KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MASA LALU


__ADS_3

Perusahaan yang Andra pimpin semakin besar, Naya merasa lebih santai karena tim yang Andra pimpin bisa diandalkan.


"Sore Nay, mau pulang?"


"Belum," balas Naya.


"Ayo ke bandara jemput mereka," ajak Andra.


Wajah Naya lemas, dia kesal karena yang lainnya bisa liburan, sedangkan dirinya pulang lebih dulu.


"Jangan pasang wajah sedih minggu depan kita ke luar negeri."


"Meeting, ke sana hanya untuk kerja," bentak Naya dengan nada tinggi.


Senyuman Andra terlihat, menarik tangan Naya untuk segera pergi sebelum si kecil Raya mengoceh. Dia memaksa Andra untuk menjemputnya.


Helaan napas Naya terdengar, Raya paling bisa mencari umpan baru untuk mengikuti keinginannya.


Terpaksa Naya mengikuti Andra, beberapa staf tersenyum melihat keduanya. Terlihat seperti tim yang kompak, bisa nyambung dalam pembahasan apapun.


"Pemberitaan soal Agra semakin panas, tapi dia asik liburan." Andra pusing melihat pemberitaan.


"Semakin banyak pemberitaan tentangnya, semakin besar juga pemasukkan. Ini bukan berita buruk, hanya saja fans yang belum terima." Naya sudah melihat beberapa komentar dukungan, tapi banyak juga yang menolak.


"Kenapa mereka menolak? Padahal harapan bersatu dengan Agra sangat kecil. Sebagai fans bersikap sewajarnya saja."


"Kamu tidak akan paham karena tidak tahu rasanya mengangumi sesuatu." Naya memonyongkan bibirnya.


Kepala Andra mengangguk, dia binggung cara mengatakan kepada Agra jika seseorang menghubunginya. Pria yang dulu Agra kagumi.


Sekarang hidup Agra sudah bahagia, dia memiliki Papa baru yang bertanggung jawab dan mencintai mamanya, rasa marah dan kecewa pasti Agra rasakan kepada papa yang meninggalkannya.


"Papa Agra kembali?"


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Andra menghentikan laju mobil, Naya aneh sekali bisa menebak apa yang dipikirkannya.


Tangan Naya menujuk ke arah pusat perbelanjaan, seorang pria yang sangat familiar karena Agra pernah meminta Naya tidak melupakan wajah papa yang meninggalkannya.


"Aku pikir kamu bisa membaca pikiran," ucap Andra yang melihat ke arah tangan Naya.


"Jangan banyak khayal, apa yang dia lakukan?"


"Mencari cara untuk bertemu Agra, jangan sampai ini membuat reputasi Agra rusak."

__ADS_1


Tawa Naya terdengar meminta Andra melajukan mobilnya, Naya mengenal Agra. Dia tidak membenci, tapi membuktikan jika dirinya bisa dibanggakan sebagai anak.


Perpisahan kedua orangtuanya mungkin yang terbaik karena saat ini mamanya sangat bahagia hidup bersama Daddy Arvin.


"Apa Agra akan baik-baik saja, apa cinta Mama sudah sepenuhnya milik Daddy?" Andra masih ingat jelas betapa berantakan hidup mama Agra setelah ditinggalkan.


"Urus saja hidup kamu, Agra sudah menemukan kebahagiaan dengan versinya."


"Aku juga akan segera bahagia, kita akan menikah." Andra begitu percaya diri.


Perubahan Andra cukup besar setelah dewasa, dia tidak kasar lebih dewasa karena bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaannya.


"Apa kamu sudah memikirkan pernikahan?"


"Iyalah kita tidak selamanya sendiri," balas Andra.


Senyuman Naya terlihat, dia tidak pernah membayangkan karena takut apa yang pernah terjadi kepada orangtuanya terulang kembali. Nay takut jika ada anak yang akan bernasib buruk seperti dirinya.


"Melewati masa sulit tidak mudah Dra, mungkin aku bisa, tapi belum tentu dia mampu."


"Jangan samakan takdir hidupmu dan anak-anak kita, dia akan bahagia memiliki orang tua yang hebat."


Mobil berhenti, Andra berjalan keluar begitupun dengan Naya mencari keluarga yang dijadwalkan pulang.


Belum terlihat batang hidung siapapun, Naya hanya duduk menunggu sedangkan Andra melangkah pergi.


"Mau es krim?" tawar Andra menyodorkan es krim ke depan wajah Naya.


"Terimakasih Dra," ucapnya menerima.


Panggilan dari Syifra terlihat, dia sengaja menghubungi Naya. Panggilan dijawab, Naya menghidukan speaker agar Andra ikut mendengar.


"Aku akan melakukan aborsi," ucap Syifra mengancam.


Tidak ada jawaban dari Naya, Andra juga terdiam masih duduk santai menikmati es krimnya.


"Kamu akan menjadi orang paling berdosa karena sudah merenggut kebahagiaanku."


"Syif, aku tidak melakukan apapun, tapi masalah kamu sendiri yang menciptakan. Anak itu tidak salah, kamu yang berdosa. Kenapa Andra harus bertanggung jawab, aku ikhlas jika wanita yang Andra nikahin memang baik, tapi aku terluka jika dia bersama kamu hanya karena tanggung jawab," ucap Nay yang tidak habis pikir dengan pikiran pendek Syifra.


"Kamu tidak tahu rasanya diposisi aku."


"Kenapa tidak, aku memiliki harga diri, tidak ada yang mudah mendekatiku. Kita berbeda, aku tidak mampu dibeli dengan kemewahan, tapi kamu lepaskan kehormatan demi kesenangan." Naya tidak peduli apa yang Syifra lakukan karena tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya.

__ADS_1


Masalah Andra itu urusan keduanya, Naya tidak ingin terlibat. Apapun keputusan Andra sudah benar, dia tidak harus bertanggungjawab.


"Kenapa mengusik ketenangan Naya, kamu bahkan menemui nenek mengatakan hamil. Tidak malu jika kita lakukan tes DNA, itu anak siapa?"


"Dra, aku lakukan ini karena tidak ingin kehilangan kamu."


"Perasaan aku kepada kamu benar-benar hilang, bahkan rasa peduli juga hilang. Terserah kamu Syifra," ucap Andra mematikan panggilan.


Kepala Naya menggeleng, kasihan melihat Andra yang pasti dimarah neneknya lagi ulah Syifra.


"Sabar Dra, dia tidak akan berhenti sebelum menemukan orang baru. Luka bisa diobati dengan mendapatkan yang lebih."


"Tidak ada yang lebih dariku, selama Syifra begini maka kita berdua akan berteman." Kepala Andra tertunduk, dia lebih suka Syifra melakukan kekerasan kepada, mencelakainya daripada mengejar cinta.


Suara panggilan terdengar, Raya berlari kencang ke arah Andra, memeluknya erat tidak lupa mengecup pipi.


"Kenapa lama sekali, tadi mintanya cepat."


"Raya sengaja biar Kakak Andra menunggu lama." Tawa terdengar, Raya menjulurkan lidahnya kepada Naya.


Naya memeluk mama, hampir dua minggu tidak bertemu membuat Naya kangen berat. Apalagi dengan banyak pekerjaan tidak ada hiburan sama sekali.


"Apa kabar sayang?"


"Baik Ma, ada sesuatu yang ingin Naya katakan?'


"Apa soal papa Agra, dia benar-benar ada di sini?" Mama nampak kaget karena Agra tidak pulang bersama mereka karena ada pekerjaan.


Naya menghela napas, dia baru tahu jika Agra dan Arvin tidak liburan, tapi bekerja sekaligus membawa kekasihnya agar bisa kerja sambil pacaran.


"Di mana kamu melihatnya?"


"Saat perjalanan ke sini, Andra juga sepertinya tahu. Apa mantan mama menghubungi Andra?"


Kepala Mama menggeleng, dia tidak akan membiarkan masa lalu menganggu putranya yang sudah hidup tenang.


"Dad, papa Agra ada di sini, Bagaimana ini?" Mama menatap suaminya yang santai saja.


"Biarkan saja, Agra bukan anak kecil. Mungkin papanya masa lalu bagi kamu, tapi tidak akan berubah bagi Agra. Dia harus tetap menghormati papa kandungnya." Daddy lebih dewasa menyingkapi karena tahu putranya bisa mengendalikan diri.


Mama yang lebih cemas, meminta Daddy mengawasi Agra. Tidak ingin jika mantan suaminya memberikan ancaman.


"Kecemasan kamu berlebihan, aku sudah tahu." Daddy menepuk pundak Andra yang mengabarinya.

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2