
Suara ketukan jari jemari Nay terdengar membuat beberapa mahasiswa melihat ke arahnya, bahkan dosen pengawas ujian juga menatapnya tajam.
Naya sedang menunggu bel berbunyi, dia sudah bosan menunggu di kelas yang membosankan.
Senyuman terlihat, Naya langsung berlari membawa tasnya untuk segera keluar.
Setelah menyelesaikan ujian Nay keluar dengan penuh percaya diri, tersenyum melewati setiap lorong.
Langkah Nay terhenti saat melihat manusia pemarah ada di depannya, Naya kebingungan mencari tempat untuk bersembunyi agar tidak berpapasan.
Perlahan Nay melangkah ingin melewati Andra, berpura-pura tidak melihat agar tidak ada keributan.
"Naya," panggil Andra.
"Hai, Andra. Aku tidak melihat kamu." Nay nyengir menunjukkan giginya yang putih.
"Buta kamu." Andra melangkah bersama Naya menuju ke parkiran.
"Ada apa? kamu ingin berkelahi lagi?" Kening Nay berkerut, bibir monyong. Nay yakin Andra ada niat busuk.
"Kamu akan terkena masalah lagi, kali ini tidak mungkin selamat." Mata Andra terarah kepada Prilly yang melangkah mendekati mereka.
Tangan Nay menarik baju Andra, menatapnya tajam. Meminta Andra mengatakan sesuatu. Arvin selalu membuat Naya berada dalam masalah, selesai Kakek sekarang tidak tahu siapa lagi yang mengincar Naya.
"Apa lagi yang Arvin lakukan?" Nay langsung lemas.
"Dia mengakui kepada Daddy-nya jika kamu hamil." Andra menahan tawa.
Pukulan Naya kuat menghantam perut Andra yang langsung terduduk, merasakan sakit karena pukulan. Wajah Andra meringis kesakitan.
Tatapan dingin Prilly terlihat, tanpa banyak basa-basi langsung mengutarakan tujuannya datang menemui Naya.
"Nona muda, silahkan ikut saya untuk pergi ke rumah Tuan muda."
"Sakit ini anak." Nay menyentuh kening Prilly.
Andra langsung tertawa, nada bicara Prilly memanggil Nona muda terdengar aneh bagi Andra.
"Silahkan masuk mobil Nona."
"Tidak mau." Nay melangkah ingin pergi mengikuti Andra.
Prilly menahan tangan Naya, jika Nay tidak ingin pergi secara baik-baik maka Pril harus memaksa.
__ADS_1
Tatapan Naya tajam, sungguh dirinya lelah berurusan dengan keluarga Arvin apalagi banyaknya bodyguard yang membuat darah tinggi.
"Dra, jika 1x24jam aku tidak kembali berarti mereka menyakiti aku, kamu menjadi saksinya." Nay melangkah berjalan bersama Prilly menuju mobil yang sudah disiapkan.
Andra menatap tajam, langsung mengirimkan pesan kepada Arvin soal penjemputan Aliya secara memaksa.
Andra sangat yakin, Daddy Arvin sudah mengetahui soal Naya yang dikabarkan berpacaran dengan putranya.
Tatapan Nay tajam melihat Prilly yang hanya duduk diam, dia lebih dingin daripada Arvin.
"Siapa yang meminta aku datang?" nada bicara Naya sangat pelan, menepuk pundak Prilly.
"Kamu akan tahu jika sudah tiba di sana."
Mobil memasuki sebuah rumah yang sangat besar, tapi berbeda dengan rumah Andra yang terlihat menenangkan. Terlihat juga desain modern.
Tempat tinggal Arvin berbeda, rumahnya memang besar, sangat luas, terlihat tradisional, juga terlihat sangat dingin sama seperti para penghuninya.
Prilly mempersilahkan Nay untuk melangkah masuk, tatapan Nay berkeliling melihat seisi rumah yang sangat rapi.
Barang-barang antik tersusun rapi, masih sangat menjaga barang kuno. Suasana rumah juga sedikit gelap, hanya menggunakan penerangan kecil.
Desain rumah sangat mirip rumah kerajaan, Naya sangat yakin barang kuno yang tersusun pasti memiliki harga yang sangat luar biasa mahalnya.
Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga, Nay bisa mendengar, tapi sengaja tidak menoleh.
"Kamu sudah tahu jika Arvin memiliki tunangan?" nada kasar terdengar, menatap Naya seperti merendahkan.
Nay diam saja tidak menjawab, melihat secara langsung sosok Daddy yang sangat keras dalam mendidik anak, sehingga Arvin menjadi orang yang pendiam, juga sangat memberontak.
"Kamu harus tahu diri, perbedaan kalian berdua sangat jauh." Ayah Arvin meminta Naya peka akan status mereka, suka tidak suka Naya harus menjauhi putranya.
Mendengar kata menjauhi sungguh lucu bagi Naya, dia tidak pernah meminta dekat dengan siapapun, tapi Arvin yang membuatnya terlibat.
"Apa yang kamu inginkan dari Arvin?"
"Entahlah, aku tidak tahu apa yang aku inginkan. Sebelum anda mempertanyakan kepada saya, coba pastikan terlebih dahulu siapa yang mendekati dan didekati." Nay tersenyum sinis, tatapan tajam membalas pandangan Daddy Arvin.
Sebuah cek dilempar ke arah Naya, memintanya menulis berapapun nominal yang Nay minta akan segera diberikan.
Nay mengambil cek, melihat secara langsung cek asli. Senyuman Nay terlihat langsung memasukkan dalam tasnya.
Suara tawa terdengar mengejek Kanaya, wanita miskin yang mendekati anak-anak kaya hanya untuk meminta uang.
__ADS_1
"Cek tadi akan aku serahkan kepada Arvin agar dia bisa menulis jumlah dan menjauhi saya, dan satu hal lagi ...." Naya melangkah mendekati Ayah Arvin, menatapnya tajam.
Sungguh keluarga aneh, hidupnya terlalu kampungan karena tidak tahu arti persahabatan juga kebebasan.
"Om menyelidiki keluarga saya, bahkan rumah. Jangan pikir aku tidak tahu betapa buruknya akhlak orang-orang kaya seperti kalian yang bermain-main dengan uang." Tatapan Naya tajam, tidak takut sama sekali kepada ayah Arvin.
Suara teriak Arvin terdengar, langsung menarik tangan Nay untuk menjauhi Papanya.
"Kenapa kalian selalu mengatur hidup Arvin?"
"Arvin sadarlah, dia tidak ada untungnya untuk kita, jangan membuang waktu dengan orang yang tidak bermanfaat bagi keluarga kita." Suara kemarahan mulai terdengar.
"Sampai kapanpun Daddy tidak pernah mengerti Arvin." Kepala Avin menggeleng langsung menarik tangan Naya untuk segera pergi dan membiarkan Papanya.
Naya sedikit terkejut melihat kedatangan Arvin, apalagi tatapan matanya penuh kemarahan. Terlihat sekali hubungan ayah dan anak yang tidak akur.
Hidup Arvin dikekang, harus mengikuti peraturan keluarga tidak memberikannya ruang kebebasan, apapun sudah dalam aturan, bahkan hidup Arvin.
Dia hanya boleh berhubungan dengan orang yang sudah terikat dengan keluarga, harus memiliki hubungan baik dan saling menguntungkan.
Peraturan dan sikap keras Daddy dan kakeknya membuat Arvin lelah, dia selalu dituntut menjadi apa yang Daddy-nya sudah bentuk.
Tidak peduli perasaan Avin, bahkan pendapat Arvin tidak pernah diterima sehingga dirinya memiliki memberontak.
"Arvin berhenti!" suara teriak sangat besar dan penuh amarah terdengar.
Nay menoleh ke belakang, sedangkan Arvin tidak memperdulikan panggilan. Telinganya tidak ingin mendengar kemarahan Daddy-nya.
"Arvin, Daddy melarang kamu keluar rumah." Sebuah Vas bunga langsung melayang ke arah kepala Avin.
Beruntungnya Naya menyadari langsung menarik tangan Avin untuk menghindar, vas bunga pecah berhamburan di lantai.
Avin langsung melihat ke arah Naya yang sangat terkejut, bukan hanya mereka berdua yang terkejut, tetapi orang seisi rumah.
Prilly sampai berlari melihat pecahan vas, melihat Tuan mudanya yang mencengkram kuat tangan.
Ayah Avin lebih tajam lagi tatapannya, tidak ada rasa penyesalan sama sekali jika vas melukai kepala Putranya.
Naya juga menatap tidak kalah tajam, melihat seorang Ayah yang membahayakan nyawa putranya sendiri.
"Bajingan, kamu lelaki sialan. Manusia tidak punya otak. Brengsek!" Naya berteriak kuat.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira