
Di restauran Prilly sibuk membuat menu, dibantu oleh pelayan yang lain. Naya membantu Prilly cara mempromosikan restoran, hanya Alis yang duduk santai memantau restoran depan.
"Lis, kamu tahu tidak satu minggu ini aku sibuk banget, harus kerja dan kuliah, liburnya bantuin kamu setidaknya kerja juga, jangan hanya memantau." Tatapan Naya tajam meminta Alis segera duduk membantu.
"Jadi orang jangan serakah Naya, satu minggu ini pemasukkan restoran sudah dua kali lipat. Lihat sudah banyak orang di meja, hanya tersisa beberapa." Senyuman Alis terlihat masih memantau restoran depan.
Kepala Naya geleng-geleng saat melihat ke depan Alis sudah tidak ada lagi, tidak tahu pergi ke mana.
"Di aman Alis, ini ada pesanan banyak. Prilly memang hebat dalam pemasaran, dia pasti tidak tidur semalaman." Nay berlari ke dapur menunjukkan kepada Prilly banyaknya orderan.
"Ya tuhan, luar biasa. Alis sudah tahu belum, akhirnya aku bisa bekerja sebagai karyawan tetap." Prilly memanyunkan bibirnya menahan tangis karena Alis memberikan satu minggu untuk mengait pembeli.
Tangan Naya mengusap wajah Prilly ikut senang karena Prilly bisa bekerja sesuai keinginannya, lebih nyaman sebagai orang biasa.
"Alis tidak masuk ke dapur?" tanya Naya yang mencari Alis.
Saat restorannya sibuk dengan banyaknya pelanggan, Alis datang ke restoran depan menepuk pundak seseorang.
"Tante Mar, kenapa berdiri di luar?" tanya Alis memperhatikan sedari tadi.
"Emh, Alisha, kamu putrinya ...."
"Calon istri Kak Agra." Tangan Alis menutup mulutnya karena dengan beraninya bicara sembarangan.
Senyuman Mama Agra terlihat, geleng-geleng kepala karena sudah paham kebiasaan Alis yang suka bicara asal ceplos- ceplos.
"Tante sudah makan, ayo kita masuk ke dalam untuk mencicipi," ajak Alis.
"Nanti saja Lis, soalnya makan di sini mahal."
"Kalau mau murah di sana Tante." Tangan Alis menunjuk restoran depan.
Tangan Alis mengandeng untuk masuk ke dalam restoran mewah, memesan tempat makan VIP.
Beberapa orang menatap aneh, Alis sadar jika tatapan kepada Tante Mar sangat merendahkan.
"Kenapa kalian menatap begitu?"
"Wanita ini yang tadinya mau melamar kerja, tapi tidak diterima terus memaksa," balas seorang pelayan.
"Ya terus, meksipun begini dia ibuku. Jangan merendahkannya, tanpa kalian tahu jika dia wanita hebat." Tangan Alis melibas meminta pergi karena malas berurusan dengan orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua.
__ADS_1
Senyuman Mama Mar terlihat, mengucapkan terima kasih karena Alis membelanya. Sangat memalukan seorang wanita yang tidak muda lagi memelas pekerjaan.
"Tante ada masalah ya?"
"Perusahaan Tante bangkrut, terpaksa dijual untuk menutupi gaji karyawan juga dana lainnya. Mencoba mencari bantuan, tapi Agra meminta melepaskan." Air mata Mama menetes karena sebagai seorang ibu dia harus tetap bekerja untuk menafkahi putranya.
Agra masih harus kuliah, mengejar mimpinya tidak boleh terbebani oleh kekurangan biaya. Bekerja di perusahaan sulit karena usia anak mudah jauh lebih dibutuhkan.
"Tante maaf ya, Alis tidak bisa membantu. Rasanya lancang sekali jika Alis menawarkan pekerjaan restoran kecil," ujar Alis merasa tidak enak hati, tapi kasihan juga.
"Kamu membutuhkan karyawan, Tante mau. Untuk sementara, nanti Tante akan melamar pekerjaan di perusahaan." Air mata menetes.
Air mata Alis juga menetes, tidak bisa melihat orang berada dalam kesulitan pasti hatinya hancur.
Andaikan dirinya yang kaya raya, pasti sudah memberikan pekerjaan kepada siapapun yang hidupnya susah, tapi kenyataannya yang kaya Papinya.
"Kita makan dulu Tante, soalnya makannya mahal bisa rugi." Senyuman Alis terlihat, makan siang bersama di restoran mewah.
Selesai makan, Alis melakukan pembayaran. Melihat bill sungguh mengejutkan. Terpaksa menggunakan uang restoran, tidak akan ada yang memarahinya.
Wajah Alis dan Mama Mar tercengang melihat restoran yang ternyata ramai, bayangan banyak uang terbayang di kepala Alis.
"Kak Nay, ini Tante Mar, Mamanya Agra." Alis memperkenalkan kepada Naya yang membantu menjadi kasir.
"Alisha, kita kehabisan bahan, uang yang aku berikan bisa digunakan sementara?" tanya Prilly yang terkejut melihat Mamanya Agra.
"Duit, apa kamu memberikannya? aku lupa." Alis menggelengkan kepalanya karena tidak memegang uang.
"Lis, seriusan?" Naya menjadi saksi saat uang diserahkan.
Senyuman Alis terlihat meminta maaf karena uangnya habis dibawa makan restoran depan, Alis tidak tahu jika biayanya sangat mahal.
Tidak menunggu ucapan Alis selesai, Naya mengambil uang di laci menyerahkan kepada Alis untuk meminta bantuan seseorang membeli bahan.
"Prilly, mulai hari ini Tante Mar yang mengurus restoran, aku ingin membuka cabang."
Teriakan Naya dan Prilly terdengar, satu restoran saja Alis tidak mampu memegangnya, tapi nekad bangun lagi dengan kemampuan jual yang tidak berpegalaman.
"Jangan Lis, pertahanan dulu apa yang ada, jangan asal buka," tegur Naya.
"Ucapan teman kamu benar Lis, kembangkan dulu apa yang ada, pastikan dulu berhasil baru mulai lagi." Mama setuju dengan ucapan Naya.
__ADS_1
"Mama tidak apa bekerja dengan Prilly, bukannya Mama benci dia?"
Kanaya mendekati Alis mencubit pinggangnya agar berpura-pura tidak tahu, tidak pantas bertanya langsung.
Mama Mar melihat ke arah Prilly, Putri yang terlahir tanpa seorang ayah, ibunya Prilly seorang pembantu yang meninggal saat melahirkan, lalu Prilly diangkat oleh Mommynya Arvin.
Kehadiran Prilly membuat Mommy Arvin dijauhi banyak orang, bayi yang dibesarkannya hanya pembawa petaka.
"Jika Tante tidak nyaman, Prilly tidak apa mundur," ucap Prilly menunjukkan senyuman.
"Kenapa harus mundur, kamu cukup hebat dan kerja cepat," puji Mama merasa tidak enak.
Panggilan pelanggan terdengar, empat orang bubar, Naya dan dan Asli berada di meja kasir melihat pengunjung sedangkan Prilly langsung masak lagi.
"Ini daftar menu?"
"Iya Tante, ini deretan yang belum disiapkan. Kita kekurangan tukang masak." Prilly tidak meminta bantuan.
"Kamu selesaikan minuman, Tante yang masak."
Senyuman Prilly terlihat, bekerja cepat agar pelayan bisa menyerahkan minuman dengan cepat.
Sesekali Prilly melihat ke arah wanita yang bergelimang harta ternyata pintar masak, Prilly memang selalu dihina dan direndahkan, tapi tidak pernah membenci.
Mommy Arvin selalu mengajarkan untuk tidak dendam, ada masanya hinaan akan menjadi pujian. Tidak ada salahnya lahir ke dunia, tanpa bisa memilih siapa orang tua.
"Tante, ada yang bisa Prilly lakukan?"
"Siapkan menu yang sudah selesai, hati-hati nanti tangan panas."
Senyuman Prilly terlihat, puas sekali melihat restoran yang awalnya sepi dalam satu minggu sudah ramai.
Ajaran Agra sangat membantu, sebagai pria populer Agra memiliki banyak penggemar yang bersedia membantu mempromosikan.
"Teman-teman kita bisa makan sekarang," teriakkan Alis terdengar.
"Tidak bisa Alis, kita membutuhkan bahan makanan. Jangan dihabiskan untuk makan-makan," tegur Prilly memberanikan diri.
"Kita hanya ingin berbagi," balas Alis.
"Boleh saja makan, tapi harus bayar."
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira