
Ketukan pintu terdengar, Nay melangkah masuk ke dalam ruangan kantor Andra, melihat pria ugal-ugalan nampak keren menggunakan jas kerjanya.
"Kenapa aku diminta ke sini, pangkat aku terlalu jauh Andra."
"Andra, kamu pikir aku teman kamu? Ingat di sini siapa atasannya," tegur Andra.
Helaan napas Nay terdengar menganggukkan kepala terserah Andra ingin mengatakan apa, percuma saja dibantah tidak akan ada benarnya.
"Ya sudah, aku harus kerja apa? Lap meja, kaca, bersihkan rak buku, buang sampah, atau apa?"
"Kamu cleaning servis ya?"
"Bukan," jawab Naya.
"Sudah tahu bukan, lalu mau bersihin apa?" nada bicara Andra naik.
Andra melemparkan sesuatu kepada Naya agar membacanya, hal yang membuatnya Andra cukup terusik.
Selama dua minggu ini Andra mencari tahu soal daddy dan Kakeknya Arvin, tapi hubungan keduanya nampak renggang.
Beberapa bisnis mulai goyah, dua orang yang berpengaruh di dalam keluarga Alver berseteru. Kerenggangan membuat jatuhnya saham.
"Apa daddy mencoba menjatuhkan kakek?"
"Ya atau mungkin tidak, aku tidak ingin mengetahui lebih lanjut soalnya cukup buruk jika di bicarakan," ujar Andra yang merasa Kakek mulai goyah.
"Apa salah satu dari mereka mencoba menyerang kita?"
"Naya ini cerita perang, lagian mana aku tahu."
"Lalu apa yang kamu dapatkan dengan menyelidiki selama dua minggu ini?" Nay melotot karena Andra tidak sesuai harapan.
Senyuman Andra terlihat meminta Naya pulang bersamanya, ada sesuatu yang bisa memberikan lakukan untuk jalan terbaik agar menghindari keributan.
Lirikan mata Naya tajam mencurigai Andra yang jahil dan ucapannya tidak bisa dipegang. Pasti ada rencana busuk.
"Mau pulang tidak?"
"Mau, ayo." Nay berjalan lebih dulu.
"Naya, aku bosnya, kamu jalan di belakang aku. Bawahan kurang ajar," bentak Andra marah hanya karena salah jalan.
Hentakan Naya kuat, soal jalan saja menilai pangkat, Andra memang tidak asik menjadi tim karena tingkahnya yang angkuh.
"Mana anak satu tadi?" Andra menoleh ke arah Naya yang berjalan lambat.
"Kenapa?" Nay masuk Lift menatap Andra yang melotot.
__ADS_1
"Lambatnya seperti siput."
Tangan Naya mengelus dadanya, tindakannya selalu salah, nanti berjalan berdekatan membuat gosip di kantor, berjalan dengan jarak jauh menjadi siput.
"Aku langsung masuk mobil atau tunggu di jalan?"
"Kamu pikir aku supir taksi, langsung masuk saja." Andra masuk mobilnya.
Tendangan Naya kuat ke arah mobil Anda berlari masuk, sedangkan Andra keluar lagi mengecek mobilnya.
"Kenapa ditendang, jika ada masalah kita bertarung diring, kenapa mobil aku jadi korban." Andra memukul setir mobil.
Kepala Naya terasa panas, sungguh bisa gila bicara dengan Andra yang tidak punya attitude baik.
"Sabar Naya ini ujian hari yang panas karena ada banyak setan berwujud manusia yang menguji kesabaran," gumam Naya pelan mencoba menenangkan dirinya.
"Siapa yang kamu sebut Setan? Apa itu aku, beraninya. Aku tahu kamu malaikat, tapi malaika kematian," ejek Andra yang mempercepat laju mobilnya.
Kedua tangan Nay tergempal ingin rasanya memukul kepala Andra yang sungguh membuat hatinya dan kepala panas.
Mobil masuk area pemakaman, Nay mentap ke segala arah penuh kuburan, tidak paham apa yang dicari Andra.
"Apa yang kita lakukan di sini?"
"Mengubur kamu," balas Andra tidak ada seriusnya.
Rambut Andra dijambak kuat membuatnya berteriak kencang karena merasakan sakit, Nay bisa membahayakan pengemudi lain karena bertengkar di mobil.
"Berisik, lihat itu."Andra menujuk ke saah satu makam.
Nay melihat Daddy Arvin mengunjungi makam istrinya, dari jauh terlihat tubuhnya bergetar karena sedang menangis.
Tatapan mata Andra cuek saja, tidak tersentuh sama sekali. Di matanya Daddy orang yang menyebabkan mommy menderita.
"Dra, kamu tunggu di sini, biar aku yang turun." Nay melangkah keluar.
Belum sempat dihentikan, Kanaya langsung turun menemui pria yang sedang duduk di pinggir makam.
"Sore Om," sapa Naya.
Kepala Daddy terangkat setelah mengusap air matanya, melihat Kanaya yang tersenyum kecil menyapa.
"Mau apa kamu?"
Nay duduk menatap makam seorang wanita yang sangat Arvin cintai, wanita yang bukan hanya melahirkannya, tapi membesarkannya.
"Apa yang Om lakukan kepada Tante melukai Arvin, tidak ada solusi terbaik jika menyakiti." Nay masih fokus menatap foto.
__ADS_1
Senyuman nampak dari pria yang biasanya rapi, secara tiba-tiba berubah berantakan setelah tahu siapa yang menyakiti istrinya.
"Aku tidak pernah mengatakan jika tindakanku benar, tapi aku sangat mencintai istriku dan Putraku."
Tidak ada yang perlu dibicarakan dengan Naya, Daddy beranjak pergi setelah menemui istrinya.
Nay mengikuti mencoba menghentikan, berbicara pelan agar Daddy dapat bertahan setidaknya demi Arvin.
"Om Ar, mungkin sudah terlambat untuk mendapatkan maaf dari Tante, tapi belum terlambat untuk meminta maaf kepada Arvin." Nay menghentikan langkahnya karena pria dihadapannya juga berhenti.
"Kenapa kamu ikut campur?"
"Nay sebenarnya tidak mau, tapi bukannya Kakek akan melenyapkan ku karena diduga membawa lari Arvin?" helaan napas Nay terdengar mencemaskan dirinya sendiri.
Kedatangan Naya ke kota tidak ada maksud apapun, bertemu dengan Arvin juga sebuah kesalahan. Naya tidak ingin mengenalnya, tapi takdir dan Arvin terus menyeret.
Tidak ada yang bisa Naya lakukan melawan juga tidak ada gunanya karena Arvin membutuhkan bantuan, dia mungkin bisa tinggal di rumah yang jauh lebih mewah, tapi memilih tetap tinggal bersama Naya, tidak mungkin Naya mengusirnya hanya karena takut terlibat.
"Om, jika apartemen dihancurkan, Naya diminta ganti rugi, terus tidak punya tempat berteduh, lalu bagaimana nasibku?"
"Minta Arvin membayarnya, kamu sendiri yang mengatakan jika dia mampu," balas Daddy Ar.
"Ya, Arvin bisa membayar, tapi bagaimana jika nyawa Naya terancam?"
"Kemampuan bela diri kamu tinggi, lalu apa yang dicemaskan?"
"Om, bukan itu masalahnya. Sekuat apapun jika sendirian pasti mati, Naya, Arvin, dan teman-teman membutuhkan bantuan." Nay memasang wajah memelas.
Daddy Ar mendekati Naya, paham maksud ucapan Naya agar dirinya memberikan bantuan dan dukungan untuk melawan Papanya.
Menjadi pewaris yang berkuasa, atau seorang ayah yang baik dua pilihan yang berbeda tujuan, tapi pilihan hanya itu.
"Daddy tidak akan menyerang, saat ini hubungan kami sedang berseteru, tenang saja."
"Naya tidak bisa tenang, hati dan pikiran Naya gelisah. Arvin tidak bisa makan dan tidur, dia diliputi rasa takut juga cemas," ucap Naya meyakinkan.
Di dalam mobil Andra geleng-geleng, baru tahu jika Naya bukan hanya seorang wanita kuat, tapi licik.
"Perempuan satu ini mirip rubah, pria sekeras Om Ar saja bisa bimbang dan tergiur dengan tawaran Naya." Kepala Andra geleng-geleng, gemes melihat Naya yang memiliki mulut semanis madu.
Mobil Daddy Ar melaju pergi, Naya juga masuk ke dalam mobil menatap Andra yang bertepuk tangan.
"Sebegitu mencintai Arvin, membujuk calon mertua agar mendapatkan restu," sindir Andra.
"Kenapa, cemburu?"
"Najis!" Andra merinding.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira