KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
TIDAK MENGENALI


__ADS_3

Lari Naya kencang karena hampir terlambat, tidak menyangka dirinya akan terkena sial di hari yang tidak tepat.


"Awas saja, gajian kali ini ganti mobil," batin Naya karena selama ini tidak pernah berkeluh kesah.


Baju dirapikan, Naya mengetuk pelan melangkah masuk melihat ruangan rapat sudah penuh.


"Siapa yang terlambat keluar," ucap seorang pria yang tidak menatap sedikipun karena fokus di depan layar.


Seorang wanita mendekat, berbisik jika yang terlambat juga orang penting. Dia tidak bisa diusir karena dibutuhkan.


Senyuman Naya terlihat, duduk di samping pria yang nampak dingin. Nay sudah biasa meeting, tapi terasa nyaman.


"Kenapa mereka semua tegang, apa pria ini begitu menakutkan? Aneh, perusahaan ini menerimanya," batin Naya mencoba untuk fokus.


Seseorang meminta Naya yang memimpin, menjelaskan soal kerja perusahaan. Naya tahu segalanya karena dia termasuk karyawan terlama.


"Ba ba ba ... Maaf." Naya terbata-bata saat melihat seorang pria yang menatapnya sinis, mata yang sangat Naya kenali.


Tidak mungkin Naya salah orang meskipun sudah berpisah selama delapan tahun, mata yang tajam, ekpresi pemarah yang tidak berubah.


"Andra, apa itu kamu?" Naya menatap ke arah seorang pemuda yang mengerutkan keningnya.


"Maaf Bu Naya, dia Andra Putra pemilik perusahaan yang akan menjadi pemimpin baru kita, dia baru ...."


"Lanjut," bentak Andra menghentikan pembicaraan karena dia tidak punya waktu untuk mengulang perkenalan diri.


Mata Naya berkedip, ternyata memang Andra, pria jahat yang belum juga berubah bahkan lebih menyeramkan dari beberapa tahun yang lalu.


Kanaya mengambil alih untuk menjelaskan, bicara dengan santai soal visi dan misi mereka. Beberapa kali tangan Naya terangkat karena tidak menerima pertanyaan saat sedang menjelaskan.


"Kurang lebihnya untuk tujuan yang ingin kita kejar, jika ada pertanyaan saya persilahkan," ucap Naya kembali ke tempat duduknya.


"Bagaimana soal keuntungannya?" tanya Andra pelan.


Kanaya menjawab sambil duduk, menjelaskan segala proses, mengatur dengan detail.


Kepala Andra mengangguk, menatap Naya yang menjelaskan pertanyaan lainnya. Naya pastikan proyek besar mereka akan sukses.


"Pak Andra, sekiranya kapan bergabung di perusahaan?"


"Belum tahu, tim aku akan survey lebih dahulu. Meeting kali ini cukup bagus, tapi aku tidak terima ada cacat dari apa yang akan dikerjakan."


"Hal seperti itu pasti terjadi Pak Andra, para pekerja manusia dan normal melakukan kesalahan," ucap Naya yang tidak suka stafnya dipaksa untuk bekerja rodi.

__ADS_1


Semuanya setuju dengan Naya, Andra tidak bisa menyamankan dengan perusahaan lamanya yang jauh lebih besar.


"Pak Andra kita sudah waktunya terbang kembali, ada meeting penting." Sekretaris Andra mengucapkan terima kasih dan akan segera bergabung di perusahaan secepat mungkin.


Andra melangkah keluar sambil melakukan panggilan, Naya hanya bisa melihat punggungnya pergi begitu saja.


Sikap Andra seperti tidak mengenali dirinya lagi, tidak mungkin Naya memanggil seakan-akan akrab.


"Andra menyebalkan sekali, tidak mungkin dia tidak mengenali aku." Wajah Naya nampak sedih, bertahun-tahun menunggu berharap bisa saling menyapa kembali.


"Bu, kita makan siang bersama?"


"Kalian duluan saja, soalnya ada urusan lain." Naya melangkah pergi dengan tatapan kesal.


Seseorang menghentikan mobilnya, Nay langsung membuka pintu sambil dibanting kuat.


Erin yang melihatnya binggung, bertanya juga takut karena Naya jarang sekali marah, kecuali ada masalah kantor.


Pukulan di dasbor mobil terdengar, Erin mengusap mobilnya perlahan. Jika tahu dia tidak mau menjemput Naya.


"Ada apa Nay, kenapa marahnya ke mobil?"


"Tidak tahu, rasanya aku ingin memecahkan kepala orang."


"Kamu tidak akan mengerti, delapan tahun dia pergi saat pulang menatap seperti musuh." Naya menceritakan kepulangan Andra.


"Bukannya sejak dulu kalian berdua memang musuh?" kerutan di kening terlihat jelas.


Tubuh Naya terkulai lemas, Erin tidak akan paham apa yang dirasakan oleh Naya. Hatinya sakit sekali melihat Andra yang semakin jauh.


"Tahu diri Naya, dia dan kamu jauh berbeda." Nay memejamkan matanya karena malas berpikir.


Panggilan dari seseorang yang Naya harapkan, Agra meminta Naya pulang karena dirinya juga pulang.


"Cepat ya Nay, aku tidak sabar ingin bertemu Raya." Agra sengaja pulang karena mendapatkan kabar baik.


Belum keluar dari mobil Agra sudah melihat adik kecilnya, terlihat sangat mengemaskan dan sangat Agra cintai.


"Hai Raya," sapa Prilly yang tersenyum manis.


"Kakak Piyi, halo." Tangan Raya melambai.


Pintu mobil terbuka, Raya langsung lari ke arah Agra yang merentangkan tangannya memeluk adik kesayangannya.

__ADS_1


"Kakak Gaga, lama sekali tidak pulang." Tangisan Raya terdengar memeluk erat Kakaknya yang berjalan masuk ke rumah.


"Kakak kerja, maaf ya."


"Kerja terus, Daddy, Kakak Gaga, dan Kakak Vin kerja, tapi kenapa tidak ada yang mau membelikan Kakak Naya mobil, soalnya mobilnya jelek sekali."


Tawa Agra dan Prilly terdengar, Raya dan Naya tidak pernah akur, selalu saja ribut. Nay tidak pernah menuruti apapun yang diinginkan oleh Raya.


Senyuman Agra terlihat menyalami Daddy dan mamanya, terlihat sekali wajah Mamanya pucat.


"Mama kenapa?"


"Sakit biasa, mungkin masuk angin soalnya mual-mual. Ini lagi menunggu dokter, soalnya Mama malas ke rumah sakit."


"Yakin masuk angin, lima tahu yang lalu Mama masuk angin, tahunya ada Raya." Wajah Agra keras, tidak ingin punya adik lagi.


Kepala Mama menggeleng, tidak mungkin dirinya hamil lagi, Daddy juga meyakinkan Agra tidak mungkin.


Saat tahu Mamanya hamil Raya saja Agra ngambek, tapi saat adiknya lahir dia yang paling bersemangat.


"Ma, Agra bukan anak delapan belas tahun, aku sudah tua. Raya saja sudah seperti anakku, tidak lucu selisih usia hampir ... ya Tuhan, jangan Ma." Agra memelas karena tidak mau punya adik lagi.


"Agra sayang tidak kepada Raya?"


"Tentu sayang, masalahnya bukan itu. Aku dan Arvin sudah tua," ujar Agra menolak adanya bayi.


Daddy tertawa, meminta Agra segera mandi begitupun dengan Prilly, Mama sudah pergi ke kamar bersama dokter.


"Lebih baik Agra saja yang memberikan bayi, sudah waktunya Nak," pinta Daddy mengejutkan Agra.


Kepala Agra menggeleng, menghubungi Arvin jika Mamanya hamil lagi. Arvin yang mendapatkan kabar hampir jantungan.


"Agra, Andra sudah pulang, tapi dia tidak mengenali Naya lagi," teriakan Naya terdengar hampir menangis.


Wajah Agra terkejut lebih dari mendengar mamanya hamil, senyuman Agra lebar berlari ke arah Naya ingin segera bertemu Andra.


Tangan Agra ditarik, Andra tidak pulang ke rumah, tapi balik lagi ke luar negeri karena ada pekerjaan.


"Kenapa Andra tidak menghubungi aku, kita sudah lama tidak bertemu." Agra sedih karena Andra tidak menemuinya.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2