pacaran?" wajah serius terlihat, Avin ingin Andra percaya jika dirinya mantan pertama Naya.
Tawa Andra terdengar merasa lucu dengan Arvin yang tidak tahu malu, dia memutuskan sesuatu yang tidak pernah ada.
"Vin, Lo lelaki populer, tapi oon. Tanpa malu kamu mengatakan kepada Naya untuk putus, bukannya itu konyol. Kapan pacarannya? jadi kamu bangga menjadi seorang mantan?" tawa mengejek terdengar jelas karena pacaran palsu tidak sama dengan pasangan saling mencintai.
Agra ikutan tertawa, ucapan Andra ada benarnya, Arvin seharusnya tidak perlu mengatakan putus karena tidak ada hubungan.
"Andra benar Vin, kamu hanya cinta sendiri," ucap Agra tidak kuasa melihat ekpresi Arvin.
"Terserahlah apapun itu, paling penting semuanya usai, kita sudah menjadi sahabat."
Ketiganya melihat ke arah lain, menatap seorang wanita yang menangis sesenggukan karena suaminya mengalami kecelakaan.
"Dra, aku dengar kabar kamu ingin pergi? Kapan?" tanya Arvin yang tidak sengaja mendengar gumaman Naya meksipun pelan saat Andra mabuk.
Kepala Agra menoleh, menatap Andra yang masih melihat ke arah seorang ibu, terlihat sekali tubuhnya tidak terawat.
"Pihak rumah sakit tidak akan menyambut orang seperti mereka, begitulah orang kaya yang merendahkan orang biasa." Kepala geleng-geleng karena ucapan Andra terbukti jika korban kecelakaan ditolak rumah sakit.
Arvin langsung berdiri, berlari ke lantai bawah meminta korban segera mendapatkan penanganan.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Nanti saya bayar, tolong selamatkan suami saya," pinta wanita tua.
"Saya hanya mengikuti aturan, menjalankan tugas. Jika bisa saya juga tidak ingin menolak." Pria yang ditugaskan menolak menunjukkan wajah kecewa.
__ADS_1
"Di mana pembayaran?" Arvin gerak cepat menjadi orang yang bertanggung jawab.
Wanita tua berlutut, mengucapkan terima kasih karena sudah membantu, berjanji akan membayar uang yang dikeluarkan.
"Dampingi suami ibu, jangan pikirkan soal biaya, anggap saja ini memang rezeki kalian." Arvin melangkah pergi tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Mata Agra berkaca-kaca karena Arvin memang baik, dia tidak pernah tega jika orang tua kesulitan.
"Aku harap orang seperti Arvin memanfaatkan kecerdasannya, dia bisa membantu dan menyelamatkan nyawa banyak orang." Senyuman Andra terlihat karena manusia es memiliki hati yang hangat.
Kedua jempol Agra terangkat dia sangat menantikan kesempatan saat seorang Arvin dipanggil Dokter Arvin.
"Siang Pak Dokter," sapa Andra membuat Arvin menendang perutnya.
"Tidak lucu, aku kesal sekali." Arvin mengusap dadanya yang merasakan kekecewaan.
"Sepuluh tahun ke depan aku akan berada di tengah kerumunan banyak orang sambil berteriak Agra, Agra, Agra, rupanya pingsan dibawa ke rumah sakit bertemu Arvin, kenapa rasanya aku yang paling sial." Tawa Andra pecah diikuti oleh kedua sahabatnya yang merasa Andra semakin tua bertambah konyol.
"Kenapa juga sampai pingsan, bodoh!" pukulan Arvin kuat.
"Lalu kamu akan jadi apa sepuluh tahun ke depan?"
"Ayah, mungkin aku akan memiliki seorang putra. Seharusnya jangan aku yang pingsan, istriku saja." Kedua tangan Andra memukul wajahnya karena khayalannya bodoh.
Dua pemuda terdiam, langsung geleng-geleng. Jika istrinya model Alis bisa saja pingsan, tapi kalau kuat seperti Kanaya, hal yang mustahil.
"Dra, kamu belum menjawab pertanyaan aku tadi?" tanya Arvin ulang.
Kedua pundak Andra terangkat, menggelengkan kepalanya langsung berlari pergi karena harus ke kantor.
Teriakkan Arvin tidak dihiraukan, Andra tetap pergi. Agra hanya geleng-geleng melihat dua sahabatnya teriak-teriak.
"Apa Andra memang akan pergi?"
"Ya, dia pasti pergi. Masalahnya tidak tahu kapan, bukan hanya Andra mungkin aku juga, bisa juga kamu Vin. Kita bertiga pasti akan berpisah, mencari jalan yang lebih menantang. Di manapun kita berada, aku harap ada pertemuan." Senyuman Agra terlihat karena ada satu negara yang ingin dia kunjungi.
Tarikan napas Arvin panjang, dirinya tidak memiliki impian, tidak tertarik juga berada dalam bisnis. Mata Arvin melihat banyak pasien dan minimnya dokter.
"Haruskah, apa saran Alis benar? Mungkinkah aku mampu?" Arvin terseyum kecil ingin memiliki sebuah impian.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira