KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
PEMIMPIN


__ADS_3

Mata Andra terbuka, menatap gadis kecil memasukkan botol susu ke mulutnya. Tawa Raya terdengar melihat Andra menyusu.


"Raya, tidak boleh jahil sama Kakak," tegur Mama.


"Kakaknya tidur terus dari tadi dibangunin, tidak mau."


Andra langsung duduk, meletakkan botol susu di atas meja. Baru sadar jika dia tertidur di ruang tamu.


"Minum dulu Dra, kamu mabuk ya?" kepala Mama menggeleng, menyerahkan minuman.


"Sekarang jam berapa Tante?"


"Sepuluh, Raya juga sudah pulang sekolah."


Ekpresi wajah Andra kaget, langsung berdiri pamitan kepada Mama Agra untuk pulang. Dirinya harus ke kantor.


Mama berteriak meminta Andra berhati-hati, tidak terburu-buru yang akan membuatnya dalam bahaya.


Mobil Andra melaju cepat meninggalkan kediaman Arvin, mengambil ponselnya di saku celana.


"Sialan, kenapa harus mabuk sampai terlambat?" Andra menyesali perbuatannya, tidak ada gunanya terburu-buru, tubuhnya juga bau minuman keras.


Tiba di apartemen Andra begegas untuk mandi, merapikan pakaiannya yang belum sempat disusun, menatap gelang hitam yang ada di saku celananya.


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi," batin Andra yang membuang ke tempat sampah.


Jam tangan sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Andra memakai sepatunya untuk segera pergi ke kantor.


Pintu apartemen terbuka, seorang wanita berdiri di depan pintu dengan tatapan penuh kebahagiaan. Andra yang terkejut karena tidak pernah terbayangkan Syifra ada di hadapannya dengan membawa banyak bahan makanan.


"Kamu mau ke mana?"


"Kenapa bisa ada disini, dan dari mana tahu alamat apartemen ini?" Andra garuk-garuk kepala tidak menyangka.


Tawa kecil terdengar, memeluk Andra lembut. Terlalu mudah baginya menemukan karena Andra selalu bercerita memiliki tempat bersantai, jika ada kesempatan kembali, pasti akan berkunjung.


Ucapan itu Andra tepati, dia datang dan berkunjung ke tempat yang paling indah baginya.


"Ayo masuk."


"Kamu tinggal bersama siapa?"


"Tidak ada, baru saja pindah." Andra bisa memilih tempat tinggal yang lebih mewah, tapi dia lebih nyaman tinggal di apartemen sederhana asalkan nyaman.

__ADS_1


Barang bawaan diletakan di dapur, Andra menjawab panggilan dari direktur utama jika ada masalah di kantor.


"Syif, aku tinggal kamu sebentar, soalnya ada hal penting. Tidak akan lama," pamit Andra.


Kepala Syifra mengangguk, mengizinkan untuk pergi. Dia akan menyiapkan makanan karena sedang hobi memasak.


"Dra, tunggu sebentar," panggil Syifra mengecup bibir Andra karena sangat merindukan tunangannya.


Senyuman kecil terlihat, Andra melangkah pergi menyentuh bibirnya. Perasaan Andra semakin kacau saat hati dan pikirannya mulai bertarung.


Mendengar kabar perusahaan AA bermasalah mengingatkan Andra dengan kejadian beberapa tahun lalu ketika AA ditinggalkan.


Saat kembali jaya ada banyak orang yang menyerang, tidak memikirkan nasib para karyawan yang membutuhkan pekerjaan.


"Bagaimana kondisi di sana Bram?" tanya Andra yang menghubungi pimpinan perusahaan selama ini.


"Sedang diadakan rapat yang dipimpin oleh Kanaya, dia sedang marah Pak, maaf jika panggilan harus saya matikan." Telepon mati karena tidak ada yang berani menyela setiap kali ada rapat.


Keadaan di dalam ruangan meeting tegang, pukulan di atas meja kuat. Direktur personalia yang paling ditakuti oleh ketua divisi, manager bahkan direktur lain.


"Tidak ada yang menjawab apa kalian bisu?" Nay melipat tangannya di dada.


Semua orang fokus di depan komputer masing-masing, mengecek data di laptop, berjuang melawan hacker yang mencuri data perusahaan.


Hanya orang tertentu yang tahu, dan paham betapa menakutkannya Naya jika sedang marah.


"Bu Naya, aku menemukan akun pelaku," ucap seseorang yang berlari ke arah Naya menujukkan komputernya.


"Anjing orang ini, apa dia sedang uji coba mengacau di perusahaan ini." Naya mengambil alih mengirimkannya virus balik, tidak akan membiarkan hasil kerja keras karyawan AA grup diambil orang lain.


"Bu, akun kita berhasil kembali."


"Kunci sekarang, gunakan Sandi hackers keparat." Naya masih fokus menatap layarnya.


Semua orang menundukkan kepala, begitulah Naya yang mereka semua kenal selama ini, memiliki dua karakter berbeda. Jika sedang marah, mulutnya sangat kasar, tapi aslinya sangat baik dan mengagumkan.


Senyuman sinis Naya terlihat, dirinya jauh lebih hebat dalam sistem komputer, jika orang lain bisa maka dirinya juga.


"Bagaimana milik kamu?" Naya mengecek dua puluh laptop yang mengalami masalah.


"Bu Nay, bagian gudang masih bermasalah."


"Coba saya lihat." Naya menatap layar, mencoba membantu.

__ADS_1


Senyuman pimpinan bagian gudang terlihat, mengucapkan terima kasih karena dia sempat panik saat data hilang sehingga tidak bisa mengirimkan barang.


"Ini menjadi pelajaran untuk kita semua jika harus memiliki salinan, meskipun itu tidak menjamin aman. Kita ini perusahaan yang sedang merintis, tidak bisa jalan masing-masing." Naya tahu ada banyak atasan yang berada di atasnya, tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormatnya.


Jika pimpinan tidak bisa memberikan contoh yang baik, maka Kanaya dengan berat hati akan mengganti staf.


"Aku memiliki wewenang itu memecat siapapun, jadi aku harap kerja keras lebih lagi. Tidak ada yang tidak lelah, jika tidak ingin lelah jangan bekerja." Naya meminta semuanya semangat.


Suara tepuk tangan terdengar, mengangumi Naya yang berhasil mengatasi masalah. Dia menjadi pimpinan yang sangat dihormati.


Pintu ruangan meeting terbuka, Andra melangkah masuk. Semua orang berdiri membungkukkan tubuhnya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Andra.


"Aman Pak, kita berhasil memenangkan pertempuran berkat Bu Nay," puji Bram sebagai direktur utama.


"Kenapa bukan kamu yang memimpin rapat?"


"Silahkan laporan terlebih dahulu, kamu mirip penyusup yang masuk perusahaan ini," sindir Naya karena seharusnya Andra yang memimpin jika ada masalah dengan perusahaan.


Kanaya melangkah pergi, kepalanya terasa ingin pecah. Berjalan ke arah balkon atas gedung menatap jalanan, bangunan yang menjulang tinggi


Pintu terbuka, Andra juga melangkah ke balkon atas. Mendekati Naya yang sedang menenangkan pikirannya.


"Ada berapa staf di perusahaan ini?"


"Kurang lebih hampir tiga ratus orang, tidak termasuk staf gudang karena gudang dan pabrik berada di tempat lain."


"Bukannya terlalu banyak untuk perusahaan sekecil ini?"


Kepala Naya mengangguk, memang sangat sedikit hampir tidak padat, tapi perusahaan menjamin kesejahteraan.


Ada puluhan perusahaan yang berhasil dilewati, tidak mudah, tapi berhasil untuk berada di peringkat kelima.


"Lakukan pengurangan karyawan, aku hanya menginginkan staf yang memiliki kemampuan sesuai standar perusahaan." Andra akan mengubah cara kerja pimpinan terdahulu.


Tawa Naya terdengar, dia tidak akan melakukannya. Seluruh karyawan menjadi tanggung jawabnya, tidak ada hak CEO untuk memecat karena diluar tugasnya.


"Daripada kamu sibuk mengurangi karyawan, lebih baik pikirkan untuk membuka cabang, pindahkan sebagai staf ke sana sehingga kita bisa membuka lebih banyak lowongan pekerjaan," ucap Naya yang memerintah.


"Siapa pemimpin di sini?" Andra merasa Naya terlalu berani.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2