KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
CALON


__ADS_3

Senyuman Arvin terlihat di depan kedua orang tua Alis, Papi sudah tahu hanya Mami yang masih melongo tidak mengerti.


"Kenapa Arvin di sini?" tanya Mami bingung.


"Alis yang mengajaknya," jawab Alis menggenggam erat tangan Arvin.


"Andra tidak ikut, dia sibuk katanya." Mami melihat tangan Arvin dan Alis saling genggam baru paham.


Mata Mami tidak berkedip, mempersilahkan Arvin duduk. Menatap dokter tampan yang sudah kehilangan akal.


"Vin, kamu tidak salah makan? kenapa bisa menyukai Alis, dia gadis nakal punya restoran tidak bisa masak, apa kamu juga tahu Alis gadis terburuk dalam berumah tangga?"


"Alis wanita baik Mi," jawab Arvin percaya dengan hatinya.


Bibir Alis manyun, mami begitu tega menjelekkan anak sendiri. Arvin hanya tersenyum manis ke arah kekasihnya yang terkadang memang manja.


"Vin, keluarga kami tidak akur makanya Andra tidak pernah hadir, jangan mengambil hati apapun yang dikatakan," bisik Mami pelan.


Tatapan beberapa orang ke arah Arvin yang terlihat tenang, Alis memeluk lengan menujukkan jika dia punya kekasih.


"Apa ini maksudnya Lis, kenapa ada pria lain?" Nenek menaikkan suaranya.


"Arvin kekasih Alis," balasnya.


"Tujuan kita kumpul karena ingin menjodohkan kamu dan cucu teman nenek." Arvin diminta pergi, tidak diizinkan dekat Alis karena keluarga mereka tidak menerima anak seperti Arvin yang lahir dari keluarga kejam.


Arvin dan Andra sama saja, dia benalu keluarga. Tidak pernah mampu menyenangkan.


"Apa salahku, keluarga Arvin kurang baik, tapi tidak denganku. Apa yang didapat hasil kerja sendiri Nek, aku menyanggupi memberikan kehidupan untuk Alis tanpa bantuan dua belah pihak. Arvin juga sukses dengan usaha dan perjuangan panjang, maka aku tahu cara untuk mempertahankan." Senyuman Arvin terlihat tidak takut sama sekali dengan caci maki Nenek.


Mami dan Papi yang sedih, mereka sebagai orang tua saja tidak menentang karena Arvin memang pria yang bertanggung jawab.


"Apa selama kamu kerja sudah bisa membangun rumah sakit, apa rumah kamu sebesar istana, jika belum jangan pernah masuk keluarga kami." Pukulan di atas meja terdengar Nenek memaksa Arvin untuk pergi.


Di meja lain Andra memijit pelipisnya, sudah Andra katakan jika Arvin akan disembur air liur karena hinaan.


"Nenek kamu jahat sekali Dra," ucap Agra ngeri.


"Dia seperti jual cucu, sudah tua tidak takut mati," gumam Naya sinis.


Andra menggeleng, kasihan kepada Arvin diserang oleh keluarga Neneknya. Hati Arvin pasti sakit sekali karena membawa Mommynya.


"Tidak heran mommy kamu cepat mati, punya anak sial seperti kamu," ucap nenek menbuat Andra berdiri.


Teriakan Mami terdengar, meminta diam. Sudah cukup hinaan untuk Arvin, hatinya yang sakit dan tidak terima.


"Tidak apa Mi, aku tidak mengambil hati. Tidak ada lebih tahu soal aku selain diri sendiri." Arvin mengusap punggung Mami masih menujukkan senyuman.


Keluarga yang ditunggu Nenek datang, seorang pria tampan dan muda juga muncul. Arvin mengerutkan keningnya karena tahu siapa calon suami yang dijodohkan Nenek.


"Dokter Arvin, selamat malam Dok." Tangan Arvin dijabat oleh orang tua anak.


"Apa kamu mengenal dokter imi, dia hanya dokter biasa jangan terlalu peduli anggap saja benalu," ucap Nenek tersenyum manis.


"Jangan bicara sembarangan kamu, dia memang Dokter namun pasien VVIP tahu jika dia direktur utama rumah sakit sekaligus pemegang saham terbesar. Dokter Arvin sudah kaya sejak lahir jadi tidak heran dia sukses." Nenek tua menjabat tangan Arvin mengucapkan terima kasih karena Arvin pernah memberikan pelayanan terbaik untuk pasien tua sepertinya.


Mata Arvin melirik Nenek, terkadang manusia sering lupa diri. Menghina orang lain hanya karena tidak menunjukkan apa yang dimiliki.


Senyuman papi terlihat membungkukkan badannya meminta maaf karena harus membatalkan niat perjodohan.


"Kami baru tahu jika Arvin dan Putri kami berpacaran, makanya Arvin ada di sini," ucap Papi penuh penyesalan.


"Arvin yang meminta maaf, seharusnya aku bisa mendapatkan restu nenek." Tubuh Arvin membungkuk, Nenek memalingkan wajahnya menahan malu.


"Tidak apa Dokter Arvin, kami yang merasa bersalah sudah menganggu pertemuan ini."


Nenek langsung melangkah pergi, Mami memijit pelipisnya melihat ibunya yang masih egois. Hatinya sudah lelah memberikan nasihat dan kesempatan.


Setelah semuanya pergi, Arvin membungkukkan kembali tubuhnya merasa tidak enak.


"Mami, Pi, aku minta maaf. Tidak ada maksud untuk menyombongkan diri, ini diluar dugaan Arvin."


"Tidak apa, Papi tahu kamu sehebat itu. Tidak mungkin anak pengusaha hebat, hanya santai memegang jarum suntik." Papi memberikan jempolnya.


"Tujuan Arvin bukan soal bisnis, tapi selama pendidikan Arvin melihat ada banyak kegagalan dalam medis hanya karena kekurangan dana. Makanya Arvin ingin membangun sesuatu yang bisa meringankan, dan memberikan banyak kesempatan nyawa selamat."


"Apa ini Arvin yang dulu, kamu terlalu dewasa dan baik." Mami memeluk erat, mommy Arvin pasti bangga sekali.


Dari kejauhan Kanaya meneteskan air matanya, cepat diusap jangan sampai ada yang melihatnya menangis.


"Vin, kamu seperti orang baru yang lahir kembali, apa ini memang Arvin?" Andra mengejek duduk di meja orangtuanya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu di sini?"


"Aku mencemaskan kamu karena memberikan kabar ikut makan malam," balas Andra melihat Agra juga ikutan pindah menepuk punggung Adiknya yang sangat hebat.


Senyuman Arvin terlihat, saat selesai kuliah akhirnya Arvin mulai menjadi dokter muda yang hanya bekerja sukarela. Pertama kali pulang bertemu Kanaya.


Nay yang saat itu bekerja memberikan sebuah uang, dia mengatakan ingin menyumbangkan untuk rumah sakit karena banyak sekali orang kurang mampu membutuhkannya.


"Apa yang Naya katakan?" tanya Agra.


"Vin, lihatlah tanah kosong itu, betapa bagusnya jika berdiri rumah sakit, mau aku berikan modal? Naya memberikan Atm yang memiliki dana sekitar tiga ratus juta. Aku bilang tidak cukup katanya niat saja dulu, sisanya amin." Arvin tidak menyangka saat dirinya kembali bisa melihat hasil niat dan kerja kerasnya lalu diaminkan oleh banyak orang.


Air mata Mami menetes, tidak menyangka anak penuh masalah bisa jadi manusia yang hebat, bukan hanya dewasa karakter, tapi tulus hatinya.


"Dari mana modalnya?" tanya Andra yang penasaran.


Tawa Arvin terdengar, Andra langsung tersentak kaget ternyata dugaannya benar. Arvin yang dulunya memiliki bisnis bar sekarang membuka banyak cabang, dan sialnya uang Andra yang bernilai fantastis dijadikan modal pembangunan rumah sakit.


"Aku sudah membeli bar itu sial, bahkan kamu belum membalik nama masih milik kamu."


"Siapa suruh kamu pergi, aku tidak punya pilihan. Uang keuntungan tidak tahu harus ke mana." Arvin tertawa lepas memeluk Andra yang hampir mengamuk.


Dia lupa jika pernah membayar Andra ketika diusir dari rumah, kehabisan uang terpaksa jual bar.


"Aku akan mengembalikan uang itu." Arvin mengambil ponselnya, mengirimkan uang.


Kepala Andra geleng-geleng, Agra menoleh ke arah Naya yang hanya duduk diam sendiri. Agra baru ingat, meminta Arvin mengembalikan ATM yang pernah Naya berikan.


"Itu milik kamu Gra?"


"Ya, aku tidak enak jika menanyakan kembali." Agra mengulurkan tangannya.


"Berarti uang di dalam itu milik kamu?" Andra tertawa melihat Naya yang menyembunyikan wajahnya.


"Bagaimana bisa?" Alis menoleh ke arah Naya.


Helaan napas Agra terdengar, dia sengaja meminjamkan ATM kepada Naya yang waktu itu miliknya limit, Agra tidak enak meminta kembali.


Naya tanya mengatakan jika ATM sudah dipulangkan kepada Arvin, dan Agra melupakannya.


"Naya sudah mengatakan aku hanya punya niat, modalnya tiga sekawan, dan banyak orang yang mengaminkan." Tawa Naya terdengar pindah tempat duduk memeluk Mami dari belakang yang sudah tidak terlihat.


Agra meminta bagiannya, modal awal yang diberikan harus dikalikan dengan lamanya tahun, begitupun dengan Andra yang meminta uangnya dikali berlipat-lipat.


Selama ini Arvin enak sendiri, dia baik dimata pasien, padahal menipu teman-temannya yang sangat polos.


Tawa Arvin terdengar dia akan memberikan saham senilai lima persen untuk dua sahabatnya yang mata duitan.


"Rumah sakit sebesar itu lima persen, gila." Agra menutup wajahnya saat ada kamera ke arahnya.


Papi melangkah mendekati pengunjung meminta menghapus karena Agra sedang tidak shooting.


"Kalian lanjutkan saja mengobrol nya, Papi pamit pulang karena ada perkejaan."


Mami juga pamitan, mengecup pipi Alis dan Naya yang melambaikan tangan. Meninggalkan restoran.


"Mau pindah ruangan tidak?" tanya Arvin.


"Ikut saja gays, mumpung sultan bayarin," goda Alis.


Demi keamanan Agra pindah ke ruangan yang sangat tertutup, Agra bersandar di punggung Arvin merasakan lelahnya bekerja.


"Gra, di rumah sakit aku bertemu Papa Agam dan Syifra," ucap Arvin mengejutkan Agra.


"Apa yang mereka lakukan?" tanya Agra duduk dengan serius.


Dugaan mereka salah soal Papa yang ingin menghacurkan Agra dan keluarga. Papa Agam hanya kecewa setelah kehilangan keluarga bahagia, dan mendapatkan keluarga baru yang tidak harmonis.


"Papa Agam memiliki istri juga anak tiri, pernikahan tidak direstui oleh anak itu, dan dia melakukan segala cara membuat ibunya bangga lalu mencampakkan ayah tirinya yang tidak berguna," ucap Arvin serius.


"Bukannya Om Agam seorang musisi, seharusnya mencukupi," timpal Alis yang tidak percaya.


"Seorang musisi juga tergantung nasib, saat ini membutuhkan musisi muda yang berkualitas, para musisi tua mulai terlupakan termasuk karyawannya, bisa jadi Om Agam salah satunya," jelas Andra yang dibenarkan oleh Arvin.


Dia merasa sakit hati, dan ingin balas dendam kepada anak tirinya. Syifra tidak hamil anak Om Agam, tapi putra tirinya.


"Boleh aku tahu wajahnya?" tanya Naya yang menyimak


Agra mengeluarkan ponselnya menujukkan kepada Naya. Anak kuliahan semester akhir, usianya masih muda dan memiliki nama yang baik di depan banyak orang.


Kening Naya berkerut, kedua alisnya terangkat menatap wajah anak tiri Papa Agra yang terasa familiar.

__ADS_1


"Delon, apa benar?" Naya menatap Arvin yang mengangguk.


"Bagaimana kamu bisa kenal?"


Senyuman Naya terlihat, tidak sengaja bertemu. Delon pimpinan komunitas bahkan Naya memiliki nomornya, Delon tidak bisa menghubungi balik karena Naya membatasi nomor tertentu agar tidak menganggu pekerjaannya.


"Om Agam ingin menghacurkan reputasi Delon dengan kehadiran anaknya Syifra?" tanya Alis yang belum paham.


Kepala Arvin menggeleng, tidak paham apa yang direncanakan sebelumnya, tapi Arvin berharap Agra mensupport papanya.


mereka memiliki hobi yang sama, dan bergelut dengan pekerjaan yang sama. Pasti akan menyenangkan jika berbagi ilmu, Agra bisa banyak belajar lagi begitupun dengan Papa Agam.


"Tidak ada anak yang benar-benar membenci orangtuanya, begitupun aku yang memiliki rasa kecewa sekarang perlahan membaik." Tepukan tangan Avin pelan, merangkul Agra untuk damai dengan rasa kecewa.


Mereka semua sudah dewasa, dan harus menggunakan akal dalam mengambil keputusan. Apapun resikonya, pria sejati tidak akan mundur.


"Mama dan Papa tidak bisa kembali, tapi kamu bisa. Jika bukan kamu yang membantu Om Agam, lalu siapa?" Andra sepemikiran dengan Arvin agar Agra menghampiri lebih dulu, menurunkan ego hingga bisa hangat kembali.


Kepala Agra mengangguk, dia akan menyempatkan waktu untuk bertemu papanya dan meminta maaf.


Jempol Alis terlihat, itulah Agra yang dulu dirinya kenal selalu memaafkan kesalahan siapapun, dan tidak malu meminta maaf lebih dulu.


"Bagaimana Syifra bisa kenal Delon?" Andra mencoba mengingat kembali.


"Kak Andra masih memikirkan Syifra, bukannya bagus dia tidak menganggu lagi."


Kanaya berdiri pamit pergi lebih dulu karena ada hal yang harus dilakukan, Andra ingin ikut namun Naya melarangnya.


Alis memukul Andra yang membuat Naya pergi, Nay pasti kecewa karena Andra masih memikirkan Syifra.


"Berapa bulan kehamilan Syifra?" tanya Andra lagi.


"Kurang lebih lima, ada apa Dra?"


"Ternyata mereka bertemu saat di luar negeri, aku memang tidak tahu banyak hal." Kepala Andra mengangguk karena dirinya yang dibohongi.


Kanaya masuk ke dalam taksi, meminta di antarkan ke Kampus elite yang dipenuhi oleh mahasiswa berprestasi.


Nay yakin Delon ada di kampus meskipun sudah malam karena banyak acara yang dihadirinya untuk kegiatan di luar kampus.


Mahasiswa yang terkenal dia yang aktif dalam kegiatan kampus tanpa terkecuali, ramah, dan memiliki banyak teman.


"Halo, ini dengan Delon?"


"Kanaya, akhirnya kamu menghubungi aku setelah berbulan-bulan." Delon sangat bahagia karena dia begitu penasaran dengan Naya yang unik.


"Aku ada di depan kampus, bisa bantu aku," pinta Naya dengan nada pelan.


Tanpa penolakan, Delon segera berlari menuju depan kampus. Hari yang paling ditunggu, Delon melihat Naya yang berdiri di bawah pohon rindang.


"Kanaya, apa yang kamu lakukan di sini?"


"Seperti yang kamu dengar aku butuh bantuan," balas Naya mengulurkan tangannya menyalami.


Delon menyambut cepat, senyumannya lebar dan nampak bahagia. Dilihat dari dekat, Kanaya begitu cantik dengan tubuh tinggi langsing.


"Sudah selesai skripsi?"


"Iya, masih menunggu waktu sidang, ada apa?"


"Bagaimana dengan KKN internasional yang kamu ikuti?"


Tawa Delon terdengar, dia baru tahu jika Naya mengetahui dia pernah melakukan kuliah kerja di luar negeri.


Kejadian sudah cukup lama, Delon bekerja di perusahaan besar luar negeri yang dipimpin oleh pengusaha hebat.


"Apa kamu mengenal wanita bernama Syifra? Bukannya dia sangat cantik?" tanya Naya sambil tersenyum lebar.


"Aku tidak mengerti?"


Tatapan mata Naya tajam, ingin rasanya melepaskan pukulan agar segera mengingat apa yang terjadi.


"Hubungan dipaksa atau memaksa, mungkin suka sama suka. Jangan beritahu aku, jika sampai mami kamu tahu, maka dia akan kecewa dan membenarkan ucapan papa tiri kamu," ucap Naya melangkah pergi.


Teriakan Delon terdengar, Kanaya tidak punya hak mengancamnya. Dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya.


"Dia hamil, dan kamu tahu siapa ayahnya," tegas Naya melangkah pergi, dia hanya meminta Delon mendengar ucapannya yang pastinya tidak akan diterima.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2