
Kemunculan Naya membuat Andra yang sedang bermain game terganggu, suaranya mengomel mengalahkan suara permainan.
"Bantuin bawa barang-barang dari dapur." Nay bertolak pinggang.
"Kecilkan suara kamu Nay, sebanyak apa barang di belakang sampai membuat kamu harus teriak." Suara Andra teriak sangat besar.
Naya melempar dengan jaket, menutupi ponsel. Agra sudah tertawa langsung ke dapur membawa keperluan untuk memasak hotpot.
Kompor dihidupkan, sayur, daging, bakso, dimasukkan ke dalam kaldu. Bau wangi sudah tercium membuat perut semakin lapar.
Alis duduk mencium bau wangi, diikuti oleh yang lainnya juga duduk berkeliling.
"Selamat makan semuanya." Alis tersenyum ingin mengambil pertama kali.
Naya memukul tangan Alis, benda panas ingin dipegang langsung, kenyang tidak gosong iya.
"Pelan-pelan Alis, cukup dapur yang kamu hancurkan. Ini panas, aku ingin makan tidak ingin heboh mengantar kamu ke rumah sakit." Nay meminta Agra membantu Alis untuk mengambil makanan.
"Prilly, duduk makan bersama kita." Senyuman Agra terlihat, memberikan tempat untuk Prilly.
Arvin dan Andra sudah diam dengan tenang, berhenti bermain ponsel, menikmati makanan mereka.
Nay tersenyum mulut Andra bisa diam jika ada makanan, sedangkan Arvin yang tidak tahu malu sudah lahap.
"Ini enak sekali, kalian berdua pintar masak." Agra memuji Nay dan Prilly.
"Alis juga tadi ada membantu sedikit kak."
Agra tertawa sampai hampir batuk, mengusap kepala Alis yang ingin menambah. Sikap lembut terlihat sangat menyayangi Alis melebihi Andra yang mengurus perutnya sendiri.
Pikiran Nay masih mengingat kejadian di dapur, makannya tidak terlalu fokus. Sesekali melihat Prilly yang makanannya sangat pelan.
Rasanya Nay ingin bertanya langsung, tapi tidak enak menyinggung keduanya yang masih menyembunyikan hubungan, dan juga harus menghargai privasi masing-masing.
Perasaan Naya yakin ada sesuatu, tapi apa sampai Prilly sangat menghormati ibunya Agra. Bahkan menerima begitu saja.
Naya melihat ke arah Agra, memperhatikannya cukup lama. Tanpa Prilly minta Agra menambah makanan membuat Prilly tersenyum.
Andra juga melihat ke arah Agra, lalu melihat Naya yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Vin, kamu jangan memikirkan perut sendiri perhatian juga pacar kamu," Bisikan Andra pelan, menggoda teman di sebelahnya yang cengengesan.
Avin tidak menjawab masih fokus ke makanannya sendiri, hanya sekilas melihat Naya yang sedang makan.
__ADS_1
Tatapan mata Nay kembali memperhatikan hubungan Agra dan Prilly, Nay penasaran kemungkinan tidak jika keduanya memiliki hubungan spesial, tetapi tidak direstui oleh Maminya Agra.
Nay berpikir jika Maminya Agra juga ingin menjodohkan anaknya dengan wanita pilihannya, sehingga tidak menyukai hubungan Agra dan Prilly.
Arvin dan Agra memiliki nasib yang sama, mereka anak orang kaya sejak muda sudah bertunangan.
Kening Alis berkerut melihat Naya yang memperhatikan Agra cukup lama, bahkan tidak berkedip sama sekali.
Bukan hanya Alis yang menyadarinya, tetapi Prilly juga binggung melihat Naya yang terlihat banyak pikiran, dan bicara dalam hati.
"Kak Nay," panggil Alis sambil bingung, Nay tidak menjawab panggilannya, meksipun sudah melambai tangannya.
Prilly menyentuh tangan Naya yang masih bengong memikirkan sesuatu, senyuman Nay terlihat merasa lucu dengan dirinya sendiri, memikirkan hubungan orang lain.
"Kak Nay kenapa menatap kak Agra lama sekali? nanti kak Arvin cemburu." Alis menatap tajam Nay dan Avin.
"Tidak." Naya dan Avin berteriak bersamaan.
"Kenapa aku harus cemburu? terserah dia ingin menatap sampai matanya keluar sekalipun, aku tidak perduli." Avin menatap sinis, melihat Naya yang melotot.
Suara tawa Alis terdengar, menunjuk ke arah Arvin yang baru saja menunjukkan jika dirinya cemburu. Jika tidak punya rasa cemburu tidak harus berbicara dengan nada tinggi.
Ucapan terserah artinya dia marah, tidak perduli berarti kecewa. Arvin secara terang-terangan baru saja menunjukkan rasa cemburunya.
"Aku tidak cemburu, sumpah." Avin berteriak.
"Lalu kenapa marah?" Andra menimpali.
Senyuman ejekan terlihat, wajah Arvin terlihat kesal karena Naya menatap Agra lama. Mulut berkata tidak, tapi hati terluka.
"Ayo kak Arvin ungkapan isi hati kak Arvin, kita semua siap mendengarkan." Suara Alis sangat besar, menunggu Arvin yang masih mengendalikan dirinya.
"Tidak ada yang cemburu Alis, memang salahnya di mana? kamu juga Nay, apa wajah Agra kurang jelas sampai kamu harus menatapnya lama?" Avin menutup mulutnya, Naya memukulinya kesal.
Suara tawa Andra, Agra dan Alis terdengar. Mengejek Arvin dan Naya yang wajahnya memerah karena menahan malu.
Avin menggeleng kepalanya, tidak percaya jika dirinya cemburu, kapan cinta datang juga tidak tahu.
Nay menyentuh pipinya, mendapatkan ejekan jika wajahnya memerah sungguh memalukan.
"Kak Nay lucu pipinya merah." Alis mengusap wajah Naya.
Melihat wajah Arvin dan Naya membuat Agra tertawa, bahkan Prilly juga tertawa sambil menatap Agra yang juga menatapnya.
__ADS_1
Suara tawa pertama Prilly yang terdengar jelas, dia terlihat sangat cantik saat tersenyum. Naya langsung melihat tatapan Prilly ke Agra yang terlihat berbeda.
Mata Alis juga melihat ke arah Prilly yang ditatap oleh Agra, ada rasa tidak suka melihat keduanya tertawa bersama.
Canda Alis langsung hilang, Prilly sudah terlalu dekat dengan Agra. Alis menggenggam tangannya merasakan marah, dan hatinya terasa terpukul melihat keduanya bisa tertawa bersama.
Tangan Nay mengusap wajahnya, melihat tatapan Alis yang langsung berubah. Mata Nay berkedip-kedip langsung mengambil air minum meneguknya sampai habis.
Melihat dua wanita yang menatap Agra dengan cara yang sama, sungguh membuat Nay khawatir.
"Pri teruslah tertawa." Agra menepuk pundak pelan.
Arvin melihat Naya yang melihat ke arah Agra, Nay juga langsung menoleh ke arah Arvin mengerutkan keningnya juga langsung menatap ke Andra yang sudah diam.
"Lis, kamu jangan sok tahu membaca pikiran orang." Nay mencoba mengembalikan tawa Alis.
"Aku tidak cemburu, tidak sama sekali." Avin berdehem.
"Coba kalian berdua saling menggenggam tangan." Alis mengejek keduanya yang wajahnya semakin memerah.
Nay memalingkan wajahnya, mengigit bibir atasnya gemes melihat Alis yang masih kecil, tapi pikirnya pacaran.
Arvin hanya tertunduk, tidak ingin menatap Naya lagi. Ejekan teman-temannya tidak Avin dengarkan berusaha untuk mengabaikan.
"Dra, kamu cemburu?"
"Kenapa aku cemburu? tidak ada sejarah Andra mengejar cinta."
Naya menatap Andra yang melotot melihat, meminta semuanya tenang untuk berhenti membicarakan dirinya dan Arvin.
Nay lelah di mana-mana gosip dirinya, baik kampus bahkan di apartemennya juga. Nay tidak ingin mendengar lagi.
"Kak Nay dan kak Avin lucu, wajah kalian mengemaskan." Alis memotret keduanya.
"Alis, jangan jahil."
Agra meminta semuanya tenang, berhenti saling mengejek dan mendoakan semoga Arvin dan Nay jujur tidak membohongi perasaan masing-masing.
"Aku tidak cemburu Agra."
"Iya, kamu tidak cemburu." Senyuman Agra terlihat, menatap Prilly yang juga tersenyum.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira