
Ada banyak makanan yang datang, Agra merasa binggung karena jumlah makanan lebih dari orang, apalagi Mamanya yang memesan.
"Masih ada yang belum datang, apa hari ini Arvin pulang?" Agra mengambil ponselnya tidak ada pesan dari sahabatnya jika pulang.
Suara seseorang masuk terdengar, Daddy Arvin datang terlambat. Membungkukan tubuhnya karena merasa tidak enak hati.
"Apa Daddy telat?"
"Tidak Daddy, makanan juga baru datang. Sini duduk di samping Erin." Kursi ditarik agar Daddy segera duduk.
Mata Daddy bertemu dengan Agra yang tersenyum kecil, Daddy menepuk pundak Agra karena bangga kepadanya bisa membuktikan jika musik itu seni yang indah.
"Apa kabar Gra?"
"Kabar baik Dad," jawab Agra dengan nada pelan.
"Sebaiknya kita makan baru mengobrol." Mama menyiapkan makanan untuk Agra yang tersenyum kecil.
Pintu terbuka lebar, empat wanita berdiri secara bersamaan saat Arvin secara tiba-tiba datang.
"Tuan Arvin," panggil Prilly yang meninggalkan tempat duduknya memeluk Arvin erat.
"Kak Avin." Alis berlari memeluk erat Arvin yang teriak mengusir Alis karena lehernya tercekik.
Teriakan Erin juga terdengar menjambak rambut Alis agar melepaskan calon suaminya, Erin tidak memiliki tempat untuk memeluk Arvin karena dikuasai oleh Alis.
"Rin, jangan main kasar, Alis lepaskan aku. Apa kalian berdua gila," bentak Arvin memegang lehernya yang terasa sakit.
Senyuman Kanaya lebar, mengulurkan tangannya mengucapkan selamat datang kembali. Lama tidak berjumpa.
"Apa kabar Naya?" Arvin melewati jabatan tangan memeluk Naya yang menangis melihat Arvin kembali.
Kepala Agra juga tertunduk tidak kuasa menahan air matanya karena sahabatnya kembali setelah satu tahun lebih tidak pulang.
Mereka hanya saling menanyakan kabar melalui panggilan, pesan, dan Arvin sering melihat Agra di televisi bahkan layar lebar di pinggir jalan.
"Maaf aku pulang tanpa membawanya pulang," bisik Arvin pelan.
"Tidak apa, kamu bisa berkunjung saja sudah jauh lebih baik." Naya melepaskan pelukan, mengusap air matanya.
Senyumn Arvin terlihat memeluk Agra yang juga sangat merindukannya. Persahabatan yang sudah lama terjalin dan harus berpisah.
"Andra benar, kamu akan sibuk begitupun denganku. Kita bertiga mulai sibuk dengan urusan masing-masing, maaf jika aku sering lambat balasan." Agra mengusap punggung dokter muda yang mulai bekerja di rumah sakit.
__ADS_1
"Aku selalu melihat kamu di layar kaca, tapi tidak sekalipun menyebut namaku."
"Baiklah, jika nanti aku menenangkan penghargaan nama kamu dan Andra akan aku sebut." Agra tertawa memeluk kembali sahabatnya.
"Bagaimana di sana, apa kamu tetap menjadi pria dingin?" Nay tersenyum melihat Arvin yang garuk-garuk kepala.
"Lo harus berbaur, berteman dengan banyak orang agar tidak kesepian. Jangan terlalu dingin," tegur Agra karena Arvin tetap saja menjadi manusia es.
Kepala Arvin menggeleng, dirinya bisa beradaptasi dengan baik dan tidak pernah kesepian.
Menjadi dokter muda membuatnya sibuk, bukan dirinya harus bekerja dari pagi sampai pagi lagi, sekaan pasien tidak pernah habis.
Selain sibuk di rumah sakit, Arvin harus memanfaatkan waktunya untuk banyak belajar.
Memiliki kecerdasan materi belum tentu ahli dalam penanganan, Arvin harus sehat agar pasiennya juga sehat.
"Kak Avin di sana bertemu hantu tidak, bukannya di rumah sakit banyak hantu?" Alis sangat yakin jika rumah sakit menyeramkan karena menjadi tempat orang meninggal.
Kepala Arvin geleng-geleng, dirinya yang jadi hantu karena tidak punya waktu untuk tidur, selalu bergadang sampai matanya hitam.
"Halo tante, terima kasih sudah merahasiakan kepulangan Arvin." Tangan Avin menyalami Mama Agra.
"Sama-sama, sekarang Arvin semakin kurus, jangan lupa jaga kesehatan. Sesekali makan yang enak, jangan hanya berdiam diri di perpustakaan." Tante memeluk Arvin yang mengangguk pelan.
Beberapa kali Arvin mendapatkan kiriman vitamin, perhatian yang sangat dirinya butuhkan karena mommnya tidak bisa memberikan lagi.
"Kenapa Arvin menangis, Mommy kamu pasti bangga karena putra kesayangannya menjadi pemuda yang mandiri, pekerja keras, paling penting dia memiiki hati sebaik mommnya."
"Terrima kasih Tante, terima kasih."
"Sapa Daddy dulu, dia juga merindukan kamu."
Senyuman Arvin terlihat, membungkukkan badanya menyapa daddynya. Arvin tidak terbiasa menyapa daddynya karena sejak kecil tidak mendapatkan perhatian.
"Apa kabar Nak?" Daddy memeluk erat putranya yang bahkan tidak berani memeluknya.
"Baik Dad, Daddy apa kabar, di mana pacar Daddy?" Arvin sudah cukup lama tidak mendengar Daddy memiliki pacar.
Tatapan mata Dadddy tajam, Arvin hanya tahu betapa kurang ajarnya dia karena selalu menyakiti hati mommynya.
"Kita bisa lanjut makan tidak, Naya lapar."
"Makan Naya, tidak ada yang melarang juga." Arvin duduk di samping Daddynya.
__ADS_1
Agra dan Dadddy juga duduk, Naya menatap empat orang layaknya keluarga bahagia karena ada Daddy dua anak dan Mama.
"Arvin, Daddy, Agra, dan Mama, bukannya ini nampak seperti keluarga, lalu kita di sini apa?" tanya Alis menatap empat wanita yang juga binggung.
"Aku juga putrinya Daddy," jawab Erin memanyunkan bibirnya.
"Alis sama Naya juga putrinya Mama, Prilly putrinya Daddy." Alis menatap Naya dan Prilly.
Suara Naya berdehem terdengar, mengambil makanan langsung mengunyahnya karena tatapan Agra tidak bersahabat.
Prilly hanya tersenyum melihat Agra yang tidak suka menjadi keluarga, dia tidak ingin Mamanya bersama Daddy Arvin.
"Tumben Daddy tidak punya pacar, di mana mereka?" tanya Agra sambil makan.
"Arvin juga penasaran, kenapa hanya kakek yang menikah?" Arvin tidak terlalu perduli siapa ibu tirinya karena tahu kebiasaan buruk Daddy.
"Habiskan makanan kalian, lalu pergilah untuk bersenang-senang. Daddy masih harus ke kantor."
Dua pemuda akhirnya diam, menghabiskan makanannya yang ada di atas meja. Menikmati makanan karena sudah lama tidak makan dengan tenang.
Empat wanita juga makan dengan lahap sesekali memainkan ponsel, hanya Mama yang tidak makan menatap anak-anaknya.
"Naya, apa besok mulai kerja, kenapa tidak fokus dulu menyelesaikan kuliah?" Mama tidak ingin kuliah Naya terganggu.
"Nay sudah terbiasa kerja sambil kuliah, rasanya bosan karena semuanya sudah sibuk." Naya menatap Prilly yang harus bekerja bersama Agra, Alis juga mengurus restoran, Erin harus fokus kuliah, Agra Arvin yang jarang pulang.
Daddy menawarkan untuk bekerja di perusahaan, tapi Naya menolak karena ingin bekerja sendiri tanpa orang dalam.
Tangisan Alis terdengar, membuat kaget semua orang karena mendengar kabar Andra menghubungi mamanya.
"Alis mau pulang dulu, soalnya Kak Agra sudah memberikan kabar."
"Kak Agra ikut Lis, sekarang kita pergi." Tangan Agra ditahan, begitupun dengan Arvin.
Daddy meminta keduanya tidak menemui Andra, dia sedang meniti jalannya, dan akan menyapa jika sudah waktunya.
"Daddy selama ini tahu keberadaan Andra?" Arvin menatap tajam.
Kepala Daddy mengangguk, pernah bertemu dengan Andra saat perjalanan bisnis, tapi sengaja tidak memberitahu siapapun demi kenyamanan Andra.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1