
Perjalanan ke pemakaman sedikit lambat karena jalanan ramai pulang kerja, sehingga terjadi macet, Daddy juga melajukan mobil pelan.
"Kenapa Arvin lebih dekat dengan Mommy?"
"Sejak dia lahir tidak melihat Daddynya," sesal Daddy yang paling besar tidak membesarkan anak secara bersama-sama.
Sibuknya pekerjaan apalagi tuntutan dari kakek yang memaksa Daddy harus selalu jauh dengan anak istrinya.
Sampai Arvin besar hampir tidak melihat sosok Daddynya, dia hanya tahu Mommy dan Kakak Prilly.
"Arvin pasti hancur sekali saat kehilangan Mommynya," tebak Nay yang tidak bisa membayangkan.
"Sangat Nay, dia berkali-kali pingsan. Jika tidak mungkin jenazah Mommynya tidak bisa dimakamkan karena dipeluk terus, sampai Arvin berhari-hari tidur di kuburan." Daddy tersiksa sekali bahkan saat kematian istrinya tidak mampu menemani putranya.
Jika tidak ada Prilly yang saat itu meninggalkan sekolahnya sampai tidak kuliah demi menjaga Arvin menemani tiap saat bahkan tidak tidur tidak bisa dibayangkan jadinya Arvin.
"Daddy sekarang jauh lebih baik, beda sekali seperti waktu itu. Nay dan Arvin sampai di kejar-kejar pengawal, kita selau bertarung lawan bodyguard yang badannya besar, bahkan keributan terakhir Nya pingsan jika tidak ada Andra tamat sudh hidup Naya."
"Semangat sekali Nay menyindirnya," ujar Daddy yang meminta maaf karena menyakiti Naya berkali-kali.
Tawa Naya terdengar, sudah lama dirinya memaafkan karena tiap orang pasti punya salah.
"Naya yang minta maaf dulu bicara kasar sekali jika diingat-ingat, maafkan Naya Daddy," pinta Naya sungguh-sungguh.
"Iya kamu memang anak kurang ajar, tapi Daddy sudah memaafkan salah dan khilaf." Tawa Daddy dan Naya terdengar karena perjalanan terasa menyenangkan.
Daddy penasaran dengan kedua orang tua Naya, bukan hal yang mudah bagi seorang wanita berada di kota orang, apalagi seorang diri.
"Di mana orang tua kamu?"
"Tidak ada, Naya hanya dibesarkan oleh kakek nenek, kabarnya orang tua Naya sudah meninggal, atau meninggalkan tidak ada yang tahu." Nay menundukkan kepalanya karena dirinya sejak kecil sudah hidup mandiri.
"Siapa yang mengajari bela diri?"
"Kakek, Naya dari umur tiga tahun sudah bela diri, sekolah tingkat atas Kanaya menguasai semua bela diri."
"Jangan katakan kamu hebat jika belum bunuh orang," sindir Daddy mengejutkan Naya.
Bela diri yang dimilikinya bukan untuk mmebunuh orang, tapi membela orang yang membutuhkan bantuan, juga untu melindungi diri sendiri.
"Bela diri bukan ajang menyombongkan diri apalagi untuk bunuh membunuh, ini bukan cerita pembantaian Daddy." Bibir Naya monyong karena dia pembela kebenaran.
Tawa Daddy terdengar menghentikan mobilnya di pemakaman, ingin menyapa istrinya yang sudah lama meninggalkannya.
__ADS_1
Naya langsung lari mengikuti Daddy, bisa melihat rasa penyesalan dan cintanya yang sangat besar.
"Aku datang, hari ini mengantikan Arvin soalnya dia sedang sibuk kuliah untuk mimpinya, tapi ada satu gadis yang ikut bersamaku dan sudah diangkat sebagai putri sendiri." Daddy menyerahkan bunganya.
Sesuai janji sebelumnya, Daddy tidak akan menentang keputusan Arvin, seandainya Mommy masih hidup dia pasti bahagia sekali melihat Arvin yang sekarang
"Dad, apa dulu Daddy mencintai Mommy?"
"Ya, aku tidak mungkin bertahan hanya mempunyai satu istri jika tidak mencintainya," ucap Daddy yang merasa tidak pantas terus mengatakan cinta karena dia gagal.
Istrinya menderita karena dirinya yang tidak bisa menjadi seorang pemimpin yang baik.
Jika dulu mereka tidak menikah mungkin istrinya kan hidup lama dan bahagia, kesalahan Daddy tidak akan termaafkan.
"Mommy pasti mengerti, itulah alasan dia bertahan."
"Kamu tidak akan paham Nay karena tidak pernah menyimpan rasa, penyesalannya sangat besar, tapi semuanya sudah terlambat," ujar Daddy yang meminta maaf kepada istrinya yang sudah hidup penuh luka.
Nay melakukan panggilan dengan Arvin, pria yang saat ini sudah meggunakan baju kedokteran tersenyum lebar.
"Mommy, maafkan Arvin tidak bisa pulang, dua tahu atau tiga tahun lagi Arvin akan kembali."
"Lamanya, apa di sana sedang ada penjajahan sehingga tidak bisa pulang?"
"Diamlah, aku akan segera pulang, tapi nanti. Sekarang sedang sibuk, hati-hati pulangnya jangan sampai nyasar." Arvin tersenyum melihat Daddynya yang masih berdoa.
"Nanti saja, soalnya Kakek baru saja menikah, Daddy bahagia memiliki banyak anak, jangan sampai saja dapat adik." Tawa Daddy dan Naya terdengar.
Arvin merinding mendengar ucapan Daddynya, Kakek memang penjahat wanita dia menggunakan hartanya untuk memiliki banyak istri.
Sungguh memalukan jika Arvin mempunyai om, baru lahir sedangkan dirinya sudah tua. Daddynya lebih malu lagi punya adik bayi.
"Nay nanti aku hubungi lagi" ujar Arvin yang harus mematikan panggilannya.
"Oke, kita juga mau makan dulu." Naya mengikuti Daddy yang harus menemui Ayahnya bersama istri baru.
Selesai dari pemakaman Naya mengikuti Daddy ke restoran terbesar, melihat kakek duduk dengan keluarga barunya.
Terlihat sekali Kakek sedang sibuk bermesraan dengan istri barunya bersama anak-anaknya.
"Ayah," sapaan terdengar.
"Nah, akhirnya anak saya datang bersama tidak saya kenali." Kakek menatap sinis Naya.
__ADS_1
"Halo," sapa Naya berjabatan tangan.
"Siapa wanita muda ini?" tanya seorang wanita yang seumuran Daddy.
"Dia putriku Kanaya," jawab Daddy meminta Naya duduk.
Makan terasa hangat karena Kakek nampak bahagia, dia juga berencana untuk bulan madu ke luar negeri.
Berkali-kali Daddy geleng-geleng karena tidak habis pikir dengan Ayahnya yang sudah duduk di kursi roda, tapi masih saja menikah lagi.
"Yah, Ar pulang dulu soalnya perjalanan jauh."
"Ya, jangan tunggu Ayah pulang soalnya sudah nyaman di sini."
Helaan napas Daddy terdengar, tidak memberikan jawaban langsung melangkah pergi karena sudah lelah melihat drama dari istri baru Papanya.
"Daddy kesal?"
"Tidak Nay, itu pilihan Ayah. Suka-suka dia, dilarang juga percuma karena Daddy juga tidak bisa menemaninya setiap waktu." Daddy berjalan ke parkiran agar segera pulang.
Teriakan Naya terdengar, lari ke arah mobil taksi mengetuknya pelan karena sangat yakin mengenali seorang wanita yang masuk.
"Naya, kenapa kamu di sini sayang?"
"Ikut Daddy, Tante dari mana?"
"Ada rapat di sini, sekarang mau pulang."
Naya menawarkan untuk ikut bersama mereka karena berencana pulang, Tante langsung setuju menujukkan senyuman kecil.
"Silahkan masuk Mar," pinta Daddy.
"Dad, cie cie," bisik Naya pelan masuk ke dalam mobil.
Senyuman Daddy terlihat, Naya ternyata bisa jahil juga karena dia selalu menjodohkan. Selama ini Arvin dan Agra tidak pernah merestui.
"Kenapa kalian di sini Ar?"
"Biasalah Daddy berulah lagi, dia punya istri baru," balas Daddy.
Suara Mama batuk terdengar kaget saat tahu pria tua menikah lagi, padahal kondisi tidak sehat lagi.
"Kakek saja menikah, lalu Daddy kapan? Arvin sudah mengizinkan agar Daddy punya pendamping." Tawa Naya terdengar begitupun dengan Mama yang ikut tertawa.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira