KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MINTA PERTANGGUNG JAWABAN


__ADS_3

Di kantor Nay sudah sibuk dengan tumpukan berkas, tidak berselang lama pintu ruangan kerjanya terbuka.


"Ke ruangan aku sekarang, Naya." Suara Andra terdengar menutup pintu kembali melangkah lebih dulu.


"Mau apa?" Nay membawa beberapa berkas penting, berjalan ke lantai atas menuju ruangan kematian.


Andra sudah menghidupkan komputernya, Kanaya melangkah masuk duduk di samping ANdra.


"Kamu kenapa ke kantor, seharusnya memastikan apa benar Syifra hamil atau tidak?"


"Jangan bahas hal lain di kantor," tegur Andra mulai fokus.


"Apa dia hamil anak kamu? Tentukan dulu dia hamil tidak, paling penting ...."


"Kanaya, sekali lagi membahas soal itu, aku tendang keluar. Aku tidak akan meniduri wanita tanpa ikatan apapun, jadi berhentilah berpikir bodoh." Tatapan mata Andra tajam tarik napas panjang untuk mengerjakan urusan kantor.


Senyuman Naya terlihat, duduk tenang di samping Andra yang sudah fokus kembali. Nay tahu jika Andra memang nakal, Iseng, jahil juga pemarah, tapi tidak tidak sedikitpun dia memiliki kebiasaan suka main perempuan.


Pembicaraan keduanya nampak serius, tidak menyadari jika matahari sudah bersinar. Memperlihat wajah Naya nampak lelah.


"Akhirnya selesai, semoga ini bisa menyakinkan banyak orang jika perusahaan kita patut dipercaya," ujar Naya yang merasa lega, menoleh ke arah Andra yang membuka kancing kemeja.


"Kamu pulang saja, aku akan mengurus meeting hari ini." Andra melangkah ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


"Kamu yakin aku boleh pulang?"


Kepala Andra mengangguk, meminta Naya beristirahat dan kembali bekerja keesokan harinya.


Tanpa menolak Naya bergegas keluar dari ruangan Andra, kesekian kalinya bertemu dengan Syifra.


Tidak ingin membuat keributan, Naya bersembunyi. Syifra tidak mengetuk pintu lagi langsung masuk saja ke dalam.


"Dra," panggilnya.


Suara air terdengar, Syifra memegang kenop pintu. Saat ditekan, pintu terkunci. Andra menyadari jika ada yang ingin masuk ke kamar mandi, berpikir Kanaya masih ada di dalam ruangan.


"Ada apa Naya?" kunci pintu terbuka, Andra tersentak kaget saat melihat Syifra ada di hadapannya.


Kedua tangan memeluk erat, Andra tidak punya kesempatan untuk melepaskan. Tubuhnya yang masih basah menempel, handuk yang menutupi bagian bawah ditahan jangan sampai terlepas.

__ADS_1


Tatapan Naya tajam melihat keduanya berpelukan, Syifra mengecup bibir Andra di depan Naya.


Andra mengelak, melihat Naya melangkah pergi tanpa mengatakan apapun, tangan Andra tergempal menahan amarah karena tidak boleh lepas kendali bisa saja membahayakan kandungan Syifra jika memang benar dia hamil.


"Lepaskan Syifra, jangan membuatku semakin jijik!" teriakkan Andra terdengar kencang.


"Jijik, kenapa Dra? Kita saling mencintai, kenapa perasaan itu berubah begitu cepat?"


Tangan Syifra ditepis, bukan perasaan Andra yang berubah, tapi Syifra yang membuat semuanya berubah.


Andra memutuskan untuk tutup telinga, tidak percaya dengan kehamilan karena dia tidak pernah menyentuh Syifra.


"Aku bisa jelaskan Dra, tolong dengarkan aku."


Kedua tangan Andra meremas rambutnya meminta Syifra keluar, mengambil pakaiannya karena tidak ingin ada kesalahpahaman.


Tangisan terdengar menunggu Andra di depan pintu kamar mandi, hati Syifra hancur sekali karena Andra tidak menatapnya dengan lembut.


"Aku tidak tahu penjelasan apa yang ingin dibicarakan, kamu datang ke rumah tanpa seizinku, membuat keributan dengan mama, menampar Alis, menuduh Naya. Apa lagi yang harus aku percaya?"


"Aku minta maaf soal itu, sekarang aku akan berubah dan memperbaiki semuanya. Tolong berikan satu kali kesempatan Dra." Tangisan Syifra semakin kencang.


"Aku hamil Dra, ini memang bukan anak kamu, tapi aku hanya punya kamu. Bagaimana nasibku dan janin ini?" Syifra berlutut di hadapan Andra yang menatap datar.


Kehamilan Syifra tidak disengaja, dia dilecehkan oleh seorang dokter yang menanganinya ketiga sakit.


Emosi Syifra menggebu-gebu, tidak stabil karena kejadian yang menimpanya. PIkiran Syifra hanya ingin mempercepat pernikahan agar trauma atas pelecehan itu menghilang.


"Kapan, kenapa tidak jujur dari awal?"


"Takut, aku takut Andra?"


"Lalu apa gunanya mengatakan sekarang, tidak akan mengubah apapun." Kepala Andra menggeleng.


Dirinya bukan pria baik akan bertanggung jawab atas perbuat seseorang, jika Syifra sendiri tidak mampu menerimanya apalagi Andra.


"Lebih baik aku mati Dra, daripada kehilangan kamu. Selama delapan tahun ini aku mendampingi, tapi kenapa orang lama yang mendapatkan rumah?"


"Delapan tahun ini aku bukan hanya memiliki kamu, tapi percaya kepada diri sendiri, juga ada doa orang tersayang yang menyertai," balas Andra tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


Tidak ada ruginya bagi Andra, selama saling mengenal tidak pernah berhutang apapun, menuntut apalagi memaksa siapapun untuk ada di sisinya.


"Aku tidak punya kata-kata mutiara, diri ku memang sejahat ini."


"Tunggu saja, kamu akan mendapatkan kabar kematian. Seumur hidup hanya penyesalan yang akan terus menghantui," ancam Syifra memberikan peringatan keras.


"Hidup atau mati kamu, tidak ada sangkut-pautnya. Jangan buat aku kehilangan rasa respek." Senyuman Andra terlihat meminta Syifra segera pergi.


Apapun ancaman yang Syifra lakukan tidak bisa mengubah perasaan Andra, dia tetap dengan keegoisan.


Bersama kembali sudah tidak mungkin, tapi Andra ikut prihatin atas musibah Syifra benar atau tidaknya dia ingin peduli.


"Jika boleh memberikan saran, temui pria itu dan minta pertanggung jawaban. Aku akan ada di belakang kamu untuk mendukung," ucap Andra yang memberikan satu kesempatan.


"Suami orang, apa aku harus mengungkapnya?"


Andra terdiam, dia tidak bisa memberikan jawaban jika suami orang. Memang benar jika kesalahan harus dipertanggungjawabkan.


"Jika memang salah, lakukanlah. Jangan takut merusak rumah tangga orang karena kamu juga kehilangan kehormatan itu."


Pintu ruangan Andra ditutup kuat, Syifra tidak akan meminta pertanggungjawaban, dia juga tidak akan merelakan Andra bahagia.


Jika dia tidak bisa memiliki maka Kanaya atau siapapun tidak boleh memilikinya. Syifra pastikan Andra tidak akan mendapatkan cinta.


"Aku harap akan ada lelaki yang lebih dari aku bisa menerima kamu, jalan hidup kamu tidak mudah Syifra, tapi aku tidak bisa mendampingi. Lebih baik mundur sekarang, daripada bertahan dengan rasa yang masih bersama masa lalu." Sejujurnya Andra tidak memandang wanita dari suci tidaknya, tapi dirinya berhak memutuskan rasa itu milik siapa.


Sekalipun Naya tidak akan menerimanya, Andra akan tetap memperjuangkan rasa yang sempat tidak terungkap.


"Tidak apa ditolak, coba lagi. Aku akan terus mencoba sampai Naya lelah dan menerimaku."


"Pak Andra, ada kecelakaan di depan. Seorang wanita tertabrak mobil," ucap seseorang datang menemui.


"Lalu, apa aku dokter? Kenapa aku yang kalian hubungi?" Andra melongok meminta menghubungi rumah sakit.


Kedua tangan Andra mengusap wajahnya, berharap bukan Syifra. Dia memang suka mengancam, tapi apa kematian bisa menyelesaikan segalanya.


"Dia tidak mungkin bunuh diri karena ancamannya belum dilaksanakan." Andra berpikir positif.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2