
Pintu ruangan Naya terbuka, Andra melipat tangannya di dada karena apartemennya Naya serahkan kepada Syifra padahal Andra membayar selama beberapa tahun.
"Uang sewa sudah dikembalikan secara full, tidak ada potongan sama sekali, kenapa marah?" Naya masih fokus di depan layarnya.
"Aku tidak menyetujuinya," balas Andra.
'Aku tidak butuh persetujuan kamu." Senyuman Naya terlihat.
Kanaya meminta Andra membaca ulang peraturan kontrak, Kanaya bisa memutuskan kontrak mengusir tanpa izin sesuka hatinya jika dia tidak mengiginkan orang tersebut berada di kawasannya.
Pintu ruangan Naya dibanting, kursi Nay ditarik menghadap ke arah Andra. Mata Andra tajam karena geram melihat kekaishnya rasa musuh.
"Apa aku tidak penting sampai kamu usir?"
"Iya, kamu punya rumah juga punya uang, lalu kenapa aku harus pusing?" gigi Naya nyengir mengejek.
"Jika aku tidak mencinta kamu sudah aku banting," tegas Andra karena dia juga memutuskan untuk tinggal di apartemen Naya.
Giliran Kanaya yang terkejut karena Andra memindahkan barang-barangnya di apartemen Nay, tidak menerima penolakan karena Andra tidak ingin menerima uang sewa yang dikembalikan.
"Tidak bisa begitu Andra, bagaimana jika kamu menyentuhku?"
"Tidak kebalik, bukannya kamu lebih kuat?" Andra menjulurkan lidahnya karena bisa tinggal satu rumah.
Ada lebih dari satu staf yang melongo melihat pasangan yang menghebohkan satu kantor, bukan karena romantis namun keseringan berantem.
"Bu, kita mau diskusi,' ucap salah satu staf yang capek melihat Andra dan Naya yang selalu berantem.
"Aku tunggu di apartemen, bekerjalah karena aku mengaji kamu dengan uang, bukan angin." Andra melangkah pergi tidak ingin perusahaanya rugi.
Setelah Andra pergi, Nay merapikan bajunya meminta segera duduk karena ada banyak hal yang harus dilakukan.
Andra kembali ke ruanganya melihat ada bunga yang sangat wangi berada di ruangannya.
"Kenapa setiap hari bunga ini diganti, siapa pelakunya?" Andra mecoba mengabaikan fokus kembali untuk bekerja.
"Permisi Pak, apa memanggil saya?" tanya seorang wanita yang menjadi sekretaris Andra.
"Sejak kapan ganti jenis kelamin, di mana sekretaris lama?" tanya Andra.
"Bu Naya memindahkannya ke perusahaan cabang," jawabnya.
Balpoin Andra jatuh matanya melotot karena Nay memindahkan stafnya sesuka hati padahal Andra tidak memintanya.
"Panggil Kanaya, tidak normal wanita satu ini."
"Bukannya Pak Andra yang biasanya datang ke sana?"
Pukulan di atas meja kuat karean Andra berhak memerintah siapapun, dia pimpinan bukan Kanaya.
Andra heran kenapa stafnya lebih menghormati Naya dibandingkan dirinya sendiri.
"Cepat panggil dia, jika tidak kamu aku pecat," ancam Andra memijit pelipisnya.
Belasan menit Andra menunggu, tapi Kanaya belum juga muncul. Andra berdiri dari duduknya terpaksa menuju ruangan Naya.
Sekretaris baru geleng-geleng, sudah dia katakan Andra yang selalu datang ke ruangan Naya.
"Kanaya, siapa atasan di perusahaan ini?" Andra masuk ke ruangan Naya melihat ada banyak staf berada di ruangan sedang meeting.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Andra penasaran.
"Ada apa?" tanya Naya meminta bubar.
Kepala Andra mengangguk melihat staf membungkukkan badan di hadapannya pamit keluar.
Nay menjelaskan jika tiap gedung ada masalah masing-masing, mereka sedang mencari solusi terbaik untuk mengatasi.
"Nay, bukannya tiap ketua saling menjatuhkan untuk kuat?"
"Iya, di sini juga, tapi aku selalu menegaskan untuk saling bantu." Naya tahu persaingan dalam bisnis menakutkan, tapi persaingan antar staf jauh lebih mengerikan.
Sebagai atasan Naya ingin stafnya percaya kepadanya, percaya terhadap tim dan percaya terhadap perusahaan agar bisa sukses bersama.
"Apa tujuan aku datang ke sini?" tanya Andra lupa.
"Masalah sekretaris?"
"Nah iya, di mana dia? Aku tidak mau didampingi oleh wanita, nanti pacarku cemburu," keluh Andra karena kekasihnya sangat cemburuan.
Senyuman Naya terlihat, Andra masih punya waktu untuk bercanda. Naya melihat potensi yang baik di sekretaris Andra, dia berhak memiliki jabatan yang lebih tinggi.
"Dia pindah perusahaan cabang, dan tidak ada paksaan."
"Kenapa tidak memberitahu, bagaimana denganku?"
"Kamu punya aku, tiap pekerjaan aku selalu ada di samping. Pekerjaan kamu sudah terlalu banyak Andra, jangan terlalu menyiksa diri." Naya menatap ke arah ponselnya yang berbunyi.
"Apa bedanya kita berdua? Jika terus begini kapan kita menikah?" Andra menyita ponsel Naya.
Kepala Naya mengangguk, mendegarkan omelan Andra yang tidak berkesudahan. Dia terus mengoceh tanpa henti seakan-akan paling tersakiti.
"Sudah mengomelinya, kerja sana," usir Naya dengan nada kesal.
Ketukan pintu terdengar, kepala Andra menoleh melihat seorang wanita yang masuk meletakkan minuman untuk Kanaya.
"Sejak kapan Naya pesan minuman seperti ini?" Andra menatap minuman cepat saji.
"Saya hanya berinisiatif untuk membuatkan, ibu Naya sudah cukup lelah bekerja. Jika tidak, saya bisa ambil kembali." Minuman dibawa keluar, tanpa Naya hentikan.
Keduanya terdiam saling pandang, Kanaya terlalu santai dan menyamaratakan kedudukan sehingga tidak paham.
"Karyawan harus berada di posisinya Naya, kamu tidak bisa mengangkat derajat dengan mudah," tegur Andra.
"Emh, Kanaya sudah terlalu jauh memberikan ruang untuk mereka, kini keadaan semakin semena-mena." Helaan napas Naya terdengar karena siapa saja bisa masuk ruangannya tanpa dipersilahkan.
Tangan Naya tertadah meminta ponselnya, Andra menolak mengembalikan karena percuma Naya punya ponsel tidak pernah menghubunginya.
"Sayang," panggil Andra dengan nada pelan.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu sering meletakkan bunga di ruangan ku?" tanya Andra yang merasa penasaran.
Kening Naya berkerut, perlahan kepalanya menggeleng karena Naya tidak pernah meletakkan bunga apapun.
"Bunga apa, Nay tidak pernah membeli bunga,' ucapnya.
"Jika bukan kamu lalu siapa yang begitu lancang melakukannya?" nada Andra naik karena tidak ada yang Andra izinkan memasuki ruanganya tanpa dirinya.
Naya berdiri dari duduknya, melangkah ke ruangan Andra. Beberapa staf membungkukan tubuhnya saat melihat Naya dan Andra lewat.
Pintu ruangan terbuka, Naya bisa mencium bau bunga yang begitu menyengat dengan sensasi rileks.
"Ini bukan ruangan kerja, tapi ruang pijat." Naya mengambil bunga yang manis segar.
"Tiap hari bunganya diganti, aku pikir itu kamu." Andra merasa pusing dengan baunya karena tidak menyukai wewangian secara berlebihan.
"Mana mungkin Naya melakukan ini, seperti tidak ada pekerjaan saja."
"Mana aku tahu, kenapa marahnya kepadaku?" kedua bahu Andra terangkat tidak tahu menahu.
Tangan Naya tergempal, apa Andra memiliki pengagum rahasia. Hubungan Andra dan Naya sudah cukup terkenal di kantor, mustahil ada yang tidak tahu.
Naya tidak masalah jika mengangumi layaknya atasan dan bawahan, tapi jika rasa kagum ingin memiliki tidak sepantasnya.
Andra memeluk dari belakang, menujukkan ponsel Naya dipenuhi berita soal Agra yang masih pengantin baru.
"Sayang, kita kapan bisa seperti Agra. Dia selalu didampingi oleh istri tercinta, aku juga mau," pinta Andra memeluk erat.
Nay mengusap lengan Andra, dia juga mau. Naya juga ingin segera menikah, apalagi orang tua Andra yang meminta langsung, tapi jadwal kerja masih terlalu sibuk.
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri jika kita tidak punya waktu bersantai," ujar Naya menujukkan jadwal.
"Jika terus mengikuti itu, tidak ada sudahnya Nay. Kita akan selalu sibuk jika tidak meluangkan waktu," tegur Andra yang memahami pikiran Naya.
Tentu Naya tahu maksud ucapan Andra, dia juga ingin meluangkan waktu namun tidak semudah yang dipikirkan.
"Faktanya kamu belum siap menikah?"
"Kamu ingin pernikahan seperti apa Andra?"
"Terserah kamu, aku ikut apapun."
Hentakan kaki Naya terdengar, Andra selalu mengatakan hal yang sama, dia ingin menikah namun tidak memberikan solusi.
Pernikahan itu kesepakatan dua orang, bukan terserah. Naya tidak tahu selera Andra dan keinginan pernikahan seperti apa.
"Emh, aku tidak punya impian pernikahan intinya aku ingin menikah dengan kamu, begitu saja."
"Ya sudah kita langsung menikah saja tidak perlu ada sesuatu untuk memeriahkan," ujar Naya mengejutkan Andra karena dia juga ingin pernikahannya diumumkan.
"Dari pada kalian pusing memikirkannya, serahkan saja kepada Mami, bertengkar tidak akan memberikan Mami cucu." Tangan Mami terlipat di dada menatap sepasang kekasih yang mirip tikus dan kucing.
"Mami, kenapa masuk ruangan tanpa mengetuk?"
"Berikan jadwal kalian berdua, Mami pastikan pernikahan kan terjadi secepat mungkin." Mami tersenyum lebar.
"Mami seperti tidak ada pekerjaan setiap harri ke kantor, apa Mami ingin menjadi karyawan saja." Mulut Andra diremas, mami memintanya menyingkir.
Urusan Mami bersama Naya, kesiapan Naya menjadi penentu hubungan ingin dibawa ke mana.
"Bagaimana sayang?" tanya Mami.
"Mi, apa Naya layak dan pantas. Ada banyak gosip yang tidak enak di dengar." Naya tidak ingin mempermalukan keluarga Andra.
Senyuman Mami terlihat sudah dia duga alasan Naya bukan belum siap namun tidak ingin saham perusahaan Andra turun karena Andra menikahinya.
Ada banyak rekan bisnis yang ingin menjodohkan Andra dengan anak mereka, membuat perasaan Naya terluka.
"Jika ada orang yang mengiginkan lelakimu jangan tinggalkan, tapi rebut dan pertahankan. Perpisahan itu terjadi jika lelaki tidak mengiginkan lagi," ucap Mami yang pernah melakukanya.
Saat suaminya dikabarkan memiliki simpanan Mami tidak percaya, tapi saat ada anak kecil yang dibawa barulah percaya.
Marah dan sakit normal dirasakan, tapi Mami tidak melepaskan apalagi meninggalkan karena Papi juga ingin bertahan dengannya.
"Jika kamu mencintai Andra jangan tunggu waktu yang tepat, tapi keyakinan jika dia milikku."
"Iya Mi, Naya serahkan kepada Mami."
"Yakin, Mami kerja cepat ini." Senyuman Mami terlihat tidak sabar lagi.
Kepala Naya mengangguk mengizinkan Mami mengurus pernikahan keduanya, Andra sudah lompat-lompat tiduran di atas sofa.
Hidung Mami mencium bau bunga, terlihat di dalam tepat sampah ada bunga segar yang dibuang.
"Apa Mami yang meletakkan bunga itu?" tanya Naya.
''Bukan, apa ada pelakor?"
Kepala Nay mengangguk, dia meletakkan bunga setiap hari di ruangan Andra dan Naya tidak menyadarinya jika Andra tidak mengatakan.
Mami memukul Andra yang tidak mengatakan apapun, jika sampai terlambat maka berbahaya.
"Mi, sudah menjenguk anaknya Delon?"
"Sudah bersama Mamanya Agra, anaknya lucu makanya mami juga mau satu." Senyuman Mami terlihat memelas.
Senyuman Naya dan Andra terlihat Naya beruntung bisa memiliki calon mertua yang sangat lucu, penyayang dan tidak memandang rendah Naya.
"Ingat, Mami yang mengurus, jangan coba-coba menolaknya."
"Siap Mi, tolong pastikan cepat Mi," teriakkan Andra terdengar tidak akan meragukan kekuatan super maminya.
Tawa kecil ya terdengar, memeluk ANdra yang juga memeluknya. Meskipun sering bertengkar tidak mengurangi rasa cinta antara keduanya.
"Apa kamu serius ingin pindah?"
Kepala Andra mengangguk, salah Naya sendiri yang mengambil apartemennya maka Naya harus siap berbagi tepat tinggal.
"Kamu punya rumah mewah, tapi tidak pernah ditempati," sindir Naya yang sudah tahu rumah Andra hampir selesai renovasi.
"Rumah masa depan kita, ada ruang main anak-anak juga bapak-bapak. Lima tahun ke depan rumah itu sudah ramai, ada anak-anak yang berlarian bukan kita berdua yang masih bertengkar." Andra menggenggam tangan Naya untuk keluar dari kantor.
Melihat Naya dan Andra bertengkar sudah menjadi makanan sehari-hari staf, tapi jika keduanya akur menjadi hal yang sangat menakutkan.
"Dra, ada banyak orang yang menyangka kita buang-buang waktu untuk berpacaran, tidak ada pasangan yang selalu bertengkar seperti kita." Nay menatap wajah tampan Andra yang kini mampu ditatap selama mungkin.
"Tiap orang punya cara untuk menghangatkan hubungannya, kita yang bertengkar namun itu membuat kita saling terbuka. Terserah orang mengatakan dan menilai seperti apa terpenting kita bahagia." Senyuman Andra terlihat yakin dengan pilihannya.
Naya tersenyum manis mengucapkan terima kasih karena Andra pernah menyelamatkan hidupnya, delapan tahun yang lalu saat Naya kecelakaan.
Sebelum Andra pergi dia melakukan segalanya untuk keselamatan Naya, bahkan diteteskan darah terakhir tetap Andra melakukan secara nyata.
"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih, kejadian delapan tahun yang lalu."
"Jangan diungkit lagi, aku tidak sanggup mengingatnya. Itu hari yang sangat menakutkan dalam sejarah hidupku." Andra mengecup telapak tangan Naya.
Tidak mengizinkan terluka lagi, Andra bisa mati jika Naya meninggalnya. Delapan tahun sudah lebih dari cukup, bahkan satu detik pun tidak rela berpisah.
"Jangan pernah meninggalkan aku," pinta Andra.
"Tidak akan pernah, terima kasih Andra sudah hadir dalam hidupku." Naya mengeratkan genggaman tangannya.
Andra melanjutkan mobilnya ke mall untuk membeli segala keperluan di apartemen baru. Sekalian menjenguk baby Shaka.
"Dra, apa kamu pernah sakit?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Naya hanya bertanya saja, soalnya ...."
"Tidak, kamu pasti mencari perkara untuk ribut?" Andra tertawa kecil karena Naya selalu penasaran dengan hubungan Andra dan Syifra.
Ponsel Naya berdering kembali, Andra mengembalikannya. Kanaya menjawab panggilan langsung teriak histeris merasa sangat bahagia.
"Selamat Lis, Mami Papi sudah tahu. Bagaimana dengan Arvin?"
"Kak Naya orang pertama yang Alis hubungi?"
"Ada apa, Kenapa tiba-tiba menangis?" Andra menghentikan mobilnya menatap Naya yang terharu.
Andra mengambil ponsel meminta Alis bicara, apa yang sedang terjadi sampai Alis dan Naya menangis.
"Ada apa, bicara sama Kakak."
"Kak, Alis ternyata berhasil mengejar mimpi, Alis bisa menyelesaikannya tanpa menyusahkan Mami dan Papi." Tangisan Alis terdengar merasa sangat bahagia.
"Kamu berhasil lulus?"
"Iya, Alisha bisa membanggakan Mami Papi."
Senyuman Andra terlihat, selama ini Alis sudah bisa membanggakan karena dia bisa konsisten dengan bisnisnya.
Membuka lowongan pekerjaan bagi banyak orang. Andra bangga kepada Adiknya yang terkenal manja, tapi aslinya gadis yang mandiri.
"Kak Andra tahu tidak Alis lulus apa?"
"Kuliah, bukannya kamu baru lulus." Andra menoleh ke arah kaca karena polisi mengetuk kaca mobil.
Andra tepuk jidat, dia berhenti di tempat yang tidak seharusnya. Polisi meminta keluar, Andra membuka jendela mobil meminta maaf karena tidak sengaja berhenti.
"Surat-menyurat mana?"
__ADS_1
"Kita tidak sengaja karena mendapatkan telepon mengejutkan," ujar Andra terpaksa menyerahkan surat kelengkapan mengemudi.
"Kalian bertengkar sampai berhenti di sini, jika ingin bertengkar di dalam sel sana." Polisi menatap sinis Andra yang mengerutkan kening.
"Apa kita terlihat seperti bertengkar?" tanya Naya.
Polisi mengangguk, mobil Andra ditahan karena dia melanggar rambu lalu lintas. Surat menyurat jug ditahan.
Andra mengacak rambutnya, meminta Naya keluar karean mereka sibuk tidak bisa menunggu.
"Bapak mau bawa mobilnya silahkan saja, mau di deret atau apapun." Andra melempar kunci mobilnya mengambil suratnya menaik tangan Naya untuk berlari.
"Andra gila, apa yang kamu lakukan?" Naya tercengang karena harus ikut lari ulah Andra.
Teriakkan polisi terdengar keduanya masih lari kencang, setelah polisi tidak terlihat Naya memukul kepala Andra pelan.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa kita harus lari?" Nay kecapean sampai ngos-ngosan.
"Biarkan saja dia mengurus mobil itu, padahal aku memiliki surat lengkap masih saja ditahan. Mencari kesempitan eh kesempatan untuk mendapatkan uang." Andra memicingkan matanya.
"Sekarang kamu kehilangan mobil bodoh," tegur Naya karena tindakan ANdra membuatnya rugi lebih besar.
Senyuman Andra terlihat menghubungi Arvin untuk menjemputnya, Nay geleng-geleng melihat ke arah toko.
"Aku harus membelikan sesuatu untuk Alis," gumam Naya mencari gelang untuk hadiah ucapan selamat.
Dulu saat Naya wisuda, Alis datang membawa seluruh karyawannya untuk memberikan selamat.
"Mau beli apa?"
"Gelang untuk Alis, ini terlihat lucu."
"Alis lulus kuliah, kenapa lama sekali?"
Tawa Kanaya terdengar, Andra tidak tahu apapun soal Alis, dia bukan lulus kuliah, tapi menjadi master.
"Alis lulus S3 dan sudah terbilang master, bukannya itu luar biasa."
"Oh sekarang dia mnejadi MasterChef?" Andra tepuk tangan bicara sembarangan.
Rasanya Naya ingin melepaskan tendagan maut, malas bicara dengan ANdra yang tidak punya rasa peduli sama sekali.
"Perasaan Alis tidak pernah masak?"
"Alis kuliah kedokteran Andra, dia mengambil spesialis Dokter gizi, makanya selalu berada di luar negeri." Naya melipat tangannya di dada.
Mata Andra terbelalak, tidak percaya adiknya yang lemot dan amburadul bisa jadi dokter dengan gelar tinggi.
"Bagaimana bisa, jika Arvin aku percaya karean dia memang pintar, tapi Alis sungguh konyol." Andra tergagap kagum dengan adik perempuannya yang memiliki gelar.
Senyuman Naya terlihat meminta gelang untuknya, membayar menggunakan kartunya. Alis pasti sangat menyukai hadiahnya
Selama menunggu Arvin, Andra mencari tahu soal pendidikan adiknya. Gelar memang dokter, namun tidak terllau penting.
"Apa manfaatnya Alis sekolah ini?"
"Itu cita-citanya yang tidak pernah mampu diyakini, dia tahu tidak penting namun Alis menyukainya. Dia ingin menghilangkan hidup tidak sehat makanya memiliki banyak restoran, dan menjadi Dokter gizi." Nay bangga kepada Alis, dia wanita yang berhati baik seperti Maminya.
Mobil Arvin sampai, Andra langsung lari memeluk Arvin yang mendorongnya kuat. Arvin sudah tahu apa yang Andra lakukan.
"Ditahan polisi lagi Dra?" tanya Arvin.
"Iya, aku buang kunci mobilnya."
"Sudah gila, semakin tua tambah gila." Naya masuk mobil.
Bibir atas Arvin juga terangkat, susah berurusan dengan Andra yang sedikit gila. Langsung masuk ke dalam mobil karena ada urusan.
"Vin, Alis ada menghubungi kamu tidak?"
"Ada, katanya minta bertemu. Kira-kira kalian berdua kapan menikah?"
"Vin, apa gunanya Dokter gizi?"
"Dokter gizi atau ahli gizi?"
"Alis sekolah Dokter atau ahli?" Andra menatap Naya yang duduk di belakang.
Mobil yang Arvin kemudi langsung berhenti, melihat ke arah Naya. Mata Naya terpejam memilih diam.
Alis pasti ingin memberikan kejutan, dasar mulut Andra yang tidak bisa dijaga asal bicara saja.
"Bukannya Alis sudah lulus kuliah?" tanya Arvin karena dia mengetahui dari Naya beberapa tahun lalu, Alis sudah lulus.
Kepala Andra menggeleng, dia tidak tahu karena tidak paham. Andra tidak kuliah spesialis, tapi bisnis.
"Apa Dokter dan ahli itu beda?"
"Beda Dra, dari jangka waktu saja sudah beda." Arvin memicingkan matanya heran melihat Andra.
Mobil melaju cepat, Andra menggoyang kepalanya saat Arvin menghidupkan musik. Keduanya bernyanyi joget-joget menikmati musik.
Tawa terdengar, Naya hanya geleng-geleng kepala melihat Arvin ternyata bisa berisik juga bersama Andra.
"Apa yang Agra lakukan sekarang, setelah menjadi selebriti dia tidak bebas apalagi sudah menikah." Arvin mengerutkan keningnya.
"Bukan begitu, setelah dewasa kita punya kesibukan masing-masing sehingga kehabisan waktu." Andra mengambil ponselnya menghubungi Agra yang langsung menjawab.
"Gra, di mana?"
"Berisik sekali, aku baru bangun tidur." Agra mematikan panggilan karena suara musik bisa membangunkan istrinya.
Wajah Andra berubah merah, begitu teganya Agra mematikan panggilan. Arvin hanya tertawa melihat Andra mengomel.
Mobil Arvin tiba di rumah, bersamaan dengan mobil Alis yang juga tiba di rumah. Mami berlari menyambut kedatangan Alis.
"Mami," teriakkan Alis terdengar.
"Anak Mami hebat, akhirnya bisa berhasil juga, Mami pikir selamanya jadi beban." Tawa Mami terdengar mengacak rambut Alis.
Tawa Alis terdengar, makanya dia ingin menikah agar bisa pindah tempat menjadi beban.
"Alis lulus apa? Gizi atau ahli apa?" Andra merentangkan tangannya ingin memeluk adiknya.
Alis berlari kencang, melewati Andra begitu saja langsung memeluk erat Arvin yang juga merentangkan tangan.
"Adik kurang ajar, tidak ada harga dirinya aku." Andra memeluk Maminya erat.
"Kamu lulus apa, kenapa tidak mengabari aku?"
Senyuman Alis terlihat, menujukkan sesuatu kepada Arvin yang terkejut jika Alis yang selama ini pecicilan bisa mendapatkan gelar doktor.
"Selamat ya sayang, semoga gelar dan ilmu yang didapatkan bisa bermanfaat. Jadi Dokter yang baik dan menginspirasi."
"Apa gunanya Dokter gizi?" Andra tidak merasa pekerjaan Alis penting.
"Namanya dokter melewati proses dan pembelajaran yang sulit, kamu ingin masuk rumah sakit mana?"
Alis menujukkan kartu namanya, Arvin langsung batuk melihat rumah sakit yang sama dengannya.
Tawa Andra terdengar melihat rumah sakit yang sama, sudah Andra duga Alis mempercepat gelarnya demi mengawasi Arvin.
"Mampus Lo diawasi dari dekat."
"Apa bedanya dengan kamu, Kanaya lebih berkuasa di kantor." Arvin memukul punggung Andra yang tidak sadar diri.
Helaan napas Andra dan Arvin terdengar, baru sadar jika mereka bernasib sama. Andra paling sulit karena diawasi wanita emosian.
"Apa sebaiknya aku memecat Naya saja?"
"Kamu yang aku pecat." Naya keluar dari mobil memeluk Mami yang baru pulang belanja.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira