KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
PLAYGIRL


__ADS_3

Sarapan pagi tanpa Arvin, dia masih tidur di kamar hotel. Perasaannya masih sakit mendengar ucapan Alis.


"Mana Arvin?" tanya Mama.


"Masih tidur Ma, dia tidak mau sarapan pagi." Agra menatap Andra yang sudah duduk menatap sarapannya.


"Kalian bertiga tidak tidur semalaman, mata Andra berkantung sampai berkacamata, kamu juga Gra seperti orang buta mengunakan kacamata hitam." Daddy meminta keduanya mengatur hidup dengan cara sehat.


Mata Andra masih terpejam, kepalanya ditutupi menggunkan penutup kepala sweater yang digunakannya.


"Dra, lebih baik kamu mandi dulu, terlihat sekali wajah lelahnya."


"Tidak apa Ma, Kak Andra seperti itu masih tetap tampan," puji Raya sambil tersenyum.


Tawa Mama terdengar memeluk putrinya yang sudah bisa membedakan pria tampan, senyuman Andra juga terlihat membuka matanya.


"Aku dari dulu memang tampan, mandi ataupun tidak memang begini modelnya." Andra tersenyum manis mulai sarapan.


Kanaya mengeleng tipis, mengakui jika ucapan Raya benar. Andra jauh lebih tampan saat bangun tidur tidak menggunakan baju kantor karena dia berubah menjadi pria galak dan dingin.


Alis tidak bisa menelan makanannya dengan baik, dia merasa bersalah dengan ucapannya kepada Arvin.


"Kak Nay, Alis pergi dulu soalnya ada panggilan." Alis menujukkan ponselnya yang memang ada panggilan.


Kepala Naya mengangguk, membiarkan Alis meyelesaikan masalahnya. Kanaya tahu jika Alis bukan menjawab panggilan, tapi menemui Arvin.


Lift naik ke atas, Alis berjalan ke arah kamar Arvin mengetuk pintu perlahan tanpa mengeluarkan suara.


Tidak ada respon dari dalam, Alis menekan bel berkali-kali sampai Arvin berteriak kesal. Pintu kamar dibuka kuat.


"Mau apa?" teriakkan marah terdengar.


"Lama," balas Alis berjalan masuk.


Kepala Arvin menoleh ke arah Alis, tidak menyangka jika yang menemuinya Alis. Wanita yang membuat selera makannya menghilang.


"Kenapa tidak ikut makan?"


"Belum lapar, aku juga masih mengantuk." Arvin naik kembali ke atas ranjang, memejamkan matanya.


Tepukan dipunggung Arvin terasa, dia sengaja mengabaikan Alis karena tidak ada yang perlu dirinya bicarakan.


"Kak, kenapa bicara seperti tadi subuh? Kenapa harus ada Kak Andra?"


"Memangnya kenapa, apa ada masalah?" Arvin menoleh ke arah Alis.

__ADS_1


"Tidak, tapi kenapa? tahu sendiri sikapnya Kak Andra, hubungan kita tidak akan direstui."


Pukulan Arvin kuat di bantal, dia tidak peduli soal Andra karena sudah mengatakan langsung jika Arvin ingin serius, tapi harapan Arvin hancur karena Alis tidak memiliki rasa kepada-nya.


"Andra tidak berhak atas restu, kecuali orang tua kamu."


"Kak Arvin tidak takut?"


"Kenapa takut karena Andra tidak akan membunuhku. Masalahnya di kamu, jika memang tidak ingin maka tolak aku saat menyentuh bibir kamu, tapi kenapa diam saja. Aku berpikir jika kita sama-sama memiliki rasa, ternyata kamu menganggap aku sama seperti pria lain yang kamu temui selama ini." Kemarahan Arvin terdengar, meminta Alis keluar dari kamarnya.


Jika kebanyakan lelaki akan berjuang kembali setelah ditolak, berbeda dengan Arvin. Dia tidak ingin membuang waktunya untuk berjuang, prosesnya terlalu lama.


"Keluar Lis, aku tidak ingin bicara apapun lagi." Hati Arvin sakit sekali karena Alis menyamakannya dengan orang lain.


Tangan Alis ditarik, Arvin memaksanya untuk keluar. Arvin akan kembali lebih dulu karena tidak ada gunanya dia menyusul.


"Kak Arvin tangan Alis sakit." Alis memukul dada Arvin.


"Ya sudah keluar!"


Alis memeluk tubuh Arvin dari belakang, mengecup pundak Arvin lembut. Kedua tangan Alis memeluk erat.


"Maaf, Alis tidak bermaksud ingin menyakiti, sungguh."


"Lepaskan aku." Tangan Alis ditepis.


Senyuman Alis terlihat, duduk di pinggir ranjang melihat punggung Arvin yang lebih lebar dari dulu.


"Kak Arvin tahu jika dulu Alis mencintai Kak Agra?" tidak ada jawaban, Alis bicara seorang diri.


"Dulu juga aku mengangumi seseorang, tapi tidak pernah berani berjarak lebih dekat. Bukan soal dia baik atau tidak, tapi takut menyakitinya soalnya dia sudah terlalu banyak masalah." Alis menatap Arvin yang menoleh ke arahnya.


Senyuman Alis terlihat, dia sangat mengangumi Arvin. Sikap yang dingin, tapi perhatian. Tidak pernah menujukkan pesona, lebih suka sendiri, menjauhi kerumunan.


Arvin yang dulu selalu menyembunyikan kesedihannya, Alisha bahagia melihat Arvin yang sekarang.


"Kak Avin banyak berubah, tapi perubahan yang lebih baik. Alis bukan hanya mengangumi, tapi lebih ke takut."


"Takut apa, memangnya aku akan menyakiti?"


"Tidak, Alis takut jika nanti tidak bisa menjadi pengagum lagi."


"Aku tidak mengerti, memangnya kamu ingin jadi apa?" nada bicara Arvin semakin sinis, mengibas rambutnya yang bertambah panjang.


Kedua tangan Alis memeluk leher dari belakang, Arvin diam saja karena sedari dulu Alis terbiasa memeluk dari belakang apalagi jika Arvin sedang duduk.

__ADS_1


"Alis hanya takut akan terjadi hal seperti ini." Kepala Arvin menoleh ke arah kepala Alis, kecupan di bibirnya mendarat.


Pipi Arvin dikecup berkali-kali, Alis langsung melepaskan sebelum Arvin menahan tangannya.


"Bukannya dulu Alis sering meminta digendong, tapi sekarang Alis sudah besar tidak membutuhkan itu lagi."


"Sekarang apa yang kamu butuhkan?" tanya Arvin sambil tersenyum.


Kepala Alis menggeleng, mengambil ponselnya yang berdering. Arvin merampas begitu saja melihat nama seorang pria.


"Kamu baru saja manis, sekarang sudah ada panggilan dari pria lain. Kenapa sekarang menjadi playgirl?"


"Angkat saja," pinta Alis.


Panggilan langsung diangkat, Arvin marah-marah agar tidak menghubungi Alis lagi.


"Arvin, di mana Alis?" tanya pria yang menghubungi Alis.


"Kamu siapa, kenapa menghubungi Alis."


"Ya Tuhan Mi, Arvin ini gila sepertinya? Kenapa aku menghubungi Putriku sendiri tidak boleh?"


Mulut Arvin menganga, tepuk jidat karena dia tidak mengenali suara Papinya Alis. Melihat kembali nama yang tertera, Alis memberi nama asli bukan panggilan Papi.


"Ma ma maaf Om, aku pikir siapa?"


"Kenapa Arvin yang memegang ponselnya Alis, sudah lama Tante tidak mendengar suara kamu? Arvin apa kabar?"


"Kabar baik Tante, maaf ya Tante. Nanti Arvin sempatkan untuk menyapa, sekali lagi maaf Tante Om, Arvin jadinya tidak enak," ucapnya penuh sesal.


Suara tawa Alis terdengar, menunggu Arvin yang sedang mengobrol dengan orangtuanya. Alis tahu jika Arvin bisa mengatasi rasa takutnya untuk bertemu orang tua Alis.


"Apa kabar Mommy kamu?"


"Mommy sudah meninggal, Tante," jawab Arvin.


"Dasar Arvin lemot, Tante juga tahu itu, maksudnya Mamanya Agra, bukannya dia sekarang Mama kamu. Seandainya ada di depan Mami, habis rambut kena jambak."


Tawa Arvin terdengar meminta maaf lagi, memberitahukan jika mamanya sehat dan memiliki anak lagi.


Mami dan papi cukup kaget, meminta Arvin membawa adiknya yang beda usia sangat jauh dari Kakaknya.


"Pi, apa kita harus membuat adik untuk Alis?"


"Mami, tidak boleh," teriakkan Alis terdengar tidak mengizinkan.

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2