
Suara Alis berteriak menggema, merasa kesal dengan berita yang dirinya dapatkan jika Agra akan dinikahkan dengan Erin yang baru saja putus dari Arvin.
"Arvin, keluar." Alis berteriak sangat besar membuat Arvin membuka pintu.
Tendagan Alis melayang, menjambak rambut Arvin karena menyebabkan Agra dalam masalah karena ulahnya yang membatalkan pertunangan dengan Erin.
"Kenapa kamu memukuli aku?" kedua tangan Arvin memegang pergelangan tangan Erin untuk tidak membuat masalah dengannya.
"Agra harus bertunangan dengan Erin gara-gara kamu!"
"Enak saja, jangan asal bicara Alis." Arvin mendorong tubuh Alis sampai ke ranjang karena mengamuk.
Kepala Andra geleng-geleng melihat Alis dan Arvin lempar-lemparan sampai kejar-kejaran. Rambut Arvin sampai berantakan karena kemarahan Alis.
"Kenapa anak berdua ini? sudah tua masih bermain kejar-kejaran."
"Andra hentikan adik kamu! jangan sampai aku membanting dia." Arvin teriak kuat menatap Andra yang langsung menarik tangan Alis yang menjambak kuat rambut Arvin.
"Kamu kenapa Alis mirip orang gila?" Andra membentaknya dengan kasar apalagi seisi apartemen berhamburan.
"Gila kamu Alis!" Tangan Arvin mengusap kepalanya yang sakit dipukuli.
Alis baru saja mendapatkan kabar jika Erin menyatakan jika dia dan Agra akan bertunangan juga menikah saat mereka lulus kuliah.
Awalnya Alis tidak percaya, tapi papanya mengatakan hal yang sama jika mamanya Agra sudah menandatangi surat perjodohan keduanya.
Tangan Andra terangkat ingin sekali memukul kepala adiknya yang hanya tahu soal cinta, tanpa memahami arti cinta sesungguhnya.
Tatapan Andra tajam, pertunangan Agra dan Erin tidak ada sangkut pautnya dengan Arvin. Keduanya bertunangan mengatasnamakan bisnis.
Mama Agra ditipu rekan kerjanya sendiri mencapai milyaran, bisnisnya juga mengalami kebangkrutan karena gagal dalam target.
"Apa Kak Agra menyetujuinya?"
"Tentu saja tidak, tapi apa yang bisa dia perbuat." Andra yakin Agra tidak akan bisa menghindar.
__ADS_1
Air mata Alis menetes, dia akan meminta Papinya untuk membantu perusahaan keluarga Agra. Pertunangan bisa dibatalkan, dan Alis akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan Agra.
"Tidak perlu ikut campur Lis, Agra itu laki-laki yang memiliki akal sehat. Dia tahu apa yang terbaik bagi keluarga, kamu juga sebagai wanita harus punya harga diri. Mencoba menyelamatkan laki-laki dan menyudutkan keluarga kita." Peringatan Andra terdengar jelas, tidak menyukai sikap Adiknya yang mencintai sahabatnya, padahal Agra tidak memiliki rasa.
Kepala Arvin tertunduk, merasa kasihan dengan Alis yang sejak kecil mengagumi Agra dan selalu penuh percaya diri jika Agra miliknya.
Sikap tegas Andra tidak salah, namun tindakan Alis juga bisa Arvin pahami jika hatinya terluka.
"Ndra, jangan terlalu keras keras kepada Alis," ucap Arvin pelan.
"Dia terlalu berlebihan dalam mengagumi seseorang, aku tidak akan membiarkan dia ikut campur." Tatapan mata Andra tajam, tidak menyukai cara Adiknya bersikap.
"Kamu belum tahu rasanya jatuh cinta, sehingga bisa berpikir semuanya berlebihan. Nanti saat jatuh cinta baru tahu rasanya tidak ingin kehilangan, bahkan rela melepaskan keluarga yang tidak menyetujui hubungan." Tangan Arvin menepuk pundak Andra, berjalan ke luar mengejar Alis yang sedang patah hati.
Helaan napas Arvin terdengar, menatap ke belakang melihat langkahnya berjalan mengikuti Alis cukup jauh.
"Ingin ke mana wanita satu ini? menangis sepanjang jalan." Kepala Arvin geleng-geleng, ada rasa menyesal mengikuti Alis yang putus cinta.
Teriakan Alis terdengar, membalik badannya melihat Arvin yang berbalik juga menghindari Alis tidak ingin dia mengamuk.
"Ini juga sebenarnya menyesal," ujar Arvin berniat balik lagi.
Air mata Alis masih menetes menjadi pusat perhatian banyak orang yang lewat, Arvin menyerahkan pergelangan tangannya yang menggunakan baju panjang untuk tempat Alis mengusap air matanya.
Sejak kecil mengenal Alis membuat Arvin tidak tega, dia satu-satunya si kecil yang selalu membuntuti mereka bertiga sejak kecil.
Andra selalu memarahinya, tapi ada Agra yang membelanya. Tidak heran jika Alis bergantung kepada Agra.
"Lis, tidak semua cinta harus bersama. Kamu harus mengalami patah hati agar tahu cinta sejati." Suara lembut Arvin terdengar menatap lengannya yang basah.
"Alis dan Kak Agra juga cinta sejati," ucapnya percaya diri.
Hidup Agra sedang diuji, bukan soal hilang kemewahan, tapi kehilangan sosok orang tua yang utuh.
Melihat kedua orangtuanya bercerai bukan hal yang mudah, namun itu pilihan yang harus diambil jika keduanya tidak bisa bersama.
__ADS_1
"Mama Agra terlalu terobsesi soal harta, sedangkan Papanya terlalu mencintai dunia musik. Keduanya tidak sejalan lagi setelah menjalani bahtera rumah tangga selama puluhan tahun," jelas Arvin perlahan.
"Mami sama Papi tidak, mereka masih saling mencintai." Alis duduk di taman, mengusap matanya.
"Ya, tapi kedua orang tua kamu tidak memiliki banyak waktu bersama keluarga kecilnya. Papi kamu sibuk di luar negeri, dan Mami sibuk juga. Harapan kamu hanya Andra, jika dia juga sibuk maka kamu akan kesepian." Arvin sudah melihat jika Andra akan segera meninggalkan kebebasannya.
Mereka bertiga berada di masalah yang berbeda, juga sangat rumit. Andra yang sibuk dengan bisnis, mungkin akan menggila seperti Papinya.
Agra yang berada di pilihan sulit harus memilih, bersama Mamanya dan menjalani tuntunan.
"Lalu bagaimana dengan Kak Arvin setelah dikeluarkan dari keluarga?"
"Aku tidak memiliki masa depan, dan masih belum tahu apa yang harus dilakukan kedepannya." Kepala Arvin menggeleng, dia tidak memiliki arah yang paling tepat.
"Kak Arvin sangat pintar, kenapa tidak menjadi dokter saja? Alis hanya memiliki mimpi menjadi Ibu rumah tangga, menjaga anak-anak Kak Agra." Tangisan Alis terdengar kembali.
Tawa Arvin terdengar, Alis sudah remaja belasan tahun yang seharusnya sudah berpikir dewasa, bisa menyingkapi masalah percintaannya yang tidak baik.
"Apa di dalam otak kamu hanya ada cinta? bagaimana tanggapan Papi kamu?"
"Terserah. Pokoknya aku tidak akan membiarkan Erin merusak masa depan Agra. Dia harus menjadi musisi yang hebat sampai dikenal seluruh dunia." Bibir Alis monyong, begitu yakin dengan pilihannya.
Kepala Arvin hanya bisa geleng-geleng, terserah Alis saja. Dia tidak ingin tahu, karena percintaan Arvin saja tidak jelas.
Menyukai Naya, tapi rasanya terlalu sulit bersama. Avin tidak ingin Nay, harus ikut dirinya berjuang.
Kehidupan Naya tidak akan baik jika terus mengikuti jejak Arvin yang masih merintis ulang bisnis Mommynya yang sudah lima tahun dinonaktifkan.
"Kak Arvin melamun? bagaimana kisah cinta Kak Arvin dan Naya?"
"Tidak tahu, aku tidak terlalu yakin jika cinta ini bisa bersama. Naya wanita yang baik, cantik juga memiliki pesona. Aku takut benar-benar jatuh cinta lalu diusir." Arvin langsung mengerutkan keningnya karena Naya suka mengancam.
Tawa Alis terdengar, mengejek Arvin yang takut dengan Naya yang ahli bela diri.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira