KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
KEBAKARAN


__ADS_3

Pintu rumah terbuka, Andra meminta adiknya melewati jalan belakang karena dia sendiri yang akan mengatasi kemarahan Papinya.


"Dari mana kamu?"


"Andra pergi liburan bersama teman-teman," jawab Andra.


Tatapan mata tajam, setumpuk kertas di lempar ke wajah Andra sampai berhamburan. Pekerjaan Andra sungguh luar biasa.


Tidak pernah fokus di bisnis sendiri, sibuk mengurus kehidupan orang lain. Andra menyelidiki sekumpulan orang yang bekerja secara ilegal, membahayakan nama baik perusahaan.


"Mau kamu apa Dra? Sudah Papi perlakuan dengan baik, ditegaskan, dipukul, dimarah sampai dada Papi sesak, bahkan Papi memperlakukan kamu seburuk mungkin, tapi tidak ada perubahan. Perusahaan ini ingin kamu bawa ke mana?" Papi meminta Andra bicara bukan hanya membuat masalah.


"Dra, kamu harapan kami." Mami menggelengkan kepalanya melangkah pergi.


Kepala Andra mengangguk, meminta sedikit waktu kepada Papinya. Andra akan mengikuti peraturan dan mulai aktif mengurus perusahaan, tidak bermain lagi.


Andra akan membuktikan jika dirinya bisa memimpin perusahaan sendiri tanpa aturan Papinya, dan saat waktu itu tiba maka tidak ada yang berhak mengatur.


"Andra ke kamar dulu Pi," pamit Andra melangkah pergi.


"Kapan, kapan kamu bisa melakukannya?"


Andra tidak menjawab, melangkah masuk ke dalam kamarnya. Mata Andra terpejam, memikirkan ucapan Papinya karena semua yang Andra lakukan tidak pernah benar.


Pintu kamar Andra terbuka, Mami melangkah masuk ke dalam kamar, menatap putranya nampak lelah.


"Dra, kuliah kamu hampir selesai, pindah ke luar negeri. Pimpin perusahaan kita di sana," ujar Mami meminta Andra turun karena perusahaan dalam masalah.


Papinya memiliki batas kemampuan, tidak mungkin dia harus bolak-balik setiap hari berada dalam perjalanan.


Apa yang Papi lakukan bukan sekedar untuk kemewahan, tapi ada banyak yang diperjuangkan.


"Mami tahu kamu belum siap, usia masih muda, ingin fokus kuliah, tapi tidak ada salahnya turun tangan. Pikirkan nasib ratusan karyawan," pinta Mami berharap Andra bersedia pergi.


"Mami yakin karena itu? Andra tahu Mami dan Papi ingin menjauhkan Andra dari Arvin dan Agra karena keluarga mereka berseteru." Mata Andra terbuka menatap Maminya yang terdiam.


Tidak ada orang tua yang ingin anaknya celaka, apa yang kedua orang tua Andra lakukan demi kebaikannya.


"Jika kamu tidak menyelidiki soal kematian Mommy Arvin dan perselingkuhan Papa Agra, mungkin Daddy tidak akan melakukannya. Kamu berbuat terlalu jauh Dra," bentak Mami karena Andra tidak paham niat tulus orangtuanya.


Pintu kamar tertutup kuat, Andra menarik napas panjang karena apa yang dirinya lakukan tidak mungkin bocor, jika perusahaan tidak ikut campur.

__ADS_1


Suara dering ponsel Andra terdengar, Alis melakukan panggilan karena takut masuk rumah.


Balkon kamar Andra terbuka, menatap adiknya yang menangis di pojokan. Alis kekanakan padahal sudah besar,


"Jika aku pergi semoga kamu bisa mandiri, Lis." Batu kecil di lempar ke arah Alis yang langsung berdiri mengusap air matanya.


"Kakak, tolong. Alis takut," ucapnya merengek tidak berani masuk rumah.


"Sudah tahu penakut, tapi suka sekali ikut-ikutan orang." Andra membantu Alis untuk naik ke kamarnya.


Bibir Alis manyun, berjalan masuk kamar. Tangisan Alis terdengar tidak tega melihat kakaknya dimarah.


"Masuk kamar kamu, jangan menangis jadi kuntilanak di sini." Andra mendorong Alis keluar kamarnya karena sudah lelah mendengar suaranya.


Senyuman Andra terlihat karena maminya meneriaki Alis yang berlari ke arah kamar, adik nakalnya yang selalu membuntutinya.


Tidak bisa Andra bayangkan jika akhirnya dia pindah ke luar negeri, apa Arvin dan Agra akan tetap menjaga adiknya yang nakal.


"Astaga, kenapa layar ponsel ini berubah foto Naya?" Andra melihat ponselnya, tidak tahu cara mengubahnya kembali.


Tawa Andra terdengar tidak bisa membayangkan jika Naya melihat fotonya yang jelek ada di wallpaper.


"Perempuan bar-bar itu pasti membanting ku jika tahu," gumam Andra melihat pesan dari Naya meminta dikirimkan foto.


Nay yakin sekali semua fotonya bagus, tapi Andra memotong foto hingga jelek. Panggilan Naya masuk Andra langsung menjawabnya.


"Kirim yang bagus Andra," pinta Naya dengan memaksa.


"Sudah aku kirim, itu foto asli."


"Andra, cepat. Naya mau lihat!"


"Tidak ada, memang begitu bentuknya." Tawa Andra terdengar besar puas melihat Naya marah-marah.


Panggilan mati, Naya mengumpat Andra kasar karena kurang pekerjaan, hidup Andra tidak pernah tenang jika tidak menjahili orang.


Teriakkan Naya besar, membuat Arvin yang baru ingin tidur membuka matanya terkejut melihat Naya marah-marah.


"Ada apa Nay?" Prilly memperlihat kepalanya saja.


"Andra, dia tidak ingin mengirimkan foto." Naya menghentakkan kakinya.

__ADS_1


"Lebih baik tidur Naya, kepala aku pusing berhari-hari tidak tidur!" Arvin terganggu dengan suara Naya yang sangat besar.


Mata Arvin terpejam, menyadari jika Naya menyukai Andra, tapi keduanya sama-sama gengsi mengakui.


Tidak seharusnya Avin masih tinggal di rumah Kanaya, tidak enak dengan Andra dan Agra karena sudah berjanji untuk bermain sehat.


Avin tidak fokus lagi mengejar cintanya, dia harus menyelesaikan masalah keluarganya yang sedang rumit.


"Bau apa ini?" Avin menatap sekitarnya.


Bukan hanya Arvin yang mencium bau, tapi Naya dan Prilly juga. Kedua mencium bau aneh dari dalam rumah.


Ruang tamu mengepul asap, suara ledakan terdengar. Tiga orang yang ada di dalam rumah langsung lari, hanya keluar membawa ponsel masing-masing.


"Avin, cepat keluar." Prilly menarik tangan Naya.


Tiga orang lompat dari tangga, melihat api menjulang tinggi. Arvin langsung berdiri menarik tangan Naya dan Prilly untuk segera menjauh.


"Apa yang terjadi?" Naya menutup mulutnya karena Apartemen terbakar.


Tiga anak muda terduduk lemas, tidak sempat menyelematkan apapun. Banyak orang yang berhamburan mencari bantuan.


"Tidak mungkin kebakaran ini karena kendala di rumah, kita tidak menghidupkan kompor, bahkan kita baru pulang." Agra menatap seorang pria yang berdiri melihat ke arah rumah, pria yang sangat dikenalinya.


"Agra jangan." Naya menahan tangan Agra karena Naya juga menyadari keberadaan beberapa orang yang dikirim Kakek Agra untuk memberikan pelajaran.


Kedua tangan Naya meremas kepalanya, hanya bisa menerima apa yang terjadi paling penting mereka selamat.


"Seandainya Naya tidak teriak mungkin kita sudah terbakar karena masih tidur," ujar Prilly yang memegang dadanya karena menelan asap.


Tangan Agra tergempal, sungguh kecewa dan tidak bisa memaafkan perbuatan kakeknya. Naya tidak ada salahnya, dia sudah memberikan tempat tinggal, dan sekarang tempat itu hangus terbakar.


"Sekarang kita harus bagaimana Gra?" tanya Naya karena harus ganti rugi kerusakan.


"Aku akan mengurus semuanya, maafkan aku Naya." Agra merasa sangat bersalah.


Tarikan napas Naya panjang, bersyukur karena Agra baik-baik saja. Tidak ada salahnya, orang yang harus bertanggung jawab Kakeknya.


***


.

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2