KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
AIR TERJUN


__ADS_3

Mobil Andra tiba di pemakaman setelah mengisi bahan bakar, sengaja membawa makanan takutnya teman-temanya kelaparan.


"Kakak, Alis lapar." Kedua tangan Alis terentang, berlari memeluk Naya, jika memeluk Andra pasti langsung ditendang.


"Lamanya Dra, kita sudah seperti tukang gali kubur di sini," protes Agra karena sangat lama.


Andra menjelaskan keterlambatannya karena dia tidak tahu lokasi, harus mencari bahan bakar mobil terlebih dahulu, baru mencari jalan ke kuburan lagi.


Masih bersyukur saja Andra tidak nyasar lagi, soalnya pemakaman terlalu luas, dari ujung sampai ujung penuh makam.


"Bagaimana dengan Mobil, apa kamu bia memperbaiki?" Arvin menunjuk kearah mobilnya yang terbuka.


"Memangnya aku montir, tapi dicoba dulu soalnya ini hari libur tidak banyak orang yang lalu lalang." Andra berjalan ke arah mobil meminta yang lainnya makan terlebih dahulu.


"Kita makan di kuburan?" tanya Prilly yang menatap Alis sudah asik makan.


"Tidak ada pilihan Kak, kita butuh tenaga." Arvin meminta Prilly juga makan dan minum karena mereka tidak sempat membawa oleh tidak ada persiapan.


Suara tawa Nay terdengar saat Alis bercerita keadaan mereka, merasa kasihan, tapi lucu juga.


"Kalian banyak sekali fotonya, aku tidak ada." Nay merasa iri karena dia juga melihat matahari terbit, tapi berfoto bersama Andra sama saja dengan berfoto di dekat malaikat maut.


Lima orang asik mengobrol tidak ada yang membantu Andra memperbaiki mobil, Arvin asik tiduran di dalam mobil Andra yang sejuk.


"Nay, kenapa kamu dan Andra menemui Daddy?" tanya Prilly yang merasa dirinya harus tahu.


"Daddy Ar tahu jika ayahnya yang menyebabkan istrinya meninggal, terjadi perseteruan antar keduanya" jelas Naya singkat.


"Pantas saja Daddy kembali ke rumahnya, tidak tinggal bersama kakek lagi." Prilly menatap Arvin yang terbangun dan mendengar pembicaraan.


Perseteruan apa Nay?"


"Aku tidak tahu pasti Vin, kamu bisa bertanya kepada Andra soalnya kita berdua melihat Daddy di malam itu, tapi tidak tega memberitahu kamu." Nay tahu Arvin mencoba menjaga perasaan Daddynya.


Langkah Arvin mendekati Andra yang masih sibuk bongkar mesin sampai bajunya juga kotor.


"Apa yang terjadi antara Kakek dan Daddy?"


"Kakek kamu mirip setan, dia tidak pandang anak ataupun cucu. Sejujurnya aku kasihan sama Daddy, tapi tidak memungkiri jika dia juga salah." Andra ingin Arvin membantu Daddy karena besarnya sakit Avin sebesar itu juga sakitnya Daddy.


Dia sangat menyayangi Arvin, sikap kerasnya agar Arvin terbiasanya dengan hidup yang keras, jika tidak ada lagi dirinya maka harus mengandalkan diri sendiri.


"Vin, jangan memaafkan, aku tahu sakitnya. Daddy dikeluarkan dari perusahaan, asetnya di sita. Rumah mewah tempat kalian tinggal akan segera disita." Andra menarik napas panjang.

__ADS_1


"Kakek membuang Daddy juga?"


Kepala Andra mengangguk, meksipun begitu Arvin tidak perlu cemas karena Daddy masih bisa bertahan, dia melawan balik dengan menjatuhkan saham.


"Orang hebat memang beda, mainnya saham," canda Andra agar sahabatnya tidak terlalu cemas.


"Jauh lebih indah jika aku terlahir dalam keluarga sederhana, bukan Arvin anaknya orang kaya." Tawa Arvin dan Andra terdengar.


"Mobilnya tidak bisa diperbaiki, kita harus menghubungi mobil derek. Sialan buang waktuku saja." Andra menendang mobil membuat Naya dan yang lain sedang tertawa langsung diam.


"Sudah kebiasaan Dra, kamu bisa bongkar tidak bisa pasang."


"Hehehe, paling penting usaha dulu." Andra mengambil ponselnya meminta bantuan.


"Dra, terima kasih." Senyuman Arvin terlihat, Andra memang selalu ada di garda terdepan dalam membela.


Tubuh Andra merinding, melangkah pergi ke mobilnya karena geli mendengar Arvin mengucapkan terimakasih.


Pria yang terkenal dingin mengucapkan terima kasih berkali-kali sungguh hal yang aneh, Andra menjadi takut.


"Bisa Dra?" Agra menyerahkan air minum.


"Enggak, jika bisa sudah jalan." Senyuman Andra terlihat menatap Alis yang asik berfoto.


Alasan apa yang harus dirinya berikan jika papinya memojokkan, Alis menjadi bebannya karena terus ikut-ikutan.


"Ayo kita pulang," ajak Andra.


"Nanti," jawab tiga wanita yang berencana pergi ke bukit untuk melihat matahari terbenam.


"Gila kalian ingin pergi ke bukit tanpa persiapan, aku tidak mau repot mengurus keluhan," ancam Andra yang tahu betul jika Alis akan merengek seperti bayi.


Andra kalah melawan lima orang sekaligus yang memaksa pergi ke bukit, tidak tahu kapan kebersamaan mereka terulang kembali.


Mobil berisikan enam orang, tiga wanita duduk dibelakang sekali, Agra disamping Arvin sedangkan Andra tiduran sambil menonton.


"Dra ganti baju kamu, soalnya hitam oli," pinta Naya melempar baju.


"Masih jauh tidak Vin?" Andra sudah malas bergerak.


"Kita balik ke jalur penginapan, tidak jauh dari sana."


"Tidak jauh matamu, kita sudah lama melewati penginapan." Andra membuka baju membuat tiga wanita teriak.

__ADS_1


Kepala Arvin geleng-geleng, Alis marah-marah karena bau ketek, Andra sengaja melempar bajunya menggosok ke wajah adiknya.


"Andra, busuk."


"Bodo amat." Andra menggosok ketek menutup hidung Naya yang menjambak rambut Andra.


Suara Arvin marah terdengar meminta semuanya diam, mobil bisa berguling jika Naya dan Andra berkelahi.


Mata Prilly dan Alis tidak berkedip melihat Naya yang duduk di samping Andra, masih saling jambak.


"Baju kalian berdua coupel?" Prilly tersenyum melihat keduanya.


"Kalian berdua pacaran?" tanya Alis sambil tersenyum.


"Memangnya jika baju kembar berarti pasangan, bagaimana jika baju Agra mirip sama baju nenek, apa mereka pasangan?"


"Kenapa aku yang dijadikan contoh?" Agra menatap sinis merasa Andra dan Naya sangat cocok.


Sebelum berangkat ke bukit menyempatkan diri membeli makanan dan minuman untuk diperjalanan.


Mobil tiba di tempat yang cukup sepi, suara air terjun terdengar, Andra langsung keluar ingin segera mandi.


Keenam remaja merasa puas karena mereka datang diwaktu yang tepat karena air sedang bagus, tidak terlalu deras. Suasana hutan juga sejuk.


"Bawa makanan kita ke bawah sekarang, aku tidak butuh matahari paling penting mandi." Andra jalan lebih dulu memastikan jika para wanita bisa jalan dengan aman.


"Dra bantu, jalannya licin." Nay mengulurkan tangannya.


Andra meraih pinggang, begitupun dengan Alis yang meminta bantuan. Prilly juga berpegangan di lengan Andra.


Tatapan Andra sinis karena Arvin dan Agra juga berpegangan, menganga dirinya kayu yang menjadi penopang.


"Tunggu, kalian bertiga ingin mandi memangnya punya baju?" tegur Agra karena tidak mungkin basah.


"Kita beli, kalian beli makan tadi, kita belanja baju." Alis langsung lompat ke dalam air diikuti oleh Naya dan Prilly.


"Cepat sekali gerakan mereka, kita tidak punya ganti?"


"Kamu lelaki Gra, tidak butuh bra. Mandi tanpa baju," ucap Arvin sewot membuat Andra tertawa terbahak-bahak.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2