
Makanan disiapkan di atas meja, Mama meminta Agra dan Arvin makan karena Mama ingin beristirahat.
Keduanya makan dengan lahap tanpa Naya karena langsung masuk kamar, tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun.
"Di mana Papa Lo sekarang, Gra?"
"Tidak tahu, dan tidak ingin tahu." Senyuman Agra terlihat menghentikan makanannya menatap Arvin yang terpaksa melirik.
Kepala Arvin terangkat, tidak mengerti arti pandangan Agra. Pukulan Arvin mendarat karena merasa geli.
"Aku pamit pulang," ucap Arvin mengambil kunci mobil Tante Mar yang sengaja ditinggalkan.
"Bicaralah dengan Daddy, Adik tiriku." Tawa Agra terdengar merasa geli.
Bulu kuduk Arvin terlihat berdiri, menggelengkan kepalanya tidak suka dipanggil adik oleh Agra.
Tawa Agra terpingkal-pingkal melihat Arvin kesal, dia tidak mau bersaudara. Masih saja keras kepala tidak mengizinkan daddynya menikah.
"Gue pulang," pamit Arvin berlari keluar rumah.
"Hati-hati Vi, sampai rumah hubungi Kakak." Agra tersenyum lebar.
"Jahil," tegur Mama.
Senyuman Agra terlihat, mengenggam tangan Mamanya. Pelukan Agra erat, meminta mamanya melupakan sosok papa yang dulu jadi kebanggaan Agra.
"Ma, Agra akan menerimanya, siapapun lelaki pilihan Mama."
"Kenapa bicara seperti itu, Mama bahagia sekarang."
"Emh, Agra tahu, tapi hati Agra tidak tenang melihat Mama kerja sampai malam, pulang kecapean, sedangkan Agra tidak punya waktu buat mama." Agra menerima pesan dari Prilly soal jadwalnya yang semakin padat.
Sebulan hingga tiga bulan belum tentu Agra bisa tidur di rumah, apalagi sedang ada promosi lagu terbarunya.
"Tidak apa jika Mama menikah lagi, Agra tidak keberatan?"
"Mama pacaran dengan Om Ar?"
Kepala Mama menggeleng, tidak membenarkan jika dirinya berpacaran. Tanpa seizin Agra tidak mungkin berani.
"Mama suka? Agra tahu Om ganteng, jika tidak mana mungkin Arvin populer," ujar Agra menggoda mamanya.
"Agra juga ganteng, tidak kalah dari Arvin." Senyuman Mama terlihat, mengusap wajah putranya.
__ADS_1
Tawa Agra terdengar, tahu jika dirinya juga tampan. Apapun yang membuat mamanya bahagia akan selalu Agra dukung.
"Ma, lupakan saja Papa. Berjanjilah untuk bahagia dan membuat lelaki itu menyesal, Mama kali ini tidak boleh gagal. Pilih mengikuti kata hati, Mama punya Agra, kembalilah kepada Agra kapanpun Mama mau." Jari kelingking Agra dan Mama terikat, janji anak lelaki tidak akan meninggalkan mamanya.
Tangisan Mama terdengar, memeluk erat Agra. Mengucapkan terima kasih karena Agra menjadi anak yang luar biasa bertanggung jawab.
Janji Mama akan memilih lelaki yang tepat, dan melupakan mantan suaminya. Saat ini melihat Agra sukses menjadi impian terbesarnya.
"Tidur sana, besok pagi jadwal langsung padat. Prilly bisa marah jika sampai terlambat."
"Iya Ma, Prilly memang suka sekali marah, Agra seperti anak kecil dibuatnya."
"Gra Gra, dia wanita yang mencintai kamu, dari dulu," ucap Mama pelan tanpa sempat Agra mendengarnya.
Pesan dari Arvin masuk mengatakan jika dirinya sudah sampai rumah, mengucapkan terima kasih atas mobil, besok pagi meminta bantuan penjaga karena tidak sempat mengembalikan langsung.
Arvin juga pamitan untuk melanjutkan pekerjaannya, mengucapkan terima kasih karena sudah banyak mensupport.
Suara memanggil terdengar, Arvin menutup layar ponselnya, melihat ke arah daddynya yang harus saja pulang.
"Daddy baru pulang?" tanyanya.
"Iya, kamu dari mana?" Daddy melangkah masuk diikuti oleh Arvin.
"Vin, kenapa ada mobil mamanya Agra?"
"Daddy hafal sekali?" Arvin membalik tubuhnya ke arah daddynya.
Langkah Daddy mendekat, mengusap kepala Arvin lembut. Daddy meminta Arvin jaga diri saat jauh darinya.
Jika dikirim keamanan pasti Arvin menolak dan tidak akan memaafkan daddynya seperti sebelumnya.
"Kenapa Daddy bekerja sampai larut malam, aku menjadi dokter bukan untuk melihat Daddy sekarat, maka atur jam kerja sebaik mungkin," tegur Arvin karena melihat daddynya kurus.
"Iya, Daddy akan berusaha mengaturnya, kamu jangan marah-marah terus."
"Menikahlah agar ada yang mengurus makan, tidur juga pekerjaan. Dulu Daddy tidak bisa membahagiakan Mommy, anggap saja jadi pelajaran, sekarang cobalah perbaiki diri." Arvin menyerahkan kunci mobil agar daddynya yang mengembalikan.
Kepala Daddy mengangguk, air matanya menetes. Usapan tangannya lembut ke arah kepala Arvin.
Tidak menunggu lagi, Arvin masuk kedalam pelukan Daddy-nya sambil menangis. Pelukan sangat erat karena merindukan Mommynya.
"Maafkan Daddy, Vin. Seharusnya aku yang mati bukan Mommy, Daddy tidak bisa membahagiakan anak satu-satunya Daddy." Tangisan terdengar memeluk erat putranya yang juga menangis.
__ADS_1
Kening Arvin dikecup lembut, Daddy memintanya tidur. Jika ada waktu Daddy pasti akan datang mengunjungi Arvin.
"Besok aku harus berangkat, daddy antarkan Arvin."
"Iya Nak, Daddy antarkan sampai ke sana."
"Jangan lupa bawa calon istri Daddy soalnya dia selalu mengirimkan obat kepada Arvin, padahal Arvin Dokter." Pintu kamar Arvin tertutup, meninggalkan daddynya yang tertawa pelan.
Senyuman Arvin terlihat menatap foto Mommynya, memeluk erat membawanya berguling di atas tempat tidur.
"Mom, Daddy sudah banyak berubah. Biarkan Daddy bahagia, sekarang Mommy juga sudah bahagia di sana." Mata Arvin terpejam.
"Vin, mandi dulu. Daddy punya baju baru untuk kamu, kemarin tidak sengaja melihatnya."
"Sudah tengah malam, Arvin sudah mandi di rumah Agra." Arvin meletakkan foto kembali membuka pintu kamarnya.
Paper bag diletakan di depan kamar, Arvin mengambil baju baru pertama dibelikan oleh daddynya.
"Sayang sekali dipakai." Arvin mencoba baju barunya yang terlihat sangat pas.
Pintu kamar terbuka, Arvin keluar kamar mencari Daddynya yang sedang duduk sendirian mengobati luka di tangannya.
"Tangan Daddy kenapa?" Arvin melihat sayatan pisau.
"Hanya tergores saat pergi ke pabrik pembuatan besi," jelas Daddy..
"Bohong, ini luka pisau. Kenapa Daddy pergi tanpa pengawal sudah tahu ini berbahaya." Arvin membersihkan darah yang mengering.
Tangan Daddy mengusap kepala Arvin, baju yang dibelikan terlihat sangat bagus. Tidak menyangka bahagia sangat sederhana.
"Vin, alasan Daddy tidak menikah karena takut kejadian Mommy terulang kembali. Daddy hidup selalu salah di mata banyak orang, kita melemah diremehkan, kita kuat dianggap jahat. Cukup Daddy saja yang berada dalam bahaya."
"Arvin sudah besar, lagian Daddy sudah melakukan yang terbaik. Jadilah seorang pemimpin yang disegani, bukan ditakuti. Pemimpin yang adik dan bijaksana bukan menjerumuskan. Menjadi pribadi yang lebih baik tidak mudah Dad," nasihat Arvin agar Daddy-nya tidak menutup diri.
Anggukan terlihat, Arvin sungguh dewasa. Dia begitu bijaksana dalam hal apapun. Dia layak menjadi dokter yang menyelamatkan banyak nyawa.
"Vin, kira-kira Agra mengizinkan tidak, bagaimana karakter Agra itu?" Daddy bisa menaklukan wanita, tapi tidak untuk anak lelaki.
"Dia jauh lebih jahat dari Agra, tidak mudah meluluhkan hatinya." Bohong Arvin agar Daddy-nya berjuang sendiri.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1