
Tatapan Naya tajam melihat sekumpulan mahasiswa yang menghadang jalannya, melangkah maju tanpa rasa takut.
"Apa yang kalian lakukan!" teriakan Erin terdengar menangkap maju, berdiri di samping Naya.
"Erin, kenapa kamu bisa ada di sini?"
Bibir atas Ern terangkat meminta Naya pergi, meminta maaf atas teman-temannya menganggu jalan Nay.
"Kenapa kamu membela wanita miskin itu Rin, dia baru saja membuat aku dan pacarku putus," teriakkan seorang wanita marah.
"Benar Rin, suah satu tahun kamu tidak kuliah, wanita ini semakin merajalela."
"Sedikit saja kalian menyentuhnya, aku lawan kalian," ancam Erin melangkah bersama Naya.
Senyuman Nay terlihat karena tidak ada yang berani menyentuhnya karena ada Erin di sisinya.
"Terima kasih Rin, aku tidak tahu apa hebatnya kamu sampai menjadi alasan mereka untuk membuly," ujar Naya yang merasa dirinya hanya datang untuk kuliah.
"Kamu istimewa Nay, wajar saja banyak yang iri. Aku yang seharusnya banyak mengucapkan terima kasih. Satu tahun ini terasa berat seklai, tapi kehadiran kamu, prilly dan Alis membuat aku sadar siapa kawan dan lawan." Erin memeluk Naya karena bersyukur sudah bertemu.
Kepala Naya mengangguk dia sangat senang karena Erin sudah berubah, dia bisa damai dengan keadaan hingga pulih dan bisa kuliah kembali meskipun membutuhkan waktu satu tahun.
"Lihat papan itu, satu tahun sudah Agra, Arvin dan Andra keluar dari kampus ini, tapi kepopuleran mereka masih berada di tangga teratas." Erin menujuk ke arah papan besar yang terpajang tiga potret pria populer.
Kepala Naya mengangguk, dia juga bangga kepada ketiganya dan bahagia pernah mejadi bagian dari perjalannya.
"Kalian sudah dengan belum berita terbarunya Agra, sumpah lagu barunya keren banget," puji beberapa wanita yang lewat.
"Agra keluar lagu baru Nay?"
"Ya, di sekarang punya album, konser di luar negeri juga lancar, aku rasa Agra berada di puncak sebagai pemusik dan aktris termuda tahun ini." Nay bangga sekali kepada Agra yang bia bersaing dengan pemusik internasional.
Teriakkan Alis terdengar, mendorong bahu Erin yang harus mengulangi lagi dari semester dua. Alis sekarang berada di atasnya.
"Panggil aku kakak senior," pinta Alis.
"Baik, Kakak senior satu tingkat."
Tawa Naya terdengar meminta keduanya berhenti bertengkar, Alis kehilangan lawan karena Prilly sibuk dan dia harus bekerja keras untuk restorannya
__ADS_1
"Kepala Alis pusing, apalagi Tante sibuk pacaran," keluh Alis yang harus turun tangan untuk mengawasi ratusan karyawannya.
"Jangan membicarakan tante, dasar alasan kamu saja yang pemalas. Lagian tidak ada sangkut pautnya." Erin pamit untuk ke kelas lebih dulu karena ia baru saja ingin belajar kembali.
Terlalu banyak pelajaran yang tinggal selama dirinya melakukan pemulihan, sudah waktunya untuk mengejar ketertinggalan.
"Erin," panggil seorang wanita.
"Bukannya dia maminya Erin, datang setelah anaknya sembuh, dasar lintah." Alis benci sekali melihat wanita tidak tahu diri.
Nay menahan tangan Alis agar tidak ikut campur dengan masalah keluarga Erin, dia sudah besar dan mampu mengatasi masalahnya sendiri.
"Kenapa Mami menghubungi kamu tidak pernah dijawab."
"Buat apa menghubungi aku," bentak Erin yang tidak menyukai Maminya kembali menemuinya.
Tangan Erin ditarik paksa untuk bicara, melarangnya bersikap kurang ajar kepada wanita yang sudah melahirkannya.
"Pulang kuliah langsung ke rumah ada yang ingin Papi bicarakan, jangan membantah."
"Tidak bisa, Daddy memintaku langsung pulang, lagian aku tidak akan pernah kembali ke rumah kalian setelah satu tahun ini dicampakkan." Erin merasa maminya begitu kejam karena melupakannya.
Air mata Erin menetes, dirinya memutuskan untuk tinggal dengan Daddynya, tidak akan kembali kepada orangtuanya.
"Kamu pikir Ar melakukan ini karena dia baik? Kamu salah Rin, dia hanya ingin menguasai kamu dan menjodohkan dengan orang kaya." Mami menyadarkan Erin jika lelaki yang dipanggilnya Daddy jauh lebih kejam.
"Tidak masalah apapun yang Daddy lakukan, dia berhak atas Erin karena biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, ada banyak orang yang terlibat dalam prosesnya," jelas Erin yang akan mengikuti apapun perintah daddynya.
Tampara kuat, Erin teriak memegang wajahnya karena merasakan sakit pukulan Maminya yang tidak punya hati.
"Cukup tante, kenapa menyakiti Erin!" Nay menarik Ern untuk berdiri di belakangnya.
"Jangan ikut campur kamu wanita sampah."
"Jika tante tidak bisa menjaga, mencintai dan membahagiakan Erin, setidaknya jangan menyakitinya." Naya tidak akan tinggal diam jika Mami melakukan kekerasan kembali untuk melaporkan kepada Daddy.
"Saat ini bisnis kalian sedang ada di bawah, butuh Erin untuk mendapatkan asupan dana, jangan harap. Daddy Erin jauh lebih kaya dari kalian, dia memiliki ratusan pengawal, jika ada yang menyakiti putrinya maka anda dia dilenyapkan secara diam-diam." Alis memberikan peringatan untuk tidak mengusik keluarga Daddy jika masih ingin hidup.
Kepala Nay menoleh, Alis begitu yakin dengan membawa ratusan pengawal, Daddy memang kaya, tapi tidak harus menyebut bawahan kakek.
__ADS_1
"Saya masih punya hak atas Erin," ucap Mami yang akan melaporkan jika anaknya diculik.
"Dan aku punya bukti jika kalian menelantarkan Erin." Daddy menatap tajam melihat Ein memegang pipinya.
Tangisan Erin terdengar berjalan ke arah Daddynya langsung menangis karean tidak ingin pulang, dia sudah nyaman tinggal bersama keluarga Arvin.
"Sudah jangan menangis, wanita jahat ini tidak akan bisa mengambil kamu." Daddy menyerahkan laptop Erin yang tertinggal, memintanya segera masuk kelas untuk belajar.
Senyuman Naya terlihat menatap lelaki yang dulunya kejam kepadanya bahkan tidak segan menyakiti Naya dan Arvin tanpa belas kasihan.
"Nay, Alis kalian berdua tidak ada kelas?"
"Alis ada, ini mau masuk Dad, Kak Nay sampai bertemu nanti."
"Naya sudah selesai Dad, seharusnya tadi menghubungi Nay saja jika ada barang Erin yang terlupakan," ucap Nay meminta maaf karena Daddy harus mencari kelas Erin sendirian.
"Tidak maslaah, ayo kita pulang." Daddy menatap sinis wanita yang tidak bertanggung jawab kepada anaknya sendiri.
Senyuman Naya terlihat lebar, berjalan di samping Daddy yang juga sangat baik kepadanya.
Biaya kuliah Naya juga ditanggung karena Nay kesulitan bekerja karena kondisinya yang masih sering sakit.
"Bagaimana kuliah kamu, lancar?"
"Y Dad, bagaimana hubungan Daddy dan Mama?"
Tawa pelan Daddy terdengar merasa Naya termakan ucapan Alis, dirinya tidak ada hubungan apapun.
"Bunga apa ini Dad?" Nay menatap bunga mawar yang sangat banyak di belakang tempat duduk supir.
"Daddy ingin ziarah ke makam Mommynya Arvin, hari ini peringatan kematiannya, tapi Arvin tidak bisa pulang." Daddy menarik napas panjang karena harus damai dengan hatinya.
"Nay temani ya Dad, soalnya Naya juga tidak pernah berkunjung ke makam orang tua Nay." Mata Naya berkaca-kaca merasa sedih.
Tangan Daddy mengusap punggung Nya, meminta untuk kuat karena mengenang orang yang sudah pergi meninggalkan kita memang tidak mudah.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1