KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
INGIN PERGI


__ADS_3

Gerak-gerik Angra sangat mencurigakan, dia melarang Alis pulang agar tidur di rumahnya, tidak mengizinkan Mama dan Prilly pergi ke restauran.


Bahkan Kanaya juga tidak diizinkan keluar meskipun hanya untuk menenangkan diri, pasti ada sesuatu yang terjadi di luar sana.


"Apa yang mereka lakukan, kenapa tidak melibatkan aku?" Nay menatap Prilly dan Alis yang sudah tidur.


Perlahan Nay keluar dari jendela, hatinya tidak bisa tenang memikirkan apartemen yang hangus tanpa sisa.


Nay berhasil kabur dari rumah, berlari kencang mencari angkutan umum yang masih berlalu lalang.


Di dalam angkutan hanya tersisa beberapa orang, Nay bisa melihat jelas jalanan yang tidak padat lagi.


"Kenapa hidupku tidak pernah damai," gumam Nay menatap ke arah apartemennya yang gelap gulita.


Beberapa apartemen lain juga gelap, Nay merasa sangat sedih melihatnya. Tempat yang menjadi saksi persahabatannya kini sudah hancur.


"Kenapa apartemen ini hancur, kenapa?" Andra duduk di tanah depan apartemen sambil mengoceh.


"Dra, kenapa kamu di sini?"'


"Kanaya, aku berencana pulang, tapi hati membawa aku kesini, lihat sudah tidak ada lagi apartemen kamu," ujar Andra yang meminta Naya duduk.


"Ini anak mabuk rupanya, aku cemas takutnya ada rencana yang dilakukan, ternyata asik mabuk-mabukan." Nay duduk di samping Andra yang terlihat manis jika mabuk.


Mata Andra terpejam, meletakkan kepalanya di paha Naya, apartemen jelek milik Naya sudah hilang.


Tangan Naya mengusap lembut kepala Andra, tersenyum amnis melihat wajah Andra yang sangat tampan.


"Kenapa banyak momen kita seromantis ini, perasan kamu bagaimana Dra?"


"Aku akan pergi Nay, tidak tahu berapa lama mungkin aku akan segera pergi," balas Andra yang menggenggam tangan Naya.


"Ke mana, apa kamu akan pindah kuliah?"


Senyuman kecil terlihat di wajah Andra, dirinya tidak tahu masa depannya, tapi ada satu kenyataan yang tidak biya Andra hindari.


Sebagai seorang putra, tugasnya menjaga kelurganya. Bukan hanya keluarga, tapi seluruh staf yang bekerja dibawah kepemimpinannya.


"Tidak ada yang bisa aku janjikan, jangan berharap aku kembali. Mungkin selamanya aku akan tinggal di sana," ucap Andra dengan nada yang sangat pelan.


Kepala Nay mengangguk, meminta Andra pergi. Meskipun tidak tahu kapan kembali, Nay tetap berharap ada pertemuan kedua kali antara mereka.


"Pertemuan awal kita layaknya musuh, aku harap pertemuan nanti kita bisa lebih akur." Air mata Naya menetes, perasaan sedih karena Andra akan meninggalkan.


Kepala Andra mengangguk, berharap hubungan keduanya benar-benar baik. Andra meminta Naya melupakannya tidak menunggu berlama-lama.

__ADS_1


"Aku tidak akan melupakan kamu, tidak akan," janji Nay karena dirinya bahagia mengenal Andra.


"Aku tidak akan pamitan, tidak akan menemui kamu lagi." Mata Andra terbuka melihat air mata mengalir.


Tangan Andra menyentuh pipi Naya, mengusap air mata yang tidak sepatutnya mengalir. Gadis kuat yang sangat Andra percaya, tidak seharusnya menangisi dirinya.


"Jangan pernah lupakan aku, tidak peduli siapapun pasangan kamu, ceritakan persahabatan kita kepada anak-anak kamu." Kedua tangan Nay menutup wajahnya karena tidak kuasa menhan air mata.


Nay tidak akan pernah bertanya ke mana Andra pergi, apa yang dilakukannya, bagaimana kondisinya, apa dia bahagia. Naya akan menjalani hidupnya tanpa Andra.


"Baguslah, aku hanya bercanda bodoh." Andra tertawa melihat Naya menangis.


Tamparan kuat di wajah Andra karena Naya sudah sangat kehilangan ternyata dia hanya bercanda.


"Sakit," bentak ANdra.


"Apa hidup kamu hanya dipenuhi candaan?" Nay menjatuhkan kepala Andra sampai meringis kesakitan.


Tawa Andra terdengar mengejek Naya yang menangis karena dirinya pamitan ingin pergi, terlihat sekali jika akan berpisah.


Andra diamlah!" rambut Andra dijambak habis-habisan karena membuatnya kesal.


"Ampun Nay, otak aku bisa keluar." Andra memegang tangan Naya.


Senyuman Andra terlihat, merapikan rambutnya yang kusut seperti sarang burung ulah Naya yang hobi memukul.


"Ke mana lagi, kita mencari pelaku." Andra menatap apartemen yang Naya ratapi.


"Siapa Pelakunya Dra?"


Andra menggeleng pelan, dirinya tidak tahu pasti karena Arvin dan daddynya yang mengurus. Dalang utamanya pasti Kakek Arvin, tapi yang diincar pemilik gedung.


Soal ganti rugi bisa saja dilakukan, tapi tidak memberikan efek jera melainkan mencari keuntungan.


"Daddy Arvin apa mulai luluh?" kepala Naya melihat ke arah Andra yang sudah tumbang kembali.


Pukulan Naya kuat ke arah perut membuat Andra bangun lagi mengusap perutnya yang rasanya sakit luar biasa.


"Kanaya, kamu apakan perutku?" Andra mengusap perutnya yang terasa sangat sakit.


"Makanya jangan mabuk, bangun Andra." Tangan Naya menarik Andra yang masih saja berguling di tanah.


"Ya tuhan, Kanaya Andra." Arvin yang mencemaskan Andra pilih balik lagi, tapi apa yang dilihatnya ada adegan gelut antara keduanya.


Suara Andra merengek terdengar, Nay angkat tangan sambil menggeleng karena tidak bermaksud menyakiti, tapi Andra yang membuatnya kesal.

__ADS_1


Kepala Agra geleng-geleng karena Andra kotor berguling-guling, saat mabuk Andra sungguh mengkhawatirkan.


"Katanya pulang ke rumah, Dra?"


"Vin, lihat rumahnya. Sudah hancur." Andra berdiri menatap apartemen.


"Ayo pulang, berhentilah berulah." Arvin merangkul Andra agar segera diantar pulang.


Teriakkan Agra terdengar, melihat Andra matanya merah. Agra mencemaskan Naya yang tiba-tiba pergi, ternyata datang ke apartemen.


Senyuman Naya terlihat, dia tidak bisa tidur karena memikirkan apartemen, tidak sengaja bertemu Andra yang mabuk.


"Gra, wanita itu jahat. Dia memukuli aku." Andra berlutut dihadapan Naya, memeluk pinggangnya erat.


Kedua tangan Naya menjambak rambut Andra, Arvin dan Agra memisahkan keduanya untuk berhenti.


Empat orang menatap ke arah Apartemen, biasanya menjadi rumah berkumpul, sekarang tempat itu tidak ada lagi.


"Selamat tinggal, kita tidak akan melupakan tempat ini." Naya melambaikan tangannya.


"By by by." Andra juga melambai membuat Arvin dan Agra geleng-geleng memijit pelipisnya yang tidak sakit, tapi pusing melihat Andra.


"Kita pulang sekarang, sudah malam." Arvin meminta Agra membawa Naya, sedangkan dia kembali bersama Andra.


"Aku mengantuk sekali." Andra langsung tidur tengkurap.


Tawa Naya terdengar, menginjak tumbuh Andra yang tiduran. Arvin menatap Agra yang menahan tawa.


"Arvin kalau mabuk banyak mengoceh, Andra mirip orang gila, aku belum pernah melihat Agra, bagaimana jika dia mabuk?" Naya merasa sangat penasaran.


Tawa Arvin terdengar menatap Agra yang pernah mabuk, tapi buat malu karena dia memeluk siapapun yang lewat, tidak terlewatkan pohon, tiang, dinding.


Kaki Naya dipukul, teriakan Agra dan Arvin terdengar melihat Naya terhentak jatuh di samping Andra.


"Sudah Nay, kita pulang sekarang." Agra menarik Naya yang nampak marah.


"Andra!" teriakkan terdengar sangat besar.


Arvin menggendong Andra yang sudah tidak sadarkan diri. Memejamkan matanya setelah membuat ribut.


"Dra, jangan keseringan mabuk kamu membuat petaka.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2