
Suara Alis marah-marah terdengar, dia sangat khawatir sampai meninggalkan restoran, seenaknya Arvin cengengesan menyambut.
"Apa maksudnya tulisan ini, apa kamu melakukannya untuk balas dendam?" tanya Naya menujukkan secarik kertas.
Arvin mengambilnya dan membaca ulang, selama ini dia merencanakan niat busuk dengan menghacurkan bisnis kakeknya, tapi rencananya kurang disetujui.
"Vin, aku tahu sakitnya kamu kehilangan sosok ibu, tapi jangan sampai rasa kehilangan mengubah kamu menjadi pendendam." Kanaya tahu rasanya tidak memiliki orang tua, tahu sakit sakitnya tidak memiliki tempat untuk pulang.
Ditanyakan perasaan sehancur apa pastinya sangat hancur, sesakit apa tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.
"Kita memiliki cara yang berbeda dengan kehilangan, tapi rasanya sama. Sakit, sepi, marah, kecewa, tidak terima, berharap waktu berhenti, bahkan ingin kembali ke masa masih bersama, masalahnya itu tidak terulang lagi Vin." Naya menundukkan kepalanya merasakan kesedihan yang dalam.
"Nay benar. Aku juga tidak memiliki orang tua, seorang anak lahir dari satu ibu dan ayah, tapi aku tidak melihat keduanya." Kedua tangan Prilly saling menggenggam, menahan air Matanya.
"Aku memiliki orang tua yang utuh, tapi terpisah. Aku dipaksa memilih salah satunya, tapi tidak apa karena mereka berhak bahagia." Agra menundukkan kepalanya karena dirinya juga merasakan kesedihan.
Alis mengusap air matanya, dia yang paling beruntung karena memiliki dua orang tua utuh, saling mencintai, dan mensupport sesibuk apapun orang tuanya.
"Maafkan aku, sekarang aku akan belajar menjadi lebih baik. Terima kasih teman-teman." Arvin tersenyum karena sangat beruntung memiliki teman yang serasa seperti keluarga.
"Tuan, jangan lakukan itu. Jika tuan mendekati lagi, maka mereka akan datang memaksa agar tuan kembali. Prilly sudah nyaman dengan kehidupan kita yang sekarang."
Kepala Arvin mengangguk, memeluk foto Mommynya karena dirinya hanya pergi untuk mengucapkan selamat tinggal, dan membawa mommynya pergi.
Arvin menemui daddynya, mengucapkan salam perpisahan, memohon agar daddynya tidak datang lagi, apalagi menyakiti teman-temannya.
Semuanya tersenyum, memeluk Arvin yang akhirnya melepaskan kepergian mommynya setelah bertahun-tahun lamanya.
Dirinya ingin hidup tanpa beban, tidak ingin berada di dalam luka tanpa obat. Mati tidak, tapi menyakitkan.
"Mommy, Arvin ikhlas. Mommy tenang di sana, tidak peduli apa yang terjadi, saat ini Arvin bahagia Mom. Maafkan Arvin tidak bisa melakukan balas dendam atas kepergian mommy," batin Arvin mengusap wajah mommynya.
Melihat Arvin tersenyum lebar melegakan hati Andra, sedikit kecemasannya berkurang. Dia tahu jika Arvin bisa bebas dengan mudah apalagi dia anak tunggal.
Pintu tertutup perlahan, Naya melihat punggung Andra yang melangkah pergi. Panggilan Naya terdengar meminta Andra berhenti.
"Dra, kenapa kamu basah?" tanya Naya membawakan switer.
__ADS_1
"Bukan urusan kamu," balas Andra.
Tangan Naya menyerahkan switer, Andra mengambilnya. Membuka baju tanpa peduli ada Naya.
"Balik badan Naya, kenapa kamu menatap tanpa berkedip?"
"Salah sendiri ganti baju di depan mata."
Senyuman sinis Andra terlihat, mendengar Agra memanggilnya untuk ganti baju karena Andra terjatuh sampai basah kuyup.
"Dra, cepatlah masuk."
"Bukannya menawari dari tadi, sudah tahu dingin." Andra melangkah masuk meninggalkan Naya.
Tatapan mata Naya melihat mobil mewah yang memperhatikan apartemennya. Nay sangat yakin bukan Daddynya Arvin, tapi seseorang yang lebih tua.
Langkah Naya mendekati mobil secara diam-diam, penasaran siapa yang datang pastinya bukan niat baik.
"Kakek," panggil Naya.
Pria tua yang ada di dalam mobil kaget karena keberadaan diketahui seseorang, Naya tersenyum manis mengucapkan selamat malam.
"Kakek mau masuk, bicara langsung dengan Arvin secara baik-baik, dia pasti akan mendengarkan." Naya mempersilahkan karena menyambut baik tamu.
Wajah tua yang menunjukkan amarah, Naya sadar yang paling jahat dalam keluarga bukan Daddy Arvin, tapi kakeknya.
Kegagalan yang dilakukan bawahan Daddy Arvin membuatnya turun tangan untuk membawa Arvin kembali.
"Apa kamu pikir Arvin bisa bertahan dengan bisnis kecilnya, aku bisa menghancurkannya dengan mudah," ucap Kakek memberikan peringatan keras kepada Naya.
"Kenapa Kakek kejam sekali, sudah tua bukannya bertaubat, tapi semakin berulah. Kami yang muda saja tahu jika ada kematian, tapi Kakek tidak tahu." Nay sangat tidak menyukai sikap angkuh Kakek Arvin.
Suara tawa menggelegar terdengar, Naya masih terlalu muda tidak tahu kerasnya hidup. Segala bisa dilakukan selama memiliki kekayaan.
Sekuat apapun orang pasti tunduk jika ada yang memberikannya uang, lalu apa yang harus dirinya takutkan.
"Memang benar semuanya butuh uang, tapi kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang."
__ADS_1
"Apa kamu pikir dengan memiliki cinta pasti bahagia, tidak anak bodoh. Cinta akan berakhir setelah bosan." Tawa Kakek terdengar lucu.
Langkah kaki Arvin terdengar, melihat kakeknya langsung lari kencang menarik Naya agar menjauh.
"Ada apa Nay."
"Ada tamu yang ingin membawa cucunya pulang untuk dijadikan bonekanya," ucap Naya.
"Kakek mau apa, jangan temui Arvin lagi Kek, aku capek berurusan dengan keluarga kalian." Arvin meminta Kakeknya pergi karena tidak ingin ada keributan.
"Pulang, kamu akan menyesal jika tidak pulang," ancam Kakek.
"Tidak, sekali aku bilang tidak, maka jawabannya tidak. Aku akan tetap pergi, Arvin tidak ingin menjadi bagian dari ...."
"Jika begitu berarti kamu harus mati, silahkan putuskan hubungan keluarga, jalan satu-satunya dengan kematian. Kembalikan darah keturunan keluarga kamu yang mengalir di tubuh kamu."
Senyuman Arvin terlihat, kakeknya juga harus mengembalikan mommynya karena Arvin ingin terlahir kembali dari orang yang sama tanpa menggunakan darah kotor kakeknya.
"Bisa Kakek mengembalikan Mommy, masih ingat menantu yang Kakek lenyapkan hanya karena melihat mommy membantu sopirnya dan berpikir Mommy selingkuhan, hingga membunuh mommy dan sopir itu. Apa Daddy tahu soal ini, jika Daddy tahu dia pasti akan membenci Kakek." Air mata Arvin menetas.
Demi mengikuti ambisi kakeknya, terpaksa Daddy memiliki banyak simpanan, dia menolak menikah karena mencintai istrinya.
Tepaksa juga Daddy melakukan kekerasan agar mommy tidak meninggalkannya, menyakiti Arvin agar menjadi kuat untuk bertahan.
"Kakek jahat, Kakek membuat Arvin kehilangan Mommy, Kakek kejam menghacurkan keluarga Arvin!"
"Semua wanita sama Arvin, mereka tidak puas dengan satu laki-laki."
"Jangan samakan mantan istri kakek dengan mommy, mereka berbeda. Arvin tidak akan memaafkan kakek, pergi sekarang," usir Arvin sampai teriak membuat teman-temannya keluar.
Tanpa ada yang tahu Daddy Arvin mendengar semuanya, terkulai lemas karena orang yang melenyapkan istrinya sampai meminum racun ayahnya sendiri.
Selama hidup Daddy menyalahkan dirinya karena sudah menyakiti, sehingga tidak bisa menerima kepergiaan istrinya yang meninggal bunuh diri.
Selama ini sengaja menutupi dari Arvin soal alasan kematian Mommynya karena tidak ingin putranya semakin sedih, tapi ternyata Arvin tahu segalanya.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira