KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
HILANG


__ADS_3

Semakin jauh berjalan keadaan semakin gelap, Naya menghentikan langkahnya karena kakinya juga semakin sakit.


"Kita tidak bisa lanjut, bukan bertemu jalan, tapi tersesat."


"Ya sudah, duduk di sini saja." Andra mengumpulkan dedaunan kering, mengambil pemantik api bentuk pulpen yang diambil dari dalam mobil.


Perlahan api mulai hidup, Naya memperhatikan Andra yang nampak terbiasa menghidupkan api padahal dia anak orang kaya.


Kepala Andra melihat sekitar, memperhatikan lokasi melihat sekitar berharap ada yang bisa di makan.


"Mau ke mana dia?" Naya bicara sendiri berharap bantuan segera datang.


Cukup lama Andra menghilang hanya membawa kayu yang ada apinya sebagai penerang.


"Apa aku pergi terlalu lama?" tanya Andra yang kembali membawa beberapa ikat kayu dan ayam liar.


Mulut Naya tergagap, tidak menyangka Andra bisa melakukanya. Ada beberapa ikan berukuran besar juga dibawa.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


"Ayam ini terjerat, aku mengambilnya dan siap di bakar sudah dibersihkan dekat sungai, dan ikan ini sedang tidur di pinggir sungai, sepertinya banyak buaya." Tidak berani menyusuri sungai karena penerangan terbatas, dapat satu ikan saja sudah nasib baik.


Senyuman Naya terlihat, tidak menyangka Andra memiliki jiwa petualangan juga. Dia bisa membawa air hanya menggunakan dedaunan berukuran besar.


"Boleh minum air ini?"


"Emh, asal jangan dibuang-buang, aku lempar kamu ke sungai buaya," ancam Andra membakar hasil tangkapannya untuk dinikmati.


Suara perut Naya berbunyi, kedua tangannya memang tidak ingin Andra mendengarnya terlalu memalukan.


"Lapar, duduk sini." Ikan berukuran besar diletakkan di daun.


"Bagaimana cara kita keluar dari sini?"


"Besok saja berpikir, malam ini kenyang dulu. Kita berdua tidak akan mati karena nyasar, tapi bisa mati karena kelaparan." Makanan diletakkan depan Naya yang mengangguk.


"Bagaimana kamu bisa melakukan ini, aku pikir Andra hanya anak orang kaya yang memiliki segalanya, dan apa yang dibutuhkan tersedia," ucap Nay yang merasa bersalah sudah banyak menduga.


Tidak ada jawaban, Andra tahu begitulah pikiran semua orang, Andra sejak dulu suka berburu dan melewati kegelapan malam karena lebih menyenangkan daripada siang hari.


Tanpa takut ada bahaya, tiap langkah terasa begitu indah, langkah kaki terasa bebas tidak menjadi pusat perhatian.


"Apa kabar Andra," sapa Naya yang ingin mengatakannya.


"Kabar baik, tidak sepenuhnya setidaknya tidak sakit," balas Andra menundukkan kepalanya sambil tersenyum.


Makanan yang ada di depan mata habis dilahap, Andra dan Naya terlihat sangat lapar, berbagi air minum dari tetesan daun.


"Maaf soal kecelakan ini, aku tidak menyangka kamu bodoh bisa tergelincir," tutur Nay keceplosan.


"Ya, kamu paling pintar, jia memnag bodoh mungkin sekarang kita berdua kelaparan, ini semua berkat aku yang cerdas.


Keduanya diam saling tatap, melihat kesal karena tidak ada yang ingin mengalah tiap kali debat.


Mata Nay terpejam, tidak punya tenaga apalagi kakinya sampai bengkak. Andra berusaha mencari sinyal meskipun ponselnya hampir retak seribu.


"Sial, bagiamana cara mengubungi mereka, berjalan semakin jauh tidak akan menemukan jalan, ini hutan belantara." Andra naik ke atas pohon sambil memantau Naya.


Saat ini Andra membutuhkan Arvin karena kaki Nay terluka, dia diam saja karena tidak ingin banyak keluh.


"Vin, please, apa gunanya kita punya sahabat dokter jika tidak bermanfaat," batin ANdra yang tersenyum lebar saat panggilannya dijawab oleh Arvin.


Suara Andra teriak-teriak terdengar, Arvin yang baru bangun tidur tidak bisa mendengar dengan jelas.


"Dra, bicara apa kamu ini, mirip orang kumur-kumur." Kerutan di kening Arvin terlihat dia baru saja memejamkan mata setelah melakukan operasi.


"Vin, aku jatuh ke jurang di daerah alamat yang aku kiri, cepat kirim bantuan soalnya Naya terluka," teriakkan Andra terdengar mengulangi berkali-kali sampai suaranya serak.


"Kamu jatuh ke jurang, jangan beranda Andra tidak lucu." Arvin mengecek pesan melihat lokasi yang dikirim Andra terlihat tidak ada sinyal sama sekali.


Mata Arvin terbuka lebar, menggelengkan kepalanya mencoba berpikir jernih, pasti Naya dan ANdra dalam keadaan baik.


Jas putih dilempar ke atas tempat tidur, Arvin berlari keluar menghubungi Agra jika Naya dalam masalah.


"Cepatlah, aku tunggu di rumah sakit," pinta Arvin mondar-mandir mencoba menghubungi Andra balik, tapi tidak aktif lagi.


Kurang dari lima belas menit, Agra sudah tiba, Dia memang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Daddy ingin bertemu Prilly.


"Di mana mereka?"


"Kenapa kamu mengenakan celana sependek itu?" Arvin merasa geli karena Agra menggunakan celana pendek.


"Salah ambil celana, soalnya rencana pulang, di rumah banyak untuk ganti." Senyuman Agra terlihat menurunkan sedikit celaannya..


"Aku pikir ada iklan celaan dalam, sudah gila kamu melakukannya." Arvin menujukkan lokasi yang harus ditempuh lebih dari empat jam.


Tubuh Arvin terkulai lemas, dia baru saja balik dari luar kota, lanjut operasi malam sampai siang baru selesai, lanjut lagi perkenalan dengan staf, belum lima menit memejamkan mata sudah pergi ke luar kota lagi.


"Tidur saja aku yang menyetir, nanti giliran paling penting mereka berdua aman dulu." Agra mengecek ke belakang sudah ada perlengkapan medis yang Arvin masukan.


Suara deringan ponsel terdengar, Agra menatap ponselnya karena Prilly menghubunginya, senyumannya terlihat masih ada kepedulian dari Prill untuknya.


"Jangan tersenyum, kita tidak tahu nasib Naya dan Andra," tegur Arvin yang kesal melihat senyuman Agra.


"Berdoa saja jika keduanya sedang pacaran, terkadang takdir punya cara untuk mempertemukan." Agra nyengir beharap dugaannya benar.


Selaam beberapa jam Arvin tidak melihat adanya pemberitaan kecelakan ,di sekitar lokasi, tidak mungkin jalanan sangat sepi sampai tidak ada pengendara lain.


"Kenapa juga mereka ke wilayah sana, sudah tahu banyak tebing bebatuan yang tinggi," gumaman terdengar.


Kepala Agra mengangguk, setahunya Nay bersama Prilly, tapi satunya pulang dan Naya nyangkut di jalan.


"Kenapa kalian tidak pulang bersama-sama?" tanya Agra yang tahu jika Avin seharusnya bersama Nay.


"Kamu juga kenapa bisa tidak tahu Andra pergi, bukannya kalian sebelumnya berdua?"


Keduanya saling pandang hanya bisa tarik napas panjang, berharap tidak ada hal buruk. Meskipun terluka hanya luka kecil.


Panggilan Andra tidak pernah aktif, dia tidak bisa memejamkan mata karena mencemaskannya Naya.

__ADS_1


"Bukannya ini wilayahnya?"


"Iya, tapi maju lagi karena aku tahu kawasan yang banyak tebing." Arvin pernah datang bersama Mamanya saat kecil.


Dari kejauhan mobil menyinari satu mobil yang terparkir di jualan, mobil Agra juga berhenti melihat matahari mulai terbit.


"Mobil siapa ini?" tanya Arvin mengecek plat mobil.


Laporan sebagai mobil sewa terlihat, Arvin mengintip ke dalam kaca melihat ponsel Kanaya berdering di dalam mobil.


"Ponsel Naya, berita mereka jatuh di sekitar sini," Arvin berteriak memanggil Andra dan Nya.


"Suara kamu memantul, aku rasa jalan ini cukup sepi, banyak orang pilih jalur lain demi keselamatan." Suasana pagi sangat indah Agra terpesona melihat matahari terbit.


Punggung Agra dipukul pelan, Arvin menujukkan bekas mobil yang jatuh ke bawah. Ternyata Andra memang ada di bawah tebing.


"Cari bantuan saja, aku rasa di bawah sangat berbahaya."


Kepala Arvin mengangguk, dia juga tidak berani turun, memilih menunggu bantuan datang demi keselamatan.


Agra menghubungi tim SAR untuk membantu menemukan Naya dan Andra, keduanya mengikuti jalan setapak bekas dilewati.


"Ini bekas manusia atau harimau?" tanya Arvin yang memberikan tanda jika mereka lewat.


"Memangnya masih ada?"


"Jarang terlihat, bukan berarti punah," balas Arvin sambil tertawa kecil.


Sepanjang jalan menyusuri hutan terasa menyenangkan, agra terus tersenyum bisa merasakan ketenangan tidak dipenuhi oleh hiruk pikuk kota yang ramai.


Bukan hanya Agra yang merasakan kedamaian, tapi Arvin juga. Biasanya kepalanya pusing karena banyaknya pasien, juga mempelajari banyak hal baru. Dirinya harus selalu berwibawa di depan banyak orang, tapi berada di hutan pikirannya terasa tenang.


"Naya, Andra, kalian di mana?" Arvin berteriak memanggil sambil mengikat pita berwarna biru yang biasanya Arvin gunakan di tiap bukunya yang tebal sebagai tanda pernah membacanya.


"Kita sudah berjalan lebih dari tiga jam, di mana mereka?" Agra melihat jam tangannya menujukkan pukul sepuluh pagi.


"Lima jam Gra, kita butuh makan sekarang. Ini bukan hanya Naya Andra yang hilang, tapi kita berdua ikutan hilang kesadaran," ucap Arvin yang menghentikan langkahnya.


Tawa Agra terdengar sekarang Arvin sudah pintar melawak, tidak kaku seperti dulu hanya diam saja tidak peduli selucu apapun orang di depannya.


"Kanaya, Andra, kalian di mana?" suara panggilan terdengar dari kejauhan, Andra yang tidur di atas pohon terbangun.


Mata Naya juga terbuka, tidak melihat Andra di sekitarnya. Meninggalkannya tidur sendirian.


"Andra brengsek, kenapa kamu dia atas?"


"Takut ada ular," balas Andra turun dari atas pohon.


Langkah Naya ingin mendekat, siap melayangkan pukulan, tapi kakinya tidak bisa digerakkan.


Pembengkakan di kaki Naya sampai ke betis, Andra berlutut menyentuh kaki. Naya meringis kesakitan.


"Jangan dipegang, aku tendang kepala kamu," ancam Naya dengan nada tinggi karena kakinya sangat sakit.


Panggilan dua orang terdengar, berlari ke arah Naya dan Andra yang masih sempat-sempatnya bertengkar.


"Kenapa masih saja bertengkar, bagaimana jika didengar harimau?" Arvin memukul punggung Andra yang tidak pernah mengalah.


Melihat kondisi kaki Naya, Arvin mengikat kaki atasnya, langsung tahu jika kaki Naya mengalami keretakan.


"Dicek lagi Vin, masa iya retak. Dia suka bertengkar, tapi tidak pernah cendera," ujar Agra yang tidak percaya.


Andra menyetujui ucapan Agra, meminta dipastikan kembali tidak mungkin patah apalagi retak.


"Aku dokter, jangan coba mengajariku."


"Berarti kaki Naya harus dipotong, apa dokter menyebutnya?" Andra mencoba mengingat.


"Amputasi," jawab Agra meluruskan.


"Kalian berdua cari mati," ucap Naya dengan nada dinginnya, menatap tajam dua orang yang bercanda.


Senyuman Arvin terlihat, meminta Naya naik ke atas punggungnya agar bisa segera keluar dari hutan.


Naya menolak, dia yakin masih bisa berjalan sendiri, tidak ingin menyusahkan Arvin meksipun badannya besar.


"Perjalanan cukup jauh Nay, sekitar lima jam."


"Tidak apa, aku bisa."


Agra memberikan sebungkus roti kepada Naya, tapi Andra langsung mengambilnya karena perutnya lapar.


"Aku sumpahi mati keselek roti, kembalikan," bentak Naya mengambil miliknya karena Andra yang rakus suka merampas milik orang.


Tepaksa Andra mengembalikan, merasa Agra tidak adil hanya membawa satu padahal dia juga lapar.


Empat orang berjalan ke arah yang sama dilalui oleh Agra dan Arvin, jalan Naya pincang, berpegangan di lengan Arvin, sesekali memeluk lengan Agra.


"Aku gendong saja Nay, bengkak kaki bisa bertambah parah." Tubuh Arvin jongkok, Naya ragu-ragu untuk naik, tapi kakinya sangat sakit.


"Agra gendong." Andra naik ke punggung Agra, tapi keduanya langsung tersungkur jatuh.


Tawa Naya dan Arvin terdengar, jika ada Andra tidak pernah tahu rasanya sedih. Jika tidak ribut ya tawa, dia pandai menghibur dalam kondisi apapun.


"Kita butuh makan, Agra tangkap ikan, tapi hati-hati ada buhaya." Andra mendekati sungai rawa.


"Bahaya atau buaya?" Agra teriak sambil lari saat melihat air sungai bergerak.


Naya naik ke atas punggung Arvin, berjalan perlahan. Suara Andra dan Agra berdebat terdengar rasanya mereka berlima kembali ke masa muda.


Kepala Naya mendongak ke atas melihat pepohonan yang sangat rindang, meminta Arvin berhenti agar bisa beristirahat.


"Vin, turun."


"Tenang saja, aku masih kuat, jika kita lambat bisa kemalaman."


"Benar Nay, giliran aku." Tubuh Agra jongkok meminta Naya naik ke punggungnya.


"Maaf ya buat susah." Perasaan Naya tidak enak karena membuat teman-temannya harus kelelahan.

__ADS_1


Senyuman Agra terlihat, meminta Naya tidak berpikir segan sebagai sahabat sudah sepatutnya. Mendengar kabar Naya hilang Agra hampir tidak mengenakan celana, beruntungnya di dalam mobil ada banyak baju ganti.


"Kalian tidak ingin bertanya kenapa kita ada dibawah?" Andra menunjuk ke arah Naya yang menjadi dalangnya.


"Salah kamu sendiri yang mirip penguntit, membuat gagal rencana melihat matahari terbenam." Keduanya saling menyalahkan padahal sudah terjadi.


"Tidak bisa terbayangkan jika berjodoh, apa yang akan kalian berdua lakukan?" tanya Agra yang pusing mendengar suara Naya teriak.


Tawa Arvin tidak terdengar terpingkal-pingkal, tidak bisa dibayangkan malam pertama pukul-pukulan dulu, makan pecahkan piring dulu, lahiran saling pukul sebelum lahir, tidak ada kedamaian.


Tatapan Naya dan Andra tajam melihat dua orang yang tertawa, Agra terduduk menurunkan Naya tidak kuat menggedong.


"Berhentilah mengkhayal kehidupanku, kalian berdua jomblo, cari pasangan dulu jangan asal mengkhayal." Andra berjongkok meminta Naya segera naik ke punggungnya.


"Betul, cari pasangan dulu, sadar jomblo maksudnya dasar jomblo." Tawa Naya terdengar memeluk leher Andra.


Mata Naya sayu hingga terlelap, tidak sadar lagi berapa lama Andra menggedong saat tubuhnya sakit semua, kakinya sedikit mendingan karena obat.


"Turunkan Naya, aku hampir mati." Andra terguling di jalanan.


Arvin mengendong Naya masuk ke dalam mobil Agra, menghidupkan mobil agar Naya tidak kepanasan.


"Perasaan tadi aku minta bantuan Tim SAR, tapi kenapa tiba-tiba tidak ada?" Agra mengecek ponselnya yang memiliki banyak panggilan.


"Kirim alamat tidak?" tanya Andra yang langsung mengumpat.


Kepala Arvin geleng-geleng, Agra terlalu banyak yang membantunya sehingga tidak mandiri, berbeda dengan Andra yang harus detail.


Baju Andra melayang karena panas menggedong Naya berjam-jam, sedangkan Nay asik tidur.


"Ganti baju Dra." Agra memberikan bajunya.


"Nanti saja panas, apa tujuan Naya sayang ke sini untuk melihat itu?" senyuman Andra terlihat menatap matahari terbenam.


"Kita pulangnya nanti, soalnya aku sedang pasang infus."


Andra memohon kepada Arvin agar memasangkan infus juga karena tubuhnya sakit semua, dan kehabisan tenaga setelah membawa beban kehidupan.


Tiga pria dewasa duduk santai melihat matahari terbenam, sungguh indah namun mobil Andra melayang.


"Lapar, aku bisa mati kelaparan." Kedua tangan Andra meremas perutnya.


Suara klakson motor terdengar, seseorang mengantarkan makanan yang Arvin pesan. Pria yang mengantarkan sempat takut karena jalanan tidak biasanya dilewati orang.


"Akhirnya, makan." Andra menyambut makanan.


"Kenapa lama sekali?" tanya Arvin yang membayar bekali-kali lipat.


"Maaf Kak, saya pikir tadi bohong soalnya daerah sini sudah tidak dilewati lagi."


"Oke terima kasih, jika kamu tidak datang mungkin nasib kita dalam keadaan sekarat." Senyuman Arvin terlihat, mengambil obat yang dipesannya.


Kaki Naya diobati, suara Naya meringis kesakitan terdengar. Andra dan Agra berjalan mendekat melihat Arvin mengobati kaki.


"Pelan-pelan Vin," pinta Andra yang tidak tega melihat Naya menangis kesakitan.


"Tahan Nay, semoga bengkak segera reda." Arvin menekan kuat.


Tangisan Naya kencang, Andra dan Agra tidak berselera mengunyah makanan menahan tangan Naya.


Pelukan Nay erat, Andra mengusap punggung memintanya diam karena kakinya tidak dipotong.


"Nay ada makanan, kita makan dulu." Agra membawakan makanan.


"Tidak mau, sakit."


"Katanya wanita kuat, begitu saja menangis." Pelukan Andra lembut menenangkan Naya menawarkan makanan kesukaannya.


Tangan Arvin terangkat tidak akan menyentuh lagi, mempersalahkan Naya makan agar obat yang disuntikkan untuk meredakan sakit bisa cepat bereaksi sekaligus menambah tenaganya.


"Maaf sudah menyusahkan, ini semua gara-gara Andra." Air mata Naya mengalir.


"Iya aku yang salah, maaf," ucap Andra mengalah duduk di samping Naya mengunyah makanannya karena sangat lapar.


Tangisan Naya terdengar kembali, Andra menoleh ke arahnya karena tidak bisa membuka bungkusan makanan.


Arvin dan Agra yang makan di depan menoleh, menatap Naya yang tidak kuasa menahan air matanya.


Bertahun-tahun bersahabat pertama kalinya melihat Naya menangis begitu sedih, Agra dan Arvin merasa tidak tega.


"Ini sudah dibuka, salah restoran yang mengikat terlalu kuat," ujar Andra memberikan sendok.


"Jangan sedih Nay, aku juga ikutan sedih." Air mata Agra hampir menetes.


Pukulan Arvin mendarat melihat Agra yang juga ingin menangis, mata Arvin jadinya berkaca-kaca.


"Menangislah, jangan memaksa untuk dewasa. Percaya saja jika menangis bisa mengurangi rasa takut, kesepian, bersalah, dan kecewa." Andra lanjut makan lagi, membiarkan Naya meneteskan air matanya.


"Kalian tidak pernah mendengar asal usulku, sebenarnya aku hanya anak dari seorang wanita penghibur. Tujuan aku datang untuk menemukannya, tapi dia meninggal delapan tahun yang lalu karena bunuh diri di tebing ini." Nay meremas sendok.


Tangan Agra meremas setir mobil, Arvin tidak bergerak sedangkan Andra hanya mengangguk sambil makan.


"Jika ibu kamu mati cari bapakmu," tegur Andra langsung terdiam baru menyadari ucapannya.


"Naya, jangan katakan jika kamu dan Arvin saudara kandung, atau dengan Agra, mustahil denganku?" Andra panik begitupun dengan Agra dan Arvin yang penasaran.


Kepala Naya menggeleng, tiga pria bernapas lega karena dugaannya salah. Berharap Ayah Naya tidak terlibat dengan mereka.


"Dia sudah meninggal, tapi aku tidak diakui." Nay tersenyum kecil sambil mengusap air matanya.


Tiga pria bernapas lega, mengusap dada masing-masing. Naya keheranan karena tidak ada yang ingin bersaudara dengannya.


"Apa Ayah kamu Kakeknya Arvin?" tanya Andra.


Pukulan Arvin mendarat ke arah Andra karena kakeknya masih hidup, tidak mungkin Naya menjadi Adik daddynya.


Tawa Naya dan Agra terdengar, ucapan Andra tidak menggunakan akal sehat.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2