
Berhasil kabur dari orang-orang aneh, mobil Sarah hentikan di tempat makan pinggir jalan. Dahaganya terasa kering karena tidak menelan apapun.
"Kak Nay yakin makan di sini?" tanya Alis yang ikut turun.
Naya melihat menu memesan meja yang sedikit besar karena jumlah mereka ada enam orang.
Melihat banyak menu Alis memesan yang menurutnya kemungkinan enak, Prilly juga memesan makana dan minum.
Tiga pria ikut masuk sudah biasa makan di pinggiran sejak mengenal Naya, rasa tidak menjamin tempat.
"Pak minumnya cepat, soalnya haus." Andra mengucapkan terima kasih saat Andra memegang mangkok kecil ingin meminumnya.
Naya memukul punggung Andra karena air yang ingin diminum untuk cuci tangan, Andra meletakkan kembali.
"Norak Andra begitu saja tidak tahu," sindir Arvin yang membawa minuman kemasan dari lemari pendingin.
"Diluar negeri ini untuk minum," jawab Andra.
Tawa Agra terdengar membuat Andra binggung. Agra terlihat santai sekali meskipun beberapa orang melihatnya.
"Vin ingat tidak saat kecil Andra mengisi kertas dan nilainya nol karena terbawa lingkungan luar," ucap Agra meminta Arvin ingat kembali.
Tawa Arvin terdengar terpingkal-pingkal jika teringat kekonyolan Andra sedari kecil yang dibawa hingga dewasa.
"Apa yang aku lakukan?" tanya Andra sambil minum.
"Minum menggunakan mangkok, agar tanaman subur harus di injak, matahari terbit di sebelah bumi, sepeda memiliki berapa ban jawabannya ...."
"Enam," balas Arvin membuat dua pria tertawa mengejek Andra.
"Jangan terlalu banyak bicara nanti berakhir nangis," tegur Naya melirik tiga pria yang asik sendiri.
Makanan satu persatu datang, Alis memegang garpu untuk mencicipi makanan lebih dulu.
"Vin, Kakek memberikan warisan, apa kamu mau bagi dua?"
"Bagi enam lah," pinta Alis, menunjuk ke arah mereka semua.
"Tidak Kak, itu milik Kak Prilly. Gaji Arvin sudah cukup, apalagi penjualan saham semakin naik jadi aman." Arvin meminta Prilly menyimpan dengan baik.
"Kalian tidak ingin buka bisnis apapun denganku, Pril punya uang yang cukup besar," ucapannya berharap ada bantuan.
Tidak ada satupun yang merespon, bahkan Naya tidak memberikan jawaban. Pekerjaan di kantor sudah cukup padat, tidak mungkin membuka bisnis.
Dalam bisnis tidak bisa setengah-setengah, harus fokus dan serius menjalankan. Naya tidak ingin ikut campurnya membuat bisnis terhambat.
"Naya sibuk, bagaimana dengan kamu Lis?"
"Bukan tidak mau kak Pril, tapi aku sudah memiliki delapan restoran dan tiap hari ada data yang masuk dan aku harus mengecek demi menjaga restoran untuk terus beroperasi. Alis takut tidak bisa fokus," tolaknya dengan halus dan kondisinya juga sibuk.
Kepala Prilly menggeleng, dia tidak punya ketertarikan memulia sendiri karena takut tidak konsisten membangun.
Selama ini Prilly hanay fokus kepada Agra, tidak kepikiran bisa mempunyai banyak uang.
"Mau aku kasih solusi," ucap Andra melirik Prilly sambil makan.
"Iya, kamu pasti punya solusi yang baik."
Andra mengambil ponselnya menunjukkan tiga perusahaan yang akan mejadi target marketing baik dan menjadi incaran para investor.
"Bagi tiga uang itu, beli saham di perusahaan AA grup maka kamu bisa berinvestasi. Semakin tinggi naiknya saham maka semakin besar keuntungan, perusahaan kedua Agensi AV ada banyak calon training dan aktris besar pindah." Andra menujukkan lonjakan saham.
"Bagaimana kamu bisa tahu Dra, aku saja belum tahu," ucap Agra yang binggung.
__ADS_1
"Apalagi aku, padahal aku juga pemegang saham di situ," ujar Arvin yang kaget.
Tawa Andra terdengar, dia sudah delapan tahun berbisnis dan tahu betul dunia bisnis. Andra bisa melihat peluang besar.,
Daddy tidak akan membuang uangnya jika tahu akan merugi, perusahaan sudah siap dibangun sejak tiga tahun lalu, ada banyak pengusaha besar di dalamnya yang ikut terlihat.
Saat perusahan berdiri langsung masuk penyanyi bernama cukup populer tidak mungkin para penggali kekayaan diam saja.
"Publik figur yang besar saja mencari nama apa lagi baru rookie, kamu bisa menjadi wanita terkaya Prilly jika mampu unggul." Andra tersenyum lebar.
"Bagaimana dengan satu perusahaan lagi?" tanya Nay yang menyimak.
"Sekarang aku paham kenapa kamu disebut wanita ular. Semuanya hanya terkejut soal ceritaku, tapi Nay fokus kepada perusahan yang tidak disebutkan. Kira-kira menurut kamu apa Nay?"
"Bangkrut," balas Naya.
Kepala Andra mengangguk membenarkan dugaan Naya. Jika Prilly memiliki saham yang tinggi dia bisa menjadi pemilik perusahan yang kan bangkrut.,
"Jika suah jatuh, buat apa diambil?" tanya Prilly tidak mengerti.
"Bangkrutnya seorang pengusaha ada banyak hal Pril, salah satunya gagal produksi, tidak laku jual, produk tidak diterima hingga mengalami gulung tikar. Hal kecil yang sering terjadi terlalu ambisius hingga uang untuk produksi habis untuk hal lain, contohnya judi. Pengusaha bisa kaya bertambah kaya, tapi sekali jatuh sulit bangkit," jelas Naya yang paham betul kejamnya bisnis.
Andra memberikan jempol, tidak salah dirinya dan Nay bisa menjadi partner kerja karena Nay sepemikiran denganya.
Prilly langsung setuju, dia akan berguru kepada Andra untuk bisa menjadi pengusaha sukses.
"Minta bantu Naya, dia cukup berpegalaman."
"Kenapa aku?"
"Selama ini kamu bertahan sebagai karyawan buat apa?"
"Kak Naya takut kaya, dia lebih suka dengan kehidupan sederhananya." Alis menoleh ke arah Naya yang sangat paham pikiran Nay.
Mata Naya dan Andra bertemu, saling pandang dan cepat Naya mengakhiri sorotan matanya ke arah lain.
"Apa ini?" Avin langsung batuk saat dokter yang menangani Syifra memberikan kabar.
"Kenapa?" Alis melihat ke arah layar ponsel Arvin.
"Ayah dari anaknya Syifra ... Mustahil." Tawa Alis terdengar memukul Arvin yang membuat janji makan dengan wanita lain.
Ponsel ditutup, Avin melirik ke arah Andra, kedua alis Andra terangkat mengambil paksa ponsel Arvin.
"Gila ya?" Andra batuk hampir menyemburkan makanan yang dikunyah nya.
Kepala Naya menempel di pundak Andra, membaca isi pesan hanya bisa nyengir. Nay mengerutkan keningnya merasa tidak percaya.
Prilly dan Agra saling pandang hanya mereka berdua yang tidak dikasih tahu, Agra yakin pasti ada sangkut-pautnya dengan dirinya.
"Gra, papa Lo sudah menikah lagi?" tanya Andra memberanikan diri.
"Aku tidak tahu dan tidak peduli, ada apa?" Agra memicingkan matanya kearah Arvin yang sudah berusaha menghindar.
Kanaya menelan ludah, menghitung perbedaan usia, kepala Nay menggeleng merasa tidak benar.
"Apa ini ada sangkut pautnya dengan kehamilan Syifra, mustahil dia hamil bersama itu, jangan bercanda." Tangan Agra terulur meminta Andra menyerahkan ponsel Arvin.
"Jangan jantungan meskipun ada dokter di sini," tegur Andra menyerahkan ponsel.
Tubuh Agra lemas, dokter yang menangani Syifra sudah mengetahui ayah biologis karena Syifra datang bersama seorang pria.
Kemungkinan besar Syifra akan melahirkan anak laki-laki pria tua yang menghamilinya akan bertanggung jawab hanya untuk anak, sedangkan Syifra tidak akan menghilang setelah melahirkan.
__ADS_1
"Bagaimana ceritanya jika Agra menikahi Syifra, anakku juga Adikku, atau Adikku menjadi anakku," ucap Andra merasa geli.
Pukulan di atas meja terdengar, Prilly tidak suka dengan ucapan Andra meskipun yang bercanda.
"Ini tidak mungkin benar," ucap Agra masih tidak percaya.
"Bagaimana jika benar, Syifra tidak bisa menjadi ibu yang baik, tapi dia tidak ingin mengugurkan bayi itu. Setidaknya masih punya hati," ucap Naya serius.
"Tujuan dia mengiginkan anak itu buat apa?" tanya Alis penasaran.
Semua mata melihat ke arah Agra, papanya akan mengancam Agra untuk menghancurkan karirnya jika Agra tidak mengikuti keinginannya.
"Apa dia ingin menggunakan anak itu untuk memeras?" tanya Agra merasa curiga.
"Bukan hanya berefek kepada Agra, tapi Andra dan Arvin juga termasuk mama." Prilly menatap ketiganya yang tidak mengerti.
Naya membenarkan ucapan Prilly saat Andra membantah bukan anaknya saham merosot karena terekspos ke beberapa berita bisnis.
Agra akan kehilangan image bagusnya karena memiliki adik dari bajingan yang membuat wanita muda hamil.
Kemungkinan Arvin juga kena karena dia Adiknya Agra dan dituduh menutupi kasus sebagai seorang dokter.
"Apa sangkut-pautnya dengan Mama?" tanya Arvin.
"Dia akan memeras Mama akan menghancurkan karir kedua putra dan suaminya, hal terburuk meminta Mama dan Daddy cerai." Naya menatap semuanya yang mengangguk paham.
Bibir Alis monyong, papa Agra jahat tidak seperti dulu. Alis berpikir Mama yang jahat ternyata kebalikannya.
Sebegitu papa tega padahal dia yang meninggalkan keluarga. Tidak bertanggung jawab, setelah Mama bahagia diganggu kembali.
"Apa ada solusi?" Prilly berharap tidak ada yang terluka.
"Tidak ada solusinya, kita hanya menunggu saja. Hanya Syifra yang tahu apa yang akan terjadi," jelas Andra meminta tenang.
Merasa punya banyak waktu untuk melihat pergerakan, bayi tidak akan lahir dengan mudah, butuh waktu lama.
"Pembicaraan di sini sia-sia saja, tidak ada solusi. Sebaiknya kita pulang dan tidur." Naya bangkit lebih dulu menujuk hari sudah gelap.
Andra membayar makanan, meminta Naya menunggunya karena takut jika ditinggal. Naya berdiri di belakang Andra melihat sekitar tempat makan.
"Kamu punya solusi dengan masalah ini?" tanya Naya, Andra tidak mungkin pulang dengan tangan kosong.
"Emh, Papa Agra menyimpan dendam kepada Daddy yang terlihat bahagia, dia tahu jika Daddy dan aku terhubung, sehingga bisa kenal Syifra." Andra yang selama ini lengah menganggap semua wanita baik.
"Selesaikan masalah ini dengan cepat, kasihan Agra yang pastinya sedih."
Lirikan mata Andra terlihat, merangkul Naya berjalan ke mobil. Hati Andra cemburu melihat Naya begitu mencemaskan Agra padahal dia sudah besar.
Tidak mungkin pria dewasa bisa tumbang dengan mudahnya, pasti Agra memiliki cara bersih untuk membuktikan jika dirinya layak menjadi contoh publik figur yang baik
"Nay masih tidak percaya Syifra hamil dengan papa Agra?"
"Aku juga, sepertinya aku harus mencari tahu kebenarannya dengan menanyakan langsung kepada Syifra."
"Kalian akan bertemu lagi." Naya menghentikan langkahnya.
"Tidak, kita lewat telepati." Tawa Andra terlihat mengacak rambut Naya yang mengemaskan.
Pintu mobil terbuka, Naya masuk bersama Andra, menoleh ke belakang kosong, ternyata yang lain satu mobil dengan Arvin.
"Bukannya ini malam yang indah?"
"Selesaikan masalah Syifra secepatnya, tidak peduli siapa ayahnya. Nay tidak ingin karir Agra hancur setelah dibangun penuh keringat," pinta Naya menujukkan senyum saat Andra memberikan hormat.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira