KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
KERUGIAN


__ADS_3

Agra orang pertama yang datang saat tahu apartemen terbakar, lebih mencemaskan kondisi yang ada di dalam rumah.


"Gra," sapa Arvin saat melihat sahabatnya datang.


"Merambat ke rumah lain tidak?" tanya Agra.


Kepala Naya menggeleng karena ledakan sudah dipersiapkan sejak malam, menunggu mereka tidur, tapi dikarenakan tidak ada di rumah maka dilakukan di pagi hari saat orang rumah baru pulang.


"Ada barang penting yang berharga tidak? Agra mengirimkan pesan kepada Andra soal kondisi apartemen.


"Aman, aku sudah menduga ini makanya barang penting seperti berkas dan identitas berada di tempat yang aman." Nay menarik napas panjang karena api masih menjulang tinggi.


Tidak ada yang melangkah masuk, Naya dan Prilly masuk ke dalam mobil Agra untuk istirahat, membiarkan Arvin dan Agra yang mengurus.


"Nay maaf ya, ini terjadi karena kami ada di rumah itu," ujar Prilly yang merasa tidak enak hati.


"Jangan bicara begitu aku sudah menduga hal ini, tapi masih saja berusaha menghentikan. Maaf karena hampir membahayakan nyawa kalian," ujar Naya yang seharusnya meninggalkan apartemen sam


mpai kondisi terkendali.


Mata Naya terpejam memilihi untuk tidur karena lelah, begitupun dengan Prilly yang tidak bisa melakukan apapun.


Kepala Arvin pusing, melangkah masuk ke dalam saat api berhasil dipadamkan dalam waku dua jam.


"Bagaimana perasaan Nay dengan kejadian ini, demi apapun gue enggak enak Gra," ucap Avin mengambil kotak anti api dan pecah.


Data penting Arvin, Naya dan Prilly dalam keadaan aman karena Naya sudah memiiki firasat sehingga antisipasi.


"Namanya juga musibah Vin, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan," Agra memintanya keluar meninggalkan apartemen, sementara waktu tinggal di rumahnya.


Kepala Arvin menggeleng tidak enak jika harus menumpang hidup pada Agra, Avin bisa tinggal di manapun, tapi tidak dengan Naya dan Prilly.


"Tolong bantu mereka berdua saja Gra sampai aku bisa menyelesaikan masalah ini," pinta Arvin yang merasa bersalah.


"Jangan bicara begitu, pokoknya kalian bertiga ke rumah dulu, istirahat. Kamu juga belum istirahat sama sekali, sisanya kita urus nanti." Pintu mobil terbuka, dua wanita sedang tidur pulas karena lelah dan baru sempat memejamkan mata.


Senyuman Agra terlihat, mengusap punggung Arvin agar tidak terlalu merasa salah, Naya dan Prilly pasti sangat mengerti dan paham kondisi Arvin.

__ADS_1


"Ganti apartemen saja butuh ratusan juta, dari mana uang sebanyak itu?" Baru saja Arvin memulai bisnis, keuntungan yang didapatnya dipergunakan untuk perkembangan bisnisnya. Sehingga belum memegang banyak uang.


Masalah uang memang tidak banyak yang bisa Agra lakukan karena dia juga sedang kehabisan dana sehingga harus bernyanyi di cafe, mamanya juga harus kejar di restoran.


Mendapatkan uang ratusan juta tidaklah mudah, Avin harus memikirkan matang-matang apa yang harus dilakukan untuk membayar ganti rugi apartment.


Masih bersyukurnya tidak ada korban jiwa, tidak melibatkan orang lain, jika sampai terjadi kerugian akan lebih besar.


"Gra, antar aku ke rumah Daddy, setelah itu kamu bawa Naya dan Prilly pulang."


"Baiklah, berhati-hati. Semoga ada solusinya Vin," ujar Agra menyemangati Arvin.


Kepala Avin mengangguk, memastikan jika dirinya baik-baik saja dan pasti bisa mengatasi kerugian.


Rencana kakeknya sungguh keterlaluan membuat Arvin harus keluar uang besar, seakan harta uang Mama membuat Arvin tunduk.


"Hati-hati di jalan Gra," pinta Arvin yang keluar dari mobil.


"Kamu juga hati-hati, jangan lupa hubungi aku."


Senyuman Arvin terlihat, berjalan ke arah gerbang. Penjaga membukakan pintu mempersilahkan tuan mudanya masuk.


"Ada apa Dra, apa kedua temanmu ditemukan?" tanya Daddy yang keluar dari ruangan kerjanya.


"Ya, kita baru kembali pagi ini, tapi secara tiba-tiba ada ledakan di dalam rumah sampai api keluar," jelas Avin atas kejadian yang baru saja terjadi.


Masalahnya bukan soal kebakaran, Arvin melihat assisten pribadi Kakeknya ada di tengah kerumunan orang-orang yang melihat api melahap apartemen.


"Bagaimana kondisi kamu, apa ada luka?"


"Avin berhasil keluar bersama Naya dan Kak Prilly, api berhasil dipadamkan, tapi Kakek sepertinya ada kerja sama dengan pemilik lahan. Harga ganti ruginya sangat besar." Arvin tidak mempermasalahkan biaya, tapi jika satu dua hingga tiga kali Avin diam saja dengan membayar, maka usaha Avin hancur, begitulah tujuan kakeknya.


Kepala Daddy mengangguk, meminta Arvin menenangkan diri. Apa yang Arvin pikirkan sudah benar, sangat memahami sikap kakeknya yang keras kepala.


"Kamu istirahat dulu, Daddy yang akan membereskan masalah ini," ucap Daddy yang menghubungi sektretaris untuk segera datang.


Daripada melakukan ganti rugi, lebih baik mencari tahu penyebab kebakaran, jika memang pemilik gedung bekerja dengan Kakek maka Arvin yang tidak perlu menggantinya.

__ADS_1


"Daddy sungguh tidak terlibat dengan masalah ini?" tanya Arvin memastikan.


"Daddy juga tidak tahu Dra, sudah satu bulan ini tinggal di sini. Ayah semakin banyak aturan, dan Daddy memutuskan memisahkan diri." Senyuman Daddy terlihat, meminta Arvin segera istirahat.


Kabar soal warisan kakeknya sudah mencuat ke permukaan, ada beberapa kandidat yang akan mengambil alih, bukan Arvin ataupun daddynya.


"Daddy sudah mendengar kabarnya?"


Kepala Daddy mengangguk, dia sudah mendapatkan informasi, tapi itu hak Kakek. Daddy sudah lelah mengikutinya, rasanya semakin jauh dari jangkauan.


"Kali ini Daddy tidak akan melakukan kesalahan, jangan khawatir."


"Apa Daddy yang melaporkan pemasukan sehingga Kepolisian mendatangi perusahaan?"


Tawa kecil Daddy terdengar, memang benar jika dirinya kecewa, tapi tidak benar jika berencana menghacurkan, semuanya hanyalah rekayasa dari orang dalam yang ingin berkuasa.


"Kamu istirahat saja," pinta Daddy.


"Maafkan Arvin Daddy," ucapnya pelan.


Langkah Daddy mendekat, memeluk Arvin yang semakin dewasa, berharap putranya tidak mengikuti jejak dirinya.


"Mommy pasti bangga kepada kamu, anak kesayangannya sungguh tumbuh dengan baik."


"Daddy baik-baik saja, kakek akan menjadikan kita orang asing."


Senyuman Daddy terlihat, dirinya tidak masalah diasingkan. Sebisa mungkin akan memisahkan diri dari bisnis ilegal yang sudah lama di jalankan.


"Dad, mommy meninggal bukan bunuh diri, Mommy ...." Tangisan Arvin terdengar tidak kuasa menahan sedihnya jika membahas Mommynya.


Kepala Daddy tertunduk menepis air mata yang keluar karena tidak ingin terus menyalahkan dirinya, menyebabkan istrinya tidak bisa bertahan.


Arvin melangkah ke kamarnya yang sudah lama ditinggalkan, Arvin selalu mendengar suara mommy membangunkan agar segera pergi sekolah. Wanita terbaik yang Arvin miliki, tidak pernah marah dan selalu memanjakan putranya.


"Mom, Arvin pulang. Tubuh Arvin lelah, pikiran dan hati juga. Avin harus bertahan karena mommy selalu mengatakan dibalik masalah pasti ada jalan keluar." Arvin tersenyum melihat foto mommy sedang menimang dirinya saat baru lahir ke dunia.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2