KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
DONOR DARAH


__ADS_3

Piring yang dipegang Alis jatuh berhamburan, tangannya gemetaran saat tahu Kanaya mengalami kecelakaan. Kepalanya menggeleng pelan seakan tidak percaya.


"Ada apa Pril?" tanya Mama yang sedang sibuk masak.


"Prilly izin dulu." Tubuh Prilly open yang panas sampai beberapa kue jatuh.


Mama menarik tangan Prilly yang merah, mengambilkan air minum agar tenang dan mengontrol dirinya untuk kuat.


"Ada apa?" Mama mengusap punggung lembut.


"Naya kecelakaan Tante, dia kritis dan membutuhkan donor darah." Air mata Prilly menetas.


"Ya tuhan, dia pamit bekerja, tapi berakhir di rumah sakit." Mama mengusap air matanya yang tanpa sadar menetes.


Prilly begegas ke rumah sakit, lari-larian mencari angkutan yang bisa mengantarnya ke rumah sakit.


Bukan hanya Prilly, Agra dan Alis juga tiba di rumah sakit secara bersamaan. Kedua sedang di kampus, saat Arvin mengabari langsung meninggalkan pelajaran.


"Vin, di mana Naya?" tanya Agra yang sangat mencemaskan Nay.


"Dia baru selesai operasi, kondisinya lemah dan butuh belasan kantong darah." Avin menatap Prilly yang langsung menemui Dokter untuk donor darah.


Semuanya mengecek diri agar bisa memberikan darah kepada Naya, Arvin tidak kuasa menahan air matanya karena ada banyak yang sayang kepada Nay.


"Apa donor darah Naya?" tanya Alis karena miliknya tidak cocok.


Agra dan Mamanya juga tidak cocok, begitupun dengan Prilly. Golongan darah Naya terbilang sulit.


"Naya O dan kita A dan B, kenapa saat dibutuhkan tidak ada yang sama?" Alis berteriak kesal.


"Kita cari bantuan ke luar, tidak boleh menyerah." Agra menghubungi beberapa orang.


"Kak Andra O, di mana dia?" Alis baru ingat jika darah kakaknya O.


Arvin menghubungi Andra kembali, tapi tidak ada jawaban. Tidak ada yang tahu di mana Andra berada.


"Di mana tempat cek darah?" Andra berlari sambil berlumuran darah dari hidungnya.

__ADS_1


Mata semua orang tidak berkedip, Andra rela baku hantam demi bisa mendapatkan donor darah O dari beberapa anak komunitas yang hobi tawuran.


Tidak ada air mata yang keluar, tapi wajah Andra menunjukkan kesedihan yang amat dalam.


"Minum dulu Dra, maafkan aku." Avin menyerahkan minuman karena Andra baru saja donor darah.


Rasa bersalah Arvin sangat besar, dirinya penyebab Naya terluka parah. Bahkan Arvin tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya.


"Ada berapa kantong darah yang didapatkan?"


"Lebih dari dua puluh, semoga Naya bisa pulih dan berkumpul dengan kita kembali." Mata Agra berkaca-kaca merasa kesedihan yang teramat dalam.


Suara tangisan terdengar dari ruangan sebelah, Mami Erin teriak histeris karena mendapatkan kabar Erin mengalami kelumpuhan.


Benturan kuat di tulang belakang membuat sebagian saraf cendera, sehingga mengakibatkan kelumpuhan pada bagian tubuh.


"Dia yang mencelakai, dia juga yang sekarat. Perempuan bodoh," gumam Alis yang akan memberikan pelajaran kepada Erin.


"Anakku tidak mungkin lumpuh, ini semua gara-gara wanita miskin itu!" teriakkan menggema menyalahkan Kanaya karena penyebab kecelakaan.


Mendengar tuduhan, Alisha ingin membantah, tapi Mama melarangnya mengusap dada Alis untuk sabar.


"Paham, Mama tahu. Itu hati seorang ibu yang tidak mampu menerima kenyataan soal Putrinya, siapa yang sanggup melihat kondisi anak terbaring tidak berdaya meksipun dia salah." Mama meminta Alis memahami kondisi yang hanya akan membuat keributan.


Apa yang terjadi sudah tidak bisa dihentikan, jika bisa mungkin kondisi Naya tidak akan seburuk sekarang.


Hanya doa yang bisa mereka berikan untuk kesembuhan Naya, dan berharap Erin juga mendapatkan pelajaran setimpal.


Tangan Andra menyentuh kaca, dia ingin sekali melihat Naya sehat dan bisa bertengkar lagi dengannya.


"Nay bangun, aku hampir mati di tangan puluhan orang demi bisa mendapatkan donor darah, apa kamu tidak ingin mengucapkan terimakasih," batin Andra yang ingin sekali menyentuh jari jemari Nay.


Ada penyesalan yang terbesit di hatinya, rasa bersalah yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.


"Apa aku punya kesempatan kedua untuk mengatakan perasaan ini, apa kamu akan percaya jika aku mencintai kamu?" Andra hanya bisa bicara di dalam hatinya, ada banyak kesempatan berdua, tapi kata-kata itu tidak pernah terlontar.


Dokter keluar dari ruangan rawat Naya, menjelaskan kondisi Nay yang stabil, stok darah sudah lebih dari cukup. Berharap kondisi Naya akan terus membaik.

__ADS_1


"Tidak ada kerusakan apapun Dok, kita hanya butuh penjelasan?" tanya Daddy yang belum puas mendengar kondisi Naya.


"Benturan di kepalanya cukup kuat, tapi fisiknya kuat. Tangan dan kakinya mengalami keretakan, tapi tidak patah sudah diatasi. Paling buruk kondisi perutnya yang mengalami robek hingga harus operasi." Dokter memastikan Naya akan membaik.


Kepala Daddy mengangguk, mengucapkan terima kasih memohon agar tim medis selalu mengawasi.


"Kalian sudah mendengar kondisi Naya, Daddy pikir sudah cukup membuat tenang."


"Hati Alis hancur sekali mendengar kabarnya, tidak pernah terbayangkan Kak Nay terbaring." Mata Alis terpejam, menyadarkan kepalanya di pundak Arvin.


"Daddy benar Vin, jangan terlalu merasa bersalah. Naya anak baik dan sangat mengerti kita semua." Senyuman Agra terlihat menyemangati.


"Kapan Naya akan bangun, satu bulan, dua, tiga atau satu tahun. Aku takut Gra, kejadian Mommy terulang kembali. Dokter mengatakan Mommy stabil, tapi kenyataannya saat Arvin masuk mommy sudah tiada." Sebelah tangan Arvin menutup matanya tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.


sudah cukup kehilangan sosok ibu, Arvin tidak ingin kehilangan sahabat yang selama ini membantunya memiliki nasib yang sama.


"Kak Naya pasti sembuh, hanya butuh sedikit waktu." Alis sangat yakin.


"Kanaya pasti sembuh, kita akan terus menemani dan menunggunya kembali." Air mata Prilly menetas tidak tega melihat Naya yang terbaring tidak berdaya.


Tangan Andra masih menempel di kaca, tidak duduk seperti teman-temannya. Andra yang paling merasa kehilangan.


"Dra, jangan terlalu sedih." Mama mengusap punggung Andra.


"Aku tidak sedih Tante, hanya saja dia yang menyedihkan. Naya gadis yang kuat, tapi kenapa ada di situ?" Andra meremas tangannya karena dirinya masih kuat untuk bertarung, tapi Naya tidak berdaya.


Air mata Tante Mar menetes karena kesedihan Andra sangat dalam, dia tidak kuasa meneteskan air matanya karena merasa sangat sedih.


Pelukan Agra erat, mengusap punggung Andra karena mereka berempat pasti akan kumpul lagi, melakukan banyak hal bersama.


"Menangis saja Dra, palingan nanti Naya akan mentertawakan kamu," ejek Agra mencoba mencairkan suasana.


Kepala Andra mengangguk, melangkah menjauhi ruangan melihat ke arah kaca. Wajah Andra babak belur karena berkelahi secara habis-habisan tanpa bantuan siapapun.


Demi bisa mendapatkan donor darah dengan cepat, Andra meminta siapapun yang memiliki donor darah O bertarung dengannya.


"Nay, apa kamu bisa melihat aku lagi?"

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2