
Di depan kaca berdiri tiga wanita yang menggunakan gaun, tersenyum manis ke arah kamera.
"Apa ini pernikahan massal, kenapa mereka menjadi pengantin bersamaan?" Erin geleng-geleng kepala melihat tiga wanita sibuk berfoto.
"Rin, ayo foto." Prilly melambaikan tangannya.
"Tidak mau, aku malu rasanya seperti datang ke acara festival pernikahan."
"Kita cantik Rin, lebih baik kamu segera menikah," sindir Alis sambil tertawa.
Kepala Alis menggeleng, dia tidak tertarik sama sekali untuk menikah cepat, jalannya masih soal uang. Erin tidak akan menikah mengikuti jejak Naya, Prilly dan Alisha.
"Kamu akan menikah saat menemukan orang yang diyakini bisa hidup bersamanya." Naya juga pernah berpikir jika dia tidak akan menikah, tapi kenyataannya dia menemukan pasangan yang diyakininya.
Mami melangkah masuk, meminta semuanya bersiap karena tamu sudah berdatangan. Tersenyum manis melihat Alis, Naya dan Prilly menggunakan gaun.
Naya keluar lebih dulu, menatap Andra yang sudah menggunakan jas hitam menunggunya untuk naik pelaminan.
"Cantiknya istriku," goda Andra.
"Berarti selama ini aku jelek," ujar Naya merasa tersinggung.
"Oh no sepertinya aku salah." Andra menepuk lengannya.
Naya merangkul lengan Andra berjalan bersama memasuki pesta. Semua pasang mata melihat ke arah keduanya. Terpesona dengan kecantikan Naya.
"Beruntung Bu Naya bisa menjadi Nyonya AA grup," bisik beberapa orang.
"Wajar saja, mereka berdua sama-sama pekerja keras dan memiliki kemampuan yang hebat, jangan bermimpi menjadi seorang Kanaya."
Senyuman Naya terlihat, melihat banyak pasang mata menyaksikan membuatnya senang.
"Selamat Pak Andra, boleh foto?"
"Boleh, tapi jangan dekat dengan istriku." Andra tidak mengizinkan Naya bersebelahan dengan lelaki.
__ADS_1
Beberapa pasang mata melihat ke arah pengantin kedua, ada banyak dokter yang patah hati melihat undangan, berharap sebuah kebohongan jika Dokter Arvin menikahi dokter Alisha, Adik dari Andra.
Senyuman lebar Alis terlihat begitupun dengan Arvin yang merasa puas akhirnya bisa menikah dan disaksikan banyak orang.
"Jangan terlalu lama senyum itu, nanti gigi Lo kering." Tegur Andra kesal.
"Aku sedang bahagia, tidak ingin meladeni kegilaan kamu," balas Arvin santai berdiri di tempatnya.
Tamu Arvin dan Alis berdatangan mengucapakan selamat, Alis menyenggol Arvin agar tersenyum tidak bagus menujukkan wajah dingin di depan banyak orang.
Suara heboh terdengar saat pengantin ketiga muncul, kamera langsung diturunkan karena tidak diizinkan untuk menyorot pasangan selebriti.
"Oh gila, itu benar-benar Agra."
"Iyalah, ternyata mereka benar-benar sahabat, satunya selebriti, Dokter dan pengusaha, bukannya ini paket komplit." Tepuk tangan terdengar sangat meriah.
Tangan Agra dan Prilly terangkat menyapa, membungkukkan badan merasa bersalah karena tidak diizinkan untuk berfoto.
"Aku datang semua orang menatap takut, Arvin muncul menunjukkan wajah kecewa karena ditinggal nikah, sekali Agra yang keluar langsung heboh," ucap Andra merasa dirinya yang paling tidak mengharukan.
"Sadar diri Andra semua orang takut kepadamu," goda Naya merasa lucu melihat ekpresi Andra.
"Ternyata aku tampan sejak dulu." Andra bangga kepada dirinya sendiri.
"Kamu tahu alasan kita populer, itu karena aku." Agra menunjuk dirinya.
Kedua tangan Arvin terangkat, sadar diri jika dirinya hanya modal tampang. Tidak pernah tebar kebaikan seperti Agra, apalagi pamer otot seperti Andra.
Tawa semua orang terdengar, Naya yang paling bahagia karena masih bisa menjadi bagian dari tiga sekawan yang awalnya lawan, ternyata salah satu dari ketiganya menjadi teman hidupnya.
"Boleh aku berbagi cerita, ini kisah kami yang memiliki banyak kenangan, baik suka maupun duka. Saat ini mungkin hanya aku yang dikenal banyak orang, tapi dua sahabatku tidak kalah hebat, dukungan kepadaku sungguh luar biasa," ucap Agra yang memperlihatkan dirinya saat masih manggung di cafe sebelum terkenal.
Andra yang terlihat kasar selalu mensupport, membelikan gitar yang menjadi alat musik kesayangan Agra, tidak peduli ada berapa ribu kali putus tidak akan pernah dibuang.
Masih teringat jelas di kepala Agra saat sahabatnya Arvin membayar orang agar Agra bisa manggung di cafe besar, tapi Arvin tidak pernah mengatakan begitu besar dukungan dia.
__ADS_1
"Saat megeluarkan album pertama kali aku sangat takut tidak ada yang beli, tapi saat manager mengabari album terjual habis. Ketakutan itu bukan hanya aku yang merasakan, tapi Andra, Arvin, Alis, Naya dan Prilly membeli album itu secara diam-diam membagikan kepada orang agar aku terkenal." Air mata Agra menetes karena selama ini dirinya diam, tapi di dalam lubuk hati terdalam rasa terima kasih begitu besar.
Mama yang mendengar perjalanan anaknya meneteskan air mata, bersyukur dibalik ujian hidup ada banyak sahabat yang mengelilingi Agra.
Para tamu yang menyaksikan perjalanan Andra tertuang di dalam lagunya, merasa terharu karena persahabatan baik itu masih ada.
"Kenapa kalian semua menangis, itu hanya masa lalu sekarang dia lupa diri tidak mengajak kita berfoto lagi." Andra melirik sinis.
"Bukan aku lupa Dra, aku hanya menjaga privasi kalian. Saat penggemar aku tahu ada pengusaha tampan, Dokter tampan pasti ada hastag Kusuka dia, tapi ku mau dia." Tawa Agra terdengar melipat tangannya meminta maaf kepada Alis dan Naya.
"Aku rasa rumah sakit akan ramai seperti konser, penggemar kamu kumpul sakit semua." Kepala Arvin geleng-geleng tidak siap.
"Sepertinya jika aku terkenal bisa tambah kaya, sponsor banyak, saham naik, mungkin ada juga yang ingin bekerja sama." Andra tepuk tangan.
Senyuman bahagia terlihat, tidak menyangka satu hari bisa menjadi hari paling bahagia di dalam hidup.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Kanaya, tanpa dia mungkin perjalanan aku tidak akan seindah ini. Dia yang mengajarkan arti kuat dan bertahan, dia juga memberikan tempat berteduh ternyaman, menjadi sandaran tempat berkeluh kesah." Tubuh Arvin membungkuk mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena Naya sudah hadir di hidupnya.
Agra juga membungkukkan tubuhnya karena Kanaya mengajarkannya mencintai diri sendiri, merelakan lebih baik daripadanya ditahan namun menyakiti.
"Nay, aku tidak menyesal mengenal cinta itu tidak seharusnya memiliki."
"Cintai istrimu, lupakan istriku." Andra bertolak pinggang.
"Aku yang mengucapkan terima kasih karena kalian berdua membuat aku bisa bersama dia. Aku hanya gadis miskin, tidak memiliki keluarga, tapi dengan lancang jatuh cinta kepada pria bermahkota. Kini aku menemukan alasan untuk hidup, aku ingin bersamanya," ucap Naya menatap Andra penuh cinta.
Senyuman Andra terlihat memeluk Naya yang membuat Andra terharu. Baginya Naya juga keberuntungan terbesar dalam hidupnya karena sudah dipertemukan.
Ada banyak wanita cantik, banyak wanita sukses, tapi hanya Naya yang membuat Andra jatuh cinta.
"Jika aku lelaki bermahkota itu, maka aku akan memberikannya kepadamu."
"Pindahkan seluruh harta kamu atas namaku," pinta Naya.
Senyuman Andra langsung berubah manyun, bisa-bisanya Naya memikirkan harta di saat romantis.
__ADS_1
***
Novel ini akan segera TAMAT, digantikan cerita BIG BOS