
Kedua tangan Naya memeluk lututnya, menatap langit malam yang sunyi dan sepi. Perasaan Naya sedih memikirkan Andra, tapi bangga juga karena lelaki kaya yang pecicilan sangat hebat menghadapi masalahnya.
"Kenapa sendirian Nay?" Arvin duduk di samping Naya yang asik melamun menatap apartemen lama yang menjadi lahan kosong.
"Tidak ada," balas Naya.
"Aku keluar kepikiran Andra, apa yang sedang dia lakukan sekarang?" Agra juga duduk di samping Naya menatap apartemen yang dulunya menjadi rumah untuk berkumpul.
"Dia pasti sedang berpikir untuk besok, Andra tidak mungkin tidur sebelum dia tahu apa yang besok harus dirinya lakukan." Arvin tersenyum manis.
Kepala Naya mengangguk, Arvin dan Agra benar, Andra sedang berjuang dengan caranya.
Tidak ada lagi alasan untuk mencarinya, Andra pasti tidak enak jika banyak yang tahu perjuangannya yang harus dimulai dari nol.
"Vin, Daddy hebat ya, dia bisa menjaga rahasia Andra, bahkan tahu keberadaannya," Fuji Naya yang tidak menyangka ada satu orang yang membantu Andra.
Senyuman Arvin terlihat, tidak menyangka jika daddynya memang melakukannya. Selama satu tahunan Arvin mengagumi pria yang dulunya paling dirinya benci.
"Semoga saja Daddy menjadi lebih baik lagi," ujar Arvin yang tidak bisa membuka hatinya jika teringat dengan Mommynya.
"Berdamai dengan keadaan Vin, tiap orang punya kesempatan untuk berubah, dan kamu harus memberikannya." Naya menepuk punggung Arvin memberikan semangat
Senyuman dua pria terlihat, merangkul Naya sebagai sahabat. Pandangan masa depan terlihat sangat sulit dan melelahkan sehingga butuh perjuangan panjang.
Arvin juga pamitan untuk pergi lagi, perjuangannya belum usai untuk menjadi dokter yang berguna bagi banyak orang.
"Semangat Vin, semangat juga Agra, terutama kamu Naya untuk terus berjuang." Naya mengenggam kedua tangan meletakan di kening berdoa segala kebaikan untuk mereka.
Dua lelaki melakukan hal yang sama, melipat tangan di dada, berdoa di dalam hati untuk kebaikan.
Tubuh ketiganya berbaring di rerumputan, kepala Naya dilindungi oleh dua tangan memejamkan matanya untuk membayangkan masa depan.
"Kira-kira lima tahun ke depan kalian jadi apa?"
"Paling penting aku tetap menjadi anak tunggal," balas Agra mengejutkan Naya dan Arvin sampai kepalanya terangkat.
Tawa Naya terdengar, ketakutan terbesar Agra ternyata memiliki adik. Dia tidak ingin Mamanya menikah lagi karena takut punya adik.
"Kamu memberikan izin Mama menikah lagi?" Naya langsung duduk menatap wajah Agra yang masih memejamkan matanya.
"Mau bagaimana lagi, Mama juga berhak bahagia. Aku memiliki banyak kesibukan, tidak punya waktu menemani Mama setiap harinya." Bibir Agra manyun, terbesit kesedihan diwajahnya.
__ADS_1
Tawa kecil Arvin terdengar, suatu hari Agra akan terbiasa seperti dirinya melihat Daddy dan kakeknya bergonta-ganti pasangan.
Bahkan Arvin tidak bisa menghitung lagi ada berapa banyak wanita yang datang dalam satu tahun.
"Apa kita berdua akan menjadi saudara tiri?" Agra menatap Arvin yang duduk sambil terkejut..
"Gila! Kenapa juga kamu mengizinkan Mama menikah dengan Daddy, aku tidak setuju. Carikan laki-laki yang lebih baik, jangan Daddy." Arvin menolak pernikahan Mama dan Daddy karena tidak ingin Daddy menyakiti Mamanya Agra.
"Naya rasa sekarang Daddy sangat baik, Mama juga terlihat nyaman. Kenapa tidak diberikan kesempatan?"
"Nay, pernikahan bukan ajang percobaan. Kita semua tahu bagaimana mama berjuang mempertahankan rumah tangganya, hingga akhirnya belajar mengikhlaskan, tidak mudah."
Kepala Agra mengangguk, ucapan Arvin benar adanya jika prosesnya luar biasa menyakitkan. Agra juga memiliki ketakutan yang sama.
"Seandainya ada Andra disini, keputusannya mutlak. Aku percaya apapun yang ad Andra katakan, tapi untuk sekarang sulit sekali mengambil keputusan." Agra membuka matanya.
"Andra akan kembali, mungkin dengan sayap yang baru."
"Sejak kapan Andra punya sayap?" Arvin menatap Naya yang langsung menendang kakinya.
Nay berdiri langsung melangkah pergi, satu, dua tiga, lima, hingga sepuluh tahun sekalipun selain kematian pasti ada kesempatan bertemu.
"Vin, kira-kira kita jadi bersaudara tidak?" Agra berlari mengejar Arvin dan Naya merangkul keduanya yang menatap tajam.
"Tidak," jawab Arvin menolak.
"Naya percaya Daddy akan mencintai Mama lebih dari apapun, dua orang yang memiliki pengalaman pahitnya hidup pasti akan memberikan yang terbaik agar tidak terjadi kegagalan lagi." Senyuman Naya terlihat meminta Arvin menerima tawaran Agra untuk bersaudara.
Kepala Arvin menggeleng, saat ada Mommynya saja masih bisa selingkuh. Lelaki hanya berjuang saja yang mengorbankan segalanya, tapi setelah dapat cari baru.
"Apa kamu seperti itu, Vin?"
"Gila Nay, apa aku tampang bajingan?" Arvin mengerutkan keningnya menjamin jika dirinya pria baik.
"Daddy juga sekarang jauh lebih baik, sejak tidak mengikuti perintah kakek lagi." Nay membela Daddy dan mendukung hubungan Daddy dan Mama untuk menikah.
Kepala ketiganya menoleh saat sebuah mobil membunyikan klakson, Mama binggung melihat tiga anak muda jalan kaki ke arah rumahnya.
"Kenapa kalian jalan kaki, di mana mobil?"
"Ya tuhan, ketinggalan." Arvin tepuk jidat menyalahkan Naya dan Agra yang tidak mengingatkan.
__ADS_1
Tawa Naya dan Agra terdengar, melangkah masuk ke dalam mobil Mama. Arvin menyingkir membiarkan mobil pergi.
"Masuk Vin," pinta Mama menghentikan mobil.
Pintu mobil terbuka, Arvin duduk di samping Mama yang menyetir. Mobil Arvin ketinggalan cukup jauh karena asik berjalan dan mengobrol.
"Ma, dari mana?"
"Baru pulang dari restoran, Mama ada bawa makanan."
Senyuman Agra terlihat, meminta mamanya mengurangi jam kerja apalagi seorang wanita pulang malam.
Kepala Arvin mengangguk, setuju dengan ucapan Agra terlalu berbahaya bagi seorang wanita.
"Ma, menikahlah. Agra akan menerimanya, setidaknya Mama punya teman dan ada yang mengkhawatirkan."
"Bicara apa Gra, Mama sudah tua, malu." Tawa kecil Mama terdengar meminta Agra tidak mencemaskannya.
"Jika mama malu, lalu bagaimana dengan Kakek?" Arvin geleng-geleng lebih malu lagi.
Tawa Naya sangat besar, memukuli punggung Arvin yang membandingkan dengan kakeknya.
Sugar Kakek yang menjadi incaran para wanita, meksipun tua selama banyak duitnya bukan masalah.
"Jangan bicara seperti itu Arvin, setiap orang punya cara untuk bahagia?"
"Apa Daddy baik-baik saja, Tante?" tanya Arvin.
"Tidak, dia tidak baik karena terlalu sibuk bekerja siang malam, bahkan tidak sempat tidur," jelas Mama.
Kepala Arvin dan Agra menoleh, bagaimana dua orang yang sibuk bekerja punya waktu untuk tahu keadaan masing-masing.
"Jangan salah paham Arvin, Daddy kamu hanya makan di restoran, dia sering lupa makan makanya Tante minta mampir."
"Yakin hanya makan, dia tidak menggoda Tante, jangan mau. Daddy bukan lelaki setia, kecuali jika dia jatuh miskin." Arvin meminta Mama Agra mengabaikan daddynya yang mencari perhatian.
Kanaya geleng-geleng karena Arvin lebih mencemaskan Mama Agra, dia tidak ingin wanita yang Agra cintai terluka, sama seperti Mommynya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1