
Sampai di apartemen Prilly berusaha membangunkan Naya, dia tidak punya keberanian untuk membawa ke rumah sakit karena tujuan Naya tidak ingin Daddy Arvin melihatnya lemah.
"Siapa yang harus aku hubungi, jika Arvin pasti terjadi keributan," gumam Prilly membuka ponsel Naya menggunakan sidik jari, mencari nomor Andra karena dia yang bisa keluar masuk dengan leluasa.
Bekali-kali memanggil, tapi tidak ada jawaban dari Andra. Sikap Andra yang suka mengabaikan tidak tepat.
"Angkat Dra, aku harus menghubungi siapa lagi?" Prilly mengacak-acak rambutnya.
Lima kali panggilan tidak terjawab, Andra mematikan karena sedang bermain games. Pesan dari Naya masuk memberitahukan jika Kanaya pingsan.
panggilan masuk dari Andra, Prilly langsung masuk meminta bantuan Andra karena dia tidak bisa melakukan apapun.
"Di mana kalian?"
"Apartemen," balas Prilly.
"Bawa ke rumah sakit, kita bertemu di sana."
Prilly menolak, tidak ada yang tahu jika Daddy Arvin mengirim orang untuk mengawasi, jika tahu Nay masuk rumah sakit pasti dimanfaatkan untuk kepentingan menaklukkan Arvin.
Tidak banyak tanya lagi, Andra berlari keluar kamarnya, panggilan Papinya tidak dihiraukan begitupun dengan Maminya.
Mobil Andra melaju cepat, tidak peduli dengan jalanan yang ramai memikirkan kondisi Naya.
"Bagaimana dia bisa pingsan, apa lagi sakit?"
Keluarga Arvin membuat masalah, demi membawa Arvin kembali menyakiti orang lain tanpa belas kasihan.
Sampai di apartemen, Andra langsung masuk melihat Naya yang sudah bangun. Duduk diam memegang gelas air minum.
"Kepala kamu terbentur, periksa dulu ke dokter," tawar Andra bersedia mengantar Naya ke dokter.
Kepala Naya menggeleng, memastikan dirinya baik-baik saja. Sudah lama tidak latihan bela diri, kemungkinan tubuhnya juga tidak sehat.
"Siapa lawan Naya?"
"Guru bela diri, dia yang mengajari aku dan sisanya siswa terbaik di pelatihan. Naya cukup kuat menahannya," jelas Prilly tidak tega melihat kondisi Naya.
Senyuman Naya terlihat, berusaha untuk berdiri. Tubuh Nay sempoyongan hampir jatuh karena merasakan perutnya sakit.
Tangan Andra sigap menangkap, menyentuh perut atas Naya yang mendapatkan pukulan dalam.
"Bagian atas ini memar, minum obat." Andra membantu Nay untuk duduk kembali, meminta Prilly ke mobilnya untuk mengambil obat.
"Aku baik-baik saja Dra," ucap Nay memegang perutnya.
"Jangan bodoh, tidak ada yang baik jika mendapatkan pukulan tenaga dalam. Sekuat apapun kamu, tidak mungkin baik-baik saja apalagi yang melayangkan pukulan tenaga laki-laki terlatih." Tangan Andra tergempal ingin membalas perbuat orang yang tidak berhati.
__ADS_1
Suara Prilly berlari terdengar, menyerahkan obat yang biasanya Andra konsumsi jika babak belur dari berkelahi.
"Minum, aku jamin bisa meredakan sakitnya." Andra tersenyum kecil.
"Terima kasih Dra, kamu jadinya repot harus ke sini." Naya tidak enak karena Andra juga memiliki banyak pekerjaan atas tuntutan Papinya.
"Santai. Pril bawa Naya ke kamar, ini obat untuk menghilangkan lebam." Andra meminta keduanya beristiahat dan Andra yang akan berjaga sambil menunggu Arvin.
Lama Andra menunggu kepulangan Arvin, membuang waktunya sambil bermain game hingga larut malam.
Jam menunjukkan pukul dua malam, Arvin belum juga pulang membuat Andra khawatir. Menghubungi terlalu memalukan karena dia lelaki.
"Dra, kenapa tidak pulang?" Naya keluar dari kamar mengambil air minum.
"Kamu mengusir aku?"
Senyuman Naya terlihat, menggelengkan kepalanya mengucapkan terima kasih karena Andra sudah menolongnya.
Obat yang Andra berikan memang luar biasa hebatnya, Naya tidak merasakan sakit yang membuatnya sesak.
"Biasanya Arvin pulang jam berapa?"
"Mungkin pulangnya pagi, makanya aku berpikir dia berhenti kuliah. Malam keluyuran, paginya tidur."
"Dia mengubah jadwal kuliah malam, lagian dia sangat pintar bisa mudah mengejar ketertinggalan. Sekarang bagaimana caranya menghentikan keluarga Arvin?" Andra tidak ingin sahabatnya hidup dalam genggaman daddynya yang gila.
"Jangan beritahu Arvin, dia sedang memulihkan keadaannya setelah bertahun-tahun mencoba bertahan," ujar Naya yang ingin Arvin baik-baik saja.
"Terlihat sekali kamu mencintai Arvin, membelanya segitunya."
Senyuman Naya terlihat, malas berdebat dengan Andra. Terlihat dari luarnya, sosok Andra sangat menyebalkan, tapi ada kalanya dia terlihat sangat baik, menjadi orang terdepan jika orang terdekatnya bermasalah.
Dibalik sikap jahat, nakal, dan rusuh, Andra seorang pria yang penuh tanggung jawab, tegas, juga tenang.
"Tidak masalah jika kamu ingin pulang, nanti Papi kamu menunggu."
"Baiklah, aku pulang." Andra berdiri dari duduknya.
Tangan Naya menarik pergelangan, kepala Andra menunduk melihat ke bawah. Keduanya saling tatap, tanpa megeluarkan sepatah katapun.
"Apa yang kalian berdua tatap?" Arvin melangkah mendekat.
Melihat kemunculan Andra sungguh mengejutkan, pasti ada hal darurat yang terjadi tanpa sepengetahuan Arvin.
"Kenapa kamu di sini?"
"Sudah pastinya bukan karena diusir, lama sekali pulangnya? Apa kamu mabuk?" Andra menepuk dada Arvin.
__ADS_1
Tangan Arvin menepis, dirinya tidak minum mustahil mabuk. Tatapan Arvin penuh rasa curiga kepada keduanya.
"Kalian pacaran ya?"
"Gila kamu Vin, dia bukan kriteriaku." Andra menahan tawa.
"Aku juga tidak." Naya melangkah pergi meninggalkan keduanya.
Helaan napas Andra terdengar, berjalan keluar apartemen diikuti oleh Arvin yang duduk di depan pintu.
"Ada masalah apa?"
"Menurut Lo, apa gue datang ke sini untuk bermain game?" Andra duduk dengan jarak yang cukup jauh.
"Bawahan Daddy datang?" Arvin sudah bisa menduga , daddynya sungguh keterlaluan menganggu ketenangan Naya.
Tidak ada pilihan lagi, Arvin akan menbuat daddynya menyesal masih datang mengusiknya.
"Apa rencana kamu, kita tidak bisa diam menunggu diserang?" Andra ingin Arvin segera ambil tindakan.
"Jika dengan aku pergi tidak membuat Daddy puas, maka aku hancurkan bisnisnya." Senyuman Arvin terlihat menatap Andra yang tertawa kecil.
Meksipun masih muda, Arvin tidak diam saja bertahun dipukuli. Dia mencari alat untuk melawan dan membalaskan sakit Mommynya.
"Lakukanlah, ingat jika aku ad ada di pihak yang menang. Mari kita hancurkan, dan memberikan mereka pelajaran." Kedipan mata Andra terlihat bersiap untuk membuat masalah baru.
Tangan Arvin tergempal, daddynya sangat menguji kesabaran. Hubungan dengan anak tidak akur, begitupun hubungan dengan Kakek Arvin.
Sudah waktunya Arvin memanfaatkan keadaan, menjatuhkan daddynya dan mengambil alih posisinya.
"Dra, apa Naya baik-baik saja?"
"Apa ada kemungkinan dia terluka? akulah lawannya paling kuat, suatu hari aku akan mengalahkannya."
"Mimpi. Aku tahu kamu tidak akan tega memukulinya, palingan kebalikan." Arvin tidak tertarik uji kemampuan dengan Naya.
Gerakannya lincah, hanya Andra yang tidak ada takutnya mencari lawan yang lebih kuat dan tangguh.
"Pulangnya, aku ingin istirahat."
"Vin, ayo ke rumah Agra," ajak Andra.
"Sudah tidak berontak, ini jam berapa? Bagaimana jika mamanya tahu, aku yang akan dilenyapkan."
Melihat wajah jahil Andra terpaksa Arvin ikut meskipun matanya mengantuk.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira