
Di dalam kamar mandi kepala Andra bersandar, menyentuh bibirnya yang tidak sengaja mengenai bibir Naya.
"Dra, berapa lama lagi di dalam?" Arvin menggedor pintu.
Pintu kamar mandi terbuka, wajah Andra basah penuh air karena mencuci wajahnya. Arvin menatap serius.
"Dra, kamu mempermalukan Nay," ujar Avin pelan.
"Bukan kesengajaan, lagian aku mencoba menghilangkan rasa canggung." Andra melangkah keluar dari kamar mandi.
Beberapa mahasiswi berteriak saat melihat Andra lewat depan kelas Naya, tatapan Nay juga melihat ke arah dua pria.
"Hari ini kamu menang banyak Nay, Andra begitupun sensitif dengan kecupan, tapi dia minta lagi." Banyak yang merasa iri, ingin berada di posisi Naya.
Kepala Nay geleng-geleng tidak ingin mendengar gosip tentang dirinya yang membahas soal kecelakaan saat bertanding.
Penjelasan dosen tidak bisa masuk ke dalam kepala, Naya tidak fokus sama sekali karena kepikiran soal Andra yang meminta lagi.
"Sialan, kenapa isi kepala begitu liar?" batin Naya memikirkan permainan basket.
"Kanaya, apa kamu mendengar saya?" panggil dosen yang geleng-geleng karena Naya melamun.
"Maaf Pak, bisa diulangi," pinta Naya yang tidak enak banyak melamun.
Sampai jam kuliah berakhir barulah Naya bisa bernapas lega, satu-persatu mahasiswi dan siswa keluar kelas meninggalkan Naya seorang diri.
"Kenapa terbayang terus." Tangan Nay menyentuh bibirnya yang mendapatkan kecupan hangat.
Pukulan tangan Naya mendarat di kedua pipinya agar sadar jika yang dibayangkan terlalu jauh berbeda, Nay tidak ingin mengingatnya karena hanya ketidaksengajaan.
"Lupakan Nay, tidak boleh diingat lagi," ujar Nay yang kepikiran.
Tanpa sadar Naya sudah berdiam diri lebih dari tiga puluh menit, berjalan keluar untuk segera pulang dan beristiahat.
Masih dengan kejadian lama, Naya merasa ada yang membuntutinya, tapi kali ini bukan segerombolan mahasiswa, tapi lelaki berbadan besar.
"Kenapa kalian mengikuti aku, ini kesekian kalinya bertemu?" tanya Naya memastikan.
"Berarti kamu tahu tujuan kita datang ke sini?" tanya pria berbadan besar penuh tato.
"Masih soal Arvin, sebegitu putus asa Daddy Avin sampai melakukannya?"
Tidak ada jawaban karena hanya menjalankan perintah untuk membawa Naya, membuat kesepakatan untuk damai.
__ADS_1
Tawa Naya terdengar sungguh tidak percaya jika pria berpengaruh begitu membutuhkannya. Anak dan orang tua bersaing untuk hal yang tidak jelas.
"Jika ada masalah hubungan saja Arvin, dia masih hidup. Tidak ada urusannya denganku." Nay menolak untuk menemui Daddy Arvin, jika ada hal penting langsung menemui Arvin bukan dirinya.
Pundak Naya ditahan, pukulan Nay melayang. Tidak suka dengan orang-orang yang suka memaksa padahal tidak ada urusan.
"Kanaya, masuklah ke dalam mobil." Daddy Arvin muncul meminta Naya masuk.
"Bicara saja di sini Om, aku tidak ingin mengikuti apa yang kalian inginkan. Anda yang butuh bukan saya." Nay melangkah ke arah kursi tunggu.
Helaan napas Daddy terdengar meminta semua bawahannya pergi meninggalkan, membiarkannya bicara berdua.
Lama Daddy Arvin diam, sesekali melirik Naya yang duduk santai, dan fokus karena tidak ingin diserang dadakan.
"Bagaimana kondisi Arvin?"
"Dia sehat, masih kuliah, dan bekerja di bar. Aku rasa bar itu milikinya atau Mommynya?"
Senyuman Daddy terlihat menarik napas panjang karena tidak bisa menemui Arvin, dia semakin jauh.
"Aku memang Daddy yang kejam, tapi semua yang dilakukan demi kebaikan Arvin, dia tidak mengerti karena masih muda. Saat Arvin dewasa, pasti akan mengerti mengapa aku sangat keras." Nada bicara Daddy lembut meminta Naya membawa Arvin pulang.
Senyuman sinis Nay terlihat, baginya Arvin bukan anak kecil. Sudah dewasa, mandiri, pemberani juga bertindak tegas.
"Om, biarkan Arvin hidup bebas, jangan jadikan dia orang yang sama seperti Om," ujar Naya memberikan nasihat.
"Dia Putraku satu-satunya, bagaimana bisa membiarkannya hidup diluar dan meninggalkan keluarga?"
"Luka yang Arvin miliki karena Om yang menutupi kepergian orang tercintanya, dia bisa bertahan selama ada Mommynya, tapi tidak akan sanggup jika orang yang paling berharga menghilang dari pandangan." Kepala Naya terduduk sebentar untuk pamit pulang.
Nay paham jika dirinya tidak berhak menasihati, tapi apa yang Naya katakan hanyalah sebagian kecil dari luka Arvin. Bukan hanya tubuhnya yang sakit dipukuli, tapi hatinya juga hancur.
Tangan Daddy tergempal, dengan cara keras ataupun lembut tidak berhasil membuatnya bisa membawa Arvin maka dengan terpaksa membuat Arvin datang dengan sendirinya.
"Bawa wanita ini, tidak peduli dalam keadaan hidup atau mati!" perintah Daddy terdengar.
Beberapa orang berbadan besar berlarian ke arah Naya, senyuman Nay terlihat sudah menduga jika tidak bisa dihindari.
Suara kendaraan roda dua terdengar, Prilly datang menjemput Naya karena motornya dibawa Prilly pulang.
Melihat Naya bertarung, Prilly langsung lari memberikan bantuan. Cukup terkejut saat melihat siapa lawan mereka.
"Nay, bagaimana bisa mereka?"
__ADS_1
"Aku akan dijadikan alat untuk memancing Arvin kembali, dan menahannya bagaikan tahanan." Naya tidak akan tertangkap dengan alasan apapun.
"Mereka banyak sekali Nay?"
"Setidaknya kalahkan agar kita bisa lari, mereka juga membawa senjata," bisik Nay pelan.
Kepala Prilly mengangguk, membungkukan tubuhnya saat melihat Daddy Arvin sebagai tanda jika dirinya masih menghormati.
Pertarungan dua wanita melawan puluhan bodyguard berbadan besar, pukulan dan tendangan Prilly sangat cepat karena dia petarung yang terlatih.
Kanaya juga mempercepat gerakannya menjatuhkan satu-persatu lawan, tendangan kuat mengenai perut Naya, tapi tidak membuatnya jatuh.
"Ternyata kamu memang kuat, ada berapa banyak kemapuan bela diri yang kamu miliki?"
"Tidak beraturan, aku hanya melakukan apa yang aku sukai." Nay tersenyum manis meminta semuanya maju.
Tubuh Prilly terlempar kuat, darah keluar dari mulutnya, Naya menendang baru kecil sampai megenai mata pria yang membuat Prilly jatuh.
"Terimakasih Naya." Prilly bangkit lagi melakukan penyerangan.
Kepala Daddy Arvin menggeleng, mengumpat Naya yang memang tidak bisa diremehkan bela dirinya.
Suara beberapa penjaga terdengar melihat Naya dan Prilly masih bertarung dengan puluhan pria.
"Kita pergi dari sini," perintah Daddy berjalan ke arah mobilnya.
Semua orang bubar, meninggalkan Naya dan Prilly, setelah mobil menjauh Naya muntah darah.
"Naya, kamu terluka?" Prilly membantu Naya berdiri.
"Semakin di lawan, semakin bertambah pula orang yang kuat. Kita pulang Pril," pinta Naya merasakan dadanya sakit.
Kepala Prilly mengangguk, melihat mulut Naya banyak darah, pukulan kuat di dadanya menyebabkan muntah darah.
Sepanjang jalan mata Naya terpejam, Prilly menggenggam tangan Nay yang melingkar di pinggangnya.
"Naya, astaga di pingsan. Mereka menyerang Naya secara membabi-buta." Prilly mempercepat laju motornya untuk pulang ke apartemen.
Perasaan Prilly tidak enak karena Arvin pasti marah besar jika tahu Naya sampai pingsan dipukuli oleh pelatih bela diri.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1