
Senyuman Naya terlihat menatap Andra yang duduk di santai di atas batu melihat keindahan air terjun, rambut Andra dikibas karena basah.
"Andra dilihat begitu ganteng, apalagi tanpa baju," puji Prilly membuat Naya manyun.
"Enggak, tetap jelek. Ini hanya hobi tebar pesona." Naya menyelam ke dalam air, memegang dadanya yang merasa deg-degan.
Nay membenci perasaan yang tidak jelas, dia tidak boleh menyukai Andra terlalu lancang karena keduanya jauh berbeda.
Sebelum terperosok jatuh ke lubang yang lebih dalam lebih baik sadar diri, Naya tidak ingin jatuh cinta sebelum lulus kuliah.
"Dra, makan dulu. Kamu tidak kenyang menghirup angin," panggil Arvin agar Andra naik.
Suara Andra lompat ke dalam air terdengar, tanpa sengaja melihat Naya yang menyelam sambil berdiam diri.
Kedua timbul dari air, Naya membuka matanya melihat Andra di hadapannya, senyuman Andra terlihat manis, Naya menyelam lagi.
Andra juga ikutan menyelam, menatap Naya yang memejamkan matanya. Kedua tangan Andra menyentuh wajah Naya menyatukan kening keduanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Andra menarik Naya naik ke daratan umum makan.
"Jika kamu ingin makan duluan saja, aku masih ingin mandi."
"Perbaiki baju, dua gunung berbentuk," tegur Andra bercanda.
"Dasar otak kotor." Tendangan Naya kuat membuat Andra hampir jatuh.
Keenan anak muda makan bersama dalam keadaan basah kuyup, saling tatap dan tertawa aneh.
"Dra, apa kamu menyukai Naya?" tanya Arvin terus terang.
"Konyol." Andra menghentikan makannya langsung melangkah pergi.
Tatapan Naya tajam, tidak suka dengan pertanyaan Arvin. Tidak ada yang berhak atas dirinya, masalah suka dengan siapa tidak seharusnya ditanyakan langsung.
"Vin, aku menganggap kita semua sahabat, kenapa membahas perasaan?"
"Aku tulus menyukai kamu, salah jika aku ingin tahu saat kamu begitu dekat dengan Andra." Avin mengepalkan tangannya merasa bersalah atas apa yang dibicarakannya.
Tidak seharusnya cemburu buta dan bicara langsung di depan Andra, merusak suasana makan mereka.
Arvin melangkah pergi mencari keberadaan Andra yang ternyata mengikuti seekor burung, berusaha naik dan meletakkan anak burung kembali ke sangkarnya.
"Sorry, pertanyaan gue keterlaluan," ucap Arvin yang merasa tidak nyaman karena mereka bertiga menyukai Naya.
"Aku pergi bukan karena pertanyaan konyol kamu, tapi ada anak burung yang belajar terbang tapi jatuh lagi." Senyuman Andra terlihat menujuk ke atas pohon.
Langkah Agra mendekat mencemaskan kedua sahabatnya jika bertengkar hanya gara-gara perempuan.
__ADS_1
"Naya tidak mungkin menyukai aku, mendingan kamu cemburu kepada Agra," ujar Andra agar dirinya tidak masuk daftar.
"Aku tidak tahu ini perasaan suka atau nyaman, tapi jujur Naya memang wanita baik, bukan soal parasnya, namun ketulusannya, dan dia mandiri," puji Agra meminta maaf kepada Arvin jika perasaanya lancang.
Tangan Arvin mengacak rambutnya, meminta membuat janji jika mereka tidak akan bertengkar demi wanita, tapi bermain sehat.
'"Siapapun yang dipilih oleh Naya, maka harus terima, kita akan tetap bersahabat." Avin mengulurkan tangannya.
"Aku tidak ikutan, kalian berdua saja," ujar Andra yang mundur sebelum berperang.
"Tidak seru Dra, apa salahnya ikutan." Agra menarik tangan Andra untuk saling genggam.
Senyuman Andra terlihat, mengikat janji bersama kedua sahabat jika tidak akan bertengkar karena wanita.
Naya ataupun wanita lain tidak akan memutuskan tali persahabatan, tidak membenci siapapun yang cintanya terbalas.
"Apa kalian berdua tidak punya waktu selain memikirkan cinta, ingat masalah orang tua kalian belum kelar." Andra melangkah pergi mengikuti suara burung.
Helaan napas Arvin dan Agra terdengar, Anda benar. Masalah saja belum usai sudah sibuk memikirkan cinta.
Teriakkan Alis terdengar, tiga lelaki langsung lari ke arah para wanita yang sedang mengusir ular.
"Hati-hati Pril," tegur Alis yang takut ular.
"Aman, dia sudah pergi, bukan salah ularnya, tapi kita yang lancang main ke wilayah mereka."
"Rasanya ingin membawa matahari pulang," ucap Alis yang begitu mengangumi langit.
Potret enam orang diabadikan, Andra tersenyum menatap foto mereka berenam yang jelek semua.
"Waktunya kita pulang sudah waktunya kembali ke rutinitas." Agra meninggalkan tempat duduknya dikuti oleh yang lainnya.
Naya mengukir sesuatu di batang pohon, memberikan ingatan jika mereka berenam sudah pernah datang.
"Ayo kita pergi lagi ke sini di masa depan," pinta Naya menatap lima orang yang menoleh ke arahnya.
"Aku tidak yakin karena mengunjungi sesuatu cukup satu kali." Andra mengambil alih menyetir karena Agra dan Arvin harus tidur setelah dua hari satu malam tidak tidur.
Nay duduk di samping Andra, keduanya memilih tidak tidur, merasa baik-baik saja setelah menyegarkan badan.
Kanaya hanya diam saja, menatap fokus ke depan. Andra juga diam karena asik mendengarkan musik.
Suasana keduanya nampak canggung karena pertanyaan Arvin soal perasaan, Nay lebih suka Andra yang jahil daripada diam.
"Kenapa tidak mau balik lagi ke sini?"
"Suasana akan berubah lima atau sepuluh tahun ke depan, bisa saja menjadi tempat liburan. Suasana sejuk, damai, dan tenang akan berubah." Andra tidak tertarik untuk mencoba kembali apa yang sudah berubah.
__ADS_1
Senyuman Naya terlihat, meksipun ada perubahan. Hutan menjadi bangunan, sungai menjadi lautan, apapun perubahan tidak akan menghilangkan kenangan yang tertinggal.
"Berhentilah mengingat kenangan, tidak selamanya kenangan itu indah," ujar Andra tersenyum sinis.
"Kenangan hari ini indah Andra, apa bagi kamu tidak?" Naya melipat tangannya di dada.
"Khusus hari ini aku tidak ingin bertengkar dengan kamu." Andra melirik tajam.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, suara dengkuran dari empat orang yang ada di belakang terdengar.
Beberapa kali Naya menepuk pundak Andra agar tidak mengantuk sehingga mengajaknya mengobrol.
"Dra, bagaimana jika besok aku dipecat?"
"Derita Lo. Naya, kamu bisa menyetir?"
Kepala Naya mengangguk, Andra menoleh namun tidak percaya. Tidak tega juga jika yang menyetir perempuan.
"Kamu mengantuk, kita berhenti dulu." Nay berpegang tidak ingin mati konyol.
Tawa kecil Andra terdengar, Naya ternyata ada juga tempat takutnya. Dia tidak sehebat yang orang bicarakan.
"Nay, boleh aku bertanya?"
"Emh," jawab Naya.
"Jangan emh emh ujung-ujungnya tidur," tegur Andra tidak mengizinkan.
"Iya apa, Naya tidak tidur. Lihat mataku," pinta Naya.
"Kamu sudah pernah pacaran?"
Tawa Naya terdengar, dirinya tidak punya waktu pacaran, bahkan tidak mungkin tidak ada yang menyukainya karena dirinya tidak memiliki nilai baik.
Seorang wanita yang hidup tanpa orang tua selalu dipandang rendah, Naya juga harus menghidupi dirinya sendiri.
"Apa menurut kamu orang sepertiku bisa berpacaran?" kepala Naya menggeleng tidak akan ada waktu untuk menjalin hubungan.
"Jika begitu jangan pacaran, menikahlah dengan cinta pertama."
"Masa itu masih lama, aku tidak ingin menikah muda. Aku tidak ingin menjadi beban," ujar Naya meminta berhenti membahas.
"Baru tahu jika istri itu beban." Andra geleng-geleng kepala.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1