KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MENJENGUK


__ADS_3

Langkah Naya tertatih, tangannya meraba dinding melihat ke arah satu kamar pasien. Terlihat seorang remaja yang masih terbaring.


Tidak ada satupun orang yang mendampingi, baik keluarga, teman tidak ada yang datang berkunjung. Hanya perawat yang mengurus.


Ketukan pintu terdengar, kepala Naya masuk lebih dulu menatap Erin yang menoleh ke arahnya.


"Boleh aku masuk Rin?" meksipun tidak mendapatkan jawaban, Naya melangkah masuk.


Mata Erin terpejam, tidak berniat menyapa Nay sama sekali, jangankan meminta maaf tidak ada penyesalan di wajahnya.


"Bagaimana kondisi kamu Rin?" lama Naya menunggu jawaban.


"Maafkan aku, tidak ada niatan rasa benci sejauh ini. Aku dan Arvin tidak ada hubungan apapun, hanya sebatas berteman sebagaimana mestinya." Kepala Naya tertunduk memahami rasa sakitnya Erin yang kehilangan cintanya.


Mencintai seseorang memang terkadang tidak normal, orang baik bisa menjadi jahat begitupun sebaliknya. Naya tidak akan menyalahkan Erin atas kecelakaan, sadar jika rasa kecewa tidak mampu dikendalikan.


"Kamu bahagia melihat aku seperti ini?"


"Bagaimana mungkin aku begitu Rin, seandainya kamu bisa memandang aku sedikit saja dengan kebaikan, Naya tidak sejahat dan seburuk itu. Aku hanya anak yatim piatu yang hidup mandiri, tapi banyak orang yang tidak menyukai aku hanya karena miskin." Kanaya tahu diri dan sadar jika tidak pantas dibandingkan dengan kehidupan Erin juga mahasiswa lain.


Kedatangan Naya ke kampus bukan mencari musuh, tidak ada niatnya menganggu siapapun. Naya hanya ingin kuliah dan membuktikan jika anak yatim piatu juga bisa berhasil.


Sejujurnya Naya sedih karena Erin sampai nekad membahayakan dirinya sendiri hanya karena sebuah rasa, sebegitu besarnya rasa benci.


"Apa aku begitu menyakiti kamu Rin?"


"Pergilah, aku tidak ingin mendengar ocehan apapun."


"Emh, apapun itu maafkan aku. Naya sadar diri jika keadaan kita sama-sama sulit."


"Kenapa wanita miskin seperti kamu memiliki banyak teman, bahkan dicintai. Aku memiliki segalanya, tapi tidak ada yang setia."


Nay terdiam, dirinya kasihan kepada Erin sejak pertama melihatnya. Dia terlihat jahat agar banyak yang menyukai dan menyanjungnya.


"Sudah dua hari kedua orang tuaku tidak datang menjenguk, tidak ada satupun teman yang datang berkunjung." Air mata Erin menetas.


Tangan Naya menepuk pelan, tidak ada yang mampu Naya katakan karena tidak ahli memberikan nasihat.


"Aku sudah datang menjenguk, jika boleh aku ingin tahu kondisi kamu, dan berharap cepat sembuh."

__ADS_1


"Dokter mengatakan aku lumpuh, Erin tidak mau lumpuh, Erin tidak mau Naya." Tangisan kuat terdengar merasa sangat terpukau dengan vonis dokter.


Kepala Naya menggeleng, tidak peduli apapun yang dokter katakan, Nay percaya Erin pasti sembuh. Dia akan pulih kembali, dan bisa beraktivitas seperti biasanya, meksipun butuh proses.


"Jangan menyerah, kamu harus bertekad untuk sembuh. Menangis dan menyesali tidak akan mengubah apapun, kamu harus bangkit dari keterpurukan," ucap Naya menyemangati.


Tangan Naya tertarik kuat, Erin berteriak ingin duduk dengan bantuan tangan Naya karena sejak masuk rumah sakit tubuhnya tidak bisa duduk.


"Aku tidak bisa," teriakkan terdengar.


"Bisa, pasti Rin. Kamu hanya butuh waktu, dan proses yang panjang. Jangan menyerah, jika hari ini tidak bisa, coba besok, lusa, dan seterusnya." Mata Naya berkaca-kaca merasa sangat kasihan kepada Erin.


Kedatangan Naya ingin pamitan untuk pulang, dokter sudah mengizinkannya untuk pulang, tapi Naya berjanji jika diizinkan dirinya akan datang lagi untuk menjenguk.


Paling penting Erin punya semangat untuk sembuh, apapun yang terjadi harus bertahan. Kesembuhan pasti datang kepada seseorang yang berniat sembuh.


"Besok aku usahakan datang, jika bukan aku semoga saja teman yang lain soalnya aku juga belum bisa jalan normal," ucap Naya merasa cemas jika dia tidak bisa tepat janji.


Kepala Erin mengangguk, menatap Naya yang beranjak pergi. Tangan Naya berpegang di dinding karena kakinya masih sakit.


"Maafkan aku, apa yang kulakukan sungguh bodoh." Erin mengusap air matanya karena sudah merusak hidup orang lain.


Pintu tertutup rapat, di depan pintu sudah ada Alisha karena dia berencana menjemput Naya untuk mengantarnya pulang.


"Kenapa Kak Nay meminta maaf kepada orang yang ingin membunuh Kak Nay?"


"Lalu aku harus bagaimana Lis? kondisi Erin jauh lebih buruk dariku. Dia kehilangan semangatnya, kita juga tahu sakitnya bertahan tanpa support dari siapapun," jelas Naya yang berjalan pelan ke luar rumah sakit.


Tangan Arvin terangkat, dia sudah membayar biaya rumah sakit. Naya hanya perlu datang satu minggu sekali untuk melakukan pengecekan.


"Kenapa lama sekali?" tanya Arvin membantu Naya jalan.


"Vin, sesekali datanglah kunjungi Erin. Minta maaf saja meksipun tidak salah, mental dia sedang jatuh," pinta Naya dengan nada pelan, melangkah kakinya menuruni tangga.


"Maaf Nay, aku bantu." Avin menggendong Naya ke arah mobil yang sudah menunggu.


Pintu mobil terbuka, Agra membantu Arvin memasukkan Naya ke dalam mobil. Wajah Naya nampak kesal kepada keduanya.


"Apa aku terlihat seperti gadis lumpuh?"

__ADS_1


Tawa Alis terdengar menarik pundak Arvin dan Agra sebelum pukulan menghantam wajah keduanya.


"Ini tanggung jawab sebagai Kakak, jangan berpikir hal aneh." Arvin masuk ke dalam mobil diikuti oleh Agra.


Lirikan mata Naya kembali tajam, memejamkan matanya mencoba mengabaikan perdebatan Alis dan Arvin.


Kanaya mengulangi ucapan yang belum direspon oleh Allah Arvin untuk mengunjungi Erin. Kedatangannya tidak harus memberikan cinta, tapi masa pertemanan.


"Kenapa harus aku?"


"Ya sudah, minta Daddy saja yang datang," balas Kanaya.


"Bagaimana jika Erin naksir Daddy, banyak cerita pernikahan beda usia terpaut dua puluh tahun," goda Alis karena Arvin punya Mama baru.


"Jaga ucapan Lo Lis!"


Tawa Agra terdengar meminta Arvin berhenti marah, ucapan Naya ada benarnya. Sesekali menjenguk Erin tidak ada salahnya.


"Besok kita jenguk dia."


"Kenapa tidak kamu saja Gra? Ditolak Naya bisa jadian dengan Erin." Senyuman Arvin terlihat mengejek.


Alis tertawa terbahak-bahak karena Agra juga ditolak, bukan hanya dirinya yang mendapatkan penolakan, tapi Agra juga.


Helaan napas Naya terdengar, meminta diam karena matanya mengantuk, Naya kepikiran tempat tinggal karena dia tidak punya tempat tinggal.


"Vin, bagaimana soal apartemen?"


"Pemiliknya ditangkap polisi karena melakukan penipuan, dia memang berkerja dengan kakek, tapi ada banyak kasus lain salah satunya penipuan gedung." Arvin memastikan jika tidak ada ganti rugi, tapi tidak ada juga tanggung jawab.


Sementara waktu Naya tinggal bersama Agra karena Mama mengizinkan Naya dan Prilly tinggal. Daddy Arvin juga mengizinkan Naya tinggal di rumahnya, tapi ada kakek Avin yang emosian.


"Maaf ya Nay, aku hanya menghindari keributan antara Kakek dan kamu," ucap Arvin.


"Kamu pikir aku apa, meladeni pertengkaran dengan Kakek-kakek." Nay memonyongkan bibirnya.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2