
Mendengar tawa Mami membuat Alis dan Arvin senang, dia bisa mengobrol dengan jelas bersama Raya.
"Siapa musuh kamu Raya?"
"Kak Naya, dia genit sekali suka dekat sama Kakak Anda." Wajah cemberut terlihat.
"Siapa Kakak Anda?" tanya Mami melihat ke arah Arvin.
"Andra Mi, dia memang seperti itu suka bertengkar dengan Naya. Sejak lahir Naya yang menjaganya, tapi Naya juga menjadi musuh bebuyutan. Jika tidak bertemu lebih dari tiga hari nangis cari Kak Naya," jelas Arvin melihat adiknya menguap berkali-kali.
Mami mengusap wajah Raya meminta tidur bersama Mami membiarkan Arvin menunggu lebih lama.
Senyuman Papi terlihat saat melihat Arvin yang dulunya selalu bermain game bersama Andra sudah menjadi dokter yang hebat.
"Apa kabar Om," sapa Arvin.
"Baik, bagaimana dengan pekerjaan kamu. Menjadi dokter cukup sulit." Papi tidak menyangka ternyata Arvin sangat pintar sampai bisa menjadi dokter muda.
Senyuman Arvin terlihat, dia tidak merasa dirinya hebat karena mengikuti hobinya. Arvin tidak memiliki banyak bakat, dia tidak sehebat Andra dalam bisnis, tidak memiliki suara yang bagus seperti Agra maka pekerjaan terbaik dia harus menggunakan otaknya.
"Bagaimana kondisi Daddy kamu?"
"Baik Om, sekarang Daddy dan Agra sedang membuka perusahaan baru, ambisi Daddy masih sebesar dulu soal bisnis," balas Arvin.
Kepala Papi mengangguk, dia tahu jika Daddy Arvin sangat hebat dalam bisnis. Andra selalu mengatakan jika dia banyak dibantu oleh daddy di setiap kesulitan.
"Salam buat daddy kamu, senang jika bisa bertemu dan mengobrol."
"Bagong kalian berdua bisa mengobrol, dua orang yang sama cuek disatukan ya jadi perkumpulan es," sindir Alis duduk di samping Arvin meletakkan minuman karena cuaca panas.
Senyuman Papi terlihat membenarkan ucapan Alis, saat muda keduanya sering bertemu dengan rekan lain, tapi tidak pernah bertegur sapa diluar bisnis.
"Bagaimana bisnis Papi maaf Arvin sebenarnya tidak tahu banyak, namun bisa nyambung dalam membicarakan," ucap Arvin yang merasakan jantungnya berdegup kencang mencoba mencairkan suasana.
Tawa kecil papi terdengar merasa lucu dengan Arvin yang dulunya sangat dingin bahkan sulit sekali mendengar suaranya, sekarang bisa mengobrol banyak hal.
"Kamu punya pacar Vin?"
"Punya Pi," balas Arvin tidak menutupi sama sekali.
"Wow sesama dokter tidak?"
Kepala Arvin menggeleng, dia tidak tertarik bekerja sesama dokter karena sama-sama sibuk.
Lebih baik pasangan yang diluar dunia medis karena bisa saling bertukar pikiran, saat pusing dengan rumah sakit ada tempat pergi lain.
"Wanita itu beruntung sekali bisa mengubah kamu menjadi pria yang hangat, tidak sedingin dulu," ucap Papi kagum.
Senyuman Alis terlihat, dirinya yang patut dibanggakan karena berhasil mengubah kutub es menjadi hangat.
Avin juga tersenyum melirik ke arah Alis, mata papi melotot bisa melihat interaksi keduanya karena pernah mengalami yang namanya jatuh. Cinta sehingga tahu apa yang ada di pikiran dua orang dewasa yang sudah lama mengenal.
"Ternyata kalian berdua pacaran?" goda papi menujukkan ekpresi tidak suka.
"Papi tahu dari mana?" tanya Alis sambil tertawa.
"Kenapa harus Arvin dari sekian banyak lelaki, apa kalian berdua tidak bosan?"
"Kita baru Pi, bagaimana bisa bosan?" Arvin siap jika memang harus dimarah.
Wajah papi tegang, dia tahu jika Alis dan Arvin kenal sejak kecil, tidak sepatutnya berpacaran karena akan mempercepat rasa bosan karena sering bertemu.
__ADS_1
Kepala Arvin menggeleng, dia tidak mungkin bosan karena usianya bukan delapan belas tahun lagi, tapi sudah dewasa.
"Maaf Pi, aku tidak tertarik untuk pacaran hanya sebatas untuk status. Saat memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Alis maka aku yakin akan membawa hubungan itu sampai kepada ikatan suci pernikahan," ucap Arvin sangat yakin.
"Kamu ingin menikahi Alis, bagaimana dengan orang tua kamu?"
Apapun keputusan Arvin tidak ada sangkut-pautnya dengan orangtuanya, mereka juga mengenal Alis dengan baik dan tahu Alis dari keluarga baik.
Tidak ada alasan untuk menentang hubungan, apalagi Arvin ingin menikah atas dasar cinta bukan hanya ingin memiliki saja.
"Alis tidak boleh menikah sebelum Andra," ucap Papi mengejutkan Alis dan Arvin.
"Oke Om, aku akan membuat Andra menikah secepatnya. Jika bisa jangan dengan Syifra, dia tidak baik Om, maaf bukan maksud menjelekkan, tapi memang jelek." Senyuman Arvin terlihat menutup mulutnya.
"Papi setuju, jangan dia."
"Nenek setuju," teriakan terdengar menbuat Papi, Arvin dan Alis lesu.
"Satu lagi malaikat kematian, selain Kakek," gumam Arvin membuat Alis tertawa.
Panggilan masuk, Arvin pamit untuk menjawab panggilan. Alis berdiri mendengar Arvin yang nampak terkejut.
"Ada apa Kak?" tanya Alis.
"Kakek masuk rumah sakit, kondisinya sangat buruk. Lis tolong bawa Raya dan hubungi Mama, aku harus ke rumah sakit sekarang." Arvin pamit kepada Papi yang meminta segera pergi dan tidak kebut-kebutan.
Secepat kilat Alis berlari ke arah kamar, melihat Raya yang masih tidur. Alis membisikkan sesuatu kepada Maminya yang sama kagetnya.
"Ya Tuhan, usia memang tidak ada yang tahu."
"Ada apa?" Nenek menatap Mami sinis.
"Kakek Arvin sekarat, itulah akibatnya suka jahat, akhirnya tetap butuh anak cucu. Ini pelajaran juga untuk Mami yang suka jahat kepada menantu dan cucu," sindir Mami membuat Nenek berteriak sampai Raya bangun sambil nangis.
Arvin sudah pergi ke rumah, firasatnya sejak awal sudah tidak enak saat kakeknya mengirimkan pesan jika dia hampir mati.
"Kenapa pria tua itu suka bermain dengan nyawa," gumam Arvin pelan mempercepat laju mobilnya.
Sampai di rumah sakit Arvin menghubungi Daddy yang mengantarkan kakek ke rumah sakit, setelah mengetahui ruang rawat langsung bergegas.
Di depan kamar pemeriksaan, Daddy berdiri sambil tertunduk. Wajahnya menujukkan kegelisahan melihat ayahnya dirawat.
"Dad, apa yang terjadi?"
"Tidak tahu Vin, Kakek kamu bilang mau nikah lagi, tapi nenek datang memukulinya sampai minta dibawa ke rumah sakit," jelas Daddy yang tidak menemukan bekas luka apapun dari tubuh ayahnya.
"Daddy jangan cemas, Arvin masuk dulu."
Saat berada di dalam Arvin melihat kondisi kakeknya, sudah tua masih minta kawin lagi memang buaya buntung.
"Vin, selamatkan Kakek, soalnya Kakek ingin melihat kamu menikah," ucapnya meminta Arvin mendekat.
"Bagaimana kondisinya?"
Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan, dan menunggu hasil tes untuk tahu kondisi kemungkinan besar memiliki penyakit jantung.
Kakek tidak membenarkan, dia hidup sehat meskipun jual obat-obatan. Tidak sekalipun menggunakan obat terlarang, sudah menghentikan minuman keras, tidak mungkin terkena serangan jantung.
"Dok, kakek ini sudah banyak bicara melantur," ucap Dokter yang menangani sambil menggeleng.
Kepala Arvin mengangguk, meminta dipindahkan ke ruangan rawat. Arvin tahu jika usia Kakeknya tidak lama lagi.
__ADS_1
Kakek dibawa keluar, melambaikan tangannya saat melihat Daddy menoleh. Memberikan kecupan jarak jauh membuat Daddy kesal.
"Kenapa dengan Kakek Vin?"
"Mungkin kita akan mendapatkan kabar buruk Dad, kondisi kakek sudah tidak baik apalagi ucapannya sudah melantur ke mana-mana," jelas Arvin melangkah bersama Daddy untuk ke ruangan rawat.
Di dalam kamar rawat, Kakek terus mengoceh, menanyakan keberadaan istri pertama sampai terakhir, bahkan Daddy dan Arvin sudah lupa.
"Kek, masih kenal Arvin tidak, bagian mana yang sakit?"
"Dada," jawab Kakek yang merasakan dadanya sesak.
Tangan Arvin mengusap dada, mendengar suara tangisan. Daddy merangkul Arvin yang tidak membenci Kakeknya sama sekali.
"Ayah, apa yang memberatkan ayah di sini, jika ingin menitipkan anak istri aku tidak bisa. Bagiku keluarga kami hanya ini, dan aku hanya memiliki tiga anak. Agra, Arvin dan Araya sisanya hanya orang lain." Daddy ikhlas melepaskan ayahnya daripada melihatnya menahan sakit.
"Araya mana?" tanya Kakek mencari di kecil.
Tidak ada yang menjawab, Arvin mengenggam tangan kakeknya yang perlahan memejamkan matanya.
Daddy menoleh ke arah lain menyadari air matanya menetes, hatinya hancur menyaksikan kepergian ayahnya.
Meksipun perbuatannya selama ini mengecewakan, tapi bagi Daddy orang tua yang membesarkan hanya ayah.
"Kakek sudah meninggal Dad," ucap Arvin yang tidak merasakan lagi denyut nadi dan napas.
Kakek tidak sempat melihat Raya lagi, hanya Arvin yang ditatapnya terakhir kali. Arvin terduduk di kursi, mendengar tangisan daddynya.
Pintu terbuka, Mama melangkah masuk melihat suaminya yang menangis duduk jongkok merasakan kehilangan.
"Dad, sabar." Mama memeluk erat suaminya ikut meneteskan air mata karena merasakan sedih yang sama.
Tangisan Daddy sesegukan, binggung cara menyampaikan kabar duka. Ayahnya bukan orang baik, apa pantas mendapatkan pemakaman yang terhormat.
"Kenapa hanya menangis, kamu punya keluarga. Kita bisa saling menguatkan, bukannya tiap manusia yang hidup pasti akan mati. Berikan kabar duka, agar semua orang bisa memberikan penghormatan terakhir terutama mantan istri Ayah berserta anaknya." Mama menenangkan suaminya yang mengangguk pelan.
Mama memeluk Arvin, mengusap wajah Putranya yang juga tidak boleh diam saja. Sebagai cucu pertama harus memimpin untuk mengantarkan Kakek ke tempat peristirahatan terakhir.
Perawat masuk membawa jenazah ke kamar duka, di luar ruangan ada Alis dan kedua orangtuanya.
"Altas, aku mengucapkan turut berduka," ucap papi membungkukkan tubuhnya.
"Terimakasih, berikan Raya kepadaku." Daddy tersenyum menggedong putrinya yang ada di gendongan Papi.
"Daddy, Kakek kenapa di situ?"
Senyuman Daddy terlihat, menurunkan Raya. Mengulurkan tangan untuk membawa kakek ke rumah duka.
Mami memeluk Mama, mengusap punggungnya agar sabar, Alis juga memeluk erat meraskan kesedihan keluarga kekasihnya.
Alis menghubungi Agra untuk segera datang, begitupun dengan Prilly dan Erin. Kanaya dan Andra juga langsung pulang setelah mengetahui Kakek meninggal.
"Menangis saja, jangan ditahan." Alis menangkup wajah Arvin, memeluk lembut kekasihnya.
"Rasanya sedih, masih sama seperti saat kehilangan Mommy, bedanya aku memiliki keluarga." Arvin memeluk Alis erat menjamin dirinya baik-baik saja.
"Maafkan kesalahan Kakek Lis," ucap Arvin pelan.
"Aku tidak ingat, kita hanya tahu Kakek lucu karena suka menikah, sedangkan cucunya belum menikah." Alis mengusap air mata Arvin agar semangat.
Tidak ada yang perlu dikenang dari keburukan, cukup hal baik agar Kakek bisa pergi dengan tenang.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira