
Tangan Erin terulur, berusaha untuk mendudukkan tubuhnya yang sudah satu bulan terbaring tidak berdaya.
Air mata mengalir di pelipis matanya karena tidak ada yang menemaninya di rumah sakit, kedua orangtuanya mengabaikan dirinya.
"Ayo Rin, bangun. Kali ini saja, aku tidak ingin menyerah" Erin turun dari ranjang yang tidak bisa dirinya tinggalkan dalam kurun waktu yang lama.
Tubuh Erin tersungkur, Arvin menahan tubuhnya, menggendong kembali ke atas tempat tidur.
"Apa yang kamu lakukan, tidak ada gunanya memaksakan diri, keadaan kamu bisa semakin buruk," tegur Arvin yang merasa kasihan melihat Erin yang harus terbaring di atas tempat tidur.
"Aku tidak ingin di sini, buat apa aku hidup jika hanya menyusahkan orang, Rin mau pulang." Tangisan tumpah memanggil Mami Papinya yang tidak kunjung datang.
Tarikan napas Arvin dalam, tiap hari Naya memintanya untuk menjenguk Erin, tapi Arvin terus menolak karena tidak ingin melihat wanita bodoh yang membahayakan dirinya sendiri.
"Hubungi orang tua kamu, jangan teriak-teriak ini rumah sakit," bentakan terdengar, Arvin mengambil ponselnya menyerahkan kepada Erin
Ponsel Arvin langsung diambil, Erin menangis sesegukan karena dia tidak tahu nomor ponsel orangtuanya, tidak tahu nomor siapapun.
"Apa yang kamu lakukan selama ini sampai tidak tahu nomor siapapun?" Avin bergegas keluar kamar mencari dokter yang bertanggung jawab.
Arvin meminta nomor orang tua Erin untuk menanyakan keberadaan mereka, kondisi Erin maish membutuhkan dampingan orang tua.
Perawat menyerahkan nomor, meminta maaf kepada Arvin jika harus mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan.
"Apa kamu teman atau saudaranya?"
"Bukan, kita hanya saling mengenal saja, apa kondisinya memang sangat buruk?"
"Kondisi Erin baik, dia hanya butuh latihan dan pemulihan, tapi mentalnya yang terguncang, tidak ada juga dukungan dari keluarganya," ucap perawat yang selama ini menjaga Erin.
"Kenapa tidak menghubungi keluarganya?"
"Sudah, tapi mereka tidak memberikan respon baik. Kesibukan mmebuat mereka tidak punya waktu untuk datang, menyerahkan Erin sepenuhnya kepada perawat, hanya uang yang dikirimkan," jelas perawat yang kasihan kepada Erin.
Tangan Arvin terlempar, berlari ke kamar Erin menatap Erin yang mennagis mentap ponsel juga secarik kertas.
"Mi, jemput Erin Mi, mau pulang," pintanya memohon.
"Memangnya kamu sudah bisa jalan, jangankan japan setidaknya bisa duduk?"
__ADS_1
"Bisa Mi, Rin sudah bisa duduk, nanti berobat lagi biar Erin bisa jalan."
"Berapa lama Rin, apa kamu pikir Mami ini tidak punya pekerjaan sehingga harus menjaga anak cacat, apa kamu gila!" kemarahan terdengar mminta Erin selamanya tinggal di rumah sakit sampai dia bisa berjalan.
Jika para kolega bisnis tahu kondisi Erin yang memperhatikan bisa merusak dan menjelekkan reputasi perusahaan.
Mami dan Papinya tidak ingin kehilangan peluang emas, lebih baik kehilangan anak karena masih memiliki anak lain, bukan hanya Erin.
"Mi, aku anak Mami, jangan begini sama Erin. Mami tidak sayang Erin?"
"Jangan hubungi Mami lagi, jangan berharap Mami akan datang, kamu fokus saja untuk sembuh setidaknya Mami masih menanggung biaya pengobatan kamu, ingat Rin biayanya tidak murah." Panggilan mati begitu saja.
Ponsel Arvin terjatuh ke lantai, tangan Erin lemas sampai tidak bertenaga hanya sekedar memegang ponsel, ucapan Mami seakan berharap Erin mati daripada menghabiskan uangnya.
"Ais, apa yang harus aku katakan?" batin Arvin yang binggung cara menghibur.
Tidak ada lagi air mata yang keluar, Erin tahu jika Maminya pasti akan mencampakkannya jika tidak bisa dimanfaatkan lagi.
Kondisi Erin sekarang membuktikan jika dirinya hanyalah benalu, tidak ada gunanya menangis.
"Jangan didengarkan mungkin Mami kamu sedang ada maslaah, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi kepada orang dewasa," ucap Avin mengambil ponselnya.
Kepala Erin menggeleng, keluarganya dan Arvin berbeda, tidak ada yang akan menerima wanita cacat.
"Sial, apa ini?" Avin mengacak rambutnya karena tatapan mata Erin kosong.
Perawat geleng-geleng kepala karena kondisi Erin akan semakin buruk jika dia menolak minum obat dan makan, padahal sudah bisa duduk menjadi perkembangan yang baik untuk kesembuhan.
"Kamu ingin jalan keluar tidak, jika mau aku ambilkan kursi roda, jangan membuat stres, jika bukan permintaan Naya aku tidak mungkin datang. Kamu harus sadar diri, wanita yang kamu sakiti berbaik hati tidak dendam bahkan meminta aku untuk memberikan semangat, jujur aku tidak berniat menyemangati." Avin mengambil kursi roda, menggendong Erin untuk duduk di kursi.
Air matanya menetes, ucapan Arvin tidak pernah baik kepadanya, bahkan mengatakan kejujuran.
Arvin mendorong kursi roda keluar kamar, berjalan perlahan ke taman rumah sakit, ada banyak pasien yang sedang kumpul sambil jalan-jalan di sekitar taman.
"Tenangkan pikiran kamu, hirup udara segar." Avin duduk di kursi menatap cahaya matahari yang bersinar.
"Kenapa Kak Avin datang, bisa saja berbohong kepada Naya."
"Bohong, dia bisa tahu."
__ADS_1
"Maafkan Erin," pintanya.
"Sudahlah Rin, aku tidak ingin mengasihani kamu, tapi kondisi kamu memang memperhatikan, tapi ... Sudahlah, semangat saja untuk sembuh."
Air mata Erin mengalir, Arvin semakin pusing karena dia tidak mengerti arti air mata yang keluar.
"Lagi, kenapa menangis terus, nanti Naya berpikir aku penyebab tangisan ini, tolong diamlah."
Tangisan Erin tidak bisa berhenti, Arvin terpaksa menghubungi seseorang yang mungkin saja bisa membantu, tidak mungkin meminta Naya datang karena dia membutuhkan banyak istirahat.
"Di mana Lis?"
"Di rumah sakit ambil obat Kak Nay, soalnya kemarin Alis cek obatnya hampir habis."
"Tolong aku, ke taman rumah sakit sekarang."
Langkah seorang wanita terdengar, Alis mentap Erin yang menutup kedua wajahnya menggunakan telapak tangan.
Kepala Arvin geleng-geleng tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk menghentikan tangisannya.
"Menangislah jika itu yang bisa mengurangi rasa sakit, setelah puas mulailah meniti kembali." Alis duduk di samping Arvin.
Lama Erin menangis sampai matanya sayu, batuk kehabisan suara, Alis memberikan minuman agar bisa sedikit lebih tenang.
"Aku pergi dulu beli makan, nanti datang lagi." Arvin melangkah pergi menjauh.
Alis menoleh ke arah Erin yang sesenggukan, mataya bengkak, bibirnya berdarah karena tergigit kuat.
"Berat ya, begitulah hidup. Kita memang terlahir dari keluarga kaya, tapi alangkah indahnya jika bisa hidup seperti orang biasa," ucap Alis yang paham perasaan Erin.
"Mami Tika mengiginkan aku lagi," ucapnya pelan.
"Wajar saja, saat kamu sehat saja dijodohkan dengan Arvin padahal kita semua tahu jika keluarga Arvin orang-orang jahat, berpengaruh, dan tidak takut dengan hukum." Tawa kecil Alis terdengar karean Erin seharusnya sadar jika sejak dia lahir sudah punya misi.
Tidak mungkin dia hidup penuh kemewahan, tapi tidak menghasilkan. Alis merasa dirinya sangat beruntung karena kedua orangtuanya tidak terlalu mengutamakan perjodohan, tapi bukan berarti mudah memilih pasangan.
""Kamu tidak tahu rasanya dibuang oleh ibu sendiri?"
"Aku tidak ingin merasakannya, gila. Ambil saja buat kamu, jangan membagi kesialan denganku." Tawa Alis terdengar bisa tertawa di atas penderitaan Erin.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira