
Senyuman Agra terlihat merasa sangat senang mengetahui jika dirinya mendapatkan tawaran bernyanyi di cafe besar.
"Yakin Gra, aku bisa bantu kerja di perusahaan," tawar Andra.
"Tidak Dra, aku memutuskan tetap menekuni musik, selain menjadi tempat mencari uang juag menekuni hobi." Senyuman Agra terliar terasa sangat senang.
Helaan napas Andra terdengar, merangkul sahabatnya yang baru saja kehilangan perusahaan, tapi Andra bangga setidaknya Agra dan Mamanya terbebas dari hutang.
"Sesekali aku akan berkunjung ke cafe membawa banyak penggemar, kamu jangan pantang menyerah, apalagi jika ada sedikit ejekan," pesan Andra karena tahu di antara mereka bertiga Agra yang paling mudah rusak semangatnya.
Tawa kecil Agra terdengar, dirinya sudah jauh lebih dewasa. Andra tidak harus mengkhawatirkan karena selama ini sudah menjadi sosok kakak yang hebat.
"Aku pergi Dra," pamitnya.
"Ya, hati--hati, jangan sungkan menghubungi jika ada yang menganggu."
Tangan Agra melambai, memberikan jempolnya meminta Andra tidak khawatir kepadanya.
Memasuki cafe sungguh mengejutkan Agra karena pengunjung memang sangat ramai karena menjadi tempat bersantai bagi anak muda.
"Agra, kamu sudah siap?" manager Cafe mempersilahkan make up untuk membatu Agra bersiap sebelum waktunya untuk tampil.
Mendengar suara gitar membuat sebagian orang yang sedang makan langsung menoleh.
Bukan hanya terpesona karena ketampanan, tapi suara yang sangat indah dan menakjubkan.
"Agra, kenapa dia ada di sini, Tidak rugi kita berada di sini karena bertemu Agra," puji banyak wanita yang mengenal Agra karena dia sangat populer.
Senyuman Agra terlihat, menyapa para penggemarnya yang heboh seperti menonton konser.
Mengetahui Agra berada di Cafe pengunjung semakin ramai, pemilik Cafe merasa sangat senang tidak rugi menawarkan pekerjaan kepada Agra karena pengaruhnya sangat besar.
"Kak Agra, nyanyikan lagu patah hati," pinta seorang wanita.
"Kenapa, apa kamu baru saja terluka? Jangan bersedih terlalu lama, jika dia bukan yang terbaik, maka kamu terlalu baik, ayo kita bernyanyi bersama." Agra tersenyum menyanyikan lagu membuat teriakkan histeri menggema.
Senyuman Agra lebar, tidak menyangka jika bernyanyi secara bebas begitu menyenangkan. Papanya salah jika musik hahahaha bisa dinikmati oleh seniman, ternyata musik bisa dinikmati oleh semua orang.
Bisa menunjukkan kemapuan di depan umum sungguh luar biasa, Agra tidak bisa berkata-kata lagi karena waktu empat jam manggung berlalu dengan cepat.
"Kira-kira malam ini sudah cukup banyak lagu, kita bertemu lagi besok. Jangan lupa ajak teman dan keluarga untuk datang makan dan menikmati musik." Tubuh Agra membungkuk mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Kak Agra sampai jumpa besok, I love you." Penonton histeris saat Agra tertawa memberikan love.
Cafe heboh seperti konser, Agra turun panggung karena waktunya sudah habis karena hanya hitungan jam.
"Gra, suara kamu luar biasa bagusnya," puji manager.
"Terima kasih Pak, ku rasa bukan hanya soal lagunya, tapi bagaimana caranya mempertahankan penonton untuk jangka waktu yang lama," ujar Agra yang yakin mempertahankan tidaklah muda.
Senyuman Agra terlihat pamit pulang karena sudah cukup malam, Mamanya sendirian di rumah karena beberapa maid mengundurkan diri.
"Gra, ini tips untuk malam ini, terima kasih untuk kerja kerasnya."
Senyuman Agra lebar pertama kalinya mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya sendiri.
Agra merasa sangat bangga tidak berhenti bersyukur karena limpahkan rezeki kepadanya.
Kesabaran pasti akan membuahkan hasil, keikhlasan Agra dan Mamanya membawa senyuman baru.
"Mama, sudah tidur belum. Agra beli makanan buat Mama." Senyuman Agra lebar menatap Mamanya yang keluar dari kamar.
"Pulangnya malam sekali, Agra dari mana?"
"Dari manggung di Cafe, ini dikasih tips." Mama menujukkan amplop putih.
"Ma, sejak kecil Agra berlatih musik. Awalnya Agra berpikir itu impian Papa, tapi ternyata salah itu juga mimpi Agra. Belajar sejak kecil tanpa pengalaman tidak berguna, sekarang Agra akan mencari pengalaman agar bisa menjadi pemusik yang menciptakan banyak lagi hingga menginspirasi banyak orang," ujar Agra meyakinkan Mamanya jika dirinya sangat bahagia bisa menyalurkan hobinya.
"Jangan dipaksa Gra, Mama masih kuat."
"Iya Mama, Agra tahu. Nanti Agra akan buktikan bisa membahagiakan Mama, saat hari itu tiba Mama tidak perlu bekerja lagi, ada Agra." Pelukan lembut penuh kasih sayang terasa.
Makanan diletakkan di atas meja, Mama menyuapi Agra makan. Meksipun tidak memiliki perusahaan, uang yang banyak, setidaknya hati tenang dan bahagia.
"Enak sayang?"
"Enak, apapun yang didapatkan dari tangan Mama rasanya sangat enak."
"Gra, bagaimana kondisi sahabat kamu Arvin?" Mama masih kepikiran soal kejadian sebelumnya pasti menyakiti Arvin.
Senyuman Agra terlihat, Arvin terlihat baik. Dia melakukan segala cara untuk menghacurkan bisnis daddynya agar kematian mommynya terungkap.
"Sesekali ajak ke sini, apa dia tidak akan datang lagi?"
__ADS_1
"Boleh ya Ma?"
Kepala Mama megaangguk merasakan sangat bahagia karena senyuman Putranya telat kembali.
Sosok Agra yang periang seperti saat kecil, tapi setelah dewasa senyuman sering hilang. Mama tidak menyesal mengambil keputusan untuk berpisah.
Kebahagiaan putranya jauh lebih penting, kewarasan mentalnya juga sangat penting sehingga hidup berdua dengan putranya jauh lebih baik.
"Ma, kenal Naya tidak?"
"Kanaya, Mama mengenalnya. Sahabatnya Alisha," ujar Mama.
"Iya benar, apa dia cantik?"
Tawa Mama terdengar, ternyata Agra menyukai Kanaya. Sia-sia perjuangan Alis yang selalu mengatakan calon suamiku, begitupun dengan Prilly tang tidak bisa mengutarakan perasaannya.
"Kenapa Mama tertawa?"
"Kanaya menyeramkan, dia terlihat sangat galak." Mama menggeleng melangkah ingin istirahat.
"Aslinya manis, tapi Agra tidak ingin mengubah hubungan baik dengan perasaan. Bukannya keputusan Agra tepat Ma?"
"Namanya perasaan harus diutarakan Agra, bagaimana dia bisa tahu jika hanya diam," balas Mama meminta Agra segera pergi tidur.
Menyatakan perasaan, hal yang cukup sulit. Agar tidak akan bisa melakukannya karena perasaan sahabatnya harus dijaga.
Meskipun Arvin tidak pernah mengatakan langsung, pasti dia memiliki perasaan kepada Nay, sehingga tetap tinggal bersama.
Secara tiba-tiba Agra melamun, Mama membiarkannya karena putranya sudah dewasa. Bebas memilih pasangan meksipun Kanaya dan Agra bagai langit dan bumi.
"Berapa hari ini tidak melihat Naya, dia sibuk bekerja dan kuliah. Kira-kira kapan bisa kumpul lagi," batin Agra menatap layar ponselnya berniat menghubungi Nay.
Agra ragu melakukan panggilan, tidak enak mengangguk Naya yang pastinya lelah bekerja juga kuliah.
"Selamat malam Naya, aku harap besok bisa bertemu kamu. Rasanya cinta aku semakin besar, mengapa harus kamu dari sekian banyak wanita," gumam Agra memejamkan matanya karena harinya begitu menyenangkan.
Seseorang tidur di samping Agra, bau minuman menyengat membuat Agra terbangun.
"Vin, kamu mabuk?" tanya Agra yang tepuk jidat.
"Naya mengusir, tidak boleh pulang dalam keadaan mabuk."
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira