
Jantung Prilly berdegup kencang, tangannya sudah dingin karena pernikahan sudah didepan mata.
"Tangan Kak Prilly dingin sekali," ujar Alis mengenggam telapak tangan.
"Aku deg-degan, rasanya ingin kejang." Prilly memeluk pinggang Alis.
Perasaan Prilly campur aduk, dia juga ingin menangis masih belum percaya bisa menikah dengan pria yang dicintainya.
"Lis, ini bukan mimpi?"
"Bukan Kak, ternyata Kak Prilly pemiliknya, Alis minta Adiknya saja." Tawa Alis terdengar meminta air mata ditahan.
Naya menoleh ke arah Prilly yang sudah di make up, tapi ingin menangis. Naya menatap mata yang sudah merah.
"Menangis saja, Naya ingin melihat wajah Kak Prilly jika menangis. Selama ini kita belum melihatnya." Senyuman Naya terlihat lebar.
"Nanti kamu akan merasakannya Nay, pernikahan ternyata menegangkan."
Kepala Naya mengangguk, menatap cincin yang melingkar di jarinya, bisa dapat kepastian dan janji saja Naya sudah bahagia, apalagi jika sampai menikah.
"Bisa tidak nanti bunganya untuk Naya, siapa tahu kita berjodoh lebih cepat." Kepala Naya tertunduk malu.
"Kak Naya sekarang banyak berubah, lebih terbuka soal hubungan. Pantas saja Mami heboh mengatakan Kak Naya dan Andra pacaran sampai berantem sama nenek." Alis memeluk erat Naya yang terlihat sekali ingin segera menikah juga.
"Bagaimana dengan kamu Lis?"
"Tentu aku mau, apa kita harus menikah dalam satu tahun ini?" Alis menatap Naya dan. Prilly bergiliran.
"Mami kamu bisa dapat cucu doubel," goda Prilly jika Naya Alis menikah bersamaan.
Tawa ketiganya terdengar, Prilly merasa lebih tenang setelah mendengar candaan dari dua sahabatnya.
Meksipun hanya candaan ringan, namun bisa merilekskan pikiran yang sedang gelisah menunggu waktu untuk mengucap janji pernikahan
"Kak Prilly cantik jika terus tersenyum, semakin terlihat aura bintang." Naya tidak menyangka bisa melihat Prilly juga di layar sebagai pasangan Agra.
Dunia sedang dihebohkan oleh pasangan musisi yang menikahi stafnya sendiri, moments langkah yang sangat mengejutkan.
"Naya Alis, aku deg-degan lagi. Bagaimana jika nanti salah bicara?" Prilly menghentakkan kakinya.
"Coba saja Alis yang menikah, habis bibir Arvin aku sosor lebih dulu." Tawa Alis terdengar tidak sanggup menahannya.
"Tidak heran lagi, bisa jadi kamu bebek yang ganas." Naya pamit keluar untuk melihat kesiapan Agra.
Baru saja Naya ingin berdiri sudah terduduk kembali, meminta Prilly melihat pemberitaan. Media yang seharusnya meliput salah sasaran karena langsung menuju hotel.
"Ada apa?" Prilly juga binggung karena wartawan tidak ada di tempat acara mengingat janji pernikahan.
"Ya tuhan, apa mereka berpikir yang menggunakan mobil pengantin kemarin Agra?" Naya melongo terheran-heran.
Tawa Alis pecah, merasa sangat konyol dengan tingkah laku wartawan. Perusahaan tidak mengubah jadwal namun memutuskan sendiri.
"Aman, setidaknya hanya keluarga inti." Prilly bernapas lega.
Kanaya berlari keluar mendekati Andra dan Arvin yang sudah mendampingi Agra. Ketiganya siap untuk masuk lebih dulu.
"Agra, wartawan tidak ada satupun," ucap Naya.
"Serius, baguslah." Senyuman Agra terlihat karena dia juga ingin bersama keluarga saja tidak menjadi konsumsi publik.
"Apa wartawan berpikir kemarin Agra menikah?" Andra menatap Naya yang mengangguk.
Gerbang pintu terbuka, Agra berjalan melewati karpet mewah, ada banyak kamera yang menyorotnya untuk mengabadikan moment.
Senyuman Agra terlihat, berdiri di atas altar menatap mamanya yang tersenyum lebar sesekali mengusap air matanya yang keluar.
"Tuhan, jalan yang aku lewati begitu panjang, tidak pernah aku sangka keluarga yang dulunya harmonis, sekarang terpisah," batin Agra karena kedua orangtuanya bersama keluarga masing-masing.
Mata Agra melihat ke arah Naya yang memberikan dua jempol, Naya menyemangati agar Agra fokus.
"Kenapa aku ingin menangis?" Naya mengusap wajahnya pelan.
__ADS_1
Andra dan Arvin menoleh secara bersamaan karena Naya duduk di tengah, keduanya tersenyum kecil merasa Naya lucu.
Gerbang terbuka, semuanya melihat ke arah Prilly yang berjalan perlahan. Kepalanya tertunduk, jantung deg-degan.
Langkahnya sangat pelan, Agra tersenyum lebar karena dia tahu jika calon istrinya tidak percaya diri menjadi pusat perhatian.
Tangan Prilly gemetaran, sulit untuk melangkah maju apalagi ada banyak kamera yang menyorotnya.
Daddy berdiri ingin mendampingi karena Prilly tidak bisa melanjutkan langkahnya. Arvin langsung naik ke atas menenpuk lengannya agar Prilly mengandalkannya.
"Jangan takut, ada Arvin di sini," ucapnya.
"Vin, apa ini semua mimpi?" tanya Prilly tidak bisa menahan air matanya.
Senyuman Arvin terlihat, melangkah bersama. Arvin tahu jika kakaknya rindu mommy, Arvin juga merasakannya.
"Mommy pasti bahagia melihat kakak menikah, Arvin juga percaya Agra bisa membahagiakan Kakak. Jangan takut, kita selalu bersama."
Kepala Prilly mengangguk, mengangkat kepalanya tersenyum kecil di depan kamera. Agra mengulurkan tangannya menyambut calon istrinya.
"Thanks sahabat terbaikku," ucap Agra.
"Gra jaga dia, Kak Prilly sudah seperti ibu bagiku, lebih baik kamu sakiti aku daripada dia." Mata Arvin berkaca-kaca karena dia mempercayai Agra untuk menjaga wanita yang selalu ada untuknya.
"Tanpa kamu minta akan aku lakukan, dia akan jadi wanita paling bahagia di dunia ini." Agra mengenggam erat tangan Prilly untuk naik ke atas altar.
Keduanya berhadapan, menatap keluarga yang tersenyum bahagia melihatnya. Agra melihat Naya dan Alis menangis.
"Kenapa dua wanita itu menangis?" bisik Agra.
"Emh, patah hati." Senyuman Prilly terlihat menatap Naya dan Alis yang mengusap air mata.
Pendeta menanyakan kesiapan keduanya, kepala Agra dan Prilly mengangguk secara bersamaan.
Tangan Agra terangkat mengucapkan janji setia sebagai suami, setelahnya diikuti oleh Prilly yang mengucapkan janji setia sebagai seorang istri dalam suka maupun duka.
Penghulu mendoakan kedua pengantin, saat dinyatakan sah sebagai suami istri suara tepuk tangan terdengar.
"Berisik, apa di dalam kepala kalian hanya ada cium," tegur Andra yang sama saja tidak sabar menunggu.
Agra tertawa kecil, mengecup kening istrinya setelah memasang cincin nikah. Prilly tersenyum tipis memasangkan cincin di jari manis Agra.
"Lamanya," ujar Arvin yang kesal.
"Apa yang kamu tunggu." Naya memukul punggung Arvin yang tidak sabar.
Teriakkan histeris terdengar, Agra mengecup bibir di depan banyak orang, tangan Daddy menutup mata Raya agar tidak melihat karena dia masih dibawah umur.
Tawa Agra terdengar meminta tenang, wajah Prilly memerah menahan malu. Mama yang melihat Agra bahagia ikut bahagia.
Staf yang berada di ruangan bertepuk tangan sebagai penggemar Agra, lelaki yang selalu menjadi penyemangat sudah ada pemiliknya.
"Terimakasih untuk Papa, Mama, Daddy dan Mami yang sudah ada di sini, terimakasih juga untuk sahabat kita berdua. Agra tidak menyangka akan mendahului Arvin yang sedari muda sibuk dijodohkan, wanita ini sudah aku kenal hampir dua puluh tahun lamanya, tidak aku sangka jika jodoh begitu dekat." Agra membungkuk badannya di depan ke-empat orangtuanya.
Lama Agra membungkuk, Mama berdiri dari tempat duduknya melangkah memeluk Agra erat. Mengusap punggung anaknya yang mampu melewati masa tersulit mereka.
"Maafkan Mama karena pernah membuat Agra kecewa."
"Tidak Ma, bagi Agra Mama sangat hebat. Agra tidak menyangka di hari pernikahan Agra ada Mama dan Papa, terima kasih karena kalian tetap hadir demi aku." Agra memeluk erat Mama, sosok wanita yang sangat luar biasa baginya.
"Sini peluk Mama sayang." Mama mengecup kening Prilly memeluknya erat.
Mama mengusap punggung Prilly, meminta maaf jika di masa lalu pernah menyakiti dan tidak menerima kehadirannya.
Kepala Prilly menggeleng, dia tidak marah apalagi membenci. Prilly menerima sebagai pelajaran hidupnya. Apa yang Mama lakukan cara terbaik melindungi anaknya.
Mama mengecup pipi Agra dan Prilly memberikan selamat atas pernikahan keduanya, Agra sudah menjadi suami berarti dia memiliki tanggung jawab.
"Bahagia selalu ya nak, berikan Mama banyak cucu agar rumah kita ramai." Mama menatap suaminya yang tersenyum.
Agra turun, memeluk Papa yang menangis bahagia, memberikan selamat kepada Agra mendoakan anak lelakinya terus bahagia.
__ADS_1
"Maafkan Papa, jangan menjadi seperti kami. Pastikan rumah tangga kamu bisa bertahan sampai maut memisahkan." Papa mengusap kepala Agra lembut.
"Terimakasih Pa, kehadiran Papa sudah jauh dari cukup." Agra membungkuk badannya dihadapan Maminya.
"Semoga kamu bahagia Agra," ucap Mami menyentuh kepala Agra.
Agra dan Prilly membungkukkan badan di depan Daddy yang menganggu menyentuh kepala keduanya.
"Daddy katakan sesuatu yang romantis," pinta Agra."
"Tidak ada, semuanya sudah terwakilkan." Daddy menolak meskipun Agra merengek-rengek.
Pelukan Agra erat, mengecup pipi Daddy membuatnya menatap sinis. Arvin langsung berdiri menarik Agra sebelum dia dibanting.
Senyuman kecil Daddy terlihat menatap Agra dan Arvin saling peluk, tidak berselang lama ribut.
"Aku sayang kepada kalian bertiga, ayo bersahabat hingga maut memisahkan." Tangan Agra terentang meminta Andra, Agra dan Naya masuk dalam pelukannya.
Ketiganya mendekat memeluk erat, berjanji akan menjadi sahabat selamanya. Berharap anak-anak nanti juga akan mengikat hubungan yang bertambah erat.
"Alis ini siapa?"
"Kamu Adik terbaik, wanita terlucu yang selalu membuat kita bahagia." Agra memeluk Alis yang sedari kecil harus diawasi dengan ketat.
Beberapa wartawan baru datang, ngos-ngosan karena acara nikahan sudah selesai. Agra menahan tawa melihatnya.
Para wartawan meminta maaf kepada Agra karena mereka salah informasi, kabarnya Agra menikah kemarin.
"Kalian lapar, silahkan makan dulu. Setelahnya baru kita wawancara singkat dan berfoto-foto."
"Tidak bisakah kalian menikah ulang," pinta seorang wartawan yang pasti akan bermasalah dengan perusahaan karena gagal mendapatkan moment sakral Agra.
Tawa Agra terdengar, menolak mengulang karena dia melewati sumpah pernikahan hampir sesak napas.
"Kasihan, kalian makan dulu." Prilly meminta staf memberikan tempat.
"Kakak Prilly tidak pernah make up saja cantik, apalagi di-make up," puji para wartawan mengucapkan terima kasih.
Keluarga kumpul di satu meja untuk makan bersama, Kanaya memasangkan sebuah gelang cantik di tangan Prilly.
"Masih ingat gelang itu, dulu kita tidak punya uang hanya bisa menatap dari kejauhan, sekarang Naya bisa membelinya." Naya tersenyum menyukai gelang cantik yang disukai oleh Prilly.
"Terima kasih Kanaya, ini akan menjadi hadiah terindah. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih tanpa kalian siapa aku." Prilly memeluk erat Naya yang juga memeluknya.
Berjuang dari titik terendah menjadi sejarah hidup Naya dan Prilly, jika tidak ada Alis sang anak sultan tidak tahu jalan mana yang harus dilalui.
"Alis dulu tidak bisa masak nekad buka restoran, untung ada Mama dan Prilly dan sekarang ...."
"Sekarang tetap tidak bisa masak," timpal Mama memotong ucapan Alis.
Tawa Naya dan Prilly terdengar, teguran Mama tidak salah sama sekali. Alis tarik napas panjang, memeluk lengan Arvin meminta pembelaan.
"Tidak apa tidak bisa masak, aku cari pasangan hidup bukan pembantu," ucap Arvin menyenangkan hati kekasihnya.
Wajah Prilly memerah, Arvin yang terbaik karena selalu menerima apapun kekurangannya.
"Lebai, di dalam hati Arvin memikirkan istri kedua." Andra memeluk Naya saat Arvin menendang kakinya.
Mama meminta diam, menyelesaikan makan karena masih ada acara pesta. Melarang debat karena memperlambat.
Agra berfoto lebih dulu karena kasihan dengan wartawan, barulah disusul Prilly yang menemani suaminya untuk wawancara singkat.
Helaan napas Andra terdengar, capek menunggu pengantin yang masih bekerja di hari pernikahan.
"Apa wartawannya gila, bagaimana bisa mereka menanyakan malam pertama?" Arvin geleng-geleng.
"Itu normal, daripada dia bertanya bagaimana hubungan dengan penyanyi A B C karena Agra cukup populer, ada banyak penggemar dari kalangan selebritis," jelas Naya yang disetujui oleh yang lainnya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1