KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MENYUKAINYA


__ADS_3

Di rumah sakit banyak perawat yang fokus kepada Arvin daripada pasien yang terkena gigitan kucing liar.


"Bagaimana bisa di dalam hotel ada hwan liar?"


"Kucingnya lucu banyak anak, Alis mau adopsi."


"Jangan banyak tingkah, lihat tangan ini sudah berdarah sampai jahit-jahitan." Tatapan Dokter Arvin tajam, menyudahi jahitannya.


Beberapa perawat mendekat membantu Arvin membersihkan tangannya, Alis mengerutkan keningnya karena banyak wanita tersenyum malu-malu kedatangan dokter populer.


Selesai mendapatkan jahitan, Alis meminta pulang tidak ingin dirawat karena punya pekerjaan.


"Lis, tangan Lo aman?" tanya Naya.


"Jahitan," balas Alis menunjukkan tangannya.


Prilly memarahi Alis yang tidak bisa jaga diri, sudah tahu apa yang dilakukannya berbahaya masih saja dilakukan.


Memegang kucing liar yang memiliki banyak virus, tidak tahu betapa berharga jarinya. Seorang pengusaha resto yang memiliki tangan cacat tidak bagus untuk pandangan orang.


"Aku pulang saja bersama Alis dan Arvin, takut juga melihat tangannya Alis." Prilly meminta maaf kepada Andrean karena membatalkan rencana mereka.


"Terserah saja, Arvin tidak melarang."


Kanya meminta Arvin berhati-hati, dan mereka akan bertemu kembali setelah pekerjaan Naya selesai.


Tangan Alis melambai menatap Naya yang terlihat sedih, dan Andrean yang kecewa gagal berduaan dengan Prilly.


"Alis mau ke hotel lagi, kucing-kucing tadi harus diadopsi." Kedua tangan Alis terlihat memohon kepada Arvin yang terus menolak.


"Jangan macam-macam, jari hampir hilang." Sikap tegas Arvin terdengar tidak mengizinkan menemui kucing liar.


"Jika Kak Arvin tidak mau, Alis bisa melakukannya sendiri," ancam Alis meminta diturunkan.


Prilly meminta Arvin menuruti keinginan Alis, tidak ada gunanya berdebat. Kemungkinan ada yang bisa membantu menangkapnya.


Tidak ada jawaban lagi dari Arvin, raut wajahnya masih saja tidak bersahabat. Menghentikan mobil di tempat khusus kucing, membeli kandang juga makan serta obat-obatan yang dibutuhkan.


Melihat Arvin memasukkan perlengkapan kucing, hati Alis langsung bahagia tidak menyangka keinginan dituruti.


"Kak Arvin sudah beli susunya, dia punya anak tiga lucu semua." Tepuk tangan Alis terdengar tidak peduli dengan jahitan di tangannya.


"Aku ini Dokter manusia bukan dokter hewan, awas saja membuat susah."


Kepa Alis mengangguk, berjanji tidak akan membuat susah, berusaha menghidupi hewannya penuh cinta.


Senyuman kecil Prilly terlihat, Arvin semakin dewasa, dan mau mengalah. Dia siap turun ego.


"Apa Arvin menyukai Alis, tapi lucu sekali jika keduanya menjadi pasangan," batin Prilly yang tahu Arvin sejak kecil sangat tenang.


Sampai di hotel langsung turun, meminta bantuan penjaga yang biasa melihat satu keluarga kucing liar.


"Miew, miuw, kalian di mana?" Alis terus memanggil membawa makanan kering untuk kucing.


Seekor anak kucing keluar dari rerumputan taman hotel, mendekati Alis yang memberikannya makan.


Satu-persatu keluar mendekat sampai induk kucing juga keluar mengikuti ketiga anaknya. Tidak perlu susah mencari karena langsung jinak di hadapannya.


"Kenapa aku harus mengikuti kemauan wanita ini?" gumam Arvin karena hatinya lemah jika Alis terluka.


"Kak Arvin kandang, kita pulang hari ini." Alis memasukkan empat kucing.


Hentakkan kaki Arvin terdengar, terpaksa membawa kucing pulang. Prilly hanya tertawa melihat dua orang yang sibuk mengurus kucing.


"Awas, nanti tangan kamu dicakar lagi," bentak Arvin dengan nada tinggi.


"Jangan marah nanti kucingnya kaget, terus jantungan, memangnya kamu mau kasih napas buatan?" Senyuman Alisha terlihat masuk ke dalam mobil setelah Arvin menuangkan makanan di kandang.


Perasaan Prilly menyesal karena mengikuti keduanya yang terlihat seperti pasangan yang serasi.


"Tunggu dulu Kak Avin," ujar Alis yang keluar mobil lagi.


"Mau apa lagi."


"Vin, kamu menyukai Alis. Ingat lawan kamu Andra, dia putri tunggal keluarga yang cukup keras, Papi Alis tidak akan mudah melepaskan putrinya kepada sembarangan lelaki," tegur Prilly meminta Arvin berjuang lebih keras lagi.


Tawa Arvin terdengar, dirinya bukan Andra yang lari tanpa menyatakan perasaan sehingga meninggalkan penyesalan, bertemu dengan wanita yang hanya mampu memahami kesibukannya, tapi tidak tahu sikap pribadi Andra yang sebenarnya.


Sama dengan Agra yang sibuk bekerja tidak menyadari perasaanya hingga penyesalan yang akan datang lebih dulu.


"Aku tidak takut dengan keluarga Andra, jika mau maka tidak bisa dihentikan. Hidup yang keras sudah pernah Arvin jalani saat ini aku ingin melakukan apa yang membuat bahagia, termasuk memilihi wanita, terkadang Arvin berpikir kenapa hati begitu bodoh menyukai wanita setengah gila seperti Alis, ternyata ada yang istimewa darinya salah satu itu." Mata Arvin berbinar melihat Alis yang memberikan sesuatu untuk penjaga karena sempat membantu mencari kucing.


Apapun yang Alis lakukan tidak pernah lupa membantu orang lain, dia terlahir dari keluarga kaya, namun hatinya baik dan sangat tulus.


"Kamu benar, dia orang pertama yang merangkul Naya, tidak menyukai aku namun tidak segan membantu. Hatinya terlalu lembut." Prilly terasa terharu karena Alis tidak pernah berubah.


Pintu mobil terbuka, Alis tersenyum lebar meminta Arvin segera pulang. Tidak sabar lagi ingin memandikan kucing barunya.


"Apa yang kamu lakukan tadi Lis?"


"Oh, ada deh, jangan kepo. Kak Prilly jangan pacaran sama Andrean dia buat Alis saja." Pukulan di kening Alis mendarat, Arvin melirik sinis.


Mata Prilly terpejam karena Alis selalu menyukai siapapun yang terlihat tampan dan gagah.


Apapun yang terjadi ke depannya hanya ikut alur saja, dia tidak ingin menutup hati. Andrean pria baik dan dia juga yakin dengan pernikahan.


"Kak Prilly bicara dulu dengan Agra, jangan membuat dia marah."


"Buat apa sama Agra, memangnya dia siapa? Bapak bukan apalagi ibu, jangan mau Kak balik lagi, bersama Agra hanya berstatus asisten dan penjaganya, tapi bersama Andrean dijadikan ratu dan wanita yang paling beruntung." Sekeras mungkin Alis menolak Agra dan Prilly bersama, lebih baik memilihi orang yang menjadikan Ratu daripada memperjuangkan pangeran.

__ADS_1


Ucapan Alis benar, Agra tidak akan menatapnya layaknya wanita, tapi hanya seseorang yang meringankan pekerjaan.


"Jangan menyalahkan Agra, Lis. Hubungan kita memang sebatas itu, tidak akan lebih."


"Bagus, menikahlah dengan Andrean, Kak Pril sudah tua jangan sampai menunggu Agra sampai usia lima puluh tahun, keburu mati." Ambisi Alis lebih besar dalam pernikahan Prilly karena usianya sudah hampir dua puluh delapan, sedangkan Andrean tiga puluh tiga, jika ditunda keduanya bisa beruban.


Tangan Arvin mengelus dada, Alis memang menjadi kompor yang membuat panas. Dia tidak memberikan ruang bagi Agra berjuang.


Meyakinkan Prilly untuk menerima pernikahan dan meninggalkan Agra. Jalan Agra semakin sempit karena tidak ada yang mendukungnya.


Hanya ada satu orang yang bisa membantu, Daddy yang bisa menghentikan pernikahan Prilly karena tidak mungkin Prilly dan Andrean menikah tanpa restu Daddy.


"Kak Prilly harus secepatnya menikah, Alis pengen gendong baby, soalnya sudah banyak teman kuliah Alis punya anak."


"Kenapa tidak kamu saja yang menikah?" tanya Prilly balik.


Kepala Alis tertunduk, dirinya mau menikah, masalahnya Kakaknya Andra belum juga berniat menikah, tidak mungkin Alis melangkahi.


Keluarga Mami dan Papi juga masih terus berselisih paham, belum lagi pengungkapan soal ibunya Andra terus membuat suasana panas.


Pernikahan bukan solusi yang baik bagi Alis, dirinya harus bekerja untuk menghindari keributan. Jangan sampai ada yang menghina Mami dan papinya hanya karena dirinya menganggur.


"Kamu sudah sukses Pril, kita tidak ada di posis sekarang jika bukan karena kamu," ujar Prilly yang bangga kepada Alis sejak usia tujuh belas tahun dia sudah punya restoran dan saat ini punya beberapa cabang di kota besar.


"Keluarga Alis tidak semudah itu, Kak Andra tidak mungkin pergi jika baik-baik saja. Alis takut jika Mami dan Papi berpisah karena dua keluarga belum juga bersatu, kepulangan Kak Andra membuat konflik lagi." Alis menunjukkan wajah sedih karena dari sikap cerianya ada banyak masalah yang dihadapi.


"Masalah keluarga kenapa menjadi urusan kamu biarkan Mami dan Papi yang mengurusnya. Apalagi Andra jauh lebih sukses dari dua keluarga, baik dari pihak Mami atau Papi tidak ada yang berani melawan Andra" jelas Arvin yang sudah tahu masalah keluarga Alis.


Kepala Alis mengangguk, dia tahu jika kakaknya sudah menanggung segalanya, hanya saja Alis merasa malu tidak bisa membantu.


Jika Andra menikah mungkin Alis akan lebih bahagia setidaknya ada yang menemani kakaknya dalam suka dan duka.


Laju mobil Arvin pelan, dia tidak yakin Andra dan tunangannya bersatu, Arvin tahu betul sikap Andra yang tidak bisa ditebak.


"Kenapa Kak Arvin dari tadi tidak sependapat terus?"


"Lis, pernikahan itu tidak mudah, Andra belum siap untuk itu."


"Kak Arvin memangnya sudah siap."


Wajah Arvin memerah, tidak menjawab lagi karena tidak enak ada prilly. Membahas terlalu berbelit dari pernikahan Prilly sampai akhirnya Arvin terdiam.


"Pembahasan kita sekarang sudah beda ya, dulu membicarakan masa depan sekarang pernikahan. Ternyata benar-benar sudah dewasa." Prilly meminta Arvin fokus menyetir karena dia ingin tidur sebentar.


Wajah Alis meringis, merasakan tangannya perih bekas jahitan terllau banyak gerak. Perlahan Arvin menyentuh.


Mata Alis terpejam, tangannya dipegang oleh Arvin. Dengan berat hati Arvin kembali menjadi supir pribadi dua wanita.


Sampai di rumah Prilly turun, Arvin memilih ke apartemen yang baru dibelinya, tidak mungkin meletakkan kucing, bisa mati di tangan Raya.


"Lis, kucingnya mau dibawa ke mana, kita ini ke rumah kamu atau kemana?"


Mobil berhenti di bangunan sederhana, Arvin sengaja menyewa salah satu apartemen di tempat tinggal Naya sebelumnya.


"Kenapa kita ke rumah Kak Naya?"


"Aku menyewa salah satu apartemen, bukan berarti ingin dekat Naya."


"Apartemen ini milik Kak Naya, dia juga tinggal di sini." Alis keluar mobil melihat Arvin membawa kandang kucing.


Dia baru tahu jika apartemen yang cukup banyak di tengah kota ternyata milik Naya, dulu kehilangan tempat tinggal sekarang memberikan tempat tinggal.


Ada banyak kemajuan yang Naya berikan, Arvin bangga kepadanya sebagai sahabat, kerja keras Naya memberikan hasil yang baik, sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang.


Lift terbuka, Arvin keluar bersama Alis berpapasan dengan seorang wanita yang tidak asing bai Arvin.


"Syifra," sapa Arvin yang tidak menoleh.


Langkah kaki wanita yang lewat berhenti, menoleh ke ara Arvin yang masih memunggunginya.


Alis menatap wanita yang sempat Arvin panggil, tersenyum kecil ke arahnya yang napak sangat dingin.


"Kenapa memanggilku?" tanyanya.


Arvin mengerutkan keningnya karena dugaannya benar, ingatan soal foto wanita bersama Andra benar.


"Apa nama kamu SIfra?"


"Ya, bagiamana kamu bisa tahu, aku tidak mengenal banyak orang di sini kecuali rekan bisnis tapi sepertinya kamu bukan," ucap Syifra mencoba menebak.


Pintu Apartemen terbuka, Alis melangkah masuk lebih dulu emperan Arvin bicara dengan Syifra karena mereka tidak saling kenal.


"Di mana Andra, kenapa kamu di sini?"


Senyuman Syifra terlihat tidak menyangka jika ada yang kenal dirinya sebagai pasangan Andra, pria tampan yang terlihat tidak asing.


"Arvin, apa itu kamu?" tangan Syifra terulur bersamaan.


"Aku rasa Andra banyak cerita soal aku?"


Kepala Syifra menganggu saat ada waktu luang keduanya sering mengobrol bersama, Andra banyak cerita soal sahabatnya tiga sekawan.


Bisa melihat Arvin langsung sungguh sangat mengejutkan, Syifra beruntung bisa bertemu salah satunya.


"Apa kamu ingin bertemu Agra, dia pulang ke rumah Mamanya karena pagi ini ada pekerjaan ke luar kota."


Kepala Arvin mengangguk, dia berencana bertemu Agra, tapi mengurungkan niatnya karena bertemu teman kuliah.


Wajah Syifra menujukkan kekesalan, dia mengutarakan perasaan cemasnya jika Andra bertemu dengan Naya, wanita yang pernah ada di hatinya. Hal yang paling Syifra takuti jika Kanaya akan mengambil tunangannya.

__ADS_1


"Kamu tahu di mana Naya sekarang?"


"Naya, kenapa kamu ingin tahu?"


"Beberapa hari ini dia tidak ada jadwal ke kantor, aku ingin memberikan peringatan kepadanya untuk menjauhi Andra." Syifra dan Andra akan segera menikah, tidak ingin Naya menganggu hubungan keduanya.


"Jangan memberikan peringatan kepada Naya, tapi ingatkan Andra untuk tidak menganggu Naya. Hidup Naya sudah baik, jangan sampai terjadi konflik dengan Andra," ujar Arvin yang sangat yakin jika Naya bisa menjaga dirinya.


Hal yang Syifra takuti tidak akan Naya lakukan, kecuali Syifra mengusik ketenangannya.


Melihat respon sinis Arvin, Syifra memutuskan untuk pergi dia ingin menemui orang tua Andra yang baru kembali dari luar negeri.


"Apa dia tidak tahu jika Naya tinggal di daerah sini?" kepala Arvin geleng-geleng karena dunia terlalu sempit.


Kepala Arvin celingak-celinguk mencari keberadaan Alis, dia tidak tahu Alis masuk ke kamar yang mana.


"Alisha, apa dia ke apartemen Andra atau yang mana?" Arvin berjalan ke apartemennya, membuka pintu membawa kucing masuk.


Seharian berada di jalan membuat perut lapar, Arvin mencari bahan makanan yang masih tersisa untuk masak sederhana.


"Di mana Alis?" Arvin mengambil ponselnya kembali menghubungi Alis.


Panggilan dijawab, Alis meminta Arvin menjaga kucingnya terlebih dahulu karena ada urusan penting.


Teriakan Arvin terdengar meminta beristirahat karena tangan Alis masih terluka, apalagi jahitan belum kering.


Peringatan tidak dihiraukan, panggilan dari profesor juga masuk. Arvin terpaksa menjawab panggilan yang terasa penting.


"Baiklah, saya ke rumah sakit sekarang," balas Arvin yang mematikan panggilan.


"Kak Arvin mau ke mana, Alis ingin mengantar makanan untuk Kak Arvin soalnya Alis baru belajar goreng telur." Tawa Alis terdengar menujukkan telurnya.


"Kak Arvin harus ke rumah sakit sekarang," balas Arvin yang merasa takut melihat telur goreng buatan Alisha.


Tanpa pikir panjang, Alis mengikuti dari belakang ingin meminjam mobil ke restoran, sekaligus membeli ranjang untuk kucing.


"Terserah kamu Lis," ucap Arvin yang malas debat.


"Kak Arvin cobaan dulu masakan Alis," pintanya.


Kepala dokter yang sedang mengemudi mengeleng cepat, telur goreng yang Alis masak terlalu menyeramkan, tidak ada tanda layak di makan.


Telur hitam, nasi yang seharusnya berwarna putih juga hitam. Arvin bisa keracunan memakannya.


"Ini enak tahu, ada manis, pahit, asin, gurih, Alis suka." Satu sendok makanan masuk ke dalam mulutnya, Alis berusaha menikmati makanan yang seharusnya tidak dibuat.


Sudah bagus selama ini dirinya tidak masak, tapi melihat resep masakan di dapur Naya memberikan semangat baru, tapi kenyataannya tetap tidak bisa.


"Suap aku, sepertinya enak," pinta Arvin yang mencoba menghibur Alisha.


"Jangan Kak, tidak enak. Ternyata Alis memang tidak bisa masak." Wajah melow terlihat menutup kotak makanan.


"Bagaimana bisa tahu jika belum dirasakan, cepatlah sebentar lagi sampai rumah sakit." Mulut Arvin terbuka, senyuman Alis terlihat menyuapi pria dingin di sampingnya.


Wajah Arvin tidak menunjukkan ekpresi apapun, makanan pertama yang paling hancur. Tidak ada toleransi lagi, Alis lebih baik tidak masak.


Makanan ditelan begitu saja, Arvin merasa perutnya tidak nyaman karena rasa masakan yang Alis buat sungguh aneh.


"Sebenarnya kamu berencana masak apa?"


"Telur kecap, nasi hitam," jawabnya santai.


"Kecap itu warnanya hitam, kenapa yang dimasukkan cuka?"


"Alis tahu jika kecap warna hitam, tadi sudah dimasukkan itu," ujarnya mencoba mengingat.


Tarikan napas Arvin terdengar, menghentikan mobilnya di depan rumah sakit. Tangan Arvin memegang kepala meminta Alis tetap menjadi pengusaha cafe dan resto, jangan pernah mencoba turun ke dapur, bisa keracunan semua pelanggan.


"Makanannya buang saja, jangan dimakan tidak bagus untuk kesehatan. Nanti Kak Arvin masakan setelah pekerjaan selesai."


"Kak Arvin, boleh Alis tanya sesuatu?"


Kepala Arvin mengangguk mempersilahkan untuk bertanya apapun, selama dirinya mampu menjawab maka tidak menjadi masalah.


Tangan Alis memegang satu tangannya yang terluka, merasa malu untuk bertanya langsung kepada Arvin soal perasaannya. Alis tidak percaya jika Arvin menyukainya, sejak saling mengenal keduanya tidak terlibat masalah apapun.


Alisha memang pernah menyukai Agra, tapi dia nyaman mengobrol bersama Arvin, tidak terpikir untuk memiliki rasa.


"Apa Kak Arvin menyukai Alis, apa artinya kiss ini?" tangan Alis menyentuh bibirnya.


"Apa orang berteman melakukannya?" senyuman Arvin terlihat, memakai jas putihnya bersiap keluar.


Tangan Alis menahan, tidak ada pertemanan yang melakukannya, kecuali saling menyukai dan memiliki perasaan suka.


"Nanti kita bertemu lagi, izinkan aku bekerja karena ada pasien yang membutuhkanku. Demi kamu aku tidak ingin pergi jauh lagi." Kecupan lembut mendarat di kening Alis membuatnya hampir tersungkur pingsan.


"Kak Arvin belum memberikan kejelasan?"


"Kamu mau pacaran atau langsung menika?"


"Bukannya seharusnya menyatakan perasaan dulu, dan menunggu ditolak atau diterima, bukan langsung mengiyakan."


Tawa Arvin terdengar pelan, dia tidak peduli jika Alis tidak menyukainya selama hatinya ingin. Menyatakan perasaan tidak berlaku lagi baginya, Arvin tidak ingin mendengar penolakan.


"Jika Alis tidak suka Kak Arvin, kenapa diam saja saat bibir kamu digigit?" tangan Arvin melambai, berjalan masuk ke rumah sakit tersenyum puas dengan pernyataannya.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2