KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
BUTUH LIBURAN


__ADS_3

Mata Alis terbuka, menatap Naya yang sedang mengobrol bersama Prilly. Di apartemen sebelah sedang terjadi perang dunia ketiga gara-gara Naya tahu kode sandi kamar Andra.


"Lagian kenapa dibuka?"


"Mana aku tahu jika kodenya sama," balas Naya yang tertawa lucu.


Teriakkan Prilly terdengar bisa-bisanya Naya tertawa di atas penderitaan Andra yang sedang ribut besar.


Kedua kaki Alis lompat-lompat di atas tempat tidur, merasa malu saat ditampar oleh pacar kakaknya.


"Sudah selesai pura-pura pingsannya?" Naya tertawa pelan melihat Alis yang bangkit dari tidurnya.


"Perempuan sialan, Alis akan membalasnya." Hentakan kaki terdengar merasa sangat marah karena dipermalukan.


Tangan Alis ditahan, Naya meminta duduk. Nay paham jika Alis marah, ingin sekali membalas perbuatan Syifra, tapi ada Andra yang harus dijaga perasaannya.


"Kak Andra lebih pilih wanita itu?"


"Delapan tahun bukan waktu yang sebentar Alis, wanita itu bergantung kepada Andra." Prilly juga bisa memahami pikiran Syifra.


Tindakannya memang salah karena menyakiti tanpa bertanya dan melihat bukti, dia takut kehilangan Andra jika bertemu Naya. Salahnya dia terlalu terburu-buru, dan melewati batasan.


"Suara apa itu?" Alis menatap pintu karena Syifra mengamuk.


Di depan pintu ada Agra dan Arvin yang kebingungan melihat Syifra memukuli pintu apartemen Andra, tidak diizinkan masuk ke dalam.


"Kamu ini gila ya, tidak lama dicampakkan oleh Andra. Dia pria yang sangat menyukai wanita mandiri, kuat dan tenang, bukan seperti wanita gila," sindir Arvin yang mendekati apartemen Andra, menekan Sandi yang membuat Arvin terkejut.


Tidak Arvin sangka kode sama dengan miliknya, Agra bertepuk tangan menuduh Arvin dan Andra memiliki hubungan spesial.


Syifra berhasil masuk, menatap Andra yang asik tidur sambil mendengarkan musik. Sebegitu santainya dia menyingkapi masalah.


"Dra, enak tidur." Agra menepuk punggung Andra.


"Terserahlah, aku tidak ingin ambil pusing menyingkapi masalah ini. Pekerjaan aku sudah terlalu banyak tidak ingin terusik karena perasaan," jelas Andra yang menenangkan pikirannya.


"Maaf aku sayang, janji tidak akan terulang lagi." Air mata Syifra menetes menyentuh punggung Andra.


"Dulu aku mencintai Naya itu benar, bahkan kamu tahu itu Syif. Lihatlah cara Naya menyingkapi masalah, dia tidak emosi, tidak menunjukkan sikap keras, hanya berdiri tenang. Dulu kita berjuang bersama sebagai rekan, aku melihat wanita yang sangat tangguh, tapi sekarang kamu berubah ... ini salahku." Helaan napas Andra terdengar, bangun dari tidurnya menatap Syifra yang masih meneteskan air matanya.


Arvin dan Agra duduk diam di sofa, tidak ada yang keluar karena takut terjadi sesuatu. Andra jika marah sering lepas kendali.


Andra menyesali pernah pergi sebelum menyatakan perasaannya, tapi saat ini Andra lebih menyelesaikan mengukur kebersamaan dengan perasaan, seharusnya dirinya tidak melakukannya.


Bisa menjadi rekan kerja belum tentu menjadi pasangan, sepemahaman dalam pekerjaan tidak sama dengan kehidupan pribadi.


"Syif, ayo kita berpisah secara baik-baik. Pukulan terhadap adikku anggap saja imbang, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, mari kita jalan masing-masing," pinta Andra yang tidak ingin bersama.


Kepala Syifra menggeleng, dirinya tidak bisa, Andra tidak bisa mencampakkan dirinya begitu saja.


"Aku bisa mati tanpa kamu, Dra. Selama ini kamu alasan aku bertahan."


"Jika aku tahu itu alasannya, maka sejak awal aku tidak ingin kenal." Secara tulus Andra meminta maaf, dia tidak seharusnya mengubah hubungan rekan menjadi pasangan.


Kepala Syifra tertunduk, kedua tangannya gemetaran memohon agar Andra memberikan kesempatan kedua kalinya. Syifra akan meminta maaf kepada Alis jika perlu bersujud dihadapannya.


"Jujur selama ini kamu mencintai aku atau tidak, Dra?"


Andra menoleh ke arah Syifra, diam untuk berpikir sejenak mencoba kembali ke delapan tahun yang lalu.


"Apa aku pernah mengatakan cinta?" Andra balik bertanya, dia baru sadar tidak pernah mengatakannya.


Beberapa bulan yang lalu Andra memutuskan untuk kembali, tapi Syifra menahannya karena tetap ingin kerja bersama-sama.


Secara tiba-tiba Andra mengatakan untuk menikah, berpikir jika keduanya bisa saling mengimbangi baik dalam pekerjaan maupun rumah tangga.


"Kamu mengatakan ingin menikahi aku, Dra."


"Iya aku mengatakannya, aku sangat yakin untuk menikah, meksipun Mami meminta berpikir lagi, pertimbangan lagi, hingga akhirnya hal ini terjadi." Permintaan Andra satu tidak menyalahkan Naya, dia tidak terlibat apapun, sedikipun tidak membuat Andra terpesona.


Jika Syifra menyalahkan Naya, takut Naya mengambil kembali sungguh tidak termaafkan. Naya selalu berpikir dewasa, tidak menggabungkan masalah pribadi dan pekerjaannya.


"Aku tidak mau berpisah Andra, kita jaga jarak saja, berikan sedikit waktu untuk kita berdua berpikir. Jika kamu sudah tenang, baru kita bicara, intinya kita akan tetap menikah." Senyuman Syifra terlihat, dia akan menemui Alis untuk meminta maaf.


Pintu ditutup pelan, Andra menatap pintu sambil tarik napas panjang. Agra dan Arvin juga terdiam melihat ke arah pintu.


Keduanya saling pandang, menyatakan perasaan tidak sesulit mengakhiri hubungan apalagi bertemu wanita seperti Syifra.


"Yakin Vin ingin lanjut?" tanya Agra berbisik.


Ekpresi Arvin tidak bisa ditebak, menelan ludah pahit ternyata ada wanita yang begitu mengerikan, bukan wajahnya, tapi pendiriannya.


"Kira-kira Alis akan mempertahankan aku seperti itu tidak?"


"Aku rasa tidak, dia mudah mendapatkan pengganti kamu, sikapnya yang ramah dan periang memudahkannya mengenal banyak orang." Senyuman Agra terlihat menatap dokter muda.


"Jika begitu aku yang akan memohon kepadanya untuk tetap bersamaku, jika menolak harus tetap iya." Tawa Arvin terdengar, Agra menarik bajunya melihat ke arah Andra.


Senyuman dua pemuda terlihat, Andra terjatuh di atas tempat tidurnya, satu tangannya menutup wajah. Agra berjalan mendekat meminta Andra sabar.


"Dra, jika boleh berkomentar, kamu hanya mencari sosok Naya pada9 baik.


Tidak ada jawaban dari Andra, dia membenarkan ucapan Agra, tapi masih tidak mengakuinya.


Pintu kamar Andra dibanting kuat, Arvin berlari keluar ingin melihat keributan di apartemennya.


"Vin, lebih baik kita di sini, biarkan para wanita mengurusnya, ada Naya dan Prilly di sana." Langkah Arvin terhenti membenarkan ucapan Agra.

__ADS_1


Telinga keduanya menempel di pintu, tidak terdengar suara apapun dari apartemen depan.


Ketukan pintu terbuka, Prilly membiarkan Syifra masuk melangkah mendekati Alis yang masih tiduran bersama Naya.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti kamu, tanpa sengaja melihat foto seorang wanita bersama Andra, dan dua temannya yang mirip kamu." Kepala Syifra tertunduk.


"Itu memang aku, sejak usia sepuluh tahun sudah menempel seperti benalu kepada ketiganya," ucap Alis menegaskan jika dirinya jauh lebih dulu kenal.


Syifra membandingkan hubungan delapan tahun, dengan saudara kandung puluhan tahun.


"Aku tegaskan jika tidak akan berpisah dengan Andra, tidak akan pernah." Senyuman Syifra terlihat merasa senang bertemu dengan Alis meskipun pertemuan dalam keadaan kurang baik.


Tawa Alis terdengar, merasa kagum dengan Syifra yang begitu percaya dirinya bisa bersama Kakaknya. Alis merasa kasihan kepada Syifra karena tidak punya harga diri.


"Bukan masalah kamu menyebut tidak punya harga diri, demi bisa bermasa Andra harga diri tidak penting." Senyuman terlihat izin pamit, Syifra pastikan akan sering menemui Alis.


Tidak ada respon dari Alis, Kanaya dan Prilly, ketiganya hanya terdiam dan tercengang. Mental yang sungguh luar biasa sehingga tidak takut apapun.


Sikap Syifra patut diacungi jempol, dia punya keberanian dan mental yang kuat untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya.


"Bukannya dia aneh, bagaimana bisa bertahan dengan sesuatu yang dipaksakan?" kepala Prilly menggeleng, segala sesuatu harus saling memperjuangkan tidak bisa hanya satu orang.


"Silahkan Kak Prilly mengejarnya untuk memberikan pengertian." Alis mempersilahkan untuk segera mengejar.


"Kita yang lebih dicintai tidak akan merasakan perasaan seseorang yang sangat mencintai, dia tidak akan paham. Baginya masih bisa berjuang, daripada mundur dengan terluka, lebih baik maju meskipun tahu lukanya akan semakin besar." Senyuman Naya terlihat, berbaring kembali di samping Alis.


"Seandainya kalian di posisi dia, bagaimana?" Prilly masih penasaran.


Dua wanita angkat tangan, lelaki terlalu banyak, dunia terlalu luas, tidak ada gunanya bertahan dengan sesuatu yang tidak pasti.


Berjuang juga memiliki porsinya, sudah Syifra katakan dia menghilang harga diri, tapi Naya mempertahankan harga diri.


"Kak Naya ada hubungan apa dengan Kak Andra sampai wanita itu marah?" sudah cukup lama Alis diam, tidak ingin Naya merasa tidak nyaman apalagi dalam keadaan Andra yang memilih pergi.


Kepala Naya menggeleng, tidak ada apapun. Dia menganggap Andra sama seperti Agra dan Arvin.


Suara Prilly mengumpat terdengar, langsung lari keluar setelah mengecek pesan di ponselnya. Alis mengambil hanphone menujukkan kepada Naya.


"Bukannya itu ponselku?" Naya melihat Alis yang berlari keluar.


"Tetap di dalam saja Kak Naya." Alisha berlari melewati Arvin dan Agra yang ingin masuk.


"Ada apa Lis?" teriakkan Arvin terdengar.


"Erin dikeroyok puluhan tentara." Alis menutup lift.


Kepala Agra dan Arvin saling pandang mengangguk pelan langsung lari melewati tangga darurat.


Pintu apartemen Naya dan Andra sama-sama terbuka, Naya melepaskan gips di kakinya ingin turun ke bawah.


"Dra, boleh aku masuk?" Naya membuka kode sandi, melangkah masuk menemui Andra yang berguling di atas ranjang sambil menutup matanya menggunakan lengan tangan.


Naya melihat apartemen berantakan, sejak pindah Andra belum sempat berkemas. Wanita yang Naya temui ternyata Syifra yang Nay pikir penghuninya.


"Jangan dirapikan, aku akan segera pindah." Andra mendengar suara Naya merapikan barang yang bertaburan di mana-mana.


"Kenapa pindah, kamu baru saja menyewa tempat ini. Aku tidak akan mengembalikan uang sewa," ucap Naya yang berjalan tertatih karena kakinya masih sakit.


"Maaf, Syifra membuat tidak nyaman," ucap Andra merasa bersalah.


"Maaf, aku penyebab pertengkaran kalian." Naya membuka gorden berjalan ke balkon bisa melihat Prilly, Alis dan Erin yang dikelilingi banyak orang.


Suara langkah Andra mendekat terdengar, melihat ke bawah sekumpulan orang sedang berkumpul.


"Ada apa?"


"Pemuda yang kemarin aku pukul dikeluarkan, dia tidak terima sampai mencari alamatku. Daddy sebaiknya tahu soal ini." Naya merekam, mengirimkan kepada Daddy yang hanya membereskan.


Mulut Andra tergagap melihat Alis bisa bertarung, setahunya adik kesayangan hanya gadis manja.


"Sejak kapan Alis bisa?"


"Sejak kamu pergi, aku mengajarinya agar bisa jaga diri. Semakin dewasa, akan ada banyak masalah dia harus mandiri." Senyuman Naya terlihat karena kemampuan bela diri Prilly memang terbaik.


"Lalu tadi?"


Tawa Naya terdengar, Alis hanya bersandiwara. Dia bisa saja membalas, tapi pastinya dia yang disalahkan sehingga membuat drama pingsan.


Tidak berselang lama Agra dan Arvin tiba dalam keadaan ngos-ngosan, keduanya berpikir melewati tangga darurat lebih mudah, padahal tiga kali lipat.


"Bagaimana bisa apartemen tiga lantai bisa memiliki tiga ribu anak tangga?" Arvin terduduk lemas tidak sanggup bertarung lagi.


"Iya gila, kenapa bisa begitu?" Kepala Agra mendongak ke atas melihat Naya dan Andra yang tersenyum.


Naya ternyata cukup detail dalam pembuatan apartemen, dia apartemen memiliki balkon yang bisa menikmati jalanan depan, sedangkan dia apartemen balkon belakang yang memperlihatkan taman.


Di lantai satu area kosong hanya diisi beberapa tempat bersantai, dia lantai dua ada tempat tinggal untuk enam apartemen, biasanya dihuni oleh mahasiswa atau pekerja paruh waktu.


"Kenapa hanya duduk, bantuin mereka," tegur Andra dari atas.


"Semangat, Naya bantu doa." Nay bertepuk tangan melihat Alis dan Erin yang bisa kompak, biasanya bertengkar.


"Kenapa apartemen lantai tiga kamu sewakan dengan harga tinggi? Berbeda dengan lantai dua?"


"Emh, biar tidak ada yang mampu menyewanya, ternyata satunya Arvin, dan kamu, bentar lagi Prilly yang akan mengambil satunya. Setidaknya Naya bisa bernapas lega tidak berdesakan di satu apartemen." Perasaan Naya lega, akhirnya dia bisa punya tempat tinggal.


Senyuman Andra terlihat, tidak menyangka Naya berhasil membangun tempat berteduh yang dulunya dihancurkan.

__ADS_1


"Dra, berikan Syifra kesempatan. Dia sebenarnya baik, tapi ada sesuatu yang membuatnya berat melewati hidupnya." Naya melangkah pergi dari balkon yang turun ke bawah.


Mendengar ucapan Naya membuat Andra sedih, ada hal yang tidak mampu dirinya sesali selain menjalankan.


Apapun yang akan terjadi ke depannya, Andra tidak akan mengambil pusing. Siapapun jodohnya, pekerjaan lebih utama jika sudah waktunya pasti akan berlabuh.


"Naya, jangan turun. Kaki kamu masih bengkak." Andra menahan pintu lift.


"Aku lapar, butuh makan." Tangan Naya mengusap perutnya.


"Besok tidak perlu berkerja, tetaplah beristirahat selama beberapa hari." Andra akan mengurus sisa masalah yang ada perusahaan.


Kepala Naya mengangguk, dia menerima jatah libur karena sudah bekerja cukup lama, tidak pernah mengambil cuti.


Naya akan memanfaatkan masa liburnya untuk bersenang-senang dan menghabiskan uangnya.


"Aku akan liburan ke luar negeri tanpa perkejaan?"


"Gila, bagaimana dengan staf yang bergantung kepada kamu?"


"Ada Pak Andra, pokoknya Naya akan pergi liburan, titik."


"Kira-kira Naya, kamu hanya boleh libur satu minggu bukan satu bulan, memangnya ini perusahaan Nenek moyang kamu?"


Langkah Naya terhenti, jika memang Nenek moyangnya yang punya sudah lama dia menjadi pewaris. Jika Naya sebagai pimpinan sudah tiap hari ini jalan-jalan menghamburkan uang daripada bangun pagi pulang malam demi pekerjaan.


Adu mulut keduanya terdengar, lima orang terdiam melihat dua orang bertengkar di depan lift.


"Kenapa mereka berdua selalu bertengkar?" Agra mengelus dada.


"Kenapa juga Nenek moyang sudah diungkit-ungkit, apa salah Nenek?" Erin melangkah masuk mengusap hidungnya yang berdarah.


Suara tepuk tangan terdengar, Naya dan Andra menatap ke arah lima orang yang sudah duduk di kursi.


"Kalian sudah selesai bertarungnya, apa yang terjadi Rin?" Naya menarik kursi untuk duduk mendekat.


"Tidak tahu, tiba-tiba ada sepuluh orang sudah mengelilingi mobil. Daddy melarang pergi, padahal aku hanya main ke Apartemen, masih saja ketahuan." Bibir Erin manyun karena bosan berkurang apalagi melihat Raya yang sangat nakal.


Seseorang mengantarkan minuman, sudah paham minuman kesukaan Naya, Alis, Prilly dan Erin karena empat wanita jika bertemu selalu nongkrong.


"Kak, Alis lapar makanan seperti biasanya," pinta Alis.


"Siap, ini para cowok tampan tidak ada yang ingin memesan makanan?"


"Ini memang tempat makan?" tanya Agra yang takut banyak orang mengenalnya.


Prilly memesan untuk Agra, meminta bantuan melarang ada yang masuk karena ada seorang selebriti.


Tidak ingin banyak berita buruk, dan yang lainnya ikut terekspose. Ketenangan dan kenyamanan pasti terganggu.


Naya mengutarakan keinginannya yang akan liburan selama satu bulan, Daddy akan melakukan perjalanan bisnis ke lima negara, Mama dan Raya ikut.


"Mama kirim pesan menawarkan," ujar Naya.


"Kenapa Prilly tidak, aku mau ikut." Senyuman lebar terlihat karena ada pesan yang sama.


Erin san Alis juga cek ponsel, teriakan keduanya terdengar. Merasa sangat senang bisa pergi liburan.


Agra mengecek ponselnya begitupun dengan Arvin, Andra ikut-ikutan, ketiganya tidak mendapatkan pesan apapun.


"Kamu tidak boleh pergi, bagaimana denganku?" Agra menarik napas panjang.


"Nanti aku kontrol dari jauh," jawaban yang tidak ingin dibantah.


Rencana jalan-jalan disetujui, Naya yang paling bersemangat karena impian terakhir jalan-jalan keluar negeri.


"Have fun, cepat pulang jangan lupa oleh-oleh." Arvin mengangguk menyemangati.


Naya sudah waktunya liburan, dia terlalu banyak bekerja, hingga lupa untuk bahagia, begitupun dengan Prilly yang terlalu sibuk sehingga butuh refreshing.


Berbeda dengan Alis dan Erin yang memang keluar masuk sesuka hatinya, tapi tidak ada salahnya liburan bersama.


"Kalian bertiga berpasangan, tapi Erin sendirian." Erin memeluk lengan Arvin, rambutnya dijambak oleh Alis agar melepaskan.


Tawa Naya terdengar, menahan tangan Alis untuk segera menghabiskan makanannya. Menikmati masakan yang mirip buatan koki.


"Apa yang akan Kak Naya lakukan pertama kali saja ke luar negeri?" Alis mengangkat kepalanya menatap Naya.


"Mendoakan Kakek dan nenek, akhirnya aku bisa pergi padahal dulu hanyalah khayalan." Naya terseyum manis meksipun Nenek Kakek tidak merasakan kenikmatan hasil kerjanya.


Harapan yang sama dengan Prilly, dia juga ingin pergi ke luar negeri mendoakan Mommy dan menunjukan jika dirinya tumbuh dewasa dengan baik.


Kepala Alis mengangguk, tujuan Alis keluar negeri hanya untuk berbelanja, dan bersenang-senang dengan foto-foto memenuhi berandanya.


"Mama, Agra juga mau jalan-jalan, kenapa tidak ditawarin." Rengekan terdengar Agra menghubungi Mamanya merasa tidak disayang lagi.


Para wanita diajak jalan, tapi dirinya mendapatkan pesan saja tidak. Delapan tahun bekerja, Agra butuh hiburan sama seperti para wanita.


"Arvin juga mau, tapi bagaimana dengan pasien? Delapan tahun aku bekerja, tanpa liburan," gumam Arvin pelan.


Perasaan Andra juga sama, delapan tahun dirinya bekerja, tidak ada satu hari pun santai, tidak ada moment liburan seperti pengusaha lain.


"Aku juga mau, tapi bagaimana dengan kantor?" Andra memijit pelipisnya.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2