
Teriakan Alis terdengar di depan rumah Naya, langsung masuk karena mengetahui sandi apartemen Naya yang memiliki kode paling konyol.
"Naya, Kak Nay. Alis pulang Kak, annyeong." Alis tertawa melihat Nay yang sedang berguling-guling di atas tempat tidur.
Terlihat sekali Naya sedang marah, semakin tua bukannya lebih baik, tapi bertingkah semakin kekanakan.
"Marah kepada siapa Kak?" Alis tiduran di samping Naya yang memejamkan matanya kesal.
"Tidak ada, kapan kamu pulang?"
"Kak Nay bertengkar dengan Kak Andra?" tawa Alis terdengar sudah bisa menduga jika Naya dan Andra tidak pernah akur.
Bahkan sudah lama berpisah masih sempatnya emosian. Nay juga semakin dewasa bertambah tipis kesabarannya.
"Andra sudah pulang ke rumah?"
Kepala Alis mengangguk, Kakaknya sudah kembali dan akan bergabung dengan perusahaan AA yang dulunya hampir bangkrut. Ambisi Andra semakin besar setelah berhasil mengembangkan beberapa perusahaan.
Tawa kecil Naya terdengar, memang benar jika Andra memiliki obsesi, masalahnya dia menyengsarakan para karyawan.
"Dia meminta kerja dua sampai tiga kali lebih baik, dan kurang ajarnya meminta meeting di jam pulang kerja. Akal sehatnya sudah hilang, dia pikir staf itu robot." Nay lebih kesal lagi karena Andra tidak mengenalinya.
"Kak Nay jangan lupa siapa Kak Andra, jika dia normal maka kalian akur, sikap Kak Andra yang dulunya emosian sekarang bertambah dingin." Alis meminta Naya semangat.
Hidupnya akan semakin kacau setelah Andra resmi enjadi pimpinan di perusahaan AA, manusia robot yang tidak memiliki waktu untuk beristirahat demi pekerjaan.
"Kak, ayo kita pergi ke rumah Kak Arvin, kabarnya dia sudah pulang." Alis memelas agar Naya bersedia pergi.
Kepala Nay mengangguk dia membutuhkan tempat yang cukup tenang agar bisa meredam emosinya.
Rumah Arvin yang luas jauh lebih baik untuk beristirahat dengan menatap malam yang dipenuhi bintang.
Lirikan mata Naya tajam, merapikan bajunya. Mengambil tas berjalan keluar apartemen, Alis tidak bisa menhan tawa melihat Naya yang masih emosian.
"Lis, apa wajah aku sudah berubah?"
"Ya, bertambah cantik, Naya juga pangling." Alis berkedip-kedip karena Naya memang jauh lebih cantik karena sudah bisa merawat penampilannya.
"Bukan itu, wajah ... Sudahlah." Nay masuk ke dalam mobil melihat wajahnya di kaca.
"Tidak ada yang berubah Kak Nay, pasti Kak Andra juga kenal, tapi tahu sendiri sikap sombongnya," ujar Alis menyakinkan Naya jika Andra sengaja mempermainkan.
__ADS_1
Senyuman Naya terlihat masam, meminta Alis segera menghubungi Prilly di aman dia berada.
Laju mobil Alis cepat, melihat mobil Erin juga lewat. Naya dan Alis saling pandang perempuan aneh yang tidak mau bekerja, sibuk keluyuran.
"Bukannya itu Erin?" Nay menatap ke arah mobil yang berhenti.
Terlihat dari kaca mobil yang transparan. Alis juga menghentikan mobil saat lampu merah bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil karena lampunya terang.
"Bukaannya dia bajingan yang suka gonta-ganti wanita?" Nay keluar dari mobilnya.
"Kak Naya jangan buat ribut di jalan, ini sudah malam Kak." Alis mengusap wajahnya.
Gedoran tangan Nay terdengar, kaca mobil terbuka, Nay menarik kerah baju karena melihat jelas Erin didekati. Lampu mobil yang terang dan kaca yang transparan menodai mata.
"Nay, kenapa?"
"Sialan, beraninya kamu mendekati Erin setelah menghamili anak orang, mau aku patahkan hidungmu?" Nay mencekik leher.
Tanagn Nay berusaha ditepis, tapi tenaga Naya jauh lebih kuat apalagi terbawa emosi. Erin juga meminta Naya melepaskan karena sudah lampu hijau, kendaran di belakang terus membunyikan klakson.
"Kak Nay," panggil Erin menjalankan mobilnya karena menyebabkan kemacetan.
"Buka pintunya," pinta Naya masuk ek dalam mobil.
"Anjing Lo ya, ada masalah apa sampai lancang melepaskan pukulan." Pacar Erin keluar dari mobil menarik tangan Naya untuk segera keluar.
Tampara kuat di wajah Naya, tendangan Naya tidak kalah kuat. Pertarungan terjadi di pinggir Jalan.
Teriakkan Erin terdengar menggema, tangisannya terdengar meminta Naya dan pacarnya berhenti. Alis memegang kepalanya karena pria yang Naya lawan seorang tentara.
Tangan Alis gemetaran, menghubungi kakaknya karena takut dipanggil pasukan tentara, Naya bisa babak belur.
"Kak, tolong. Nay bertengkar dengan tentara," ujar Alis yang takut.
"Di mana kalian, apa wanitaa satu itu masih gila?" teriakkan Andra terdengar.
"Bagaimana ini Kak, Naya tidak bisa dihentikan." Tangisan Alis terdengar memanggil Naya yang masih kuat.
Tubuh Erin langsung terduduk, meminta Naya dan pacarnya berhenti. Malu dilihat banyak orang karena keduanya sama kuat.
Tubuh pria yang Naya lawan terpental, kaki Nay ada di atas dada dengan tatapan tajam, sudah dirinya peringatan untuk tidak muncul di hadapannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu ikut campur?"
"Jika bukan Erin yang kamu dekati aku tidak peduli, setelah menghamili karyawan swasta, sekarang cari korban lagi," bentak Naya yang tahu siapa Bento.
"Kamu punya bukti, kepolisian saja tidak bisa membuktikan."
"Naya sudah, jangan diperpanjang lagi." Erin menarik tangan Naya untuk menjauh.
"Kamu bodoh, tolol, bego, punya otak tidak? Sesekali gunakan otak kamu Rin, sudah tahu pria bajingan masih dipertahankan. Kamu berharga Rin, kita hanya ingin melindungi kamu, jika dia orang baik tidak Daddy dan aku sekeras ini." Naya memegang pundak Erin memintanya sadar sebelum melangkah semakin jauh.
Kepala Erin tertunduk, meminta maaf. Dia sudah berusaha untuk berpisah, tapi bento terus menahannya sampai mengancam akan membuat celaka keluarga Daddy.
Bento mengancam akan membuat Daddy di penjara karena dia pernah menjalankan bisnis ilegal beberapa tahun lalu.
"Masuk mobil sekarang," pinta Naya.
Tatapan mata Bento tajam, mengambil batu melempar ke arah kepala Naya. Teriakkan Alis terdengar, Erin juga teriak histeris.
Kanaya terduduk memegang kepalanya, Bento berlari meninggalkan lokasi, tangan Alis gemetaran mematikan kameranya yang sengaja merekam keributan.
"Naya, kepala kamu berdarah?"
"Aku tidak bohong soal Bento bajingan, orang miskin seperti aku tidak punya kuasa melawan orang berpangkat, tapi aku tidak bisa diam saja melihat kamu tersakiti." Naya mengusap darah memastikan dirinya baik-baik saja.
Tangisan Erin terdengar, memegang kepala Naya yang mengalirkan darah. Bahkan baru yang digunakan juga merah.
"Kak Andra, bantu." Alis melambaikan tangannya.
Andra berlari melihat kepala Naya megeluarkan darah, melepaskan jaketnya untuk menutupi luka.
"Aku baik-baik saja, kita pulang ke apartemen," pinta Naya.
"Ke rumah sakit sekarang, sayang jika darah kotor banyak keluar," sindir Andra pelan.
"Darah apa?" Naya sangat yakin mendengar dengan jelas.
Tubuh Naya digendong, kedua tangan Naya melingkar di leher. Mata Naya tidak berkedip karena merasa seperti mimpi bisa melihat Andra sedekat ini.
"Beratnya, ini manusia atau sapi?"
"Sapi, kamu bilang aku sapi?" Naya melotot tajam.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira