
Di dalam kamar Agra, Andra hanya bisa geleng-geleng karena apa yaang dilihatnya sungguh diluar akal sehat.
"Istirahat Dra, lelah seharian." Agra melemparkan bantal guling.
"Sajak kapan Lo tinggal di sini?"
"Enam tahun yang lalu, kolektor datang menyita rumah, Papa jual rumah tanpa sepengetahuan kita," jelas Agra karena dia harus melihat Mamanya diusir.
Daddy mengizinkan tinggal di rumahnya, tidak ingin Agra salah paham akhirnya jarang pulang. Agra mencoba bicara dengan Arvin karena kedua orangtuanya tidak nyaman jika tanpa restu anak.
Saat Arvin mengizinkan keduanya menikah begitupun dengan Agra, barulah menikah dan Daddy pulang ke rumah.
"Saat aku pulang ke rumah ini nyasar ke rumah tetangga karena beda." Tawa Arvin terdengar meletakkan tiga minuman.
"Wajar saja, aku juga pangling, rumah ini sudah mirip istana, mana keamanan tidak banyak seperti dulu."
"Berada di tangan Mama, anak-anaknya lupa rumah, jika tidak menghubungi Mama pasti tidak ketemu." Senyuman Arvin terlihat.
"Bagaimana rasanya kalian berdua menjadi saudara?"
"Biasa saja, kita sejak muda sudah saling kenal, bersahabat juga, tinggal bersama menjadi hal menyenangkan. Jika Daddy minta pulang, apapun kesibukan harus pulang, atau tidak Daddy sama Mama ke tempat Arvin, aku nyusul begitu saja," jelas Agra menyerahkan minuman.
Kepala Andra geleng-geleng, sungguh unik dan sulit dipercaya, bisa-bisanya menjadi saudara.
Ketiganya duduk santai di balon, menghabiskan minuman, Arvin beberapa kali mengambil botol tanpa sepengetahuan daddynya.
"Vin berhentilah, kamu sudah mulai mabuk. Lagian mana ada dokter yang hobi mabuk-mabukkan," tegur Agra menatap adiknya yang sempoyongan.
Senyuman Andra terlihat meneguk minumannya, Andra cukup kuat minum tidak mampu Arvin imbangi.
"Dra, kenapa Lo pergi tanpa kaba?" Arvin melototkan matanya, perlahan matanya mulai terpejam.
"Aku tidak ingin bahas masa lalu." Andra mengambil botol kelima.
"Apa kamu punya pacar Dra?" tanya Agra yang mulai oleng juga..
"Ya, kita sudah bertunangan." Andra menunjukkan cincin meskipun pertunangannya belum diadakan secara resmi.
Mata dua saudara tiri terbuka, tidak percaya dengan ucapan Andra, memegang tangan melihat cincin yang memiliki nama.
Tangan Agra juga menyentuh, masih tidak percaya jika yang dilihatnya benar, tidak mungkin Andra memiliki kekasih di tengah kesibukannya.
"Bagaimana mungkin?"
"Dia wanita yang mendampingi aku selama delapan tahun, kita berjuang bersama membangun usaha hingga sebesar sekarang," jelas Andra yang memutuskan untuk segera menikah.
__ADS_1
"Tidak ada seseorang di masa lalu kamu?"
"Suda hilang, saat melihatnya kembali aku sadar perasaan itu sudah hilang." Andra mengangguk pelan karena dia sudah memutuskan gelang.
Selama ini Andra merasa perasaannya salah, tapi ternyata bukan perasaanya yang salah, tapi merasa tidak puas pergi tanpa mengungkapkan perasaannya.
"Yakin Dra, pasti kamu salah." Arvin merasa sedih melihat cincin Andra karena Naya menunggu delapan tahun tidak ada hasil.
Dari balkon sebelah Naya mendengar obrolan tiga pria yang sedang mabuk berat. Tatapan mata Naya ke arah gelangnya yang masih melingkar dipergelangan.
Senyuman Naya terlihat karena tidak seharusnya dia masih menunggu seseorang yang sesungguhnya tidak menginginkannya.
Senyuman Naya melihat ke arah tangannya masih melingkar di pergelangan tangannya gelang pemberian Andra.
"Kenapa aku merasa sedih? Sudahlah Naya, fokus saja dipekerjakan." Senyuman Naya terlihat duduk manis menatap malam.
Suara tawa tiga pria yang sedang mabuk terdengar, mengobrol panjang lebar. Andra menceritakan sosok wanita yang selalu bersamanya.
"Wow, dia cantik." Agra menatap seorang wanita yang sangat cantik melebihi aktris.
"Iyaya, dia memang cantik, hebat juga kamu memilih Dra." Arvin melihat foto kebersamaan Andra dan kekasihnya.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?"
Kepala Andra menggeleng, dia tidak berpacaran, tapi memang selalu bersama sampai akhirnya Andra memutuskan untuk bertunangan.
Tarikan napas Andra terdengar, dia sudah memperkenalkan dengan kedua orangtuanya, Mami dan Papi setuju saja dan membiarkan Andra memutuskan kapan dirinya ingin menikah.
"Kalian berdua punya pacar?" tanya Andra balik.
Arvin menggeleng, dia tidak punya waktu untuk berpacaran. Terlalu sibuk bekerja membuatnya tidak ada kenalan.
Ada banyak rekan sesama dokter, tapi Arvin tidak ingin memiliki pasangan sesama Dokter. Waktunya sudah sibuk, tidak ingin pasangannya juga sibuk.
"Kasihan dengan anak-anak jika kedua orangtuanya sibuk."
"Kamu Gra?"
Kepala Agra menggeleng, merasa dirinya belum puas dengan karirnya. Memiliki pasangan juga tidak mudah karena banyaknya penggemar.
Perusahaan juga memiliki peraturan, tidak mungkin Andra mengorbankan karirnya demi cinta yang belum tentu naik pelaminan.
Suara Arvin mengorok terdengar, dia sudah terlelap tidur. Agra juga berguling di lantai memejamkan matanya.
"Gra ambilkan aku air putih," pinta Andra.
__ADS_1
"Ambil sendiri," balas Agra.
Tepaksa Andra keluar dalam keadaan mabuk, berjalan pelan mencari dapur. Terlihat dari kejauhan Naya membawa minuman.
"Minta." Andra berjalan ke arah Naya mengambil minuman langsung menghabiskannya.
Tatapan mata Naya tajam, memutuskan gelangnya dihadapan Andra, menarik telapak tangan Andra.
"Aku kembalikan, buang saja." Naya melangkah pergi di tengah malam karena harus ke apartemen.
Gelang digenggam kuat, Andra berjalan ke dapur untuk minum air putih. Menatap gelang yang dikembalikan.
"Kenapa masih disimpan?" Andra menarik napas panjang.
Mobil yang menjemput Naya binggung, tidak biasanya Naya pulang dari rumah Arvin langsung menginap.
"Ada masalah Nay?" tanya supir yang mengantar pulang.
"Tidak ada, tapi perasaan Nay juga tidak nyaman." Mata Naya terpejam, hatinya sakit sekali menerima kenyataan jika dirinya tidak sepantasnya mempertahankan sesuatu yang tidak mampu dimiliki.
Sia-sia menahan rindu, tapi yang diharapkan mencintai orang lain. Jatuh cinta memang sesakit itu.
"Tidak akan aku mencintai orang lagi, perasaan ini terlalu menyakitkan," batin Naya tidak siap untuk terluka.
Sampai di apartemen Kanaya langsung masuk ke apartemen, menatap bangunan yang dulunya hangat, sekarang hambar.
"Buat apa aku mempertahankan tempat ini, harapan bisa mempertahankan kenangan, tapi kenyataannya hanya aku yang bertahan." Bibir Naya manyun, rasanya ingin menangis kecewa.
Di dalam apartemen hanya bisa memejamkan mata memeluk kedua lututnya, rasanya kecewa sekali mendengar pernyataan Andra.
Tubuh Naya terguling, memejamkan matanya. Saat terbangun dia akan menjadi Naya yang mandiri.
Panggilan di ponselnya terdengar, Naya tidak ingin melirik karena bukan jam kerja. Terlalu berisik dan menganggu karena suasana hatinya tidak baik.
Suara panggilan tidak bisa berhenti, Naya mengumpat mengambil ponselnya langsung dijawab.
"Bu Nay di mana, ada masalah di kantor. Komputer beberapa staf tidak bisa terbuka," lapor staf yang kebingungan.
"Kalian tahu sekarang jam berapa? apa pantas menghubungi jam segini." Naya terdengar marah.
"Bu, ini sudah jam sembilan pagi," ucap karyawan yang tidak enak hati.
Mata Naya terbelalak besar, langsung melihat jam. Teriakkan Naya terdengar bergegas ke kamar mandi untuk segera mandi.
Suara benturan kita di kamar mandi terdengar, Kanaya memegang kepalanya melihat keningnya benjol.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira