KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MELAMAR PEKERJAAN


__ADS_3

Lamaran pekerjaan yang Naya kirimkan mendapatkan panggilan dengan penuh semangat Naya bersiap-siap menyiapkan materi untuk tes tertulis, jika dia sampai lolos akan mengikuti tes wawancara.


"Apa yang membuat kamu lompat kesenangan?" Kerutan di kening Arvin terlihat merasa risih melihat Naya mirip orang gila.


"Lihat aku mendapatkan panggilan pekerjaan di sebuah perusahaan besar." Lidah Naya terjulur mengejek Arvin yang memicingkan matanya.


"Bagaimana dengan kuliah kamu?" Avin melompat ke atas ranjangnya yang empuk.


Naya penuh keyakinan dia akan mengambil kuliah sore hingga malam pada semester depan, Naya sudah mempersiapkan semuanya.


Kepala Arvin mangut-mangut, melihat perusahaan yang Naya inginkan. Senyuman kecil Arvin terlihat, mendukung Nay untuk bekerja di perusahaan Papanya Andra.


Tidak ingin Naya kecewa, jika akan berurusan dengan Andra yang akan mewarisi bisnis Keluarganya. Arvin memilih diam, membiarkan Naya tahu sendiri.


"Kamu akan mengikuti wawancara tertulis?"


"Iya, kenapa sekarang kamu banyak bicara sekali? tolong Arvin jangan merusak kebahagiaan aku, kita bisa bicara secara telepati." Nay memicingkan matanya tidak ingin mendengar ocehan Arvin.


Dikarenakan terlalu bahagia, Naya tidur dengan cepat karena paginya dia harus ke kantor untuk wawancara.


Semalaman Arvin menghubungi Agra dan Andra untuk meminta bantuan membahas soal materi yang akan dikeluarkan oleh perusahaan saat tes karyawan.


Setelah selesai Arvin meletakan di atas meja, langsung melangkah keluar rumah untuk mencari ketenangan.


"Tuan muda Arvin, kamu harus kembali sekarang jika tidak Kakek dan Daddy kamu akan melepaskan kamu sebagai pewaris." Langkah kaki Prilly berlarian, memohon kepada Arvin untuk kembali.


Kepala Arvin mengangguk, masuk ke dalam mobil untuk pulang ke mansion mewah keluarnya. Di dalam mansion Kakek dan Daddy Arvin sudah duduk dengan tatapan tajam.


"Akhirnya kamu pulang anak pembangkang." Daddy meminta Arvin untuk duduk dan berhenti membuat masalah.


Kakek mendekat Arvin, mengusap punggung Avin yang hanya duduk diam. Kakek meminta Arvin segera meresmikan pertunangan dengan Erin, setelah lulus kuliah mereka bisa menikah.


Tangan Arvin mengepal kuat, menggelengkan kepalanya meminta maaf kepada kakeknya karena dirinya tidak bisa.


"Kek, cukup Mommy yang menderita hidup bersama Daddy yang memiliki banyak wanita, apa kakek ingin Arvin juga begitu?"

__ADS_1


"Vin, kamu satu-satunya penerus keluarga ini. " Kakek mulai terbawa emosi, mereka tidak membutuhkan cinta cukup bisnis terus berjalan.


"Kakek, kenapa terlihat pusing sekali? Daddy memiliki banyak wanita simpanan, minta ke-lima wanitanya hamil maka Kakek bisa mendapatkan lima cucu maka Arvin akan bebas." Senyuman Arvin terlihat, bahkan memberikan Kakeknya solusi untuk punya anak lagi sehingga kekayaan mereka tidak ada habisnya.


Tamparan kuat menghantam wajah Arvin, Kakek terlihat sangat marah dengan ucapan cucunya.


"Baiklah, Arvin ke kamar dulu. Silahkan kalian renungkan apa yang Arvin katakan karena aku tidak akan menjadi penerus keluarga ini." Mata Arvin tajam, langsung berjalan ke kamarnya sambil membanting pintu.


Beberapa koper dikeluarkan, Arvin memanggil Prilly untuk membantunya membereskan barang-barang.


Tidak ingin tersiksa Arvin memutuskan untuk pergi selamanya, dia harus memiliki keberanian agar bisa hidup tenang.


"Tuan, ini tidak harus dilakukan." Prilly menyusun foto Arvin bersama Mommynya juga beberapa surat wasiat Mommynya.


"Sudah waktunya kita pergi Kak Pril, jangan panggil aku tuan muda lagi. Cukup panggil Arvin, dan aku akan memanggil Kakak." Setelah semua barang siap, Arvin menarik dua koper untuk segera angkat kaki.


"Ke mana kamu Arvin?"


"Pergi, aku tidak akan kembali ke rumah ini lagi. Jaga diri Daddy." Arvin terpental, setelah dipukul oleh Daddynya.


"Tuan, Arvin itu anak tuan. Jangan terus menyiksanya, dia punya hak untuk hidup." Prilly merentangkan tangannya meminta Daddy Arvin berhenti.


"Aku akan pergi membawa Kak Pril, bagaimanapun juga Prilly Putri angkat Mommy, sudahlah waktunya kami keluar." Arvin tidak perduli jika dia harus mati, keputusan Arvin sudah bulat untuk tidak pernah kembali.


Daddy bersumpah akan membuat Arvin dalam kesulitan, dia tidak akan mampu bertahan dengan harta yang Mommynya miliki apalagi Arvin yang tidak tahu mencari uang.


Tanpa menoleh, Arvin berjalan pergi bersama Prilly, mobil yang Arvin inginkan sudah dikeluarkan. Dia akan membawa mobil milik Mommynya, dan meninggalkan rumah keluarganya.


"Tuan muda,"


"Cepat bawa barang-barang Kak Prilly, kita pergi malam ini juga." Arvin bicara dengan penuh keyakinan.


Kepala Prilly mengangguk, langsung bergegas mengambil barang pentingnya dan masuk mobil meninggalkan istana keluarga Arvin.


Mobil Arvin meninggalkan kediaman Daddynya yang menyimpan dendam kepadanya ingin menghancurkan hidup Arvin hingga datang kepadanya untuk bertekuk lutut.

__ADS_1


"Vin, kamu yakin untuk pergi. Daddy kamu tidak akan membiarkan kamu hidup tenang?"


"Aku tahu. Tetapi kita tidak bisa tinggal di neraka, apapun yang terjadi Arvin sudah siap dengan resikonya." Keyakinan Arvin sangat besar, meminta Prilly selalu mendukungnya sebagai saudara.


Kepala Prilly mengangguk, menyemangati Arvin. Dia akan menjadi Kakak yang berusaha melindungi Adiknya.


"Kamu yang kuat Arvin, perjuangan kamu melawan Tuan besar tidak mudah." Senyuman Prilly terlihat, bangga dengan adiknya yang sudah dewasa.


Keduanya diam, melihat jam yang sudah subuh. Prilly menghela napasnya karena mereka tidak memiliki tujuan.


"Kita ingin pergi ke mana Vin?"


"Apartemen Naya, aku masih ingin tinggal di sana." Mobil Arvin berhenti, meminta Prilly membantunya membawa koper.


Wajah Prilly meringis, Naya pasti akan marah-marah jika menambah orang baru. Ada Arvin saja Naya pusing.


Pintu rumah terbuka, Arvin dengan santainya meminta Prilly masuk membawa barang-barang mereka.


"Ya Tuhan Naya!" Arvin kaget melihat Naya menyemburkan air minum.


"Aku pikir kamu tidak ada di rumah memutuskan pergi, tapi kenapa membawa personil dan barang yang banyak?" Nay tergagap melihat Arvin dan Prilly yang datang pas waktu Subuh.


Dengan santainya, Arvin tidak akan pergi. Dia akan menetap tanpa tahu batas waktunya. Prilly hanya bisa tersenyum melihat Naya yang terlihat pusing.


Kepala Naya geleng-geleng, semangat bangun pagi untuk wawancara langsung hancur karena ulah Arvin yang membawa satu lagi personil.


"Apa apartemen ini tempat singgah?" Nay menendang koper Arvin.


"Maaf ya Nay, nanti aku jelaskan apa yang terjadi." Prilly tidak enak hati menyusahkan Naya.


Kepala Naya menggeleng, dia tidak membutuhkan penjelasan. Sudah bisa menebak apa yang terjadi kepada Arvin yang selalu bermasalah dengan Daddynya.


Nay melangkah ke dapur, melihat sebuah kertas yang tertinggal. Senyuman Naya terlihat, dia harus tersenyum agar wawancaranya berjalan dengan lancar.


"Tersenyumlah Naya, Arvin memang perusak suasana, tapi kali ini aku maafkan karena kertas ini." Senyuman lebar Naya terlihat, tapi matanya memicing tajam.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2