
Kamera menyorot ke segala arah, Agra dan Prilly sudah ada di atas pelaminan menyambut tamu yang datang.
Papa Agam mengizinkan Mama dn Daddy yang mendampingi Agra, mereka jauh lebih layak sebagai orang tua.
"Kamu sedih karena tidak bisa menjadi ayah untuk Agra?" tanya Mami.
"Tidak, aku bagai melihat Agra yang sekarang, dia sudah berusaha seadil mungkin. Mamanya jauh lebih berhak atas segalanya." Papa mengusap punggung Mami dan Delon yang duduk menikmati pesta.
Kepal Nay pusing melihat banyaknya orang [ilih duduk di pojokan menikmati makannya yang masih banyak.
"Naya," sapa Syifra yang duduk di samping Naya.
"Ada apa, bagaimana tidur di rumah Mami?"
Senyuman Syifra terlihat, dia merasa nyaman dan diperlakukan dengan baik. Delon juga terlihat menyayangi anaknya.
"Terima kasih Nay, sudah berjuang selama ini," ucap Syifra yang mendoakan Naya dan Andra segera menikah.
"Apa yang aku lakukan bukan sekedar membantu kamu, tapi demi keuntungan pribadi." Naya mengakui jika dia berharap Syifra dan Andra berpisah tanpa terikat oleh apapun.
Sejujurnya Naya takut dengan kehadiran baby Daisy, dia bisa saja membuat Andra iba hingga meninggalkan Kanaya.
"Satu sisi aku tidak rela baby lahir tanpa ayah, tapi aku juga tidak ingin merelakan Andra." Naya sadar diri jika dia egois namun tidak menyesalinya.
"Aku tahu, tanpa mengatakannya sudah terduga, tapi aku percaya kalian tulus kepadaku." Syifra meminta izin agar Naya menyewakan satu apartemennya.
Syifra tidak tega melihat Delon harus mengemudi cukup jauh untuk datang ke kantor, setelah wisuda Syifra ingin Delon lanjut S2.
"Ambil saja apartemen Andra, dia juga tidak sepenuhnya butuh memang dasar suka tidur di segala tempat." Naya tertawa pelan mengingat sifat Andra.
"Dia bisa marah," tolak Syifra yang tidak enak.
"Jika Andra marah itu namanya normal, dia memang suka begitu." Kanaya meminta Syifra percaya kepadanya.
Kepala Syifra mengangguk mengucapkan terimakasih, dia akan membayar sewa seperti penyewa lain.
Setelah lahiran, Syifra akan bekerja kembali. Saat keuangan stabil akan membayar sewa dengan harga normal.
"Jangan pikirkan harga, santai saja." Naya menyodorkan makanan.
Tangan Naya tergempal saat melihat Andra asik joget-joget bersama Arvin dan para bujangan lain, pengantin juga ikut berjoget.
Ada banyak wanita seksi yang menarik mengiringi musik yang semakin besar, tamu undangan berganti para pemuda-pemudi memenuhi aula.
__ADS_1
"Apa orang kaya selalu begini?" Naya merasa panas.
"Bukan soal kayanya, tapi ini kehidupan zaman sekarang. Jika dulu dansa, sekarang party." Syifra menahan tawa melihat raut wajah Kanaya.
Wajah Syifra meringis merasa perutnya sakit, Naya masih menatap Andra yang tertawa di tengah pesta meskipun masih orang terdekat.
"Aw, Naya perut aku sakit." Keringat mengalir di tubuh Syifra.
"Kenapa, ada apa?" Naya langsung berdiri meminta Syifra segera dilarikan ke rumah sakit.
Kepala Syifra menggeleng, dia tidak sanggup lagi untuk berdiri karena sudah penuh air. Teriakkan Naya kuat membuat sekumpulan orang party berhenti.
Musik langsung dimatikan, Prilly berlari ke arah Syifra meminta siap mobil karena air ketuban pecah.
"Delon, istri kamu." Arvin juga lari menatap Syifra yang mandi keringat.
Tubuh Syifra digendong Delon, meminta menyingkir agar tidak memenuhi jalan. Naya berlari mengikuti dari belakang, Andra juga berlari mengejar untuk membawa ke rumah sakit.
Pesta langsung heboh, panik melihat ada banyak air ketuban. Mencemaskan kondisi baby yang ingin lahir.
"Ya tuhan lindungi Syifra dan anaknya," ucap Prilly yang ikut terkejut.
"Gra, Papa pergi ke rumah sakit dulu." Kepala Agra mengangguk meminta mengabarinya.
Mama dan Daddy juga pergi, orang tua Andra yang menemani Agra karena orang tuanya pergi semua.
Andra mengemudi mobil dengan cepat, Arvin meminta Syifra tidak mengejan karena dia belum waktunya lahiran percuma saja hanya akan membuat tenaganya habis.
"Kak Andra tolong perhatikan jalan, mengebut boleh namun jangan membahayakan," tegur Delon yang berusaha tenang melihat kondisi Syifra.
Arvin sudah menghubungi Dokter untuk segera bersiap, memberitahu kondisi Syifra yang nampak lemah.
"Jangan tutup mata dulu," pinta Delon menangkup wajah Syifra agar tetap sadar.
Lengan Arvin dicubit, Naya menujukkan kondisi Syifra yang sudah mengeluarkan darah.
Kepala Arvin menoleh, meminta Andra lebih cepat, jangan sampai air ketuban kering karena darah juga keluar.
"Kenapa ini lebih menegangkan daripada balapan liar?" gumam Andra membunyikan klakson mobilnya.
"Syifra, Syifra, Kak Arvin sudah tidak sadar. Tangannya dingin Kak." Delon menahan tangisannya melihat kondisi Syifra sudah jatuh pingsan.
Perlahan Arvin menghembuskan napasnya, merasakan tangan sudah dingin. Pilihan terakhir operasi karena Syifra tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Sabar, sebentar lagi kita sampai. Tolong jangan ada yang panik." Andra menghentikan laju mobil.
Tubuh Syifra langsung dibawa keluar, dokter menyambut kedatangan Syifra. Kaget melihat air ketuban dan darah bergabung jadi satu.
"Dia baru saja pingsan, darah rendah, tensi tidak stabil. Jalan terbaik operasi karena ketuban sudah pecah," jelas Arvin terbata-bata.
Dokter paham isyarat mata dokter Arvin, langsung membawa ke ruangan yang sudah disiapkan.
Naya menunggu di ruang tunggu, Delon mondar-mandir penuh kegelisahan berharap anak istri baik-baik saja.
"Bahagia begitu singkatnya, baru saja kita tertawa sekarang Syifra sudah terbaring." Naya meremas kedua tangannya yang dingin.
"Delon, bagaimana keadaan Syifra?" mami sama papa ikutan cemas.
Tangan Delon menujuk ke dalam, tidak bisa berkata-kata lagi karena begitu takut memikirkan anak dan istrinya.
"Mi, Delon takut." Delon berlutut menangis tidak ingin terjadi hal buruk.
"Jangan menangis, mereka berdua pasti baik-baik saja." Mami mengusap punggung Delon memintanya untuk tenang.
Air mata Delon menetes meraba pintu rawat, jika boleh dirinya memohon keselamatan Syifra dan baby Daisy menjadi impian terbesarnya.
"Tuhan, satu kali ini saja. Jangan pisahkan kami bertiga." Delon melipat tangannya berdoa dengan khusyuk.
Kanaya juga melipat tangannya berdoa. Diikuti oleh Andra yang masih setia menunggu. Mami dan Papa Agam juga melipat tangan mengirimkan doa.
Mata Naya yang terpejam terbelalak besar saat suara bayi terdengar. Andra berdiri dari duduknya merasa jantungnya berhenti berdetak.
"Bayi, apa itu suara bayi?"
"Iyalah Nay, masa iya kuntilanak." Andra mendekati pintu tidak sabar lagi ingin melihat bayinya Delon.
Tangisan Delon pecah, Dokter Arvin keluar sambil tersenyum. Sedih mendengar tangisan Delon yang pecah antara bahagia dan khawatir.
"Bagaimana kondisi Syifra Kak?"
"Bayinya lahir dengan selamat, berjenis kelamin pria."
"Kondisi Syifra Kak, aku ingin tahu." Delon tidak terpikirkan soal anak, tapi ingat tahu kondisi istrinya.
Kepala Arvin menggeleng, tubuh Delon langsung lemas. Andra merangkul Delon agar tetap kuat.
"Dokter Obgyn akan menjelaskan detailnya." Arvin mengusap kepala Delon.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira