KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
GELANG PUTUS


__ADS_3

Melihat sikap Neneknya, Andra hanya bisa tarik napas panjang. Dua puluh enam tahun hampir berlalu, tapi tidak ada yang berubah meksipun delapan tahun Andra tidak muncul.


Senyuman Andra terlihat menatap Maminya, mengangguk pelan meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.


"Mandi dulu, kita nanti makan malam bersama."


"Iya Mi, Andra naik dulu ke kamar."


Tatapan Mami tajam melangkah ke ruang tamu melihat wanita tua yang sudah duduk di kursi roda tertawa melihat siaran televisi.


Tiba-tiba televisi mati, Nenek melihat ke arah Mami yang juga terlihat marah. Anak kurang ajar yang tidak tahu sopan santun.


"Mi, kenapa berprilaku seperti itu kepada Andra?"


"Karena aku tidak menyukainya," balas Nenek yang masih saja egois.


"Nenek jangan lupa, keluarga Nenek bisa menjadi gelandangan jika bukan Kak Andra yang membantu. Mana anak, menantu, cucu kesayangan yang Nenek selalu bangga, mereka pergi dan lupa diri," sindir Alis meminta Neneknya tahu diri jika Kakaknya yang berjuang mempertahankan perusahaan.


"Anak yang selalu dihina, tapi dia juga yang menyelamatkan. Tidak ada yang membantu Kak Andra saat itu, baik dari pihak Mami maupun Papi. Jangan lupa juga Nek, rumah ini milik Kak Andra karena sudah dijual, siapa yang mengambilnya kembali itu anak yang sudah dihina. Di mengembalikan rumah ini bukan buat Nenek, tapi Maminya, sadar diri hampir mati juga belagu." Mata Alis menunjukkan kemarahan tidak terima jika Neneknya terus menghina Kakaknya.


Saat Papinya jatuh sakit, bahkan tidak punya biaya sampai jual rumah dan mobil. Perusahaan hancur, semuanya ulah Neneknya, tapi saat Neneknya hancur tinggal bersama mereka.


Sulit bagi Alis untuk memaafkan, saat keluarganya terpuruk semua orang menjauh dan membuat semuanya semakin hancur, tidak ada satupun yang menolong selain Kakaknya yang bekerja siang malam, lupa makan dan tidur.


Jika teringat kejadian lima tahun yang lalu, hancur sekali hati Alis sampai dia harus berhenti kuliah, mencari kakaknya meminta dikuliahkan.


"Lis, tidak boleh bicara seperti itu, kita keluarga harus saling menghormati." Papi memeluk erat Alis yang menangis tidak kuasa menahan air matanya jika teringat.


"Itu fakta Pi, keluarga Papi dan Mami jahat. Kita berempat hanya bertahan saling rangkul saat jatuh, mereka tertawa melihat kita kehilangan segalanya, tapi kenapa Nenek tinggal bersama kita." Tangisan Alis terdengar memeluk erat Papinya.


"Jika kalian tidak suka aku di sini, sekarang juga pergi. Sekalipun mati di jalanan sana jauh lebih baik daripada tinggal di sini."

__ADS_1


Air Mami menetas melihat wanita yang sangat dicintainya begitu keras kepala, sadar jika salah, namun sulit sekali untuk mengalah.


"Tidak ada yang perlu pergi dari sini, siapapun punya hak. Andra tidak ingin ada keributan, jika bisa hidup seatap maka bertahanlah." Andra mengibas rambutnya yang masih basah.


"Kalian tidak akan mengerti betapa sakit hatinya aku melihat anak ini." Tatapan Nenek tajam ke arah Andra yang mendekatinya.


Tanpa ragu Andra berlutut di hadapan Neneknya, memegang kedua telinga. Permintaan maaf mungkin tidak akan cukup untuk menembus salah.


"Maafkan Andra Nek, aku salah sudah lahir, tapi Andra juga takut mati. Bagaimana caranya agar Nenek memaafkan Andra? waktu terasa terbuang sia-sia hanya untuk membenci, sekali saja anggap Andra sebagai cucu, itu harapan terbesar Andra." Matanya berkaca-kaca, masih berusaha menujukkan senyuman.


"Ibu kamu datang penuh kebahagiaan mengatakan jika dirinya hamil, saat itu Mami sedang hamil empat bulan, dia mengalami stres hingga keguguran, tapi sungguh memalukan Papi kamu yang saat itu meninggalkan pulang membawa bayi." Tangan Nenek memukul dadanya kuat.


Sebagai seorang ibu sungguh Nenek tidak terima, mungkin Putrinya bisa memaafkan dan menyayangi anak hasil perselingkuhan, tapi tidak bisa bagi seorang ibu yang menyaksikan Putrinya menangis pulang ke rumah, kehilangan suami juga anaknya.


Hati ibu mana yang bisa kuat menerimanya, sekalipun Andra bersujud tidak mampu mengobatinya.


"Kamu tidak akan tahu rasanya," ujar Nenek yang meneteskan air mata.


Mata Andra menatap Alis, memintanya mengucapkan maaf. Kepala Alis menggeleng, langsung lari ke kamarnya.


Suara Andra memanggil Adik perempuannya terdengar, ketukan Andra pelan merasa kasihan kepada Alis yang harus ikut merasakan jatuh bangun.


"Lis, tidak boleh seperti itu, katanya sudah besar. Tidak ingin pergi ke rumah Agra, dia sudah pulang tadi bertemu Kakak di bandara."


"Arvin pulang tidak?" pintu terbuka, Alis menunggu jawaban.


"Emh, kita satu pesawat. Kenapa tiba-tiba bertanya Arvin?"


"Alis mau makan di rumah Mama Mar saja, kangen sama Raya." Senyuman Alis terlihat, begitu cepatnya kesedihan berubah jadi senyuman.


"Tidak dapat Agra giliran Arvin, lebih baik kamu cari yang pasti saja. Lelaki yang bisa menerima apa adanya, jangan memaksa untuk yang itu saja, sering-sering sadar diri." Andra tersenyum melihat Alis yang tidak pernah berubah.

__ADS_1


"Kak Andra kapan menikah, aku tahu wanita itu sudah dilamar. Cepatlah perkenalkan, jangan lama-lama nanti diembat orang," bisik Alis pelan.


Kerutan di kening Andra terlihat, melangkah kembali ke kamarnya karena ingin istirahat. Besok pagi harus ke kantor untuk mengecek pekerjaannya.


"Kak, ikut Alis tidak?"


"Duluan saja," balas Andra menutup pintu kamarnya.


Tidak ada yang berubah dari tempat tidur delapan tahun lalu, Andra memeluk gulingnya menyampaikan rasa rindu.


Perasaan yang sangat dalam dirasakan oleh Andra, ada banyak kenangan di kamarnya bersama kedua sahabatnya.


Ketukan pintu terdengar, Andra mempersilahkan untuk masuk. Melihat papinya yang melangkah masuk.


"Dra, bagaimana perasaan kamu saat ini?"


"Biasa saja Pi, hanya tidak menyangka saja bisa balik lagi."


"Kenapa memutuskan ke perusahaan AA, ada banyak perusahaan lain yang bisa kamu ambil alih?"


Kepala Andra mengangguk, alasannya memilih AA untuk berkembang karena perusahaan yang harusnya hancur, tapi masih tangguh. Ada banyak hal yang ingin Andra lakukan di perusahaan untuk mengubahnya menjadi tiga teratas.


"Obsesi kamu terlalu besar, jangan terlalu sibuk bekerja. Pikiran juga bahagia kamu, sudah waktunya untuk memiliki partner." Papi mengusap kepala Andra, meminta segera istirahat.


Senyuman Andra terlihat, menatap gelang yang ada ditangannya, sudah waktunya dia melepaskan karena Naya sudah menemukan kebahagiaan.


"Waktunya aku memulai yang baru." Andra memutuskan gelang tali, memejamkan matanya sesaat.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2